
Anak panah Furuko melesat ke arah Ular Kobra berkepala tujuh itu dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat yang menyambar.
Namun anehnya, ular itu menangkap anak panah itu seperti di saat ia menangkap Fuma Suriken Vitaloka.
"Tidak mungkin!" Furuko berkata dan setelah itu melongo melihat hal tersebut. Pasalnya, kecepatan anak panah yang sangat tinggi itu berhasil ditangkap oleh mulut ular itu. Jangankan melukainya, anak panahnya menancap saja tidak.
Bahkan, yang paling membuatnya tak percaya adalah ... padamnya api yang ada pada lancipan anak panah tersebut.
"Hahahaha ... sudah aku bilang, 'kan, kalau panah sampahmu itu tidak akan bisa meluakaiku!" Ular Kobra berkepala tujuh itu berkata dengan sombongnya. "Sekarang, giliranku untuk menghabisi kalian!"
Ular Kobra tersebut bergerak dengan cepat ke arah Mereka, dan pada saat itu juga, kepalanya yang tadinya tujuh kini tiba-tiba saja hanya terlihat satu. Apakah mungkin kepala ular itu menyatu? Ataukah itu adalah tujuh kekuatan yang digabungkan sehingga menjadi satu kekuatan yang menyatu? Itulah yang menjadikan pertanyaan di dalam benak masing-masing mereka.
Tapi Kenta Ken yang kelihatannya dari tadi belum beraksi, ia tidak membiarkan itu terjadi. Dengan kekuatan mata ungunya, ia langsung berusaha mencari tahu apa kelemahan dari Ular Kobra Raksasa'itu?
Karena dengan kekuatan mata ungunya yang baru saja ia aktifkan di saat Ular Kobra Raksasa itu akan menyerang mereka, ia menjadi memiliki waktu untuk berpikir. Dalam hitungan detik saja ia pun langsung teringat gurunya pernah berkata, "kelemahan seekor ular itu ada pada bisanya, dan jika ingin mengalahkan ular, sebisa mungkin untuk memusnahkan biasanya terlebih dahulu."
Dalam hatinya Kenta Ken bertanya, "Tapi, bagaimana caranya memusnahkan bisa ular itu?"
Kini Ular Kobra raksasa itu sudah hampir sampai ke arah mereka, karena pria berjubah hitam itu belum juga menemukan ide untuk memusnahkan bias ular tersebut, ia pun memutuskan dengan berkata, "Semuanya! Kita mundur dulu ... Hiaaat!"
Kenta Ken langsung memacu kudanya untuk berlari dari dari arah itu ke arah titik balik.
Sagachi pun langsung merespon, "Baiklah." Kemudian remaja berambut biru itu pun memacu kudanya dan mengikuti Kenta Ken.
"Hiaaat!"
Dalam hati Sagachi ia berkata, "Apakah Kenta Ken menyuruh mundur itu karena ingin mengurungkan niatnya untuk menyerang Raja Iblis? Itu mungkin adalah tindakan yang bagus. Karena melawan Ular Kobra raksasa itu saja kami tidak bisa, apalagi melawan Raja Iblis."
"Nisan, jika kita kabur, berarti kita tidak jadi ke Kerajaan Zephyra untuk menyerang Raja Iblis sekarang, ya?" bertanya Furuko yang kini masih membonceng Sagachi.
"Nisan juga tidak tahu, nisan hanya ikut aja apa yang dikatakan Ken-san. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik." Sagachi menjawab sembari mempercepatnya laju lari kudanya untuk menyusul Kenta Ken dengan memacunya. "Hiaaat!"
"Baiklah," kata Furuko merespon. Kemudian gadis berambut biru itu itu menoleh ke belakang.
"Kok tidak ada?" Furuko terkejut sekaligus bingung ketika ia tidak melihat ke belakang. Karena yang dilihatnya saat ini adalah, Ular Kobra itu tidak ada dan tidak mengejar mereka lagi. Padahal, tadi ular itu masih mengejar mereka di belakang. "Nisan, ular itu sudah tidak mengejar kita."
__ADS_1
"Apa? Ular itu tidak mengejar kita lagi?" Sagachi pun heran mendengar perkataan dari Furuko barusan. Untuk memastikan apakah yang dikatakan Furuko itu benar tidaknya, ia pun menoleh ke arah belakang sejenak untuk mengecek.
"Di mana ular itu?" tanya Sagachi setelah memastikan dengan menoleh ke belakang, dan memang benar dengan apa yang dikatakan Furuko, jikalau ular itu benar-benar sudah tidak ada dan tidak mengejar mereka lagi.
"Aku juga tidak tahu. Saat aku mengecek ke belakang, tiba-tiba saja ular itu sudah tidak ada lagi," jawab Furuko.
Sagachi pun memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada Kenta Ken.
"Ken-san! Ularnya sudah tidak mengikuti kita lagi!" Sagachi berucap dengan suara lantang agar Kenta Ken mendengarnya.
Mendengar Sagachi berkata seperti itu, Kenta Ken pun langsung menoleh ke belakang, begitu pula dengan Vitaloka. "Apa? Di mana dia?"
"Mungkin ular itu akan melakukan serangan kejutan," ucap Vitaloka.
"Tetap Waspada! Jangan lengah! Waspadalah jika ada serangan kejutan!" titah Kenta Ken.
"Baik!" jawab Sagachi dan juga Furuko.
Furuko memutuskan untuk menyiapkan serangan dengan mempersiapkan anak panahnya. Ia menarik benang busur-nya. Setelah itu, ia pun merapalkan kata kuncinya.
Sebuah anak panah muncul dari partikel-partikel cahaya biru ketika Furuko menarik benang busur-nya.
"Ice arrows."
Muncullah seperti serpihan salju yang mengitari di sekeliling anak panah Furuko.
Sagachi yang tahu Furuko melakukan itu pun bertanya, "Kamu mau memanah apa, Furuko?"
"Untuk jaga-jaga saja, jika tiba-tiba ada serangan kejutan, maka aku akan langsung melesatkan panah ini," jawab Furuko menjelaskan.
"Ooh, jadi begitu, ya?" ujar Sagachi menanggapi.
"Iya," kata Furuko merespon ucapan Sagachi.
Saat-saat seperti sekarang inilah Sagachi harus berlatih melatih Instingnya. Walaupun sekarang ia masih dalam keadaan memacu kuda, tapi tetap harus waspada jikalau ada serangan kejutan datang.
__ADS_1
Kedua bola mata Sagachi melirik ke arah akan dan kiri, begitu juga dengan Furuko. Gadis bermabut biru itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kakakknya. Mereka berdua sama-sama meningkatkan tingkat kewaspadaan dan Instingnya.
Hal ini dilakukan supaya mereka tahu dari arah mana serangan kejutan itu nantinya akan datang.
Brual!
Tiba-tiba saja Ular Kobra raksasa itu muncul dari bawah tanah di depan mereka.
Sontak saja Kenta Ken dan juga Sagachi langsung reflek menarik tali kekang kudanya yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat kuda itu berhenti seketika sembari mengeluarkan suara ciri khas kuda yang sedang meronta.
Vitaloka dan Furuko yang membonceng mereka langsung melompat ke belakang.
Setelah Furuko melompat ke belakang dan mendaratkan kakinya di tanah ....
"Discharge!"
Gadis bermabut biru itu langsung melesatkan anak panah itu ke arah Ular Kobra, dan anak panah yang ia lesatkan itu pun melesat dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat yang menyambar.
Seperti tadi, mulut ular itu berhasil menangkap anak panah tersebut. Akan tetapi, Bukanya kesal Furuko malah tersenyum. Ia pun langsung menapakkan tangan kanannya ke arah Ular Kobra raksasa itu dan mengatakan kata kunci.
"Hyoketsu!"
Setelah Furuko mengatakan itu, anak panah yang kini sedang berada di mulut Ular Kobra itu tiba-tiba saja memancarkan cahaya biru yang sangat pekat. Hal itu membuat Semua yang ada di tempat itu dengan reflek menutup matanya karena tak kuasa dengan silaunya cahaya biru pekat itu.
Di saat sedang dalam menutup mata, mereka merasakan hawa dingin yang kuat menyerang tubuh.
Beberapa saat kemudian, dirasa cahaya biru yang pekat itu sudah redup, mereka pun membuka kedua mata mereka.
Bisa mereka lihat, Ular Kobra itu sekarang telah berada di dalam sebuah balok es yang cukup besar. Hal ini bisa diibaratkan bagaikan cendol dawet yang membeku di dalam es batu.
"Yuhui! Sekarang kau sudah tidak bisa lagi berkutik, ular jelek!" ujar Furuko dan kemudian ia tertawa puas.
"Hebat kau, Furuko," kata Sagachi mengomentari aksi yang dilakukan Furuko.
"Siapa dulu, dong. Furu—"
__ADS_1
Belum sempat Furuko menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja es yang mengekang ular itu pecah.