![One'S First Lover [ Aamon Paxley ]](https://asset.asean.biz.id/one-s-first-lover---aamon-paxley--.webp)
Aamon dan miclara masih ada di kamar yang sama, setelah miclara selesai memijat kepalanya. Aamon meminta miclara untuk dalam posisi yang sama, karna dia ingin terus tidur di pangkuanya. Ini bukan pertama kalianya dia bertingkah seperti ini, hanya saja aamon baru saja menceritakan masa lalunya yang kelam.
Jadi miclara membiarkannya melakukan apapun agar dia merasa tenang, dia juga ingin laki-laki yang saat ini ada di pangkuanya itu bisa melupakan masa lalunya. Jika itu sulit, miclara akan membantunya hingga tidak ada yang perlu di ingat lagi.
" aamon jika kau mengantuk, tidur saja" ucap miclara sambil membelai rambutnya
" aku tidak ingin tidur, hanya saja miclara aku masih ingin tidur di pangkuanmu"ucapanya
" baik, jika kau menyukainya aku akan terus seperti ini" ucap miclara.
Aamon memejamkan matanya saat miclara terus mengelus rambutnya, rasa ngantuk mulai menyerangnya, hanya saja dia tidak ingin tidur sekarang. Dia masih ada hal yang harus dia urus dan ini bukan waktunya dia untuk tidur.
" aamon" panggil miclara
" hm" gumang aamon
" apa tidak apa-apa kalau kau mengirim gusion sendiri, bagaimana kalau dia nanti dalam bahaya" ucap miclara
" dia tidak akan mengalami masalah kau tenang saja, lagi pula dia tidak sendiri" ucap aamon
" matsudmu?" Tqnya miclara
" gusion memiliki beberapa rekan di luar sana, walaupun dia tidak mengatakannya tapi aku mengetahuinya karna aku selalu mengawasinya" ucap aamon
" tapi bagaimana kalau dia tidak membawa teman-temannya, bukannya itu masalah" ucap miclara
" tidak mungkin, dia pasti akan membawa teman-temannya. Dan kenapa kau selalu mengkhwatirkannya, seperti kau sangat takut dia kenapa-napa" ucap aamon
" kau itu jangan cemburuan, lagi pula dia kan temanku jadi tidak masalah la kalau aku mencemaskannya" ucap miclara
" dia akan segera menjadi adik iparmu, jadi lain kali kau memanggilnya adik ipar saja" ucap aamon
" y-ya itu nanti, saat ini kan dia masih belum menjadi adik iparku" ucap miclara
" hari itu akan segera tiba, jadi kau bersiap-siap saja untuk segera memanggilnya adik ipar" ucap aamon tersenyum ke arah miclara
" aamon kau ini, sudahlah aku tidak ingin membicaralan hal ini lagi" ucap miclara
" sudah, kita lebih baik pergi makan dulu, pasti kau sudah lapan kan" ucap aamon
" baik" mereka berdua kemudian keluar dari kamar itu dan pergi menuju ruang makan.
Mereka yang sudah ada di ruangan makan tidak menyangkah ternyata masih ada satu tamu yang tidak di undang dan ikut makan bersama mereka. Siapa lagi kalau bukan guinevere, mungkin karna para ketua menyuruh mereka untuk tetap tinggal dan ikut menyantap makanan, tidak mungkin mereka masih berani untuk tetap ada di sini.
Saat kedatangan aamon dan miclara, dia langsung mengubah pandangannya dan tidak ingin melihat ke arah mereka. Tapi malahan aamon yang tidak ingin tetap di ruangan yang sama denganya, karna itu dia langsung mengajak miclara keluar dari ruang makan.
__ADS_1
" kenapa kita keluar aamon, bukannya kau bilang ingin makan?" Tanya miclara
" aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan dan membawanya ke kamarku, jika aku tetap di sana mungkin aku tidak akan selera" ucap aamon
" apa karna ada dia?" Tanya miclara
" tentu saja, kenapa kau masih bertanya" ucapnya sambil menyentuh hidup miclara
" jadi kali ini kita akan makan di kamarmu, tapi bagaimana kalau kita makan diluar saja" ucap miclara
" apa kau ingin makan di luar?" Tanya aamon
Miclara mengangguk
" baiklah kita berangkat sekarang" ucap aamon
" apa kau setuju?" Tanya miclara
" tentu aku setuju selama kau senang" ucap aamon
Miclara tersenyum mendengar jawaban aamon, kemudian mereka berjalan menuju gerbang keluar istana, untuk menikmati keseharian bersama-sama. Mungkin ini akan menjadi kencang pertama mereka setelah memiliki hubungan yang spesial.
Mereka sekarang ada di luar istana untuk mencari tempat makan yang di inginkan miclara. Aamon yakin miclara pasti merindukan desanya, karna itu dia bilang ingin makan di luar. Mungkin dia ingin mengunjungi desanya setelah sekian lama tidak ada di sana, namun aamon masih belum tau tempat tinggal miclara.
" miclara apa kau ingin mengunjungin tempat tinggal mu?" Tanya aamon
" matsudku tempat tinggalmu saat masih kecil" ucap aamon berhati-hati
Saat mendengannya, miclara berhenti sejenak dan berusaha tenang, dia tidak menyangkan aamon membicaran tempat tinggalnya dengan kedua orang tuanya. Memang sudah lama dia tidak kesana, hanya saja di sana sudah tidak ada apa-apa lagi baginya, semunya sudah pergi. Aamon menyentuk punda miclara karna dia sama sekali tidak merespon perkataan aamon, jadi dia khawatir.
" miclara apa kau baik-baik saja?" Tanya aamon
Kemudian miclara menatapnya dengan senyuman yang di paksakan
" aku tidak papa, hanya memikirkan sesuatu" ucapnya
Aamon mengerti perasaanya, dia pasti kembali mengigat kejadian itu. Pasti berat baginya jika kehilangan orang yang dia sayang. Walaupun kejadian itu sudah lama terjadi, namun bekas luka di hatinya masih tertinggal, rasa kehilangan itu masih ada.
" bagaimana, apa kau mau mengunjungi rumah mu?" Tanya aamon sambil terus memengang pundak miclara
" aku ingin kesana, aku juga ingin kau melihat tempat kelahiranku dan masa kecilku" ucap miclara
" baik" mereka pun melanjutkan perjalanan.
Pohon-pohon yang menyelimuti jalan yang mereka lalui membuat suasana di hutan ini begitu sepi. Sudah beberapa kali mereka melewatinya, tapi mereka tidak perna bertemu dengan seseorang selain orang-orang yang perna miclara temui saat mencari aamon. Namun tidak mungkin ini hanya kebetulan, saat dia dan aamon pergi berdua, hutan yang mereka lalui selalu terlihat sepi.
__ADS_1
Hutan ini seperti ingin membuat miclara dan aamon selalu bersama tampa ada yang mengganggu. Apakah takdir mereka memang tertulis selalu bersama dan tak terpisakan, bahkan dunia ini juga merestuinya. Sepertinya kali ini mereka benar-benar telah di takdirkan untuk bersama, jika nanti di antara mereka ada masalah, mungkin mereka akan menghadapinya bersama-sama.
Akhirnya setelah sekian lama miclara kembali ke tempat tinggalnya, desa ini masih sama seperti terakhir kali dia ada di sana. Hanya saja sekarang tidak ada yang menunggunya di rumahnya, karna mereka sudah tidak bersamanya. Miclara menarik tangan aamon untuk pergi ke rumahnya, tidak tau apa rumahnya sudah roboh atau masih berdiri.
Terakhir kali dia melihat rumahnya sudah hampir roboh, tapi tidak tau mungkin orang-orang memperbaikinya dan menunggu pemiliknya untuk menempatinya lagi. Tapi miclara yakin bahwa orang tuanya sudah di kubur dengan benar, dia ingin melihatnya setelah sekian lama tidak bertemu, walaupun hanya melihat batu nisan mereka.
Mereka berdua sampai di depan rumah yang masih terlihat baik-baik saja, rumah di depan mereka malahan terlihat baru tampa ada sedikitpun cacat.
" apa ini rumahmu?" Tanya aamon
" iya, aku tidak menyangkah rumahku di perbaiki" ucap miclara
Miclara lalu melangkah lebih dekat dengan rumahnya, dia menyentuh dinding rumahnya hingga sampai di pintu masuk. Aamon mengikutinya yang sudah masuk ke rumah di depannya, walaupun rumahnya telah di perbaiki, namun kondisi di dalam tidak ada apa-apa.
Memang perabotan rumahnya sudah hancur saat dia melihatnya, tidak mungkin ada yang berniat mengisih kembali semua perabotan kalau rumah ini tidak ada yang menghuni. Tapi miclara sudah sangat berterimakasi pada orang-orang yang sudah suka rela memperbaiki rumahnya.
" aamon, apa kau merasa rumah ini terasa kosong" ucapnya tampa menguba pandanganya ke arah rumahnya
" memang, karna rumah ini tidak di isi apapun" ucap aamon
" bukan itu matsudku, tapi yasudah la" ucap miclara sambil menatap aamon
" sebaiknya kita cari makan dulu, aku ingat di sana ada yang menjual makanan yang dulu sering aku makan, aku yakin kau pasti akan menyukainya" ucap miclara
" baik, tolong tunjukan jalannya" ucap aamon
Miclara pun jalan duluan dan aamon seperti biasa mengikutinya dari belakang. Dia sambil melihat sekeliling desa yang nampak tentram, banyak orang-orang yang tertawa-tawa dan bergemberia tidak seperti kerjaanya yang seperti kota mati. Saat dia menjadi raja, dia akan mengubahnya hingga warganya hidup tentram seperti orang-orang ini.
Kemudian miclara menghentikan langkahnya di sebuah kedai yang sederhana, dia lalu menarik tangan aamon agar mengikutinya masuk ke kedai itu. Kedai ini sangat sempit, bahkan hanya ada 6 tempat duduk saja, dan jika banyak yang beli, mungkin mereka harus berdiri dulu. Tapi untung miclara dan aamon tidak terlabat dan mendapatkan dua kursi dan satu meja.
Mereka tampa lama-lama langsung mendudukinya takut ada yang merebutnya. Ini adalah kebiasaan miclara dulu saat makan disini 'siapa cepat dia dapat ' itulah kata-kata yang tepat untuk kedai ini. Karna kebiasaanya, miclara tidak perna kehabisan tempat duduk, bahkan dia sampai menarik aamon agar tidak ada yang merebut tempat duduknya.
Setalah dia berhasil menduduki tempat duduk yang tinggal dua itu, dia langsung memesan makanan favoritnya kepada penjual yang tidak menyadari kedatangannya.
" paman aku pesam makanan seperti biasa, dua porsi ok" ucapnya sedikit kencang agar kedengaran
" siap-siap, tunggu dulu ya nona-nona" ucap penjual itu tampa melihat ke arah miclara dan aamon yang kesal karna di panggil 'nona'
" aamon kenapa?" Tanya miclara saat melihat waja kesal aamon
" tidak papa, kita tunggu saja makanannya jadi" ucap aamon
Dengan sabar mereka menunggu makanan yang mereka pesan beberapa menit yang lalu jadi. Suasana yang ramai membuat miclara merasa seperti dulu, sangat menyenangkan.
________________________________________________
__ADS_1
Bersambung