One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Menemani kekasih ]


__ADS_3

Sebelum pergi miclara meminta ijin kepada aamon untuk mengunjungi makan kedua orang tuanya. Bukan hanya menginjinkan, aamon juga berinisiatif untuk ikut dengannya, dia juga ingin meminta ijin kepada orang tua miclara untuk melindunginnya setelah kepergian mereka. Miclara sebenarnya masih ingin menginap disini, hanya saja sekarang ini bukannya rumahnya.


Memamg benar yang di katakan aamon, miclara lebih baik melupakan masa lalunya dan hidup dengan tenang bersama aamon. Seperti terakhir kali mereka kesana, banya orang-orang yang memperhatikan mereka. Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa, mungkin karna tau aamon bukannya pria biasa dan mereka tidak ingin menyinggunya.


Setelah beberapa saat mereka berjalan akhirnya miclara dan aamon sampai di pemakaman kedua orang tua miclara. Miclara tentu saja langsung menghampiri mereka dan ingin mengucapkan selamat tinggal. Walaupun dia tidak ingin menangis namun air matanya tidak bisa ia tahan hingga keluar sendiri, seberapa kuat dia menahan kesedihannya namun kesedihannya itu tidak bisa ia tahan lagi.


" ayok miclara kita pergi" ucap aamon


" kau benar, lebih baik kita segera pergi" ucapnya sambil menghapus air matanya.


Setelah itu mereka pun meninggalkan makam itu dan pergi menuju tempat mereka seharusnya. Kali ini perjalanan mereka sedikit berbeda dimana sekarang salah satu dari mereka menggendong yang lainnya. Setelah mereka pergi dari desa itu, aamon langsung menggendong miclara agar dirinya tidak merasa lelah dari perjalanan yang jauh.


Setelah pemuda paxley itu melakulan sesuatu, tidak akan ada yang bisa menghentikannya walaupun itu miclara sekalipun. Dia hanya bisa menuruti apa yang kekasinya itu katakan, dia hanya membiarkan aamon melakukan apa yang ingin dia lakukan kecuali hal yang tidak miclara sukai.


Perjalanan ini terasa begitu singkat, mereka sudah bisa melihat gerbang kerajaan paxley dari kejauhan. Mungkin karna aamon menggunakan kecepataanya hingga membuat perjalanan ini terasa singkat. Mereka akhirnya sampai dan langsung di beri hormat oleh pengawal yang menjaga gerbang.


Aamon lalu menurunkan miclara dari pelukannya, aamon langsung menggandeng tangan miclara menuju suatu tempat. Tidak tau kemapa namum miclara dengan senang hati mengikutinya.


" kita mau kemana aamon?" Tanya miclara


" suatu tempat yang pasti kau menyukainya" ucapnya


" benarkah, aku sangat tidak sabar ingin segera sampai" ucap miclara


Namun aamon malah menunjukkan senyuman yang tidak bisa dijelaskan, hanya saja dia seperti menyiapkan sesuatu yang akan membuat miclara terkejut. Namun aamon malah membawa miclara ke kamarnya, padahal dia bilang ingin membawa miclara ke suatu tempat yang akan membuat senang. Tapi miclara sudah perna kesini dan itu tidak akan beruba sama sekali.


" kenapa kita kesini?" Tanya miclara


Namun aamon tidak menjawabnya, dirinya hanya sibuk membuka pintu kamarnya dan langsung membawa miclara masuk ke kamarnya. Setelah itu aamon langsung mengambil sesuatu dan meletakannya di samping tempat tidurnya. Miclara melihat sesuatu yang aamon taruk di samping tempat tidurnya, miclara langsung membulatkan matanya saat itu juga.


" i-itu kenapa kau bisa menemukannya?"tanya miclara


" kenapa, aku menyukainya dan membawanya kemari" ucap aamon


" tapi aamon, foto itu terlalu usang bagaimana bisa kau membawanya kesini" ucap miclara


" aku bisa menyuruh seseorang untuk mengubah bingkainya, namun aku tidak akan membiarkanmu menyembunyikannya lagi" ucap aamon


" aku tidak bisa membantamu lagi, terserah kamu saja tapi kenapa kau membawaku kemari, apa hanya untuk melihat foto itu?" Tanya miclara


" bukan, tapi aku hanya ingin bilang bahwa mulai saat ini kau akan tidur di kamar ini bersamaku untuk seterusnya" ucap aamon


" apa! Tapi itu tidak boleh, yaa walaupun kita memang sering tidur bersama tapi jangan untuk seterusnya" ucap miclara

__ADS_1


" kenapa, aku tidak keberatan tidur denganmu untuk seterusnya" ucap aamon


" tapi aamon kita belum menikah, kita tidak boleh terus tidur bersama" ucap miclara mencoba meyangkinkan aamon


" tidak ada penolakan, kau harus mematuhi apa yang aku katakan" ucap aamon


" aamon kamu jangan kekanak-kanakan, ini bukan hal yang bisa kau putuskan begitu" ucap miclara


" miclara aku hanya ingin terus bersamamu, walaupun kita hanya berpisa semalaman saja tapi aku tidak rela" ucap aamon


" huff baiklah aamon, mulai saat ini aku akan terus tidur bersamamu" ucap miclara


" bagus" ucap aamon merasa puas


Setelah obrolah itu berakhir ada satu orang yang mengetuk pintu kamar mereka, aamon langsung membukakan pintu dan ingin melihat siapa yang menggangu kebersamaanya dengan miclara. Setelah dia membuka pintu dia melihat satu ketua kerajaan dan dua pengawal di belakannya sedang ada di depan pintunya.


" ada apa?" Tanya aamon dingin


" yang mulai, anda sudah lama tidak mengurus dokumen di ruangan anda, sekarang dokumen-dokumen itu sudah menumpuk di meja anda, lebih baik anda segera mengurusnya dan jangan membuang waktu" ucap ketua itu


" aku akan segera urus, sekarang kalian bisa pergi" ucap aamon, dia lalu kembali ke kamarnya


" ada apa?" Tanya miclara


" lebih baik kau segera urus, dari pada semakin menumpuk kan" ucap miclara


" kalau begitu kau temani aku saja, mungkin dengan kehadiranmu aku bisa dengan cepat menyesaikan dokumen itu" ucap aamon


" baiklah, aku akan menemanimu aamon" ucap miclara


" ayok kita pergi" ucap aamon


" apa kau memiliki ruangan kerja khusus, kenapa aku tidak tau" ucap miclara


" ya mungkin karna aku lupa, jadi tidak ku kasih tau" ucap aamon.


" jadi begitu, tapi kenapa kamu bisa melupakan kewajibanmu, apa karna ada aku?" Tanya miclara


" ya, karna aku ingin selalu bersamamu aku sampai lupa dengan kewajibanku" ucap aamon


" seharusnya kau jangan begitu, bukannya kamu nanti akan menjadi raja jika selalu mengabaikan kewajiban seorang peminpin, apa yang akan orang-orang katakan tentangmu" ucap miclara


" aku tidak perduli dengan omongan orang, aku hanya ingin kau terus mendukung apa yang aku lakukan" ucap aamon

__ADS_1


" aku tentu saja akan mendukungmu aamon, lain kali jika kau melupannya aku akan mengigatkanmu" ucap miclara


" kau memang calon istri yang baik, tidak salah aku telah memilihmu" ucapnya


" jadi dimana ruang kerjamu, kenapa kita masih belum sampai" ucap miclara


" sebentar lagi, lain kali aku akan memindakannya ke kamarku biar tidak lama seperti ini" ucap aamon


Setelah beberapa saat aamon dan miclara pun sampai di sebuah ruangan, ruangan itu tidak memiliki pengawal yang berjaga tidak seperti ruangan lain. Mungkin ini memang yang aamon inginkan, dia tidak ingin ada orang yang nanti bisa saja menganggu kegiatannya. Apalagi ini adalah ruangan yang sangat penting bagi aamon, dia tidak akan membiarkan orang lain ada di dekatanya walaupun di halangi pintu sekalipun.


Namun hal itu tidak untuk miclara, dia dengan sendiri mengajak miclara untuk menemaninya agar nanti pikirannya akan tetap merasa tenang saat ada miclara di sampingnya. Mengurus dokumen yang menumpuk memang akan membuat orang yang mengerjakannya merasa stres, walaupun masih muda seperti aamon.


Aamon mendorong pintu di depannya dengan pelan seperti biasa, miclara mengikutinya hingga dia melihat isi ruangan ini. Ruangan yang sangat rapi dengan beberapa jendela besar yang ada di depan mereka. Dia sana juga ada kursi dan meja yang berada di dekat jendela, juga ada satu sofa dan meja namun lebih besar. Mungkin itu digunakan aamon untuk istirahat setelah merasa lelah ketika mengurus dokumen yang menumpuk.


Beberapa rak buku juga menghiasi ruangan ini, ini lebih seperti perpustakaan dari pada di sebut tempat kerja. Kali ini jendela di biarkan terbuka agar angin segar bisa menerobos masuk dan membuat ruangan ini menjadi sejuk. Aamon menghampiri kursinya dan melihat dokumen yang memang sudah menumpuk tak terbatas.


" hem ini akan sangat lama menyelesaikannya" ucapnya


" tidak papa, aku akan menunggumu" ucap miclara


" kau bisa duduk di sofa itu, jika kau bosan baca saja buku yang ada disini" ucap aamon


" baiklah" miclara lalu menghampiri sofa yang di bicarakan aamon dan mendudukinya.


Aamon langsung duduk di kursinya dan membuka satu-persatu dokumen di depannya. Dia membaca dengan serius sambil sesekali menulis sesuatu, hal itu memang sudah biasa dia lakukan, tapi kali ini dia tidak sendiri ada seseorang yang menemaninya. Tak butuh waktu lama aamon sudah menyelesaikan beberapa dokumen, dia juga sesekali melihat miclara yang masih sibuk melihat-lihat buku.


Setelah miclara menemukan buku yang menarik baginya, miclara langsung mengambilnya dan membaca dengan serius. Saking seriusnya miclara sampai tidak duduk dan terus berdiri, namun dia kembali sadar dan mencari beberapa buku lagi untuk ia baca. Miclara yang sudah membawa beberapa buku kembali ke sofa itu dan mendudukinya, dia kembali melanjutkan membaca buku yang tadi dia baca.


Hari sudah berlalu menjadi malam, angin dingin sudah memenuhi ruangan dan suara jangrik sudah terdengar. Aamon sudah menyelesaikan semua dokumen itu, dia lalu membereskannya dan memijat pelipisnya yang pusing. Dia lalu melihat seorang gadis yang sedari tadi menemaninya, hanya saja sekarang dia sudah tertidur saking lelahnya menunggu.


Aamon menghampirinya dan membereskan buku-buka yang berserakan, dia mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Kemudian dia kembali dan menggendong miclara yang masih belum bangun, dengan pelan aamon menggendongnya dan membawanya ke dalam kamarnya.


' tidak disangka dia sampai ketiduran seperti itu, lain kali aku tidak usa menyuruhnya terus menungguku' batin aamon


Dia pun sampai di kamarnya dan membawa miclara ke ranjanganya, setelah itu dia berjalan ke kamar mandi untuk membersikan diri setelah sibuk seharian. Tampa sadar miclara sudah terbangun karna merasa ada yang menggendongnya, dirinya langsung melihat ke sekeliling.


" aku ada di kamar aamon, apa dia yang membawaku" ucapnya


Miclara lalu bangkit dan menuju kamar mandi, tapi dia tidak tau bahwa di sana masih ada orang yang menggunakannya.


Tidak tau nanti akan terjadi apa pada mereka, namun pasti akan ada yang terkejut.


________________________________________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2