One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Masalah baru ]


__ADS_3

Karna dia masih setenga sadar, miclara tidak tau bahwa pemilik kamar ini sedang ada di kamar mandi yang sedang ia tujuh. Miclara yang belum mengetahuinya langsung memasukinya begitu saja, orang yang masih ada di dalam hanya terdiam karna ada yang memasuki kamar mandinya tampa seijinnya.


Namun dia langsung terlihat bingung karna yang memasuki kamar mandinya adalah gadis yang tadi ia gendong menuju kamarnya. Aamon hanya bisa melihat apa yang akan miclara lakukan, apa dia tidak berfikir memasuki kamar mandi yang ada orangnya akan berakibat apa padanya. Namun aamon hanya melihat waja miclara yang masih setenga sadar, dia langsung tersenyum karna miclara masih belum menyadari keberadaannya.


Namun diamnya aamon sudah menjebaknya sendiri, karna miclara merasa bahwa kamar mandi ini tidak ada orangnya. Jadi dia dengan santai langsung membuka bajunya walaupun ada orang yang melihatnya. Memang di sana ada tirai yang menghalagi mereka, namun tirai itu tembusĀ  pandang. Aamon hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangannya, jika dia terus melihat miclara tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Namun air yang saat ini ia gunakan tiba-tiba bergerak seperti ada yang memasukinya, kemudian dia melihat orang di depannya yang membelakanginya. Wajah aamon langsung memerah karna miclara tampa kewaspadaan memasuki bak mandi yang aamon gunakan. Apalagi sekarang miclara hanya menutupi tubuhnya dengan sebuah handuk.


Kamar mandi ini memang hanya di terangi beberapa lilin, tapi ini sudah cukup membuat duke paxley itu melihat seseorang di depannya. Ingin rasanya aamon menyadarkan miclara bahwa dia ada di belakannya. Tapi tidak tau apa reaksinya jika mengetahuinya, aamon tidak ingin miclara sampai terkejut karna dirinya.


Hanya saja jika seperti ini terus, aamon tidak tau harus bertahan berapa lama lagi, dia itu hanyala pria yang nofmal. Jika di depannya ada sesuatu seperti ini, sebagai pria yang nofmal tentu saja dia akan breaksi. Jika dia menahanya lagi mungkin ini akan buruk baginya, tapi untuk apa dia menahanya didepannya sudah ada obat untuk menyembukan masalahnya.


Aamon menatap sekali lagi tubuh miclara di depanya yang hanya di tutupi handuk dan di halangi oleh air. Saat dia mau memanggil nama miclara, tampa sadar miclara malah menatap ke arahnya. Sekilas pandangan mereka bertemu dan beberapa detik kemudian pipi salah satu dari mereka langsung berubah menjadi merah padam.


" akhirnya kau sadar juga" ucap aamon


" hah! K-kenapa kau ada di sini aamon, kenapa aku tidak melihatmu tadi" ucap miclara


" seharusnya aku yang bertanya, kau tiba-tiba masuk dan langsung memasuki bak mandiku, sekarang saat kau sudah menyadarinya kau malah bertanya padaku" ucap aamon


Miclara buru-buru menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangannya.


" aku, aku tidak tau kau sedang mandi, aku akan pergi" ucap miclara, namun saat dia mau berdiri aamon langsung menarik tangannya hingga ada di pangkuannya.


" kau sudah membangunkannya dan tidak mau bertanggung jawab?" Ucap aamon


" apa matsudmu, aku tidak mengerti" ucap miclara


Aamon langsung memenggang tangan miclara dan mengarakannya ke suatu tempat yang terbangun. Setelah itu miclara langsung kembali memerah bahkan sampai menutupi semua wajahnya.


" bagaimana kau akan tanggung jawab hem?" Tanya aamon


" itu.. itu bukan salahku, lebih baik aku pergi dari sini, aku tidak akan menganggumu mandi" ucap miclara berusaha kabur


" kau pikir bisa kabur setelah melakulan ini padaku" ucap aamon


" aku tidak tau kau sedang mandi, tolong jangan membicarakan ini lagi" ucap miclara, air matanya menetes karna takut aamon melakukan hal itu lagi.


Aamon yang melihatnya menjadi tidak tega, apalagi waktu itu dia mengambil malam pertamanya tampa persetujuan dari miclara. Mungkin hal itu yang membuatnya takut saat aamon menyuruhnya untuk tanggung jawab.


" sudahlah jangan menangis, aku tidak akan mempermasalakan hal ini, lebih baik kau segera pergi aku mau berendam sebentar" ucap aamon


Miclara langsung meninggalkan aamon yang sedang berusaha menahan napsunya. Memang dengan cara berendam air dingin bisa langsung membuatnya tenang, namun itu pasti sangat tidak nyaman bagi aamon. Tapi dia tidak ingin melihat wajah miclara yang terlihat takut pada hal yang berhubungan dengan ini.


Untuk saat ini aamon hanya bisa menahanya, namun nanti tidak tau apa dia masih bisa melepaskan miclara seperti sekarang. Sambil menghela nafas aamon menenggelamkan dirinya, tubuhnya sudah mulai menggigil hanya saja dia masih belum bisa menenangkannya.


(ehem, semoga kalian mengerti)


Ini sudah sangat malam, aamon masih berendam air dingin tampa memperdulikan tubuhnya yang kedinginan. Namun kemudian ada yang membuka pintu kamar mandinya sambil mengintip aamon.

__ADS_1


" ada apa?" Tanya aamon yang menyadari keberadaanya


" ini sudah malam, sampai kapan kamu akan berendam terus?" Tanyanya


" miclara, aku melakukan ini agar kamu tidak usa tanggung jawab, jika kau ingin aku berhenti berendam kau bisa membantuku menidurinya lagi" ucap aamon


" aku hanya khwatir kau akan kedinginan, tapi sepertinya kau baik-baik saja kalau begitu aku mau tidur duluan" ucap miclara diapun pergi


" huff..." aamon menghela nafan dan langsung memperbaiki posisinya.


Miclara masih terlihat cemas, dia tidak bisa tidur dan selalu melihat ke arah kamar mandi. Dia ingin menghampirinya lagi namun dirinya takut aamon meminta hal itu padanya. Ini juga salahnya, tapi dia masih takut melakukan hubungan itu setelah kejadian malam itu. Miclara lalu menyelimuti dirinya karna tidak ingin memikirkannya terus.


Namun ada langka kaki yang mendekatinya, spontan miclara langsung melihat ke aranya. Tentu saja itu adalah aamon, dia berjalan ke arah miclara hanya dengan memakai celananya.


" k-kau sudah selesai?" Tanya miclara


" hm" gumang aamon


Tampa memperdulikan miclara aamon langsung menaiki ranjangnya dan menyelimuti dirinya yang hampir membeku. Ingin bertanya lagi tapi miclara takut karna sepertinya aamon berusaha untuk menahan nafsunya. Jika dia bertanya lagi aamon mungkin langsung menyerangnya, dia pun tak memperdulikannya dan tidur membelakangi aamon.


Malam ini begitu berbeda dari biasanya, sepasang kekasih itu untuk pertama kalinya tidur sambil saling membelakangi. Bukan karna bertengkar, tapi ini untuk kebaikan mereka berdua.


Pagi pun mulai kembali, seperti biasa pagi ini banyak orang-orang yang memulai aktifitas. Namun saat ini dua pasangat itu masih belum terbangun, sakin nyenyaknya mereka tertidur, mereka sampai tidak menyadari bahwa sekarang mereka sedang berpelukan. Ketukan pintu membangunkan kedua pasangan itu, setelah terbangun mereka saling menatap karna posisi mereka yang berbeda jauh dari semalam yang saling membelakangi.


' aku kenapa bisa ada di pelukan aamon, padahal tadi pagi aku tidur membelakanginya' batin miclara


' sudahlah, ini juga sudah pagi untuk apa aku memikirkan kejadian tadi malam' batin aamon sambil memegang kepalanya


" tidak papa, aku lihat dulu siapa yang mengetuk pintu" ucap aamon.


Aamon lalu bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu untuk melihat orang yang mengetuk pintu.


" ada apa?" Tanya aamon


" yang mulia, ada seseorang yang mau bertemu dengan anda" ucap pengawal itu


" siapa dia dan untuk apa bertemu denganku?" Tanyanya lagi


" hamba tidak tau, hanya saja dia terluka dan ingin segera bertemu dengan anda" ucapnya


" aku akan segera ke sana, suru dia untuk menunggu" ucap aamon


" baik" pengawal itupun pergi dan aamon kembali ke tempat miclara


" kenapa?" Tanya miclara


" aku mau keluar dulu, kau tunggu di sini" ucap aamon sambil memakai bajunya


" apa aku boleh ikut?" Tanya miclara

__ADS_1


" kau tunggu di sini, aku akan segera kembali" ucapnya dan dia langsung pergi


" mmm apa sebaiknya aku mengikutinya, tapi dia menyuruku untuk tetap di sini, lebih baik aku disini saja" ucapnya padanya sendiri


Aamon sekarang sedang menuju ruang tamu dan ingin bertemu dengan orang yang ingin menemuinya. Dari apa yang pengawalnya katakan, dia yakin bahwa orang yang ingin menemuinya ini ingin mengatakan hal yang penting. Tapi kenapa dia merasakan firasat yang buruk, saat dia berjalan ke arah ruang tamu dia selalu merasa terjadi sesuatu pada orang yang ada di dekatnya.


Sebelum bertemu dengan orang itu, aamonp terus merasa tidak tenang, dia ingin mengetahui maksud kedatanganya. Setelah itu aamon memasuki ruang tamu dan langsung di pertemukan dengan orang yang ingin bertemu dengannya. Orang itu seperti sudah mengalami hal yang buruk, karna seluru badanya memiliki banyak luka seperti serangan.


" apa alasan yang membuatmu ingin bertemu denganku?" Tanya aamon


Orang itu langsung menghampiri aamon dan mengatakan masalahnya


" yang mulia, kami membutukan bantuan anda" ucapnya


" apa matsudmu?" Tanya aamon


" aku adalah salah satu rekan gusion adik anda, sekarang dia sedang dalam masalah" ucapnya


" apa! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Tanya aamon tak sabaran


" waktu itu dia menyuruh kami mengikutinya ke sebuah kota untuk melakukan sesuatu, tapi siapa yang menyangka saat kami ke sana banyak orang yang sudah menunggu kedatangan kami. Dengan terpaska kami semua menyerang mereka satu-persatu tapi mereka begitu licik hingga kami semua tidak berdaya. Namun gusion dia tidak menyerah, dia terus menyerang mereka walaupun dia sudah terluka cukup parah. Alhasil dia di bawa orang-orang itu dan kami tidak bisa menolongnya, aku sangat khawatir padanya jadi aku ke sini ingin meminta bantuan anda untuk menolong gusion" ucapnya


" aku mengerti, sekarang kau bisa tetap disini dan obati lukahmu, aku akan segera menjemput gusion" ucap aamon


" aku akan ikut dengan anda, hanya aku yang tau lokasi mereka" ucapnya


" baiklah, kau tunggu disini aku ingin mengurus sesuatu dulu" ucap aamon


" baik"


Aamon lalu pergi menuju kamarnya, dia mungkin ingin berpamitan dengan miclara, tidak mungkin dia pergi begitu saja tampa mengatakan padanya. Aamon yang sudah ada di depan kamarnya langsung masuk dan menemui kekasinya.


" kau sudah kembali" ucap miclara


" miclara, aku akan pergi untuk beberapa hari jadi kau tunggu aku kembali ya" ucap aamon


" kau mau kemana, kenapa begitu tiba-tiba?" Tanya miclara


" ini bukan hal yang penting, hanya saja aku akan pergi untuk beberapa hari" ucap aamon


" tapi aamon, tidak biasanya kau pergi begitu tiba-tiba aku jadi khawatir" ucap miclara


" tidak usa khawatir, aku akan segera kembali" ucap aamon


" baiklah aamon, kau harus kembali aku akan menungumu" ucap miclara


" anak baik" ucap aamon sambil menyentuk kepala miclara, setelah itu diapun pergi.


________________________________________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2