
Melihat Furuko dan Vitaloka dililit oleh seekor ular sanca raksasa, Sagachi langsung mengambil pedang yang ia letakkan di sampingnya dan kemudian langsung melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ke arah ular tersebut.
Di saat ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan akan memangsa dua gadis itu, dalam hitungan detik saja, kepala ular sanca raksasa itu telah terpotong oleh pedang Sagachi. Remaja delapan belas tahun itu berhasil menebas kepala ular tersebut dengan tebasan vertikal-nya yang cepat.
Dari tempat terpotongnya itu, leher ular itu memuncratkan darah merah. Sementara lilitan yang mengekang Furuko dan Vitaloka telah mengendur, sehingga lilitannya sudah tidak erat lagi karena ularnya sudah mati.
Namun kedua gadis itu pingsan, karena lilitan ular sanca tadi begitu erat, hingga membuat mereka sulit bernapas.
"Kenapa tiba-tiba saja di goa ini ada ular sebesar ini?" tanya Sagachi sembari membebaskan kedua gadis tersebut dari lilitan ular sanca yang sekarang tengah mati.
Kenta Ken yang masih dengan santainya duduk di atas batu besar menyahut, "Karena ini adalah sarang ular tersebut. Dia kembali ke sarang ini di saat kalian sedang tidur. Oleh karena itulah, aku bangun lebih awal darimu karena mendengar desisan ular itu."
Sembari membawa tubuh adiknya yang masih pingsan, Sagachi berkata, "Lalu kenapa kau tidak menolong mereka? Kenapa kau tidak segera membangunkanku di saat mereka akan dimangsa ular itu?"
"Aku tadi sedang mengetes instingmu. Tapi ternyata, di saat sedang tidur, kau tidak bisa merasakan bahaya yang akan menimpa teman-temanmu," ujar Kenta Ken beralasan.
Wajar saja jika instingnya belum begitu kuat akan bahaya yang menimpanya dan juga teman-temannya, karena belum lama juga Sagachi menjadi seorang petarung di dunia ini. Karena memang ia juga belum lama tinggal di dunia yang penuh dengan seni pertarungan.
Sebenarnya seorang petarung itu harus memiliki insting yang kuat. Walaupun dalam keadaan tidur, seorang petarung yang memiliki insting kuat biasanya bisa langsung jenggirat dari tidurnya saat ada bahaya yang akan datang.
Jika petarung pemula seperti Sagachi, ia belum belajar melatih instingnya. Oleh karena itulah, di saat ada ular masuk ke goa ini dia tidak sadar.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk memperkuat instingku," ujar Sagachi yang sembari meletakkan tubuh adiknya di atas batu besar yang tadi di duduki
Sementara Kenta Ken membawa Vitaloka yang masih juga pingsan. Pria berjubah hitam itu meletakkan tubuh Vitaloka di atas batu besar di samping Furuko.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Sagachi yang sedang berada di samping Furuko. Ia merasa cemas melihat kondisi adiknya yang belum juga bangun dari pingsannya.
__ADS_1
"Tenang saja, mereka hanya pingsan. Nanti juga mereka pasti akan bangun," ucap Kenta Ken. Ia berkata seperti itu dengan tujuan untuk menghilangkan rasa cemas Sagachi terhadap adiknya. "Lilitan ular itu sepertinya membuat mereka sulit bernapas, sehingga sekarang mereka jadi pingsan."
Sementara Sagachi masih menatap iba melihat kedua gadis yang masih memejamkan matanya dengan raut wajah pucat pasi. Dalam hatinya ia bergumam, "Pasti sudah lumayan lama mereka dililit ular itu, sehingga membuat keadaan mereka jadi seperti ini."
...***...
Di tempat lain.
Kini Kamimoto Hazuki sedang berlarian dengan kecepatan tinggi. Remaja laki-laki tujuh belas tahun itu baru saja melewati jembatan dan sekarang ia tengah berada di Hutan Buah. Tentu saja, tujuannya kemari karena ia ingin menyusul Sagachi yang tengah di sini lebih awal darinya.
Karena Hazuki tidak memakai kuda, staminanya sudah hampir habis. Remaja laki-laki tujuh belas tahun ini telah merasa sangat lelah dan juga haus.
"Huuufh ... capek juga berlari semalaman tanpa tunggangan." Hazuki berucap dengan napasnya yang terengah-engah.
Memang sudah dari malam ia berlari dari Istana Alcazar Sevilla sampai di Hutan Buah ini.
"Tapi, apa mungkin Sagachi san sudah sampai di sini? Ataukah, dia sudah lebih jauh dari ini?" ucapannya sembari berjalan ke arah pohon apel yang tak jauh dari berdirinya saat ini.
Selain itu, pohon apel itu juga melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen, sehingga menghasilkan efek sejuk bagi Hazuki yang sekarang sedang berteduh di bawahnya.
"Hutan yang bising sekali!" Hazuki berkata seperti itu, karena memang kalau hutan ini banyak burungnya, terutama burung pemakan buah.
"Di mana kamu Sagachi? Sudah sampai mana kamu ini?" tanyanya entah pada siapa sembari memandangi buah-buah apel merah yang di atasnya. Buah apel itu terlihat segar, hingga membuat remaja laki-laki tujuh belas tahun yang sekarang merasakan haus dan juga lapar tertarik ingin mengambil buah itu. Ia tersenyum dan kemudian berkata, "Sepertinya apel itu segar. Dan sepertinya, apel itu bisa menyembuhkan rasa hausku."
Di tempat lain.
Terlihat, Vitaloka tengah mulai siuman dari pingsannya. Sagachi yang melihat itu mulai tersenyum. Akan tetapi, ia menjadi sedih lagi setelah menoleh ke arah Furuko yang masih juga tak kunjung sadarkan diri.
__ADS_1
"Aaakh ... seluruh tubuhku terasa sakit. Rasanya, sekujur tubuhku seperti akan remuk," ucap Vitaloka yang baru saja siuman dari tidurnya. Gadis itu mencoba untuk bangun dari berbaringnya.
Kenta Ken yang berada di sampingnya, langsung membantu gadis bermabut ungu itu duduk. "Jangan dipaksakan kalau masih sakit!"
"Terima kasih," ucap Vitaloka dengan suara lemah. Gadis itu sebenarnya merasa senang diperlakukan dengan perhatian seperti itu oleh Kenta Ken. Dalam hatinya, gadis itu berkata, "Walaupun seperti biasanya dia jutek banget, ternyata dia baik juga."
"Sagachi," ucap Kenta Ken sembari menatap ke arah Sagachi.
Sagachi pun menatap balik ke arah Kenta Ken. Remaja laki-laki delapan belas tahun itu merespon ucapan Kenta Ken dengan berkata, "Iya, ada apa?"
"Kamu tunggu di sini dulu ya, jaga mereka! Aku akan mencari tanaman obat-obatan untuk meringankan rasa sakit mereka," ujar Kenta Ken.
"Pasti ... pasti aku akan menjaga mereka," kata Sagachi merespon ucapan Kenta Ken. Tentu saja Sagachi akan menjaga dua gadis yang sedang terluka ini, terutama Furuko—adiknya sendiri.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi keluar dulu untuk mencari obat-obatan untuk menyembuhkan mereka. Tenang saja, mereka akan sembuh seperti sedia kala," ujar Kenta Ken. Kemudian laki-laki berjubah hitam itu berjalan keluar dari goa tersebut.
"Hati-hati, Ken-san," ujar Vitaloka yang suaranya masih terdengar lemas, akan tetapi Kenta Ken masih mendengar suaranya.
"Kamu tidak perlu mencemaskan diriku, Vita-san," jawab Kenta Ken tanpa menoleh ke arah Vitaloka. Pria berjubah hitam itu masih tetap melangkah keluar goa.
"Sagachi-san, Furuko-chan masih belum juga belum bangun, ya?" tanya Vitaloka sembari menatap Furuko dengan iba.
"Belum, tapi kata Ken-san nanti pasti juga bangun," jawab Sagachi.
Di tempat lain.
Kini Kenta Ken sedang berjalan-jalan di area Hutan Buah di bawah terik sinar matahari yang sudah mulai terasa agak panas.
__ADS_1
Di saat ia sedang berjalan di area wilayah pepohonan apel di hutan ini, pria berjubah hitam itu dikejutkan dengan seseorang yang sedang berteduh di bawah pohon sembari memakan buah apel.
"Siapa dia?"