One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Kebenaran tentang keluarganya ]


__ADS_3

Tampa berlama-lama mereka langsung mengurung miclara di tempat yang sudah mereka siapkan dari awal. Mereka tidak langsung melakukan sesuatu kepada miclara, mereka seperti ingin membuat miclara menderita baru menghabisinya.


Sekarang miclara tidak bisa melakukan apapun, dalam kondisinya saat ini dia hanya bisa berharap ada yang menolongnya. Miclara berusaha untuk tidak panik karna dia sekarang sedang hamil, dia juga tidak ingin mereka tau tentang kehamilannya.


Orang yang bekerja sama dengan guin tiba-tiba menemuinya dan membuka kurungan yang menguncinya. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya, miclara mundur perlahan-lahan ketika dia sudah ada di depannya.


" kau mau apa?" Tanya miclara


" asal kau tau saja, kau beserta keluargamu itu adalah seorang pembunuh, kalian telah menghabisi orang-orang tak bersalah, tangan kalian sudah terlalu sering berlumuran darah karna itu keluargamu mati mengenaskan seperti itu, sekarang tinggal kau yang akan mengalaminya"ucapnya


" aku memang perna membunuh orang tapi yang aku bunuh itu memang pantas mendapatkannya" ucap miclara


Kemudian dia karna tidak senang miclara mengatakan itu langsung menamparnya dengan keras hingga bibirnya mengeluarkan darah.


" ugh!"


" kau tidak tau yang sebenarnya tentang keluargamu! Beraninya kau mengatakan hal itu tentang ayahku!" Ucapnya marah


Miclara yang terduduk karna tamparan tadi mulai bangun dan membersikan darah di ujung bibirnya. Saat dia menamparnya hingga terjatuh, miclara dengan cepat langsung melindungi perutnya agar anak yang dikandungnya baik-baik saja.


" apa matsudmu? Apa kau mengetahui alasan ayahmu menghabisi orang tuaku?" Tanya miclara


" tentu saja aku tau! Ayahku dan rekannya menghabisi keluarmu itu karna kesalahan ayahmu sendiri! Dia sendiri yang membuatnya mengalami hal seperti itu" ucapnya


" apa matsudmu?" Tanya miclara


" ayahmu itu dulu adalah seorang pembunuh dan bergabung dengan ayahku, karna dia mencintai ibumu dia berhenti menjadi pembunuh dan hidup bersama ibumu, tapi suatu hari dia kembali ke tempat ayahku hanya untuk membuat ayah marah hingga mereka membunuh orang tuamu" ucapnya


" tidak mungkin, ayahku tidak mungkin seorang pembunuh kau hanya mengarang saja!" ucap miclara


" aku tidak perduli kau percaya atau tidak, tapi yang pasti tangan ayahmu itu perna berumuran darah orang-orang tak bersalah, sekarang kau juga sudah mengikuti jejaknya dan membunuh ayahku, kalian memang pantas untuk mati!" Ucapnya


" tidak aku bukan pembunuh, ayahku juga dia tidak mungkin membunuh orang, dia sangat baik tidak mungkin dia perna membunuh orang" ucap miclara tak percaya hingga terduduk lemas


Dia langsung meninggalkan miclara yang terduduk lemas, dia sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Kali ini dia hanya perlu menunggu hari dimana dia akan menghabisinya.


" hisk ayahku tidak mungkin membunuh orang, dia hanya asal bicara saja tidak mungkin ayahku seorang pembunuh" ucapnya sambil memeluk lututnya


Guin yang baru saja kembali dari kerajaannya langsung melihat kondisi miclara, walaupun dia melihat miclara menangis itu tidak membuatnya kasihan, dia langsung duduk di kursi di samping orang yang membuat miclara menangis.


" apa kau yang telah membuatnya menangis?" Tanya guin


" dia menangia sendiri bukan aku" ucapnya


" heh! Aku sangat senang melihatnya menderita seperti itu, dalam beberapa hari lagi aku ingin segera melihat dia mati" ucap guin

__ADS_1


" ngomong-ngomong kita sudah bersama selama sebulan tapi aku masih belum mengetahui namamu, apa kau tidak mau mengatakannya" ucap guin


" oh iya kau belum tau namaku, kau bisa memanggilaku serah" ucap serah


" baik mulai sekarang aku akan memanggilmu nama itu" ucap guin


" kita lihat apa dia bisa bertahan tampa makan dan minum" ucap serah sambil melihat ke arah miclara.


Di kerajaan paxley


Karna tampa kehadiran miclara aamon sama sekali tidak bisa tidur, dia terus berdiri di dekat jendela berharap miclara baik-baik saja. Walaupun matahari sudah akan terbit, pemuda paxley itu masih terus berdiri dan sepertinya dia tidak merasa lelah.


Saat ini miclara sedang tidak bersamanya, dia takut orang yang membawanya akan menyakitanya apalagi sekarang miclara tenga mengandung anaknya. Gusion sudah berusaha memaksa orang yang ikut dalam menculikan miclara untuk mengatakan keberadaannya.


Namun mereka sama sekali tidak mau mengatakannya, alhasil aamon langsung menyuruh gusion untuk menghabisi mereka. Sekarang aamon hanya bisa berharap miclara masih baik-baik saja, dia sudah menyuruh beberapa pengawal untuk mencari keberadaanya.


Namun aamon tidak ingin berdiam diri di sini terus, dia juga ingin mencari miclara namun dia harus kemana, dia masih tidak tau. Aamon merasa bingung dan menyalakan dirinya karna meninggalkan miclara, jika dia tidak pergi mungkin sekarang miclara sedang bersamanya.


Kemudian ketukan pintu membuatnya berhenti terus berdiri di depan jendela dan melihat ke arah pintu, dia langsung menghampiri pintu dan membukannya.


" kak" ucap gusion


" ada apa?" Tanya aamon


" aku ingin mengatakan sesuatu mengenai pengawal-pengawal yang pingsan itu" ucap gusion


" pengawal yang pingsan itu sekarang sudah sadar, tapi anehnya mereka kehilangan sebagian ingatan mereka" ucap gusion


" lalu?" ucap aamon


" hah?"


" jika mereka kehilangan ingatannya lalu aku harus berbuat apa, sekarang ini di dalam pikiranku semuanya dipenuhi dengan keadaan miclara, dia sekarang sedang bersama orang yang bisa menyakinya kapan saja tapi kau malah membicarakan hal ini denganku! Jika kau masih belum tau keberadaan miclara lebih baik jangan menggangguku!" Aamon langsung menutup pintunya


" aku tau kau pasti sangat mengkhawatirkan miclara, tapi aku juga sama, aku juga sangat mencemaskan keadaanya" ucap gusion di balik pintu, kemudian dia pergi dari depan kamar aamon.


Matahari sudah sepenuhnya muncul, sekarang miclara sudah terbangun dari tidurnya, semalam dia hanya bisa tidur sambil memeluk lututnya. Dia hanya bisa menahan dingin yang dia rasakan, apalagi dia hanya bisa tidur di atas lantai yang dingin.


Saat dia bangun dia melihat kedua orang itu tengan duduk sambil memakan makanan yang banyak. Saat melihat mereka makan miclara jadi ingat bahwa dia harus makan untuk membuat bayi di dalam kandungannya tidak kekurangan nustrisi.


Namun saat ini dia yakin bahwa mereka tidak akan memberinya makan, dia tidak tau harus apa dia harus segera mengisi perutnya. Guin yang sadar bahwa miclara memperhatikannya langsung melihat miclara dengan senyuman licik.


" heh! Lihat dia, dia melihat kita terus rasanya aku ingin langsung mencongkel matanya" ucap guin


" kau benar, kasihan sekali dia tidak bisa menikmati makanan seperti ini" ucap serah

__ADS_1


' apa aku harus memohon pada mereka agar memberiku makanan, ini demi anakku aku harus melakukannya'batin miclara


" a-aku mohon pada kalian berikan aku sedikit makanan" ucap miclara


" hah!? Apa aku salah dengar, kau baru saja memohon" ucap guin


" iya, aku mohon berikan aku makanan" ucap miclara


" hahaha!! Aku senang sekali saat mendengarnya, tapi sayang sekali aku tidak akan memberimu makanan" ucap guin sombong


" kita lebih baik tinggalkan dia sendiri di sini, lihat saja sampai kapan dia akan bertahan" ucap serah


" benar" kemudian mereka pergi


" tidak! Jangan pergi tolong berikan aku makanan aku mohon!" Ucap miclara namun mereka tidak mendengarkannya


" bagaimana ini, aku harus segera makan kalau tidak bayiku.." ucap miclara putus asa


Miclara mengelus perutnya yang masih rata, dia tidak tau apa yang akan terjadi jika dia terus di sini. Mereka pasti akan sadar jika miclara tenga hamil muda, jika mereka mengetahuinya miclara hanya bisa mempertahankan bayinya jika mereka berusaha menyukainya.


Memang sekarang kedua orang itu tidak menjaganya tapi tetap saja miclara masih merasa takut tentang jeadaan bayinnya nanti. Walaupun dia terus melihat tempat ini, dia tetap tidak bisa melakukan apapun padahal di depannya ada sebuah pintu yang tidak di tutup.


Tempat yang mengurungnya begitu gelap, tidak ada cahaya yang meneranginya, lama-kelamaan dia mulai merasa sesak di dadahnya. Walaupun dia berusaha tenang tapi kali ini dia sudah tidak bisa bertahan lagi.


Kepalanya juga mulai pusing karna dia tidak memakan apapun, apalagi udara di tempatnya begitu sedikit hingga dia hampir kehilangan kesadaran. Miclara pun pingsan dengan tangan yang masih erat memegang perutnya.


Kemudian guin dan serah kembali, mereka terlihat puas saat melihat miclara yang sudah tak sadarkan diri. Mereka lalu menghampiri miclara dengan niat yang jahat, tangan mereka terus mengacak-acak rambut miclara hingga sesekali mereka menendang tubuhnya.


Namun serah merasa aneh karna miclara sangat erat memegangi perutnya, dia berusaha menarik tangan miclara namun itu sia-sia. Saat itu dia merasa bahwa miclara memang tidak ingin perutnya terluka, dia jadi curiga miclara telah menyembunyikan sesuatu.


" ada apa?" Tanya guin


" apa kau tidak merasa bahwa dia sangat aneh" ucap serah


" matsudmu?" Tanya guin lagi


" dia terus saja memegang perutnya seperti tenga melindungi sesuatu" ucap serah


" kau benar, dia dari kemaren selalu memegang perutnya, apa dia tidak mau perutnya terluka" ucapnya


" tidak, sepertinya dia melindungi sesuatu yang ada dalam perutnya, apa dia sedang hamil?" ucap serah


" apa?! Di hamil, apa dia hamil anak aamon! Aku harus segera membunuhnya!" Ucap guin marah saat mengetahuinya


" tunggu! Jika kau melakukannya itu tidak akan seru, lebih baik kita tunggu beberapa hari lagi, biar dia menderita setelah itu baru kita bunuh keduanya" ucap serah

__ADS_1


" heh! Baiklah, kita tunggu hari itu tiba" ucap guin berjalan meninggalkan keduanya


________________________________________________Bersambung


__ADS_2