One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Pertemuan dengan seseorang ]


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua di mana Miclara berusaha mencari orang yang menghabisi orang tuanya, dia sudah dua hari ini tidak pergi istirahat kecuali hujan atau turus salju.


Tekatnya begitu kuat walaupun dia hanya gadis berumur 17th, tapi dia sudah memikul beban yang begitu berat, dia tidak ingin penjahat yang seharusnya menanggung semuanya pergi dengan bebas.


Karna sudah dua hari dia tidak istirahat, dia hampir kehilangan kesadarannya, wajahnya yang begitu kelelahan dan kelingat yang terus bercucuran menandakan dia sudah tidak kuat lagi.


Akhirnya dia tidak sadarkan diri di tempat yang sangat jauh dari perumahan, dia sekarang ada di hutan yang belum perna dia lalui sebelumnya.


Miclara Pov


Aku sudah tidak kuat lagi, tapi aku harus tetap maju jangan berhenti, bagaimana kalau mereka pergi lebih jauh lagi.


'Ayah... ibu apakah kalian sedang melihatku dari atas sana, apa kalian akan melindungiku. aku pasti akan membuat kalian berdua pergi dengan tenang setelah aku berhasil membalaskan dendam kalian'


" aku mau tidur sebentar.." saat itu aku sudah mulai tidak sadarkan diri, di mimpiku aku melihat kedua orang tuaku yang masih hidup, mereka tersenyum padaku dan bilang ' kau adalah kebanggaan kami' saat aku mendengarnya aku sangat bahagia, saat aku mau memeluk mereka, mereka malah menghilang.


" Ayah Ibu, kalian mau kenapa, jangan tinggalkan aku lagi..." aku berteriak memanggil mereka, tapi mereka tetap saja pergi dan tidak datang padaku. Aku tau ini mimpi tapi aku masih ingin melihat ayah dan ibu walaupun cuman mimpi.


Saat aku sadar, aku sudah ada di sebuah tempat yang begitu inda jika di lihat, aku melihat di depanku banyak sekali tanaman yang tumbuh dengan subur.


Aku melihat sekeliling dan menemukan seorang gadis yang datang menghampiriku.


" kamu sudah sadar, apa kau baik-baik saja" ucapnya padaku


" i-iya, apa kau yang menolongkuh?" Akupun bertanya padanya


" iya, tadi aku melihatmu pinsan, karna itu aku langsung membantuhmu" ucap gadis itu tersenyum manis


" Terimakasi ya, siapa namamu" aku lagi-lagi pertanya padanya


" namaku floryn, aku suka menanam tanaman" ucap gadis bernama floryn itu


" benarkah, kau sangat hebat"


Aku lalu berdiri dan bermaksud untuk pergi tapi dia mengengam tanganku


" kau mau kemana?"


" aku harus pergi, sekali lagi terimakasi ya floryn"


" nanti kau akan ke sini lagi kan" ucapnya padaku


" baiklah" aku lalu pergi sambil melambaikan tangan


" KAKAK... SIAPA NAMAMU..."


" NAMAKU MICLARA..."


" SAMPAI JUMPA KAK MICLARA..."


​Pov End


Sekarang Miclara sudah kembali melanjutkan perjalannya, saat dia bertemu dengan floryn dia merasa sudah sehat kembali. Pertemuanya dengan gadis itu sudah meringankan bebannya.


' apa ayah dan ibu yang mengirim floryn untuk membantuhku, aku merasa sudah lebih baik setelah bertemu dengan floryn' batinnya.


Dia tidak tau bahwa orang yang akan membantunya masih belum bertemu denganya. Diala yang akan membantu Miclara dan menyelesaikan balas dendamnya.


Miclara terus berjalan hingga dia sampai ke tempat yang ia tau adalah tempat berkumpulnya para penjahat. Ini adalah tempat yang berbahaya bagi seorang gadis yang datang sendiri. Miclara kemudian bersembunyi saat mendengar kegaduhan dari dalam rumah itu.


Dia melihat rumah itu dari kejauhan agar tidak ada yang menyadarinya, suara kegaduhan itu lama-lama mulai menghilang, dan saat itu ada satu orang yang berjalan keluar dari rumah tersebut dengan sempoyongan.


Miclara tidak tau harus apa, dia takut orang itu menemukannya dan akan menangkapnya, padahal miclara masih belum membalaskan dendam orang tuanya.


Tapi tiba-tiba orang itu terjatuh dan tidak sadarkan diri, miclara lalu menghampiri orang itu yang kondisinya sedang terlukah.


" apa dia baik-baik saja" ucap miclara sambil menghampiri orang itu.


Miclara kemudian melihat orang itu dan membalut lukanya dengan kain yang dia punya. Setelah itu dia membawa orang itu ke tempat yang lebih aman agar tidak ada yang melihat.


" kenapa aku bisa membantunya, padahal aku punya urusana sendiri" ucap miclara pada dirinya sendiri


Miclara lalu menaruk orang itu di depan pohon besar dan dia lalu berdiri untuk pergi, tapi orang itu malah sadar dan menarik tanganya hingga dia terduduk lagi.


" siapa kau!" Ucapnya tegas


" a-aku hanya membantumu mengobati lukamu saja" ucap miclara gemetar ketakutan


Orang itu lalu melihat tanganya yang terluka sudah terbalut kain, kemudian dia melihat miclara lagi dan melepas tanganya.


" maaf, jika aku membuatmu takut" ucapnya


" tidak papa, kalau begitu aku pergi dulu, kau istirahat saja di sini" ucap miclara.


Saat miclara mau pergi, lagi-lagi dia menarik tanganya, tapi beda dengan yang pertama, saat dia menarik tanganya dia langsung memeluk miclara atau melindunginya dari serangan musuh yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Sebelum serangan itu mengenai mereka, ada beberapa pedang kecil yang melindungi mereka, pedang-pedang kecil itu lalu menyerang orang-orang yang mau menyerang miclara dan orang itu.


Pemilik pedan kecil itu lalu muncul dan menemui miclara dan orang itu.


" ternyata kau ada di sini, Gusion" ucapnya


Orang yang bernama gusion itu lalu melepas pelukannya dari miclara dan berdiri menghadap orang yang tadi menyelamatkannya.


" kenapa kau kesini!?" Tanya gusion padanya


" aku kesini untuk mencarimu dan membawamu pulang"


" aku bukan adik kecilmu lagi, jadi jangan terus mencari dan menyuruhku pulang!" Ucap gusion.


Tampa pikir panjang dia lalu menarik tangan gusion agar mengikutinya


" hei! Lepaskan aku" ucap gusion


Kemudian miclara menghampiri mereka dan menghentikannya yang mau membawa gusion secara paksa.


" hei kau lepaskan dia, kenapa kau memaksanya dia tidak mau ikut!" Ucap miclara


Orang itu lalu menatap miclara dingin dan tubuh miclara gemetar tampa sebap. Selagi ada kesempatan, gusion akhirnya berhasil melepaskan diri darinya.


" aku tidak akan kembali ke istana dan kamu jangan selalu memaksaku kembali" ucap gusion


" aku kesini karna ingin membawamu pulang, aku tidak akan kembali sebelum membawa mu. Dan siapa dia" ucapnya sambil melihat ke arah miclara.


" a-aku..." miclara takut saat orang itu menatapnya, dia merasa orang itu bisa kapan saja memakannya, karna takut miclara terus mundur dan sembunyi di belakang gusion.


" dia telah mengobati luka ku, karna itu aku melindunginya tadi" ucap gusion


" jadi begitu, ayok pulang" ucapnya


" kenapa kau tidak mengerti! Aku tidak mau pulang!" Ucap gusion


" a-anu siapa dia, kenapa dia terus menyuruhmu pulang?" Tanya miclara


" dia adalah kakak ku aamon paxley, dia selalu mengagapku seperti anak kecil dan terus menyuruhku pulang" ucap gusion


" kenapa kamu tidak pulang saja?" Tanya miclara


" apa kau bercanda, mana mungkin aku kembali ke tempat yang bahkan tidak menyetujui keputusanku sendiri, mereka terus menyuruhku menggunakan sihir, tapi aku lebih ingin menggunakan pedang dari pada sihir" ucap gusion.


Gusion pun berbalik bermaksud untuk pergi, tapi sebelum dia melompat, aamon menarik tangannya saat itu juga.


" mau kemana? Apa kau mau pergi lagi" ucap aamon


" tentu saja aku akan pergi" ucap gusion.


Miclara hanya diam melihat pertengkarang dua saudara yang ada di depannya itu, dia tidak mau ikut campur, ya walaupun tadi dia sedikit ikut campur. Miclara lalu berbalik dan ingin meninggalkan mereka berdua, tapi dia malah melihat beberapa orang yang mengarah padanya dan melakukan serangan.


" kyaaa!!!" Teriak miclara berusaha melindungi diri saat serangan itu mengarah padanya


Aamon dan gusion yang melihat itu menggunakan pedang kecilnya untuk melindungi miclara.


Serangan itu pun tak mengenai miclara, setelah aamon dan gusion berhasil melindungi miclara. Mereka kemudian berlari ke arah penjahat itu dan menghabisinya dengan kemampuan mereka yang hebat.


Miclara yang melihat pertempuran di depannya itu hanya bisa diam dengan tubuh yang gemetar, dia takut karna ini pertama kalianya dia melihat hal yang mengerikan seperti ini.


Saat dia melihat orang yang dilawan aamon, dia merasa mengenal salah satu dari empat penjahat itu.


' itu, bukannya itu paman' batinya


Miclara lalu berlari ke arah mereka dan berteriak.


" Berhenti!!" Ucapnya sambil melindungi pamanya dari serangan aamon,


aamon saat melihanya dengan sekuat tenaga menghentikan seranganya sendiri, agar tidak mengenai miclara.


" apa yang kau lakukan!! Apa kau mau mati!!" Ucap aamon marah


" jangan serang pamanku" ucap miclara pada aamon


" apa salah satu dari mereka adalah pamanmu?" Tanya gusion


" iya, dia adalah pamanku, aku tidak mungkin tidak mengenalnya" ucap miclara sambil menunjuk ke salah satu penjahat.


Miclara lalu menghampiri pamannya yang sudah menjadi keluarganya satu-satunya


" paman, kenapa paman ada di sini?" Tanya miclara pada pamanya


" apa kau miclara, kau miclara kan" ucap pamanya


" iya paman, aku miclara"

__ADS_1


" maafkan aku nak, aku tidak bisa melindungi orang tuamu, tapi aku senang bisa melihatmu lagi" ucap paman miclara


" apa matsud paman, apa paman tau tentang kejadian yang menimpah ibu dan ayah?" Tanya miclara.


Paman miclara lalu mengambil sesuatu dari kantonnya kemudian dia memberikannya pada miclara.


" apa ini paman?" Tanya muclara


" ini adalah benda yang orang tuamu berikan padaku, mereka menyuruhku memberikan ini padamu" ucapnya.


Miclara lalu melihat isi kotak itu, dan isinya adalah sebuah kalung yang memiliki liontin, miclara lalu membuka liontin itu, dan di dalam liontin itu adalah foto orang tuanya dan dirinya saat masih bayi. Miclara tidak bisa menahan air mata lagi, dia menangis saat melihat benda yang paling berharga bagi orang tuanya.


Gusion yang ada di belakan miclara melangkah maju, dan bertanya pada paman miclara tentang kejadian yang sebenarnya.


" apa yang terjadi pada orang tuanya kenapa kamu masih belum ceritakan semuanya" ucap gusion.


" malam itu saat aku datang ke rumahmu, aku melihat orang tuamu yang sepertinya sedang bingung, saat mereka melihat ku mereka mengatakan masalahnya. Mereka bilang akan ada beberapa penjahat yang akan ke mari, mereka meminta bantuanku untuk membawamu pergi jauh-jauh dari sana agar saat penjahat itu datang mereka tidak menyakitimu, karna itu aku membawamu saat kamu masih tidur terlelap. Aku membawamu ke tempat yang sepi, dia sana tidak akan ada yang menemukanmu. Kemudian aku kembali ke rumahmu, tapi... aku sudah terlambat, mereka sudah tiada dan rumah mereka juga sudah hancur. Aku minta maaf nak, karna aku tidak bisa membantu orang tuamu" ucapnya.


Mendengar itu, miclara terduduk lemas karna di saat terakhirnya orang tuanya masih tetap melindunginya.


" hisk ayah ibu..." tangis miclara


" nak, yang aku tau, penjahat yang membunuh ayah dan ibumu berasal dari kota sebelah, mereka dulu katanya adalah teman orang tuamu, tapi karna perselisihan di antara mereka, mereka jadi bermusuhan" ucap paman miclara.


Miclara lalu bangun dan mengusap air matanya


" paman, aku akan membalaskan dendam orang tuaku, aku akan mencari mereka dan membalaskan dendamku, dengan begitu ayah dan ibu pasti akan merasa senang" ucap miclara


Aamon lalu menayakan satu hal pada paman miclara


" kenapa kalian mau menyerang kami?" Tanya aamon


" tadi ada satu orang yang menyerang markas kami, dia datang dan langsung mencari masalah, jadi kami pikir kalian salah satu rekannya , jadi kami menyerang kalian" ucap teman paman miclara.


Aamon langsung menatap ke arah gusion yang wajahnya tidak merasa bersalah


" kalau begitu kami pergi dulu maaf soal yang tadi, nak miclara semoga kau berhasil membalaskan dendammu" ucap paman miclara, kemudian mereka pergi.


Saat paman miclara dan teman-temannya pergi, aamon langsung menanyakan banyak hal pada gusion.


" apa kau orang yang mereka sebut?" Tanya aamon


" aku tidak tau apa yau kau katakan, aku tidak mungkin melakukan itu" ucap gusion


" tapi kenapa kamu terluka, apa karna jatuh atau di serang orang?" Aamon kembali bertanya, keringat dingin mulai membasahi kening gusion


" aku cuman bersenang-senang saja dengan mereka, tapi mereka malah menyerangku" ucap gusion dengan wajah tampa bersalah.


Tampa memperdulikan dua saudara itu, miclara lalu pergi ke arah yang berlawanan dari pamanya, namun sebelum dia pergi ada yang menghentikanya, dia ada gusion.


" mau kemana?" Tanya gusion


" ke kota sebelah" jawab miclara cepat


" apa kau mau melawan mereka sendirian" ucap gusion


" apa lagi yang bisa aku lakukan" ucap miclara tegar


" jika kau kesana bukannya kau hanya mengantar nyawa saja, bukan membalaskan dendam orang tuamu" ucapnya


" kalau kau kesana, kau hanya akan mati dan menyusul orang tuamu" ucap gusion lagi.


Miclara terdiam sambil tertunduk, dia tidak tau harus menjawab apa, dia cuman ingin membalasakan dendam orang tuanya tampa memikirkan hal yang lain. Sampai dia lupa, bahwa dia hanya gadis kecil tidak mungkin bisa melawan panjahat apalagi cuman sendiri.


" begini saja, aku akan ikut denganmu" ucap gusion membuat miclara beserta aamon terkejut


" apa! Kau akan ikut" ucap miclara


" aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi" ucap aamon


" jika kau tidak mau membiarkan aku pergi, kenapa kau tidak ikut saja" ucap gusion


" apa kau yakin akan ikut denganku" ucap miclara


" ya" jawab gusion cepat, dia lalu berjalan di depan mereka berdua


" apa kalian tidak mau ikut" ucapnya sambil melihat ke belakang


" t-tunggu aku" ucap miclara sambil mengejar gusion


" huh! apa boleh buat, tidak mungkin aku meninggalkanya" aamon kemudian mengikuti mereka.


( Kayak ada yang hilang siapa ya, oh iya°•° tiga pengawal aamon tertinggal :v )


_______________________________________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2