Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
RANTAI PETIR DIMENSI


__ADS_3

Hazuki masih dengan berusaha mengaktifkan skill ultimatenya. Ia mengalirkan mana-nya ke kedua senjata dager-nya.


Ketika ia melihat pandangan Rai Vajra beralih padanya, hatinya bergumam, "Ya ampun, aku belum siap! Tapi, kenapa pandangannya teralihkan ke arahku. Cepaaat ... cepaaat!" Hazuki semakin meperccepat pengaliran mana-nya.


Saat Hazuki melihat Rai Vajra menyeringai ke arahnya, detak jantungnya berdegup semakin cepat.


"Cepatlah Hazuki! Ayo, cepat selesaikan evolusi senjatamu ini!" Hazuki menyemangati dirinya sendiri dengan berkata dalam sanubarinya. Pada saat Rai Vajra melesat sembari menghunuskan tombak petirnya, dengan reflek cepat Hazuki langsung memejamkan kedua matanya dan sudah pasrah bila ia akan mati.


Namun ....


CTANK!


Hazuki membuka matanya lagi, dan kemudian matanya membulat dengan sempurna saat ia melihat sebuah tembok besi tiba-tiba saja berada di depannya. Kemudian ia menoleh ke arah kanannya, dan yang didapatinya adalah Ezio.


"Pasti ini berkat Ezio. Terima kasih Ezio, karena telah melindungi Master-mu ini." Hazuki bergumam dalam hati, dan kemudian pemuda itu memfokuskan dirinya untuk mengevolusi senjata dager-nya agar menjadi Rantai Petir Dimensi.


Sebuah percikan petir biru mulai keluar dari senjata dager-nya.


"Yeah! Hampir siap!" Hazuki melebarkan senyumnya, ketika ia melihat senjata dager-nya akan mulai berevolusi. "Sedikit lagi ...!"


Hazuki mempercepat pengaliran mana-nya ke senjata itu, karena ia sudah tidak sabar lagi ingin menumpas musuhnya.


Beberapa saat kemudian, gagang dager dan bilahnya terpisah. Dari gagang itu terlihat sebuah lubang yang memunculkan lorong dimensi yang terus menerus mengeluarkan rantai dari gagang itu; antara rantai dan bilah dager masih menyatu.


"Rantai telah siap."


"Penyatuan aliran petir biru ... aktifkan!"


Dari rantai itu, kemudian langsung muncul aliran petir biru yang sangat dahsyat.


"Baiklah! Petir dilawan dengan petir!" Hazuki berkata dengan semangat yang membara.


Kemudian ia menoleh ke arah Kenta Ken yang akan diterjang Rai Vajra. "Tak akan kubiarkan!"

__ADS_1


Dengan cepat, Hazuki langsung melesat ke arah Rai Vajra bagaikan kilat yang menyambar.


CTAR!


Hazuki berhasil menyabetkan Rantai Petir Dimensi-nya ke Rai Vajra hingga membuat pria bersenjatakan tombak petir merah itu terpental jauh.


Sementara Kenta Ken hanya menatap Hazuki tanpa berkedip sedikit pun. Kemudian pemuda berjubah hitam itu bergumam lirih. "Hazuki ...."


Hazuki pun langsung menoleh ke arah Kenta Ken yang masih menatapnya tanpa berkedip. "Iya, Ken-san, ada apa?


Tentu saja ia mendengar suara Kenta Ken yang tadi menyebut namanya, meskipun pemuda berjubah hitam itu bergumam dengan lirih.


"Tak kusangka ... senjata macam apa itu?" Kenta Ken merasa takjub sekaligus iri dengan evolusi senjata rivalnya. "Tak kusangka kau sudah sekuat ini, Rivalku."


"Ken-san, sebaiknya kamu istirahat saja!" kata Hazuki menyarankan. "Aku tahu, mana-mu pasti sudah hampir habis, 'kan?"


Sembari memejamkan keduanya matanya, Kenta Ken tersenyum simpul dan berkata, "Baiklah, jangan sampai kalah, ya!"


"Tenang saja! Serahkan semuanya padaku!" Hazuki berkata dengan PD-nya, kemudian ia beralih menatap musuhnya yang akan bangkit lagi setelah tadi jatuh terpental karena sabetan Rantai Petir Dimensi-nya.


"Dasar bocah kurang ajar! Akan kuberi pelajaran kau! Kalian harus mati sekarang juga!" Wajah Rai Vajra mulai memerah semerah skill petirnya. Di saat rasa peningnya mulai mereda, kemudian pria bersenjatakan tombak petir merah itu langsung melesat ke arah Hazuki dan Kenta Ken dengan amarah membara dan nafsu membunuh yang kuat.


Hazuki menyeringai sadis sembari mempersiapkan Rantai Petir Dimensi-nya untuk menyabetkannya ke arah Rai Vajra lagi.


"Jangan harap!" Hazuki langsung menyabetkan Rantai Petir Dimensi-nya ke arah Rai Vajra yang sedang melesat dengan cepat ke arahnya. Karena senjatanya kini adalah rantai, tentu saja jangkauan serangan Hazuki lebih luas dari tombak Rai Vajra. Hal ini membuat Rai Vajra terpental lagi karena terkena sabetan Rantai Petir Dimensi lagi.


"Justru kaulah yang akan mati, Vajra." Hazuki berkata dengan tenang namun seringainya itu bisa membuat musuh begidik ngeri.


Rai Vajra berusah bangkit sembari berpegangan pada tombaknya. Ternyata, sekarang ini tombaknya itu sudah tidak lagi mengeluarkan aliran petir.


Melihat tombak Rai Vajra yang sudah tidak lagi mengalirkan aliran petir, Kenta Ken bergumam dalam hati. "Aliran petir merahnya telah sirna. Apakah itu tandanya ... ia sudah kehabisan mana?" Kenta Ken bertanya dalam hatinya.


"Jika memang benar kalau Rai Vajra sudah kehabisan mana, maka aku berani menebasnya dengan katana-ku," sambung Kenta Ken yang masih berkata-kata dalam hatinya. Pemuda berjubah hitam itu berniat untuk membantu Hazuki melawan Rai Vajra. Karena ia mengira, jikalau pria bersenjatakan tombak petir merah itu sudah tidak lagi memiliki mana. Ia bisa menebak hal itu dari tombaknya yang sudah tidak lagi mengalirkan aliran petir merah seperti tadi. Dengan begitu, ia tidak akan tersetrum aliran petir di saat katana-nya beradu dengan tombak Rai Vajra yang kini sudah tidak lagi mengeluarkan aliran petir merah.

__ADS_1


"Hazuki, aku akan membantumu." Kenta Ken melangkah mendekati Hazuki, kemudian berhenti di saat ia sudah berada di sampingnya.


Hazuki pun menoleh ke arah Kenta Ken yang kini berada di samping kirinya, kemudian pemuda itu berkata, "Apakah kau yakin, Ken-san? Aku saja sudah cukup untuk memusnahkan dia, sebaiknya kamu istirahat saja dulu!"


"Aku juga akan membantumu, Master." Tiba-tiba saja Ezio nongol di samping kanan Hazuki.


"Eh, iya. Ada Ezio juga." Hazuki langsung menoleh ke arah servantnya yang kini berada di samping kanannya.


Kenta Ken kemudian kembali berucap, "Langsung saja bunuh dia, jangan berlama-lama membiarkan ia hidup. Kita harus segera menyelesaikan misi kita secepatnya. Sudah dua bulan berlalu kita belum juga kembali ke Istana Kerajaan Zephyra. Sagachi dan lainnya pasti sudah cemas menunggu kita."


Tentu saja seperti biasanya, sifat alami Kenta Ken itu tidak suka dengan yang namanya menunda-nunda waktu. Ia ingin semua pekerjaan harus segera diselesaikan dengan cepat.


"Kau ini ya, sikapmu dari dulu tidak juga berubah. Baiklah kalau begitu, mari kita bereskan dia secepatnya!" Hazuki merespon sembari mengalirkan mana-nya ke senjata Rantai Petir Dimensi yang digenggamnya, hingga membuat aliran petir biru itu menjadi semakin dahsyat.


Sementara Kenta Ken dan Ezio langsung sedikit menjauhi Hazuki, karena mereka sedikit ngeri jika tanpa sengaja percikan aliran petir biru itu mengenai mereka.


"Ayo, kita melakukan kombinasi, Ken-san, Ezio!" ajak Hazuki sembari menoleh ke arah Kenta Ken dan kemudian menoleh ke arah Ezio.


"Baiklah!"


"Baik, Master!"


Kenta Ken dan Ezio pun langsung menyiapkan skill-nya masing-masing.


"Aura kegelapan, katana iblis mode ... aktifkan!" Katana yang digenggaman Kenta Ken mengeluarkan aura seperti api hitam yang berkobaran di bilah pedangnya.


"Skill suport ... transfer attack!" Ezio merapalkan sebuah mantra, dan kemudian muncullah sebuah cahaya jingga di kedua tangannya. Cahaya itu ia lepaskan ke arah Kenta Ken dan Hazuki.


"Aku merasa menjadi semakin kuat!" kata Kenta Ken, setelah tubuhnya kemasukan cahaya jingga dari sihir Ezio.


"Itu adalah skill suport, Ezio. Dengan itu, dirimu akan menjadi dua kali lebih kuat!" ucap Hazuki menjelaskan. "Kalau begitu, ayo kita habisi dia sekarang, juga!"


"Baiklah, ayo!"

__ADS_1


Kenta Ken dan Hazuki melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Rai Vajra bagaikan kilatan aura biru dan hitam yang berliukan.


__ADS_2