One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Berjalan pulang ]


__ADS_3

Paginya


Ada seseorang yang berteriak dari balik pintu rumah yang mereka tempati, hal itu membuat kadua pasangan itu terbangun. Walaupun ini memang sudah waktunya untuk bangun, tapi mereka tidak ingin terbangun dengan cara seperti ini.


Sang pria yaitu aamon beranjak dari tempat tidur yang ia tempati bersama sang kekasih menuju ke arah pintu tersebut. Miclara hanya menuggu di kamarnya sambil tiduran karna dia masih mengantuk. Aamon lalu membukak pintu itu dan ingin tau siapa yang mengganggu pagi mereka. Setelah aamon membuka pintu itu, dia melihat sahabat miclara yang terlihat mencemaskan sesuatu.


Dia adalah layla, dia terlihat sedang mencemaskan sesuatu namun aamon tidak tau itu. Layla yang melihat aamon yang membukakan pintu itu terlihat sudah merasa senang, sebelum aamon bertanya layla buru-buru berbalik dan pergi. Namun sebelum itu aamon dengan cepat langsung bertanya kenapa dia bersikap begitu.


" ada apa?" Tanya aamon


" sudah tidak papa, aku sudah yakin bahwa sekarang dia sudah baik-baik saja" ucap layla


" apa matsudmu?" Tanya aamon lagi


" apa miclara sekarang ada di sini?" Tanya layla


" iya, lalu kenapa?" Tanya aamon balik


" itu yang aku cemaskan, tadi pagi saat aku bangun tiba-tiba aku tidak melihat miclara di kamarnya, jadi aku takut miclara pergi saat aku tertidur, apa lagi saat itu kondisinya tidak baik. Tapi saat aku melihatmu disini bersama miclara, aku sudah yakin bahwa dia sekarang sudah tidak papa" ucap layla


" jadi begitu, tapi kamu jangan khawatir sekarang miclara sudah aman bersamaku, aku tidak akan perna membuatnya sedih lagi" ucap aamon


" aku tau itu, kalau begitu aku pergi dulu, maaf kalau aku sudah menganggu kalian" kemudian layla pergi sambil melambaikan tangan dari belakang.


Aamon lalu kembali ke tempat miclara, dia melihat miclara yang kembali tertidur dan kemudian dia menghampirinya. Saat dia menyentuh dahi miclara, tiba-tiba miclara terbangun dan langsung mengusap matanya.


" aamon, apa itu kau?" Tanya miclara yang masih belum tersadar sepenuhnya


" iya, jika kau masih mengantuk kau bisa kembali tidur" ucap aamon


Miclara lalu duduk berhadapan dengan aamon, dia masih terlihat mengantuk memeluk aamon yang masih berdiri dihadapannya. Aamon terlihat senang dengan sikap miclara padanya, saat dia masih mengantuk miclara terlihat seperti anak kecil yang manja pada orang tuanya.


Aamon mengelus rambutnya dan sedikit mendengan gumangan tidak jelas kekasihnya.


" aoomon siopa yoang mengetok puntu" gumangnya


Sesekali aamon tersenyum mendengarnya, namun dia menahannya dan menjawab pertanyaan miclara.


" layla yang mengetuknya, dia khawatir padamu karna tiba-tiba tidak ada di rumahnya" ucap aamon


Seketika miclara langsung terduduk dan baru menyadari bahwa dia pergi tampa memberitau sahabatnya itu.


" aku lupa hal itu! layla pasti khawatir!" ucap miclara


" memang dia terlihat sangat khawatir, kau sebagai sahabatnya seharunya tidak membuat dia cemas seperti itu" ucap aamon sambil menyilangkan tanganya


" itukan salahmu, kamu yang tiba-tiba mengendongku tampa mendengarkanku" ucap miclara sambil mengembungkan pipinya


" iya iya aku tau, ini semua adalah salahku karna membawamu tampa seijinmu, tapi sepertinya waktu itu kau memang berniat keluar kan" ucap aamon


" i-itu... aku tidak bisa tidur jadi ingin keluar jalan-jalan" ucap miclara sambil memalingkan wajahnya


" apa karna memikirkan ku?" Tanya aamon dengan nada jahil


" m-mana mungkin! Aku tidak memikirkan mu, aku cuman tidak mengantuk" ucap miclara

__ADS_1


" dari wajahmu sudah terlihat bahwa kau sedang berbohong, mengaku saja bahwa kau sedang memikirkan ku kan" ucap aamon


" aamon kau sangat nyebelin, aku mau mandi saja" miclara lalu pergi dan membersikan diri.


Ingin rasanya aamon menyusul miclara mandi, namun miclara pasti tidak akan mengijinkannya, bahkan mungkin nanti dia akan marah padanya karna menganggu dia mandi.


Aamon hanya bisa menunggu miclara agar dia bisa membawanya cepat-cepat kembali ke istana. Setelah masalah ini selesai, dia tidak akan perna lagi menyembunyikan apapun dari miclara. Dengan susah payah akhirnya miclara memaafkannya, dia tidak mau karna dirinya lagi, miclara jadi meninggalkannya.


Cukup sekali saja miclara salah paham padanya, untuk seterusnya dia akan dengan serius menjaga hubungan ini hingga sampai waktunya dia memilikinya seutuhnya.


Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk kembali ke kerajaan paxley. Dengan berjalan pelan sambil mengengam tangan pasanganya, mereka berdua terlihat sangat mesra.


" aamon apa kau tau, setiap aku akan mengalami masalah, orang tuaku selalu muncul dalam mimpiku, bahkan waktu itu mereka muncul dan menyuruhku untuk tetap percaya padamu" ucap miclara


" benarkah"


" iya, ini bukan pertama kalinya" ucap miclara


" jadi mereka akan muncul dalam mimpimu dan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang akan kau alami" ucap aamon


" iya" jawab miclara


" kalau begitu, kau katakan padaku saat kau memimpikan orang tuamu, biar nanti kita bisa bersiap-siap menghadapi masalah bersama-sama" ucap aamon


" baiklah" ucap miclara tersenyum manis


" aamon dari mana kau tau aku ada di kota itu, siapa yang mengatakannya padamu?" Tanya miclara


" aku menebak saja" ucap aamon


" benarkah..."


" tidak tidak aku percaya, kau sangat hebat bisa menebak aku ada di mana" ucap miclara


" karna aku begitu mencintaimu sampai-sampai aku bisa mengetahui keberadaan mu" ucap aamon


" hati kita terhubung satu sama lain, karna cinta kita begitu dalam" ucap aamon


" aamon... kata-katamu sangat manis" ucap miclara


" tidak semanis dirimu" ucap aamon


" kau bisa aja" miclara kemudian berlari dan meninggalkan aamon


" ayok kejar aku" ucap miclara


" baik, jangan lari kau.." aamon kemudian mengejar miclara


Mereka seperti anak-anak yang sedang saling mengejar, walaupun begitu mereka terlihat sangat bahagia seperti seseorang yang baru saja menemukan kebahagian hidupnya. Umur bukanla masalah, jika kita sudah terlalu bahagia kita bisa melakukan apapun walaupun bermain seperti anak kecil.


" aamon...kau lambat sekali, dimana kecepatan yang perna kau tunjukan padaku waktu itu..." ucap miclara yang terus berlari sambil melihat ke arah aamon yang masih mengejarnya


' oh... dia meremekan aku, lihat saja'  batin aamon


Aamon lalu masuk ke dalam mode menghilang dan dengan cepat berlari ke hadapan miclara tampa miclara sadari. Kemudian miclara yang tak melihat aamon di belakangnya tetap berlari karna dia yakin aamon tidak akan tertinggal walaupun sekarang ia tidak melihatnya.

__ADS_1


Namun saat dia berlari, dia tak sengaja terbentur sesuatu hingga membuatnya terjatuh, miclara lalu melihat sesuatu yang menghalangi jalannya.


" aduh... aku menabrak apa tadi" ucap miclara sambil memegang kelapanya yang sakit


" aku sudah menangkapmu" ucap seseorang yang ada di hadapannya


Mendengar suara yang familiar, miclara langsung menatap ke depannya. Seketika itu dirinya langsung merasa bersalah, karna dia akhirnya tertangkap oleh orang yang sudah dia remekan.


" aamon kau kenapa bisa ada di hadapanku?" Tanya miclara


Aamon membantu miclara berdiri dan kemudian dia siap menjawab pertanyaan miclara.


" waktu itu aku kan sudah perna menunjukannya padamu, saat kita membalaskan dendam orang tuamu" ucap aamon


" oh iya waktu itu kau bisa menghilang, jadi itu yang membuatmu bisa menangkapku, tapi itu tidak adil" ucap miclara


" apanya yang tidak adil, bukannya kau yang memintaku untuk menangkapmu, sekarang saat aku sudah menangkapmu kau malah bilang aku curang" ucap aamon


" tapi kan kau menggunakan kekuatanmu untuk menangkapku, jadi itu tidak adil!" ucap miclara sambil menyilangkan tangan dan membuang mukanya


" baiklah terserah kamu, tapi seharunya kan aku mendapatkan hadia karna sudah menangkapmu, jadi apa kau sudah memikirkannya" ucap aamon


" hadia? Kau mau apa?" Tanya miclara


" cium aku" ucap aamon


" a-apa, tapi bagaimana kalau ada yang lihat" ucap miclara


" tidak akan ada yang melihatnya, aku cuma mau kecupan saja" ucap aamon


" baiklah, tapi di pipi saja ya" ucap miclara


" baik"


Miclara menjinjit agar bisa menyamai tinggi aamon dan dia lalu memajukan wajahnya agar bisa menyentuh pipi aamon, namun saat kecupan itu hampir terjadi, aamon dengan cepat mengarakan bibirnya agar miclara mengecupnya.


Akhirnya mereka berciuman di bibir tampa sepengetahui miclara, aamon merasa dirinya saat ini menang bayak. Tampa usaha miclara mencium dirinya, miclara lalu membuka matanya setelah selesai mencium aamon.


" sudah" ucapnya


" baik, mari kita pergi" ucap aamon sambil merangkul miclara dan kembali melanjutkan perjalanan


' kenapa tadi terasa lembut ya, seperti bukan pipi yang aku cium, atau mungkin itu hanya perasaanku saja' batin miclara


" ada apa?" Tanya aamon


" tidak ada" jawab miclara


Aamon tersenyum tipis saat merasa miclara memikirkan tentang ciuman tadi, dia pasti berfikir bahwa tadi hanya kecupan di pipi. Tapi hanya aamon yang tau bahwa tadi itu bukan hanya sekedar kecupan di pipi.


Hutan yang mereka lalu terlihat sangat sepi jika hanya berdua saja, sudah sangat lama mereka berjalan menuju kerajaan paxley. Rasa lelah dan lapar pasti sudah mereka rasakan, agar perjalan nanti mereka tidak terlihat lelah, akhirnya aamon menyuruh miclara untuk istirahat.


Walaupun jarak menuju kerajaan paxley sudah dekat, dia hanya tidak ingin miclara lelah walau dia tidak mengatakaanya secara langsung. Tapi aamon tau bahwa sekarang miclara pasti sudah tidak kuat berjalan, aamon mencari alasan agar dia mau berhentih dan istirahat.


Memang dia menolak, tapi akhirnya dengan paksaan aamon dia mau istirahat di bawa pohon besar.

__ADS_1


________________________________________________


Bersanbung


__ADS_2