One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Lupakan hal itu ]


__ADS_3

Aamon yang sudah ada di depan kamarnya langsung memasukinya, dia sedikit merasa bersalah karna memberikan tanggung jawab yang besar kepada adiknya. Tapi ini akan menjadi salah satu hal yang harus adiknya itu ketahui sebagai bangsawan.


Jika dia tidak melakukan ini, mungkin nanti gusion tidak bisa melakukan tanggu jawabnya. Tapi dia masih merasa tidak tega harus meninggalakan adiknya itu, namun itu sudah terjadi untuk apa harus di pikirkan.


Aamon yang sudah ada di kamarnya langsung melihat miclara yang sedang melihat dirinya di cermin. Dia masih memakai gaun itu dan hiasan wajahnya masih ada, bahkan sepertinya dia tidak menyadari kedatangan aamon.


Aamon menghampirinya dan menepuk pundak miclara, hal itu membuat miclara kembali sadar setelah melamun cukup lama. Dia lalu melihat aamon di cermin di depannya, miclara kemudian bangun dan menghadap kekasihnya.


" aamon, kenapa kau kesini?" Tanya miclara


" kau kenapa duduk di sini, bukannya kau bilang mau istirahat" ucap aamon


"..." miclara tidak menjawabnya


" kenapa, apa kau masih memikirkan perkataan guin?" Tanya aamon


Miclara lalu berbalik dan melihat dirinya lagi di cermin, dia seperti tidak ingin menjawab pertanyaan aamon. Aamon memegang pundaknya dan membalikan tubuhnya agar menghadap dirinya.


" miclara tidak usa memikirkan hal itu, aku menyukaimu bukan karna kau melakukan suatu trik, tapi aku memang tulus menyukaimu" ucapnya


" tapi aamon, aku ini hanya gadis biasa dan kau adalah seorang bangsawan, status kita sangat berbeda apa itu tidak masalah" ucapnya tertunduk


" miclara lihat aku, tidak usa memikirkan hal itu jika kau memang menyukaiku" ucap aamon sambil mengangkat waja miclara


" aamon aku sangat mencintaimu, tapi status kita begitu berbeda jauh aku ta-" ucapnya terhenti ketika aamon menciumnya


Miclara membulatkan matanya saat aamon mencium dia secara tiba-tiba, namun kemudian dia menutup matanya dan menikmati ciuman itu. Setelah beberapa menit, ciuman itu berakhir dan aamon langsung menggendong miclara menuju ranjang mereka.


Aamon kemudian meniduri miclara walaupun dia masih belum menghapus hiasan wajahnya. Gaunnya yang besar membuat tempat tidur itu terasa begitu sempit, namun aamon tidak langsung tidur di samping miclara, dia menindiknya hingga dia bisa mendengar detak jantung miclara yang begitu cepat.


" a-aamon.. apa yang ingin kau lakukan?" Tanya miclara


" kenapa, apa kau mengharapkan aku melakukan sesuatu?" Tanya balik aamon


" bukan begitu, hanya saja kenapa kamu ada di atasku" ucap miclara


" aku tidak akan melakukan apa-apa, jadi tidurla" ucap aamon


" t-tapi kenapa tanganmu bergerak sembarangan" ucap miclara sambil memalingkan wajahnya


" ternyata kau menyadarinya, kalau begitu aku lanjutkan saja" ucap aamon


" apa!" Ucap miclara terkejut


" gaun ini begitu menghalangi" ucapnya


" tidak aamon jangan merobeknya! aku menyukai gaun ini" ucap miclara


" nanti aku akan memberikanmu gaun yang lebih bagus" ucap aamon, dia pun merobek gaun miclara hingga memperlihakan tubuhnya


" aku akan membuatmu melupakan keraguan dalam hatimu, setelah ini kau tidak akan memikirkan hal itu lagi" ucap aamon

__ADS_1


" apa.."


" miclara, aku sangat mencintaimu" ucapnya dengan suara berat


" aamon.."


Malam ini aamon membuat miclara menghilangkan keraguannya dan tidak akan memperdulikan perkataan guin lagi. Kamar yang mereka gunakan sekarang terdengar suara mereka berdua yang saling mencintai.


Suara kegiatan mereka bisa di dengan dari luar kamar mereka, jika ada yang melewati kamar mereka, mungkin kegiatan mereka akan terdengar. Namun permainan mereka tidak berjalan lama, setelah beberapa saat aamon langsung membiarkan miclara tidur di sampingnya.


Tubuhnya yang polos tidak ditutupi apapun membuat keringat yang menutupi tubuhnya terlihat jelas. Aamon menyelimutinya agar tubuhnya tidak kedinginan, dia juga menyelimuti tubuhnya sendiri dengan alasan yang sama.


Tampa mereka sadari perjaumuan di luar sana telah usai dan tamu-tamu juga sudah pulang. Gusion yang di beri tugas untuk menemani para tamu sekarang sudah terbaring lemas di kamarnya.


Apalagi dia tidak mengganti pakayannya dan terlihat jelas rona merah dipipinya. Malam ini tampa pengawasan kakaknya dia sepertinya minun cukup banyak, atau para tamu yang menyuruhnya.


Bahkan saking tidak sadarnya dia, sampai-sampai tidurnya tidak benar, dimana saat ini kaki dan kepalanya tidak berada di tempat yang benar. Namun dia sudah tidak sadar, mungkin posisinya ini akan bertahan sampai pagi.


Pagi di mulai lagi, miclara karna sudah terbangun lebih awan langsung membersikan tubuhnya. Saat dia melihat tubuhnya di cermin, dia melihat banyak bekas ciuman di lehernya.


Dia mencari baju yang bisa menutupi bekas ciuman itu, setelah dia selesai memilih baju, dia langsung kembali ke ranjang di mana saat ini kekasihnya itu masih tertidur dengan pulas. Miclara ingin membangunkanya, namun saat dia ingin menyentuh rambut aamon, aamon malah menariknya hingga miclara terjatuh dalam pelukannya.


Miclara berusaha lepas dari pelukan aamon, namun genggaman pemuda itu begitu kuat. Miclara hanya bisa memanggilanya karna dia tau saat ini aamon sudah terbangun dan hanya menutup matanya saja.


" aamon kau ini kenapa selalu seperti ini, padahal aku tadi hanya ingin membangunkan mu saja" ucap miclara


" tunggu sebentar, aku masih mengantuk" ucap aamon dengan mata yang masih tertutup


" aku ingin seperti ini dulu dengan begitu tidurku akan lebih nyenyak" ucapnya


" huff aamon aku sudah mandi! jika kau memelukku terus nanti bau keringatmu ini akan menempel di bajuku" ucapnya marah


Aamon lalu membuka sebelah matanya dan tersenyum ketika pertama kalianya melihat raut waja miclara yang marah. Namun itu tidak membuat aamon melepas pelukannya, dia malah semakin erat memeluknya.


" miclara nanti kita bisa mandi lagi kan, sekarang lebih baik kau temani aku tidur" ucap aamon


" apa! Tidak mau aku tidak mau mandi lagi!" Ucap miclara


" aku tetap tidak akan melepaskanmu miclara jadi jangan membuang energimu" ucap aamon


" aamon!!" Walaupun dia berteriak aamon tetap saja tidak mendengarkannya dan dia malah kembali menutup matanya


Alhasil miclara hanya bisa pasra dan membiarkan aamon terus memeluknya, walaupun dia sebenarnya sudah lapar. Namun ketukan pintu langsung membuat miclara terselamatkan dari genggaman aamon.


Dia langsung menjawab ketukan itu dan bertanya siapa yang ada di luar kamarnya.


" siapa" ucap miclara


" ini aku floryn, aku mau mengajak kakak sarapan pagi!" Teriak floryn dari luar kamarnya


" kalau begitu masukla floryn, aku akan ikut denganmu" ucap miclara bersemangat

__ADS_1


" baik, aku buka pintunya ya" ucap floryn


" iya buka saja" ucap miclara


' gadis itu mengganggu sekali, lain kali aku harus membuatnya sedikit menjauh dari miclara, kalau tidak dia akan selalu mengganggu kesenangnku' batin aamon


" aamon cepat lepaskan pelukanmu, floryn akan segera melihatnya" bisik miclara sambil menahan tawa


Dengan terpaska aamon langsung melepaskan miclara dan tidur membelakanginya, miclara langsung berdiri dan menunggu kedatangan floryn.


" kak kenapa kau masih disini ayok" ucap floryn


" iya ayok" ucap miclara senang


" tapi, apa kau tidak mau membangunkan kak aamon?" Tanya floryn


" dia akan bangun sendiri, lebih baik kita cepat pergi karna aku sudah lapar" ucap miclara


" baik kak, ayok" floryn lalu menarik tangan miclara agar mengikutinya


Setelah mereka keluar dari kamar ini, aamon langsung bangun dan duduk bersandar di ranjangnya. Dia lalu melepas selimutnya dan kemudian dia bergegas ke kamar mandi agar bisa menyusul kedua orang itu.


Setelah dia sudah membersikan diri, aamon langsung keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang makan. Dia pun langsung melihat miclara dan floryn sedang berbincang-bincang dengan senangnya.


Aamon lalu duduk di dekat miclara sambil melihat meja makan yang sepertinya masih kurang satu orang. Aamon langsung menanyakan keberadaan gusion pada pelayan yang menyiapkan makanan.


" di mana gusion?" Tanya aamon


" tadi malam karna minun terlalu banyak pangeran gusion mungkin masih tidur" jawab pelayan itu


' aku membiarkannya minun bukan berarti dia bisa minun sebanyak itu' batin aamon


" kau bisa suruh pelayan untuk membangunkannya" ucap miclara


" huff biar aku yang memanggilanya" ucap aamon


Aamon lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke kamar adiknya, miclara dan floryn hanya diam sambil memulai makan mereka. Pintu kamar adiknya sudah ia lihat dari jauh, dia langsung menggunakan kekuatanya untuk membuka pintu itu dengan keras.


Agar saat dia masuk gusion sudah terbangun dan dia tidak perlu membangunkannya lagi. Namun saat dia sudah ada di samping ranjang adiknya, adiknya itu masih tertidur dengan lelap.


Aamon menghela nafas dan membuangnya dengan kasar, dia tidak habis pikir gusion bisa tidur senyenyak ini. Dia langsung menarik kaki adiknya hingga terjatuh dari ranjangnya, cara membangunkanya sunggu kejam.


Gusion langsung meringis kesakitan ketika kepalanya terbentur cukup keras ke lantai, dia langsung bangun dan melihat kakaknya yang tengan melihat dirinya.


" sudah bangun, kalau begitu cepat mandi dan sarapan!" Ucap aamon tegas


Setelah mengatakan hal itu, aamon langsung keluar dari kamar gusion dan menuju ruang makan. Gusion masih ada di posisi yang sama dan masih memegang kepalanya yang sakit, dia lalu terbangun dan duduk di ranjanganya.


" dasar gila" umpanya, kemudian dia berjalan ke kamar mandi agar tubuhnya menjadi lebih segar.


________________________________________________Bersanbung

__ADS_1


__ADS_2