
"Apa kalian sudah paham maksudku?" tanya Kenta Ken memastikan, setelah ia menjelaskan mengenai cara melewati jembatan yang ada di depan mereka.
Sagachi pun menjawab, "Ya, aku paham."
"Kalau begitu, sebaiknya kita bergantian saja menyeberangnya," sambung Sagachi memberikan usul.
"Memang harus begitu, kita harus bergantian. Kalau langsung dua kuda sekaligus menyeberang jembatan ini, dikhawatirkan jembatan kayu ini tidak akan kuat," ucap Kenta Ken menjelaskan maksudnya. Ternyata, usulan Sagachi adalah yang dimaksudkan oleh Kenta Ken. "Biar aku dulu yang menyeberang terlebih dahulu. Kamu nanti tiru saja cara menyeberangku, biar tidak jatuh nantinya!"
"Baiklah," kata Sagachi merespon ucapan Kenta Ken.
Kemudian Kenta Ken pun memacu kuda-nya dengan pelan-pelan mendekati jembatan itu. Ia memacu kuda-nya dengan ekstra hati-hati saat melewati jembatan itu. Sagachi pun memperhatikan Kenta Ken yang menyeberangi jembatan itu.
"Tolong jangan menoleh-noleh dulu, Vita-san! Jaga keseimbangan sebentar sampai kita berada di seberang sana!" ucap Kenten Ken ketika Vitaloka menoleh melihat ke arah bawah. Hal itu membuat jembatan kayu ini sedikit terombang-ambing.
"Oya, maaf. Aku hanya penasaran dengan sungai itu," kata Vitaloka merespon ucapan Kenta Ken.
"Jangan ulangi lagi!"
Kenta Ken pun memacu kuda-nya dengan pelan sampai ia berada di seberang sana. Setelah sampai di seberang sana, Kenta Ken berseru pada Sagachi. "Sekarang giliranmu, Sagachi-san. Ingatlah! Pelan-pelan seperti yang barusan aku lakukan, ya!"
Sagachi pun menyahut, "Baiklah, tenang saja!"
Sagachi pun memacu kuda-nya dengan pelan-pelan dan ekstra hati-hati seperti yang telah dilakukan oleh Kenta Ken. Furuko hanya diam duduk dengan tenang di atas kuda di belakang kakaknya, ia tak berani sedikitpun bergerak.
"Ayolah Furuko! Jangan panik!" gumam Furuko dalam hatinya, detak jantungnya berdegup dengan kencang saat jembatan ini sedikit terhuyung-huyung. Akan tetapi, ia berusaha agar tetap tenang dan tidak panik. Ia teringat dengan yang dikatakan Kenta Ken tadi, kalau panik bisa saja jatuh karena jembatan ini pastinya akan terombang-ambing.
Perjalanan Sagachi menyeberangi jembatan itu terlihat lebih pelan dan lebih hati-hati daripada dengan yang dilakukan Kenta Ken. Tampaknya, remaja berambut biru itu tidak ingin terjadi resiko. Terlebih lagi, jika sampai jatuh bukan hanya dia yang merasakan, melainkan juga adiknya akan ikut jatuh dan merasakannya.
Tak berselang waktu lama, akhirnya pun Sagachi berhasil melewati jembatan itu sampai ke seberang. "Syukurlah, kita bisa selamat sampai tujuan, Furuko."
__ADS_1
"Iya, tadi jantungku sampai dag-dig-dug ser. Merinding aku," curhat Furuko.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" kata Kenta Ken. Kemudian pria berjubah hitam itu langsung memacu kudanya.
"Ayo!" kata Sagachi merespon ucapan Kenta Ken. Ia pun juga langsung memacu kuda-nya mengikuti Kenta Ken.
Mereka memasuki hutan yang tidak begitu lebat. Namun, sepertinya hutan yang mereka masuki itu sangat luas.
Di hutan ini banyak sekali beraneka macam pohon buah-buahan. Ada pohon apel, mangga, manggis, jeruk dan masih banyak lagi. Di hutan ini juga terdengar suara bising kicauan para burung. Karena di hutan ini banyak sekali burung-burung tinggal—terutama burung pemakan buah-buahan.
"Nisan, aku lapar. Di sini juga banyak buah. Kita petik-petik buah dulu, yuk!" rengek Furuko karena kelaparan.
"Nanti saja, Furuko. Nisan takutnya kalau sampai tertinggal dan kehilangan jejak Ken-san," kata Sagachi merespon ucapan Furuko.
"Yaaah! Biarin aja napa! Tidak mungkin juga dia akan meninggalkanmu, Nisan. Untuk mengalahkan raja iblis kan dia juga butuh bantuanmu," ucap Furuko lagi merayu kakaknya agar mau berhenti sejenak dan memetik buah-buahan.
Karena masih juga belum mendapatkan respon dari kakaknya, Furuko pun langsung mengambil busur yang ia selempangkan di punggungnya. Kemudian gadis itu langsung menarik benang busur tersbut.
"My mana, is the arrows from my bow."
Sebuah anak panah muncul dari partikel-partikel cahaya putih di saat Furuko menarik benang busurnya.
Sagachi yang menyadari adiknya melakukan itu, ia pun langsung bertanya, "Apa yang ingin kamu lakukan, Furuko?"
Tanpa menjawab pertanyaan Sagachi, Furuko langsung merapalkan mantra lagi.
"Arrow control."
"Furuko, apakah kau ingin memanah burung?" tanya Sagachi menebak dengan apa yang akan Furuko lakukan. Namun, Furuko tidak juga menjawab lagi karena ia ingin fokus dengan mantranya. Gadis bermabut biru itu melanjutkan rapalan mantra pelepas.
__ADS_1
"Discharge!"
Anak panah itu ia lesatkan dari busurnya, dan anak panah itu melesat ke arah buah mangga.
Alhasil. Anak panah itu pun menancap di buah mangga tersebut. Furuko menunjuk anak panah tersebut dengan jarinya, dan kemudian ia menggerakkan jari telunjuknya. Anak panah tersebut seperti dikontrol oleh Furuko dengan jari telunjuknya, dan anak panah itu pun terbang ke arah Furuko dengan membawa mangga.
Furuko pun langsung menyelempangkan busurnya, dan kemudian ia menangkap anak panah tersebut. Setelah itu ia mengambil mangga itu dari anak panahnya. Gadis bermabut biru itu mengupas mangga itu dengan belati yang ia selipkan di pinggangnya. Memang kalau berburu itu dia tidak hanya membawa busur, melainkan juga membawa sebuah belati.
"Ooh, ternyata kamu memanah mangga toh. Kirain nisan kamu mau memanah burung," kata Sagachi merespon apa yang sudah Furuko lakukan.
"Iya, lagian Nisan gak mau berhenti, jadinya aku pakai cara ini untuk mengambil mangga," ujar Furuko. Gadis berambut biru itu kini telah selesai mengupas mangganya. Ia menyelipkan kembali belatinya.
"Nanti kita ambil yang banyak, kalau sudah sampai di goa yang tadi Ken-san maksudkan," ucap Sagachi sembari memacu kudanya. Pandangan remaja laki-laki berambut biru ini masih terfokus ke arah depan mengikuti kuda yang dipacu oleh Kenta Ken.
"Memangnya di sekitar goa itu ada buah-buahan, ya?" tanya Furuko setelah menelan mangga yang barusan ia kunyah.
"Nisan juga tidak tahu. Tapi menurut nisan, rata-rata pepohonan di sini semuanya adalah pohon buah-buahan," kata Sagachi merespon ucapan Furuko.
...***...
Tak terasa, kini mereka telah sampai di tengah-tengah hutan ini. Matahari kini mulai akan tenggelam di ufuk barat. Hal ini menandakan, kalau sebentar lagi sore akan berganti malam.
Di sini Sagachi dan Kenta Ken menghentikan langkah kuda-nya di depan mulut goa.
"Kita beristirahat dulu di goa ini, kita lanjutkan perjalanan lagi besok," ucap Kenta Ken.
Vitaloka pun langsung turun dari punggung kuda tanpa Kenta Ken suruh. Begitu pula dengan Furuko, gadis berambut biru itu juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Vitaloka.
Setelah itu pun, Kenta Ken dan Sagachi juga turun dari kuda-nya. Mereka berdua kini menuntun kuda mereka memasuki goa tersebut, diikuti oleh Furuko dan Vitaloka.
__ADS_1