
Setelah mendengarkan penjelasan dari sang raja, Sagachi dan juga Kenta Ken berangkat ke tempat tujuan mereka, yaitu Kerajaan Zephyra—tempat di mana raja iblis Totemo Hokori berkuasa.
Pemberangkatan akan segera dilakukan, dan sang raja pun menyuruh prajurit mempersiapkan kuda untuk tumpangan Sagachi dan juga Kenta di kala mereka berangkat ke Kerajaan Zephyra. Namun, baru saja sang raja berkata pada prajurit untuk menyuruh mereka mempersiapkan kuda ....
"Tidak usah, Yang Mulia," kata Sagachi menolak kuda yang akan dipersiapkan sang raja.
Sang raja pun menyipitkan matanya mendengar perkataan dari Sagachi barusan, begitu pula dengan Kenta Ken, ia juga merasa heran dengan Sagachi, dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa remaja bermabut biru ini menolak kuda yang akan raja persiapkan?
"Sagachi, kenapa kau menolak kuda yang akan kupersiapkan untuk kalian? Perjalanan kalian akan jauh. Dan pastinya, kalian butuh tunggangan untuk perjalanan ke sana," ujar sang raja bertanya.
Sagachi pun menjawab pertanyaan sang raja dengan beralasan, "Sebelumnya maaf, Yang Mulia. Bukannya saya menolak kuda yang akan Anda persiapkan. Namun, saya memiliki teman seorang Mage yang bisa membuat Portal Teleportasi. Dan saya bisa meminta bantuan mereka untuk berpindah-pindah ke tempat menggunakan Portal Teleportasi mereka."
"Oh, Portal Teleportasi yang semalam sudah kalian gunakan itu, 'kan?" Kali ini Kenta Ken yang berbicara.
Sagachi pun menjawab, "Iya. Kemarin kami menuju ke Snow Land, di tempat Naga Es berada. Kami ke sana menggunakan Portal Teleportasi yang dibuat oleh Cika dan Chizu."
Kenta Ken menepuk pundak Sagachi, dan kemudian ia berkata, "Sagachi, Portal Teleportasi hanya bisa digunakan tujuh hari sekali."
Mendengar perkataan dari Kenta Ken, Sagachi langsung mendebat, "Tapi, waktu itu Cika dan Chizu menggunakan Portal Teleportasi itu dua kali. Untuk menuju ke Snow Land membuat Portal Teleportasi, dan setelah itu kembali lagi ke Kota Hikari juga dengan membuat Portal Teleportasi lagi."
"Tentu saja itu bisa, tapi itu tetap saja dihitung sekali. Jika kita ke sana membuat Portal Teleportasi, kita masih bisa membuat Portal Teleportasi lagi untuk kembali namun tidak bisa membuat Portal Teleportasi ke tempat lain kalau belum tujuh hari," ujar Kenta Ken menjelaskan, dan ia juga berharap kalau Sagachi bisa memahami penjelasannya.
"Oh, jadi begitu, ya?" tanya Sagachi merespon penjelasan Kenta Ken.
"Iya," jawab Kenta Ken singkat.
__ADS_1
Sang raja pun juga angkat bicara. "Kau sudah dengar 'kan, apa yang barusan sudah dijelaskan oleh Ken?"
"Iya, Yang Mulia, saya mengerti," kata Sagachi merespon ucapan sang raja.
"Jadi, janganlah kau tolak kuda yang akan kupersiapkan pada kalian, ya!" kata sang raja sembari menepuk pundak Sagachi, dan remaja berambut biru itu pun menganggukkan kepalanya pelan, sebagai isyarat kalau ia merespon ucapan sang raja. "Kalau begitu, berjuanglah! Karena hal ini pasti akan sulit. Pertama-tama, pergilah dulu ke Kerajaan Zephyra! Karena kerajaan itu terletak paling dekat dari wilayah ini, dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang dikuasai raja iblis lainnya."
"Baiklah, Yang Mulia. Ken-san juga sudah bilang pada saya, kalau kerajaan raja iblis pertama yang akan kita datangi pertama kerajaan Zephyra—tempat raja iblis Totemo Hokori," kata Sagachi merapon ucapan sang raja. Remaja berambut biru itu kemudian menoleh ke arah Kenta Ken sembari berkata, "Iya kan, Ken-san?"
"Iya," jawab Kenta Ken singkat.
Setelah itu, raja memerintahkan dua orang prajuritnya untuk jadi menyiapkan kuda. Tentu saja, kuda itu untuk tunggangan Kenta Ken dan juga Sagachi.
Para prajurit yang raja perintahkan untuk mempersiapkan kuda itu pun segera melaksanakan tugasnya. Mereka mempersiapkan dua ekor kuda pilihan yang memiliki fisik cukup kuat dibandingkan dengan kuda-kuda yang lainnya. Bisa dibilang, kuda itu yang tingkatannya di atas kuda-kuda pada umumnya.
Dua orang prajurit yang menyiapkan kuda itu, menaruh dua kuda itu di halaman istana, di dekat gerbang untuk keluar dari area Kerajaan Alcazar Sevilla. Masing-masing prajurit memegang kendali kuda, dan kuda itu mereka ikatkan di gerbang itu.
"Baiklah, terima kasih, Prajurit. Kau bisa lanjutkan tugasmu yang lain," kata sang raja merespon ucapan prajurit tersebut.
"Baiklah, Yang Mulia." Prajurit tersebut kemudian pergi dari ruang singgasana ini dan melanjutkan tugasnya yang lain—menjaga keamanan.
Raja yang sekarang masih duduk di singgasana, berdiri dan berjalan mendekati Kenta Ken dan juga Sagachi yang masih berada di ruang singgasana ini. Kemudian sang raja berkata, "Prajurit telah menyiapkan kudanya, kalian sudah bisa berangkat!"
"Baiklah, Yang Mulia," ucap Kenta Ken dan juga Sagachi secara bersamaan.
"Bawa ini!" Sang raja memberikan sebuah kain berwarna coklat yang diikat dengan tali merah kepada Kenta Ken.
__ADS_1
"Apa ini, Yang Mulia?" tanya Kenta Ken setelah menerima kain itu dari sang raja.
Sang raja pun menjawab, "Untuk bekal kalian, itu uang 100 keping emas."
"Tapi, apakah ini tidak terlalu banyak, Yang Mulia?" tanya Kenta Ken yang merasa sungkan. Karena, tidak biasanya sang raja memberikan bekal uang sebesar itu padanya.
"Tidak. Sudahlah, bawa saja!"
Kenta Ken pun langsung menyimpan uang itu di jubahnya, dan kemudian ia pun berkata, "Baiklah, Yang Mulia, terima kasih banyak. Kalau begitu, kami mohon undur diri!"
"Silakan!" ucap sang raja mempersilakan.
Setelah itu, Kenta Ken dan juga Sagachi pun langsung keluar dari ruang singgasana itu. Mereka berjalan menuju ke halaman istana, ke tempat di mana kuda yang telah dipersiapkan oleh para prajurit. Sesampainya di halaman istana, mereka pun melihat dua kuda berwarna hitam dan putih.
Kenta Ken yang melihat kedua kuda diikat di pintu gerbang, menunjuk ke arah kuda itu sembari berkata, "Itu kudanya, ayo kita berangkat!"
"Baiklah, ayo!" kata Sagachi merapon ucapan Kenta Ken.
Mereka pun mendekati kuda-kuda itu dan kemudian menungganginya. Kenta Ken menunggangi kuda yang berwarna hitam, sedang Sagachi yang putih.
Kenta Ken pun memacu kudanya. Namun, Sagachi malah tidak mengikutinya. Karena Kenta Ken merasa Sagachi tidak mengikutinya di saat sedang berjalan memacu kudanya, ia pun langsung menghentikan kudanya dan kemudian menoleh ke belakang. Dilihatnya, Sagachi masih diam duduk di atas kuda di dekat pintu gerbang yang dijaga dua prajurit.
"Kenapa kamu tidak mengikutiku?" tanya Kenta Ken. Ia pun berbalik arah dan memacu kudanya mendekati Sagachi.
"A–aku tidak bisa mengendalikan kuda, aku belum pernah," jawab Sagachi jujur, setelah Kenta Ken berada di dekatnya.
__ADS_1
Hal itu pun, membuat Kenta Ken dan juga prajurit penjaga merasa heran pada remaja berambut biru ini. Di dalam hati mereka bertanya-tanya, masa' iya, orang yang diramalkan akan membasmi tujuh raja iblis tidak bisa naik kuda?