Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
KING KOBRA


__ADS_3

"Wahai sang raja wali yang telah menjalin kontrak denganku, datanglah dan penuhi panggilanku!" Hazuki merapalkan mantra sihir pemanggilan.


Angkasa terpampang indah di atas sana. Serbuan angin menerpa dedaunan dan makhluk sekitar. Kepakan sayap nan lebar melayang membelah udara. Sunyi sejenak, riuh sejenak.


Detik berikutnya, suara nyaring mengema hebat di angkasa. Bayang raksasa langit itu menutupi sebagian kecil pesona alam. Kemudian, tampaklah seekor elang raksasa datang. Suara pekikan elang itulah, yang tadi melengking tinggi membelah cakrawala. Setelah itu, elang tersebut mendarat tepat di hadapan Hazuki. "Saya telah memenuhi panggilanmu, Master."


Hazuki tersenyum simpul, kemudian ia berkata, "Bagus, sekarang antarkan aku ke Kerajaan Zephyra!"


Elang Raksasa itu pun langsung menundukkan badannya. "Silakan naik, Master!"


"Terima kasih, Ezio." Hazuki berterima kasih kepada elang panggilannya itu yang ternyata bernama Ezio. Dengan segera, ia pun melangkah mendekati Ezio dan kemudian menaikinya.


"Aku akan sampai di Kerajaan Zephyra terlebih dahulu daripada kalian," gumam Hazuki sembari tersenyum simpul setelah pria tujuh belas tahun itu tengah berada di atas Ezio.


"Berpeganganlah pada buluku, Master! Aku akan segera terbang dengan cepat," kata Ezio


"Baiklah, sudah." Hazuki menuruti perkataan Ezio, ia pun langsung berpegangan pada bulu-bulu besar elang itu.


Raja Wali yang ditungganginya pun mulai membawanya terbang di atas udara dengan ketinggian sekitar seribu meter di atas Bumi.


Mengenai sihir pemanggilan tadi, mengapa Hazuki bisa melakukan sihir pemanggilan? Jawabannya karena pada dasarnya ia juga belajar Job Mage. Lalu, kapan ia belajar Job Mage, sedang Job utamanya adalah Assassin? Itu karena sebenarnya Job Assassin sudah lulus ia pelajari sejak lama, sedangkan Job Maga baru saja ia pelajari dengan waktu yang hampir bersamaan dengan masuknya Sagachi di Akademi Barak Sihir.


Ya! Pada saat itulah Hazuki belajar Sihir, dan ia juga telah menjalin kontrak dengan Raja Wali yang kini sedang ditungganginya ini. Dengan begitu, kapan pun dan di mana pun ia berada, ia bisa memanggil Hewan Kuciosenya kapan saja di saat membutuhkan.


Sementara di tempat lain.


Kini Sagachi, Kenta Ken dan dua gadis yang ikut dengan mereka telah sampai di kaki Gunung Terbeki. Di kaki gunung ini mereka berhenti sejenak.


"Inilah Gunung Terbeki. Gunung inilah yang menjadi perbatasan antara Hutan Buah dan Kerajaan Zephyra." Kenta Ken menjelaskan sembari menoleh ke arah Sagachi.


"Berarti, apakah kita harus mendakinya? Apakah kuda ini mampu mendaki gunung setinggi itu?" tanya Sagachi. Pasalnya, ia berpikir kalau seekor kuda tidak mungkin bisa mendaki gunung.


"Tentu saja tidak. Kita harus menggunakan jalan memutar dari gunung ini," jawab Kenta Ken menjelaskan.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" ajak Sagachi yang mulai bersemangat.

__ADS_1


"Apakah kamu benar-benar sudah siap untuk melawan Raja Iblis?" bertanya Kenta Ken memastikan.


"Lalu, apa gunanya kita ke sini jika aku belum siap?" Yang ditanya balik bertanya.


"Baiklah, kalau kamu memang benar-benar sudah siap, ayo kita lanjutkan!" ucap Kenta Ken. Ia pun kemudian langsung memacu kudanya untuk memimpin perjalanan. "Hiaaat!"


Sagachi pun juga langsung memacu kudanya dan mengikuti Kenta Ken.


"Apakah Nisan benar-benar sudah siap melawan Raja Iblis?" bertanya Furuko setelah mendengar percakapan antara Sagachi dan Kenta Ken.


"Kamu tadi sudah dengar sendiri 'kan, nisan bilang apa?" kata Sagachi merespon pertanyaan dari Furuko.


Meskipun Furuko sudah dengar, tapi ada rasa takut dalam dirinya. Dalam pikirannya terbayang-bayang tentang sosok Raja Iblis yang pastinya sangat kuat untuk Sagachi lawan. Walaupun ia juga telah mendengar dari lisan Kenta Ken, bahwa kakaknya itu adalah satu-satunya orang diramalkan akan membunuh tujuh Raja Iblis, tapi ia tetap masih takut. Karena kakaknya itu adalah seorang petarung ber-Job Swordman dan baru saja mendapatkan Kristal Naga Es.


"Apakah Nisan sudah bisa menggunakan kekuatan dari Kristal Naga Es itu?" tanya Furuko karena memang ia belum tahu kalau Sagachi sudah bisa melakukannya.


Sagachi yang masih dengan memacu kudanya pun menjawab dengan percaya diri dan kemantapan hatinya. "Sudah dong, nanti kamu juga tahu skill dari kekuatan Naga Es nisan."


Di sela-sela perjalanan, mereka dihadang oleh seekor ular besar. Kali ini adalah Ular Kobra berkepala tujuh.


Begitu pula dengan Sagachi, remaja berambut biru itu juga ikut berhenti karena ia juga melihat ular itu dengan mata kepalanya sendiri.


Sementara Vitaloka langsung turun dari kuda-nya dan menyiap Fuma Suriken. Ia memutar-mutarkan senjata itu dan kemudian langsung melemparkannya pada ular tersebut. "Rasakan ini!"


Fumu Suriken itu melesat ke arah Ular Kobra tersebut dengan kecepatan tinggi.


Alhasil ....


Hal itu tida berefek pada ular tersebut, karena ular tersebut langsung menanggap Fuma Suriken yang dilemparkan oleh Vitaloka itu dengan mulutnya.


Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Ular Kobra itu membalikkan serangan Vitaloka dengan melemparkan balik Fuma Suriken itu ke arahnya.


Furuko yang melihat itu langsung mengambil tindakan dengan menarik benang busurnya  sembari berkata, "Lightning Strike!"


Sebuah anak panah biru berelement petir langsung muncul dengan sangat cepat, dan kemudian ia langsung arahkan anak panah itu ke Fuma Suriken yang sedang melesat ke arah Vitaloka. "Discharge!"

__ADS_1


Anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat yang menyambar menabrak Fuma Suriken itu hingga terjadi ledakan dahsyat di udara saat kedua senjata itu bertabrakan.


"Sekarang biar nisan yang akan memberi pelajaran pada ular brengsek itu." Sagachi langsung turun dari kuda-nya.


"Tunggu, jangan gegabah!" bentak Kenta Ken pada Sagachi yang akan menyerang Ular Kobra besar itu. "Jangan serang dia dengan jarak dekat, ia bisa menyemburkan racun yang sangat mematikan!"


"Jadi, kita hanya bisa mengandalkan kekuatan dari panah Furuko, ya?" tanya Sagachi.


"Iya, cepatlah kembali ke kudamu dan kendalikan kudamu sembari menghindar dan menjaga jarak dari ular itu! Soal serangan, serahkan pada adikmu!" titah Kenta Ken pada Sagachi.


"Baiklah!" Sagachi langsung melompat ke punggung kudanya dan kemudian langsung bersiap siaga melakukan seperti arahan dari Kenta Ken.


"Aku siap menjadi penyerang jarak jauh dan aku sudah paham dengan rencana Ken-san, Nisan." Furuko berkata demikian untuk meyakinkan kerja sama dengan kakaknya.


"Baiklah, mari kita kerja sama untuk mengalahkan ular itu!" ucap Sagachi.


"Mari!" kata Furuko merespon.


Mereka dikejutkan dengan ular itu yang tiba-tiba saja berbicara.


"Panah sampah itu tidak akan bisa melukaiku, hahahaha!" Ular Kobra itu tertawa meremehkan. "Karena aku adalah raja dari seluruh ular di hutan ini, akulah King Kobra!"


"Kesombonganmu itu akan segera musnah, dasar ular jelek!" Furuko menarik benang busurnya, dan kemudian ia pun merapalkan mantra.


"My mana, is the arrows from my bow!"


Sebua anak panah muncul dari partikel-partikel cahaya jingga di saat Furuko menarik benang busurnya.


"Incendiary arrows."


Kemudian, muncullah api yang berkobar pada lancipan anak panah tersebut.


"Discharge!"


Furuko melesatkan anak panah tersebut. Anak panah itu pun melesat dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat yang menyambar.

__ADS_1


__ADS_2