![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Sekian lama berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah di tengan hutan tersebut. Itu mungkin adalah rumah para penjahat yang akan mereka hadapi, kondisi rumah tersebut jika di lihat dari luar sangat sepi, tapi mungkin di dalamnya ada banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan mereka bertiga.
Karna sebelumnya miclara terluka, mereka memutuskan untuk menunggu penjahat² itu keluar dari rumah tersebut, karna mereka takut saat mereka memasuki rumah tersebut sudah banyak perangkap yang mereka siapi, dengan kondisi miclara saat ini tidak mungkin mereka bisa menghindar.
" kita ke sana dulu" ucap aamon, miclara dan gusion pun mengikutinya
Beberapa saat kemudian
Lebih dari lima orang keluar dari rumah tersebut, mereka semua membawa senjata yang mungkin beracun seperti kedua orang yang perna mereka hadapi. Mereka benar² tidak mengetahui keberadaan miclara beserta saudara itu.
Percakapan para penjahat*~~
" kemana mereka, kenapa belum kembali"
" mungkin ada penyusup yang menyerang mereka berdua"
" tapi siapa yang berani ke hutan yang berbahaya ini"
" apa sebaiknya kita cari mereka"
" tidak usa, kita cari saja anak mereka yang masih hidup di luar sana"
" setelah kita berhasil membunuh anak itu kita bisa merasakannya seperti saat orang tuanya kita bantai"
" hahaha kau benar"
Miclara sangat marah dengan apa yang mereka katakan tentang orang tunya, dia benar² tidak bisa berdiam diri di sini terus, dia ingin cepat² menghabisi mereka. Aamon dan gusion tau bagaimana perasaan miclara saat ini, tapi ini bukan maktu yang tepat untuk melakukan serangan.
" kita tunggu waktu yang pas untuk melakukan serang" ucap gusion kepada miclara sambil berbisik
" baik" jawab miclara sambil mengangguk.
Orang² itu masih berbincang-bincang dan tertawa², ini adalah waktu yang pas untuk melakukan serangan karna target sudah dalam kondisi tidak waspada.
" ini adalah waktunya" ucap aamon
" em" gumang miclara sambing mengangguk
" apa kau bisa melakukannya?" Tanya gusion pada miclara
" aku cuman perlu menggunakan pedang ini untuk menyerang mereka kan" ucap miclara sambil memegang padang yang tadi gusion berikan padanya.
" baiklah hati-hati " ucap gusion
Yang maju pertama adalah aamon menggunukan jurus tidak terlihatnya, dia bersembunyi di belakan para penjahat itu. Sedangkan gusion menyiapkan pedang² kecilnya di sekeliling penjahat itu tampa mereka sadari. Miclara masih ada di tempatnya, dia akan maju kalau sudah waktunya.
Kemudian aamon dan gusion mulai menyerang dan mereka berhasil membunuh 4 orang, sisahnya berhasil menghindar dari serangan mereka berdua.
" Siapa kalian!!?" Tanya salah satu dari penjahat itu
" kami adalah malaikat pencabut nyawa" ucap gusion
Para penjahat itu menyiapkan senjata mereka dan menyerang aamon dan gusion, tapi aamon dan gusion berhasil menghindar dan menyerang mereka kembali.
" sial!!" Ucap penjahat itu geram
Salah satu penjahat itu yang merupakan ketua kelompok itu melompat dan menembakan anak panah yang banyak ke arah aamon dan gusion. Karna aamon bisa menggunakan pedangnya untuk melindunginya, diapun tidak terkena serangan itu.
Lain halnya dengan gusion dia berusaha tidak terkena serangan itu, tapi karna anak panah itu ada banyak diapun kesulitan. Satu anak panah mengenai dirinya saat dia berusaha menghindar.
" ugh!" Gusion memegang lengannya yang terkenah serangan itu, dia mencabut anak panah itu dari lengannya.
" hahaha karna itu, kau tidak akan bisa selamat dari anak panah ku haha- eh!" Ucapanya terhenti saat dia merasakan sakit luar biasa di perutnya.
Saat dia melihat ke bawa, dia terkejut karna ada satu pedang yang menancap di perutnya, dia lalu melihat orang di belakannya dan orang itu adalah miclara.
" k-kau..." penjahat itu tidak percaya sudah di kalahkan oleh seorang gadis
Penjahat itu pun terjatuh dan mati dengan pedang kecil yang masih menancap di perutnya, sedangkan penjahat yang masih selamat kabur meninggalkan rekanya yang sudah mati semua.
Setelah dia berhasil membunuh penjahat yang menghabisi orang tuanya, miclara pun terduduk.
" ayah.. ibu.. aku berhasi, aku berhasil membalaskan dendam kalian hisk" ucap miclara sambil memegangi liontin di lehernya dan dia menatap ke langin dengan air mata yang mengalir di pipinya
" aku berhasil ayah... ibu..." ucap miclara
Aamon dan gusion kemudian menghampiri miclara yang masih terduduk di depan mayat penjahat yang berhasil ia bunuh.
__ADS_1
" kau berhasil" ucap gusion sambil memegang lukanya
" hisk... aku berhasil membalaskan dendam mereka hisk" akhirnya miclara menangis tersedu-sedu
Gusion membantu miclara berdiri
" orang tuamu pasti merasa senang sekarang" ucapnya
" iya..." karna dia terlalu tidak percaya telah membunuh orang, miclara tiba-tiba memeluk gusion sambil menangis dengan keras
" huaaaa!!! " ucapnya
Gusion mengelus rambut miclara agar dia merasa tenang, tapi tiba-tiba aamon merebut miclara dan membiarkannya menangis di pelukannya.
" kau sedang terluka" itulah kata-kata yang dia ucapkan setelah merebut miclara dan pelukan gusion.
Beberapa saat kemudian
Ini sudah sore, dan mereka masih ada di kota ini, setelah mereka berhasil membunuh para penjahat itu, mereka bertiga memutuskan untuk menginat di kota ini sampai besok.
Untunglah di kota ini ada penginapan, kalau tidak mereka pasti akan bermalam di hutan.
Dipenginapan
Aamon sebagai orang yang paling tua yang memesan kamar untuk mereka bertiga. Dilihat dari luar penginapan yang akan mereka tempati ini terlihat sangat bagus tapi tidak dengan jumlah kamarnya yang terbatas.
" apa! Kami hanya bisa memesan satu kamar?" Ucap aamon pada pengurus penginapan tersebut
" iya nak, kamar di penginapan ini terbatas jadi hanya bisa pesan satu kamar" ucapnya
" t-tapi kami ada bertiga, tidak mungkin kami tidur di satu kamar" ucap miclara
" mau bagaimana lagi, kamar di penginapan ini begitu terbatas" ucap penjaga penginapan
" baiklah kami mengerti" ucap gusion
Aamon lalu membayar uang untuk mereka menginap satu hari, penjaga penginapan itu lalu membawa mereka bertiga ke kamar yang sudah di pesan.
" ini kamarnya dan ini kuncinya" ucapnya sambil memberikan kunsinya ke miclara
" terimakasih" ucap miclara
Mereka pun masuk ke kamar yang akan mereka tempati itu, dia dalam kamar cuman ada satu ranjang, ya.. walaupun ranjangannya besar cukup untuk di ditiduri tiga orang tapi salah satu dari mereka adalah perempuan jadi tidak mungkin jika mereka harus tidur bersama.
" aku mau membersikan diri dulu" ucap aamon, kemudian dia pergi ke kamar mandi
Beberapa saat kemudian
Miclara dan gusion tetap ada di kamar itu, suasanya sangat canggung
" aku mau mengobati lukaku dulu" ucap gusion, dia lalu pergi mengobati lukanya dan tinggal miclara sendiri di kamar tersebut.
Miclara berjalan-jalan di kamar yang besar itu, dia tidak tau harus bagaimana, tidak mungkin jika dia harus tidur di ranjang bersama mereka. Miclara lalu duduk di sofa yang ada di kamar itu.
" mungkin aku tidur di sofa saja" ucapnya
" tidak!" Ucap orang yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana panjang dan memperlihatkan roti sobeknya><
Orang itu adalah aamon, dia baru selesai mandi
" k-kau.." ucap miclara sambil memalingkan wajahnya
" kau tidur di ranjang saja, aku dan gusion akan tidur di sofa" ucap aamon sambil mengeringkan rambutnya
"Ba-baiklah" ucap miclara, dia lalu bangkit berusaha untuk pergi namun aamon mencegahnya.
" bantu aku keringkan rambutku" ucapnya
" apa!" Ucap miclara terkejut
" kenapa? apa kau tidak mau membantu orang yang sudah membantumu membalas dendam" ucap aamon
" ba-baiklah" miclara lalu mengambil handuk yang ada di tangan aamon dan aamon lalu duduk di ranjang begitupun miclara, miclara pun mulai mengeringkan rambut aamon.
Beberapa saat kemudian
__ADS_1
Gusion yang sudah mengobati lukanya langsung kembali ke kamaranya, saat dia memasuki kamarnya dia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan di mana saat ini dua orang yang ada di kamar itu sedang saling bertatapan dengan posisi yang sang gadis ada di bawah sedangkan yang laki-laki ada di atas.
" apa yang terjadi di sini?" Tanya gusion langsung membuat mereka memperbaiki posisi masing-masing.
" ini tidak seperti yang kau lihat, tadi kami hanya..." ucap miclara
" lalu..." ucap gusion yang tidak sabar ingin mendengar penjelasan mereka.
" begini ceritanya, tadi...
flashback on
Waktu itu saat miclara mengerinkan rambut aamon dia tidak sengaja menarik rambut aamon hingga membuanya merintih kesakitan.
" apa yang kau lakukan! Apa kau mau mencabut rambutku?" Ucap aamon sambil mengelus rambunya yang masih sakit
" maaf aku tidak sengaja" ucap miclara merasa bersalah
Aamon kemudian bangkin dari duduknya dan menghadap miclara
" lain kali jangan merarik rambutku saat aku memintamu mengerinkan rambutku" ucap aamon
" iya aku tau aku minta maaf" ucap miclara
" sudahlah" ucap aamon
Saat aamon mau mengambil bajunya yang ada di kamar mandi, miclara tiba-tiba menghentikanya.
" tunggu!" Ucap miclara sambil menarik celana panjang aamon
" ada apa?" Tanya aamon dengan waja dinginya
Seketika miclara langsung tidak jadi mengatakan alasan dia menghentikan aamon
" t-tidak jadi" ucap miclara
Aamon kemudian menghampiri miclara lagi dan wajah mereka sangat dekat, miclara tidak tau kenapa dia mendakat padanya. Karna dia takut dia mendorong aamon agar dia tidak mendekat padanya. Tapi karna aamon sangat kuat bukan dia yang mendorong aamon tapi dirinya yang terdorong saat mau mendorong aamon.
Aamon berusaha menangkapnya tapi alhasil dia terpeleset membuat posisi mereka seperti yang dilihat gusion.
flashback off.
" jadi begitu ya" ucap gusion
" iya"
" sudahlah aku mau istirahat" ucap aamon dia lalu pergi ke sofa dan tiduran di sana, tapi sebelum itu dia mengambil pakayannya dulu
" aku mau membersikan diri dulu" ucap miclara, dia lalu pergi ke kamar mandi
Gusion lalu menghampiri aamon untuk membicarakan sesuatu
" ada apa" ucap aamon saat melihat adiknya itu berjalan ke arahnya
" apa kau menyukai miclara?" Tanya gusion
Aamon tentu saja terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh adiknya itu
" aku tidak tau kenapa kau menanyakan hal itu" ucap aamon
" waktu itu kau membantunya meminum obat dengan mulutmu, kemudian kamu memelukanya saat di sedang menangis, bukannya itu karna kamu menyukainya" ucap gusion
" aku tidak tau soal itu, tapi aku sedikit tertarik padanya" ucap aamon sambil melihat gusion.
Beberapa saat kemudian
Miclara pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, dia lalu menuju gusion.
" apa kau akan mandi?" Tanyanya
"Iya" jawab gusion
" ini handuknya" miclara lalu memberikan handuk nya pada gusion dan gusion pun pergi mandi.
Beberapa saat kemudian
Mereka bertiga pun tidur, aamon dan gusion tidur di sofa sedangkan miclara tidur di ranjang yang besar jika hanya ditiduri satu orang. Mereka menunggu hari esok yang mungkin akan menjadì hari terakhir pertemuan mereka dengan miclara.
__ADS_1
_______________________________________________
Bersambung