
Sagachi sepakat untuk menyusun strategi terlebih dahulu sebelum bertindak. Begitu pula dengan yang lainnya, mereka juga sepakat.
"Baiklah, kalau ingin menyusun strategi dulu, aku akan membagi tugas. Sagachi, Hazuki dan Vitaloka. Karena kalian bertiga bisa bertarung tanpa skill magic, aku tugaskan kalian untuk memulai pertarungan melawan Raja Iblis dengan mendatangi ruangan singgasana terlebih dahulu." Sakura menjelaskan rencana yang akan dilakukan selanjutnya. "Sementara aku, Ezio dan Furuko. Karena kami bertiga hanya dapat mengandalkan skill magic, maka kami hanya akan menunggu saat yang tepat; yaitu saat salah satu dari kalian bertiga telah berhasil membuat Tombak Dorobo terpisah dari tangan Raja Iblis Akuma Netami."
"Jadi nama tombaknya Tombak Dorobo, ya?" kata Sagachi merespon ucapan Sakura, karena gadis bermabut merah muda itu baru saja memberitahukan nama senjata Raja Iblis Akuma Netami.
"Ya," jawab Sakura singkat. Kemudian gadis itu melanjutkan penjelasan rencananya. "Jadi, aku, Ezio dan Furuko akan memantau pertarungan kalian bertiga dengan sihir yang akan membuat kami tak terlihat."
"Hmmm ... semacam makhluk gaib, ya?" Furuko bertanya sembari menempelkan jempol dan jari telunjuk di dagunya.
"Bukan ... bukan seperti makhluk gaib, tapi hanya saja tidak dapat dilihat oleh musuh, sementara Sagachi," jawab Sakura menjelaskan. "Jadi, Sagachi, Hazuki dan Vitaloka nantinya akan tetap melihat kami, meskipun hanya terlihat seperti transparan. Dan saat nanti salah satu dari kalian ada yang berhasil membuat Tombak Dorobo terpisah dari tangan Raja Iblis Akuma Netami, kami akan langsung memperlihatkan diri di saat itu juga. Dan pada saat itu juga, kita harus mengeluarkan jurus terkuat masing-masing untuk kombinasi dan langsung menghabisi Raja Iblis Akuma Netami selagi Tombak Dorobo-nya terlepas dari genggaman tangannya."
"Apa kalian paham dengan penjelasanku?" sambung Sakura dengan bertanya.
"Kami paham!" Semuanya menjawab serempak bersamaan.
"Apakah ada pertanyaan atau usulan lain dari kalian? Jika tidak, mari kita laksanakan rencana ini!" kata Sakura.
"Tunggu!" Ucapan Furuko membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Furuko?" tanya Sagachi heran.
"Aku ingin bertanya. Ngomong-ngomong, usia Sakura-san berapa?" tanya Furuko penasaran. Karena sejak awal, Sakura tidak memberitahukan usianya.
"Tiga ribu sembilan ratus delapan puluh tujuh tahun." Jawaban Sakura ini sukses membuat mereka semua terkejut tak percaya. Pasalnya, jarang sekali ada manusia yang berusia ribuan tahun di dunia fantasi ini. Apalagi Sagachi dan Furuko yang berasal dari dunia modern, dan di dunia mereka bahkan sangat jarang sekali ada manusia yang berusia hingga ratusan tahun.
__ADS_1
"Bukannya aku tak percaya, tetapi ini sungguh hal yang sangat aneh. Memangnya, apakah ada sihir yang membuatmu menjadi awet muda?" Sagachi bertanya karena ia heran dengan Sakura yang masih terlihat sangat muda bagaikan seperti gadis berusia tujuh belas tahun yang masih sedang mekar-mekarnya
"Aku pun juga berpikir seperti itu, Sagachi. Setahuku ...."
Belum sempat Hazuki menyelesaikan perkataannya, Sakura langsung berkata, "Tidak usah kalian pikirkan itu! Aku bisa tampak muda seperti ini karena aku adalah keturunan seorang elf."
Mendengar ucapan dari Sakura, Furuko langsung melihat telinga gadis berambut merah muda itu dan kemudian ia bertanya, "Tapi, kenapa bentuk telingamu tidak seperti telinga elf? Bentuk telingamu seperti manusia biasa."
Furuko bertanya seperti itu karena ia pernah membaca manga yang berjudul 'Ras Elf Vs Ras Iblis', dan di dalam manga yang dibaca Furuko itu tergambar, kalau bangsa elf itu telinganya lancip dan sedikit agak panjang, sedangkan telinga Sakura itu terlihat seperti telinga biasa saja—masih seperti telinga manusia pada umumnya.
"Karena ayahku adalah manusia, sedangkan ibuku adalah elf. Bisa dikatakan, kalau aku itu setengah manusia dan setengah elf. Jadi, meskipun penampilanku masih terlihat seperti manusia, tetapi gen-ku masih sama seperti seorang elf," jawab Sakura menjelaskan.
"Ooh, jadi manusia setengah elf, ya," kata Furuko merespon jawaban Sakura, dan gadis berambut merah muda itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Seandainya Kenta Ken masih hidup, mungkin dia akan berkata, 'Jangan buang-buang waktu dengan membahas suatu hal yang tidak penting!' hehe." Hazuki berkata sembari mengingat kata-kata Kenta Ken yang biasanya selalu menegurnya saat sedang melakukan obrolan panjang.
"Baiklah, maafkan aku," ucap Hazuki meminta maaf. Kemudian, pemuda itu melirik Vitaloka sembari tersenyum tipis. "Jadi, kamu dari dulu sebenarnya menyimpan rasa sama Ken-san, ya?"
"Ya, begitulah." Vitaloka menjawab dengan jujur tanpa ragu, meskipun wajahnya memerah karena menahan malu.
"Ooh! Jadi benar dugaanku selama ini. Lalu, sejak kapan kamu suka sama dia? Dan kenapa, dari dulu kamu tidak mengungkapkan rasa cintamu itu padanya?" Hazuki bertanya sembari senyum-senyum.
"Iya, kenapa, Vita-san?" Furuko pun juga malah jadi ikut-ikutan Hazuki.
"Sudahlah, sebaiknya kalian jangan membuang-buang waktu dengan membahas suatu hal yang tidak penting! Ayo, kita gas aja langsung ke ruang singasana!" Vitaloka nyelimur dengan berkata seperti yang biasa dikatakan oleh Kenta Ken.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah berkata seperti Ken-san, sih? Lebih baik, kamu jangan gegabah seperti dia, Vita-san! Karena ...."
"Karena apa?!" Vitaloka langsung memotong ucapan Hazuki dengan bertanya.
"Katanya jangan membuang-buang waktu dengan membahas suatu hal yang tidak penting? Tapi kenapa malah bertanya yang akan membuat tujuan kita untuk menyerang Raja Iblis Akuma Netami tertunda?" kata Hazuki merespon pertanyaan Vitaloka.
"Ya sudah! Kita langsung aja kalau gitu!" Vitaloka menjadi sedikit naik darah gara-gara perkataan Hazuki yang membuatnya kesal. Gadis itu kemudian menggerutu dalam hatinya. "Pantas saja Ken-san terkadang kesal dengan orang ini, dan pantas saja mereka berdua selalu bertengkar. Ternyata, memang Hazuki yang selalu memancing emosinya."
Sementara Sagachi hanya menghembuskan napas berat menyaksikan perdebatan Vitaloka dan Hazuki. Dalam hati pemuda berambut biru itu berkata, "Sekarang, Vita-san mirip seperti Ken-san yang terkadang bertengkar dengan Hazuki-san."
Sakura tampak biasa-biasa saja dengan mereka yang sedari tadi selalu membahas sesuatu hal yang tidak penting, meskipun hal itu menunda banyak waktu untuk melakukan penyerangan terhadap Raja Iblis Akuma Netami.
Sementara Ezio hanya diam saja. Seperti biasa, ia tidak pernah bicara jika tidak ada yang mengajaknya bicara atau bertanya padanya.
"Apakah kalian benar-benar sudah siap untuk melakukan penyerangan?" Sakura bertanya untuk meyakinkan apakah mereka benar-benar sudah siapa atau belum.
Vitaloka langsung menyahut. "Kami siap!"
"Aku juga selalu siap," ujar Sagachi.
"Yang lain?" Sakura bertanya sembari menatap Hazuki dan Furuko.
"Aku siap!" jawab Hazuki dengan serius.
"Aku ikut aja. Jika kalian siap, aku pun pasti akan siap!" kata Furuko merespon ucapan Sakura.
__ADS_1
"Baiklah kalau kalian semua sudah siap. Kalau begitu, mari kita laksanakan!" Sakura kemudian memejamkan kedua matanya, sementara lisannya berkomat-kamit merapalkan mantra.
"Dengan sihir kuciptakan sebuah keajaiban, dan dengan keajaiban, kubuat diriku dan orang yang aku inginkan tidak dapat dilihat musuh."