![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Setelah mengurus semuaanya, aamon langsung buru-buru kembali untuk melihat kondisi miclara. Suasana saat ini begitu dingin, baju dan wajahnya masih ada noda darah yang tidak dia bersikan.
Dia tidak mengistirahakan tubuhnya walaupun keringat terus membasahi tubuhnya. Aamon sudah melihat kerajaannnya dari kejauhan, dia langsung melesat ke sana agar bisa cepat bertemu dengan miclara.
Kedatanganya langsung di sambut oleh gusion adiknya, dia seperti sudah tau bahwa kakaknya akan segera tiba. Namun noda darah di sekujur tubuh aamon membuat gusion terkejut, dia tidak menyangka kakaknya akan begitu kejam hingga darah orang yang dia bunuh masih ada di baju dan wajahnya.
' apa dia baru saja membunuh guin?! Atau gadis itu?'batin gusion
" kak, kau baik-baik saja kan?" Tanya gusion
" dimana miclara!?" Ucap aamon mengabaikan pertanyaan gusion
" dia sudah ada di kamarnya, sekarang para tabip masih mengobatinya" ucap gusion
Kemudian aamon langsung pergi meninggalkan adiknya. Aamon terus berlari ke arah kamarnya karna saat ini dia sangat ingin melihat kondisi miclara. Setelah dia sudah ada di dalam kamarnya, dia melihat tabip-tabip kerajaanya masih mengobati miclara.
Tabip yang mengobati miclara saat tau bahwa aamon ada disana langsung membungkuk hormat. Mereka memberi jalan kepada aamon agar bisa melihat kondisi miclara lebih dekat.
" bagaimana kondisinya?" Tanya aamon sambil menggenggam tangan miclara yang masih tak sadarkan diri
" lukanya sudah kami obati dan saat ini anda hanya perlu menunggunya sadar" ucapnya
" lalu, apa bayinya selamat" ucap aamon walaupun sudah tau jawabannya
" maafkan kami yang mulia, bayi di dalam kandungannya sudah tidak bisa di selamatnya saat pangeran gusion membawanya, jadi kami hanya bisa mengobati lukanya" ucap tabip itu
" baiklah, jika kalian sudah selesai cepat tinggalkan tempat ini" ucap aamon tampa menguba pandanganya
" baik yang mulia" mereka pun pergi
" miclara maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu dan bayi kita" ucap aamon sambil mencium tangan miclara
Kemudian tangan yang dia genggam sedikit demi sedikit mulai bergerak, dia langsung mengangkat wajahnya dan melihat miclara. Miclara kemudian membuka matanya dan melihat ke arah aamon yang sudah menunggu kesadarannya.
Dia lalu memanggil nama aamon yang terlihat sangat mencemaskannya.
" aamon.." panggil miclara
" miclara apa kau baik-baik saja, apa ada yang sakit?" Tanya aamon
" aku tidak papa" ucap miclara
" baguslah kalau begitu" ucap aamon
" aamon" panggil miclara lagi
" iya"
" apa.. bayi kita tidak papa?" Tanya miclara pelan-pelan
" mm soal itu.." melihat reaksi aamon miclara langsung mengerti dan tau bahwa sekarang bayinya sudah tidak ada
Dia tidak bisa menahan kesedihannya ketika tau bahwa anaknya tidak bisa diselamatkan. Seharusnya dia tau bahwa ini akan terjadi ketika waktu itu anaknya memang sudah tidak memiliki harapa untuk selamat.
Namun perasaanya saat ini begitu hancur, dia tidak bisa terus menahan kesedihannya. Dia ingin meluapkan semua kesedihannya karna untuk pertama kalianya dia akan menjadi seorang ibu tapi anak yang ia tunggu kelahirannya sudah tidak ada.
" miclara kau baik-baik saja?" Tanya aamon
Miclara masih terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan aamon dan masih terus menunduk. Kemudian tubuhnya gemetar dan air mata keluar dari matanya hingga membasahi pipinya.
Isakan tangis mulai aamon dengar dia langsung memeluk miclara yang terlihat begitu terpukul. Tubuh yang ia peluk terus saja gemetar, walaupun miclara menangis, tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suara.
__ADS_1
" miclara mungkin bayi itu bukan untuk kita, lain kali kita pasti akan mempunyai anak lagi" ucap aamon mencuba menghibur miclara
Namun miclara tetap tidak menjawabnya, dia hanya memeluk aamon dengan erat dan melepas semua kesedihannya. Tubuhnya yang tidak berhenti gemetar membuat aamon tidak tega, dia semakin erah memeluk miclara yang tak berdaya itu.
" hisk aamon maafkan aku" ucap miclala
" kenapa kau minta maaf miclara?" Tanya aamon sambil mengelus rambut miclara
" maaf karna aku tidak bisa menjaga anak kita aamon, padahal kau begitu menantikannya tapi, tapi..." ucap miclara
" jangan menyalakan dirimu sendiri miclara, seharusnya ini semua karna aku yang tidak menjagamu dengan benar hingga mereka bisa membawamu" ucap aamon
" hisk aamon maaf.." ucap miclara yang semakin erat memeluk aamon
" miclara jangan meminta maaf begitu" ucap aamon
" miclara jika kau mau, kita bisa pergi ke desamu dan menginap beberapa hari disana, disana semua perabotan sudah terisi seperti sebelumnya jadi tidak kosong lagi" ucap aamon
" hisk iya aku mau pulang ke desaku" ucap miclara
" baiklah kita akan pergi saat kau sudah baikan ya" ucap aamon
" um" kemudian miclara manarik dirinya dan tak sengaja melihat baju aamon
" aamon.. bajumu" ucap miclara saat melihat kondisi baju aamon yang berumuran darah
" tidak usa di pikirkan, aku mandi sebentar ya" ucap aamon
" baik" ucap miclara sambil melihat kepergian aamon.
Tampa berlama-lama aamon sudah selesai membersikan diri dan mengganti pakayannya dengan yang bersi. Baju yang berlumuran darah sudah ia buang dan mungkin tidak akan dia gunakan lagi.
Dia menghampiri miclara yang sudah duduk bersandar di ranjangnya, dia terlihat tengan menyentuh perutnya yang rata. Namun kemudian dia menyadari kehadiran aamon dan langsung menarik tangannya.
" iya" aamon lalu menghampirinya dan duduk di sampingnya
" kau sebaiknya tidur miclara, ini masih malam" ucap aamon dengan tangan yang mengelus kepala miclara
" aku rasanya tidak ngantuk, apa aku boleh jalan-jalan di taman?" Ucap miclara
" tapi kau harus istirahat, diluar sangat dingin tubuhmu belum pulih sepenuhnya, jadi kau harus tidur sekarang" ucap aamon
" tidak, aku tidak mau tidur" ucap miclara
" miclara apa kau begitu ingin ke taman?" Tanya aamon
" iya, aku ingin kesana" ucap miclara
" baiklah, tapi kau harus bawa selimut untuk menyelimuti tubuhmu ya" ucap aamon
" baik"
Setelah itu aamon langsung membawa miclara ke taman seperti keinginanya, dalam kondisinya saat ini aamon harus selalu melakukan apa yang dia mau. Dia dengan pelan menuntun miclara ke taman, walaupun saat ini sangat dingin tapi dia tidak mau melihat miclara sedih terus.
Sekarang mereka sudah ada di taman dan miclara langsung menyuruh aamon untuk membawanya ke ayunan yang selalu dia tempati. Karna kursi di ayunan itu ada dua jadi aamon langsung duduk di sampingnya.
" miclara apa kau yakin tidak mau kembali ke kamar, disini sangat dingin kau bisa demam" ucap aamon
" tidak masalah, aku hanya ingin kesini saja" ucap miclara
" kau sangat keras kepala, tapi ya sudahla aku akan disini menemanimu" ucap aamon
__ADS_1
" aamon" panggil miclara
" ya" jawab aamon
" jika nanti aku tidak bisa mengandung lagi, apa kau akan meninggalkanku dan mencari perempuan yang lain?" Tanya miclara tiba-tiba
" apa matsudmu?! Aku tidak akan meninggalkanmu jadi jangan menanyakan hal itu" ucap aamon
" aku hanya ingin tau jawabanmu saja tapi sepertinya kau memang tidak akan meninggalkanku, aku jadi senang" ucap miclara
Kemudian aamon bangun dan menghampiri miclara, dia langsung membawanya ke dalam pelukannya.
" aku tidak akan perna meninggalkanmu walaupun harus mengorbankan tahtaku ini, jika suatu hari ada yang mencoba memisakan kita, aku akan berusaha mencarimu dan membawamu ke dalam pelukanku seperti ini" ucap aamon
" bagaimana kalau kau kehilangan ingatan dan melupakanku, bukannya kau akan meninggalkanku karna tidak mengingatku" ucap miclara
" itu tidak akan terjadi, siapa yang akan membuatku melupanmu, aku tidak akan perna melupakanmu miclara" ucap aamon
Miclara pun terdiam karna tidak tau harus mengatakan apa lagi, dia tidak tau kenapa menanyakan hal itu. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya tampa sepengetahuannya, tidak tau apa yang dia tanyakan akan menjadi kenyataan.
" sebaiknya kita kembali ke dalam, jangan terlalu lama di sini" ucap aamon
" tidak, aku masih ingin disini" ucap miclara
" huff baiklah" aamon kembali duduk di samping miclara
Aamon kemudian menyentu rambut panjang miclara sampai mencium baunya.
" miclara kenapa kau dan gadis itu memiliki warna rambut yang sama, apa kalian saudara yang terpisah?" Tanya aamon
" tidak, tapi mungkin dia ditakdirkan untuk menjadi adikku" ucap miclara
" ohh"
" tapi kenapa dia masih belum kembali ya, aku sangat merindukannya" ucap miclara
" seharusnya aku tidak membicarakannya, kau jadi memikirkannya kan" ucap aamon
" kau jangan cemburu begitu, jadi terlihat seperti anak kecil kan" ucap miclara
" benarkah, aku seperti ini hanya saat bersamamu saja miclara orang lain tidak perna melihatku seperti ini" ucap aamon
" emm benarkah, tapi saat kau kecil kau pasti seperti ini juga kan" ucap miclara
" tidak, sifat dinginku ini sudah ada saat aku masih kecil, mungkin saat gusion lahir aku jadi sedikit sering tersenyum" ucap aamon
" kalian kan saudara, kenapa seperti tidak akrap begitu" ucap miclara
" dia selalu membuatku repot, lari dari istana dan bahkan selalu menbuat kekacauwan seperti waktu itu, aku harus terus mengawasinya agar dia tidak lari lagi tapi apa daya aku begitu sibuk mengurus dokumen itu" ucap aamon
" haha aamon tidak kusangka kau bisa bicara panjang seperti itu, lucu sekali" ucap miclara menahan tawa
" owh jadi kau menyukai aku bicara panjang lebar ya, aku bisa menceritakanmu cerita yang manarik kalau kau mau" ucap aamon
" benarkah, tapi sepertinya kau akan menceritakan hal yang seram padaku, orang sepertimu mana mungkin tau cerita lucu" ucap miclara
" kau meremekanku" ucap aamon
" tidak-tidak aku hanya berfikir bahwa kau tidak mungkin tau cerita-cerita anak-anak" ucap miclara
Aamon lalu menyentik dahi miclara dan langsung membawanya ke dalam pelukannya lagi. Dia merasa senang ketika miclara tersenyum seperti itu, akhirnya setelah beberapa hari dia bisa melihat senyumannya lagi, rasanya dia sangat senang.
__ADS_1
________________________________________________Bersambung