One'S First Lover [ Aamon Paxley ]

One'S First Lover [ Aamon Paxley ]
[ Bersama kembali ]


__ADS_3

Sebelumnya di istana paxley, saat para pengawal yang diutus ketua untuk membunuh miclara masih belum berangkat. Gusion yang saat itu sedang berlatih pedang tidak sengaja mendengar obloran mereka.


Gusion memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka, karna dia merasa bahwa mereka sedang membicarakan tentang membunuh seseorang. Takutnya yang mereka incar adalah miclara dan sudah pasti yang memperintakan mereka adalah para ketua.


Percakapan para pengawal~~


" ayok kita cepat-cepat berangkat, sebelum para pangeran menyadarinya"


" iya kita berangkat sekarang"


" namun kita harus ke mana, apa kalian tau lokasi gadis itu"


" kita cari di desa tempat terakhir kita melihatnya"


" baiklah, ayok"


Mereka kemudian pergi tampa mereka sadiri ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.


' apa matsud mereka? apa para ketua menyuruh mereka untuk mencari miclara' batin gusion


" aku harus menemui kakak" gusion lalu pergi ke kamar kakaknya.


Kemudian saat dia sudah ada di depan kamar kakaknya, dia merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar kakaknya. Karna jika dia memberitaukan tentang miclara, kakaknya itu pasti akan langsung mencari miclara dan akan lebih dekat dengannya.


Namun jika dia tidak memberitau kakaknya, dia takut miclara dalam bahaya karna para pengawal itu. Gusion lalu mengetuk pintu kamar aamon.


'Tok tok tok'


Pintu pun terbuka dan memperlihatkan seorang pria yang nampak sedang gelisa.


" ada apa?" Tanyanya


" aku ingin mengatakan sesuatu, ini tentang miclara" ucap gusion


" apa? cepat katakan" ucap aamon


" para ketua mungkin ingin menyingkirkan miclara, karna tadi aku melihat beberapa pengawal yang keluar dari istana mencari miclara" ucap gusion


" apa!! Sial!!" Ucap aamon sambil memukul dinding di sampingnya


" aku harus cepat-cepat keluar dari tempat ini" ucap aamon pergi ke suatu tempat


" tunggu" ucap gusion mencegah kakaknya pergi


" ada apa?" Tanya aamon


" aku, aku memiliki sebuah jalan untuk keluar dari sini, aku menggunakannya untuk kabur dari istana" ucap gusion


" kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, ayok tunjukkan jalannya" ucap aamon


' aku tidak menunjukannya karna tidak ingin kau lebih dekat dengan miclara' batin gusion sambil menunjukkan jalannya.


Saat ini miclara sudah ada di tempat yang sangat sepi, orang-orang yang membawahnya masih belum melakukan apapun padanya. Miclara sekarang masih belum sadarkan diri, karna dia masih terkenah sihir orang yang melakukannya padanya.


Mereka tidak langsung membunuh miclara karna tempatnya yang sangat gelap, jadi mereka membawa miclara ke tempat yang lebih bagus untuk langsung menghabisinya.


Ini masih malam dan mungkin ini akan menjadi malam terakhir bagi miclara, namun mungkin nanti akan ada yang menyelamatkannya, walaupun itu masih belum pasti.


Beberapa saat kemudian


Orang-orang yang membawa miclara saat ini sedang membicarakan sesuatu, mereka sedang berdiskusi tentang hal yang akan mereka kerjakan. Mereka masih merasa sedikit khawatir jika harus membunuh miclara.


" jika kita membunuhnya, kedua pangeran tidak akan melepaskan kita, tapi kalau kita tidak membunuhnya para ketua akan langsung membunuh kita, apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu dari mereka


" lebih baik kita lakukan apa yang para ketua inginkan, kedua pengeran tidak akan tau tentang hal ini, mereka sekarang ada di istana dan tak akan di ijinkan keluar" ucapnya


" apa kau fikir mereka bisa terus menghalangi pangeran untuk menemui gadis ini"

__ADS_1


" bagaimana lagi, kita tidak punya pilihan"


Salah satu dari mereka bertiga mendekati miclara


" apa kau akan langsung membunuhnya?" Tanya rekannya


" ya" jawab dia dengan cepat.


Dia lalu mencekik leher miclara di saat dia masih belum sadar, namun saat dia menyentuh lehernya miclara tiba-tiba membukak matanya.


" hah!? Apa, apa yang kau lakukan!?" Ucap miclara saat dia melihat orang di depannya yang berusaha menghabisi dirinya


" kenapa dia sadar, bukannya dia sudah terkenah sihir" ucapnya


' mereka memakai pakayan seperti para pengawal yang membawa aamon dan gusion, apa mereka adalah pengawal aamon dan gusion. Tapi kenapa mereka mau membunuhku, jangan-jangan ini adalah perintah ketua yang di bicarakan aamon' batin miclara


" lepaskan aku!! Kenapa kalian melakukan ini, jika aamon mengetahuinya kalian tidak akan bisa selamat" ucap miclara berusaha menakuti mereka


" tapi, jika kami tidak mematuhi perintah ketua, mungkin kami akan mati sebelum kami kembali" ucapnya


" kenapa, kenapa ketua kalian ingin membunuhku?" Tanya miclara


" kami tidak tau, tapi kami akan mematuhi perintah ketua" ucapnya


Dia lalu mencengkram leher miclara dengan kuat, hingga membuat miclara merasa sakit dan kesulitan bernafas.


" ugh!! Le-lepas.. kan aku.." ucap miclara berusaha melepas cengkraman orang itu, namun usahanya sia-sia, tenaganya tidak bisa sebanding dengar irang itu


" lebih baik kau mati saja, dari pada membuat hidup kami sensara" ucapnya, dia semakit mencengkram dengan kuat


Miclara sudah tidak bisa bertahan, dia susah hampir tidak sadarkan diri dan sebelum dirinya benar-benar tak sadarkan diri, ada sebuah pedang kecil yang datang padanya dan memotong tangan yang mencengkram dirinya hingga membuat darahnya mengotori wajahnya.


" ugh..." orang yang mencekit miclara merintih kesakitan saat tangannya yang terpotong di depan matanya sendiri.


Miclara yang sudah terlepas dari cengkraman orang itu pun terjatuh dan melihat orang yang tadi sudah membantunya. Sekilas dia tersenyum kecil saat melihat orang yang membantunya adalah orang yang selama ini dia tunggu, yaitu aamon. Aamon lalu berjalan padanya dan mengendong dirinya


" aku... sangat senang, kau datang... menjemputku.." ucap miclara


" aku juga senang bisa melihatmu lagi" ucapnya.


Dia tidak sendiri, adiknya gusion yang juga ada di sana membereskan orang-orang yang tersisa. Tapi dia tidak membunuhnya, karna aamon masih ingin menanyakan sesuatu pada pengawalnya.


" apa yang kalian lakukan, beraninya menyentuh orangku tampa ku ketahui!!" Ucap aamon tegas


" maafkan kami pangeran, kami hanya mematuhi perintah ketua" ucapnya


" apa kalian tau siapa yang berusaha kalian bunuh? Dia adalah calon ratu kalian, kalian sudah menyakiti calon ratu kerajaan paxley. Dan itu adalah kesalahan yang besar, lebih baik kalian pikirkan dulu sebelum mematuhi perintah ketua itu!!" Ucap aamon


" karna kalian sudah melakukan kesalahan yang besar, maka aku sebagai pewaris tahta kerajaan paxley akan langsung menghukum kalian" ucap aamon dia lalu menggunakan kekuatannya untuk langsung menghabisi mereka hingga tak tersisa.


" aamon, apa yang kau katakan tadi?" Tanya miclara


" kau tidak salah mendengar, miclara aku menyukaimu" ucap aamon


" apa?! apa kau serius?" Tanya miclara


" tentu saja, aku aamon paxley tidak perna bercanda dengan kata-kataku" ucap aamon


" tapi aamon, aku hanya gadis biasa dan kau seorang pangeran, apa kita bisa bersama" ucap miclara merasa tidak yakin


" tentu saja bisa karna aku mencintaimu dan tak akan membiarkanmu pergi jauh dariku" ucap aamon


Hal itu membuat miclara tidak bisa lagi menahan senyumannya, dia menjadi lebih baik saat aamon mengatakan hal itu. Jika nanti ada masalah, dia yakin aamon akan terus bersamanya.


" aamon... aku sebenarnya juga menyukaimu" ucap miclara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya dan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


" benarkah, aku senang sekali" ucap aamon mengecup kening miclara

__ADS_1


Gusion mencoba pergi dari sana, karna dia tidak ingin menganggu kebersamaan mereka yang sudah lama tidak bertemu. Ya.. walaupun dia merasakan sakit di dadahnya, tapi demi kebahagian kedua orang yang dia sayang, dia bisa menerimannya.


Aamon lalu mengendong miclara menuju rumah yang tadi miclara sebut, dia ingin mengucapkan perpisahan pada temannya dan juga penduduk yang sudah membantunya selama ini.


Kenapa dia ingin mengucapkan perpisahan?


Karna dia akan selalu bersama dengan aamon untuk seterusnya.


Miclara dan aamon akhirnya sampai di rumah yang miclara sewa, walaupun terlihat kecil, namun rumah itu sudah cukup untuk menampung satu orang lagi, walaupun cuma semalam.


Aamon membawa miclara memasuki rumahnya dan dia kemudian menaruk miclara di ranjang yang ada di sana. Dia lalu menayakan kondisi miclara yang sudah membaik dan atau sebaliknya.


" miclara apa kau sudah tidak papa, atau kau masih kesulitan bernafas"? Tanya aamon


" aku sudah tidak papa, malahan aku sudah sangat baik saat bertemu dengamu" jawab miclara aamon tersenyum mendengarnya


" selama seminggu ini apa kau mengalami masalah?" Tanya aamon


" sedikit, tapi aku bisa menanganinya sendiri, aku juga memiliki pekerjaan dan juga seorang teman" ucap miclara tersenyum manis


" apa temanmu laki-laki atau perempuan?" Tanya aamon yang nampak terlihat cemburu


" tentu saja perempuan, kenapa kau menanyakan hal itu apa kau cemburu, itu membuatmu terlihat lucu" ucap miclara


" siapa bilang aku cemburu, aku hanya tidak ingin kau berteman dengan laki-laki" ucap aamon memakingkan pandanganya


" iya iya, aku tidak akan berteman dengan laki-laki selain dirimu dan gusion" ucap miclara


" hemp, aku juga tidak mau kau bersama dengan gusion" ucap aamon dengan suara kecil


" apa kau tau, aku disini memiliki sebuah pekerjaan" ucap miclara


" pekerjaan apa?" Tanya aamon


" mengurus anak-anak di panti asuhan" ucapnya


" benarkah"


" iya, mereka sangat lucu ya walaupun ada yang nakal, tapi aku sangat menyayangi mereka" ucap miclara


" jadi kau menyukai anak-anak" ucap aamon


" iya" jawab miclara cepat


" bagaiman kalau kita buat satu" ucap aamon tersenyum jahil


" apa! J-jangan dulu.." ucap miclara tersipu malu


" hahah aku hanya bercanda, kenapa kau malu begitu" ucap aamon sambil mencubit kedua pipi miclara


" kau..." miclara tak tinggal diam, dia menjambak rambut aamon


" ah! Hei sakit tau" ucap aamon


" biarin, kau duluan yang mulai" ucap miclara


Aamon tersenyum, dia lalu memegang pipi miclara dengan lebut dan mendekatkan wajahnya, hal itu membuat miclara keget sekaligus malu.


' apa, apa aamon akan menciumku' batin miclara


Dan benar saja, aamon mengecup bibir miclara singkat namun ada arti dalam ciuman itu, kemudian dia memeluk miclara karna sangat merindukannya.


" aku tidak akan meninggalakanmu lagi, miclara" ucap aamon


" aku tau" miclara membalas pelukan aamon, mereka sudah menjadi sepasang kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama dan mereka saling berpelukan untuk mehilangkan rasah rindu satu sama lain.


________________________________________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2