
Di sebuah ruangan sebelum menuju ke ruang singgasana, terlihat Sagachi, Hazuki dan juga Vitaloka tengah berdiri di depan pintu masuk ruang singgasana. Pintu itu besar dengan tinggi sekitar lima meteran dan terdiri dari dua kubu. Biasanya, pada umumnya pintu biasa tingginya hanyadua meter.
Di sisi lain. Sakura, Ezio dan Furuko sedang memantau di balik sihir penghilang yang membuat mereka tak dapat dilihat oleh musuhnya. Sihir itu bukan hanya membuat mereka tidak dapat dilihat saja, tetapi juga bisa membuat suara mereka tidak dapat didengar oleh musuh saat mereka sedang saling berbicara.
"Apakah kalian sudah siap untuk melawan Raja Iblis Akuma Netami? Jika kalian benar-benar sudah siap, akan aku buka pintunya." Hazuki bertanya kepada Sagachi dan Vitaloka sembari menatap mereka. Hal itu ia lakukan untuk meyakinkan dan juga memastikan, apakah mereka berdua benar-benar sudah siap atau belum? Jika mereka belum siap, maka Hazuki akan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut.
Dengan cekatan, Sagachi dan Vitaloka langsung menjawab, "Kami siap!"
"Baiklah, kalau begitu aku buka, ya!" Setelah mendengar persetujuan mereka berdua, Hazuki langsung membuka pintu ruang singgasana.
Pemuda itu membuka pintu itu dengan perlahan. Di kala celah pintu itu terbuka sedikit, Hazuki melihat seorang pria berambut panjang berwarna merah sedang duduk di atas singgasana. Sosok yang dilihatnya itu juga sedang memegang sebuah tombak panjang berwarna biru gelap.
Ya, tidak salah lagi. Sosok yang dilihatnya itu adalah Raja Iblis Akuma Netami—rajanya sifat dengki. Hal itu dipastikan karena sorot matanya yang menyala berwarna merah.
Setelah melihat dari celah pintu yang terbuka sedikit itu, Hazuki dengan cepat langsung membuka lebar pintu ruang singgasana. Tentu saja, hal itu membuat Raja Iblis Akuma Netami langsung melotot ke arah Hazuki, Sagachi dan Vitaloka.
"Sagachi, Vitaloka! Ayo, seraaang!" Hazuki berseru sembari menarik dua bilah senjata dager-nya yang ia selipkan di balik jubah hitamnya.
Begitu pula dengan Sagachi dan Vitaloka, mereka berdua dengan cekatan juga langsung bersiap untuk bertarung.
Raja Iblis Akuma Netami langsung berdiri dari singgasananya, kemudian ia menatap tajam ke arah mereka sembari mengacungkan tombaknya. "Kurang ajar! Berani-beraninya kalian memasuki istana-ku tanpa permisi!"
"Jangan ngaku-ngaku! Ini bukanlah istanamu!" Hazuki merespon ucapan Raja Iblis Akuma Netami sembari melesat ke arahnya dengan nafsu membunuh yang kuat. Begitu pula dengan Sagachi dan Vitaloka, mereka berdua juga ikut menyerang dan melesat ke arah Raja Iblis.
__ADS_1
Melihat itu, Raja Iblis Akuma Netami langsung mengibaskan tombaknya seraya berkata, "Windstorm!"
"Aaaa!"
Sontak saja, dari kibasan tombak itu menimbulkan angin yang sangat dahsyat hingga membuat Sagachi, Hazuki dan Vitaloka langsung terpental.
Hazuki terpental dan tubuhnya menabrak saka di ruang singgasana ini. Sementara Sagachi dan Vitaloka, tubuh mereka terhempas menabrak dinding ruangan.
"Sial!" umpat Sagachi. Pemuda itu bangkit sembari mengusap darah pada bibirnya.
"Aakh! ... ternyata dia punya skill badai." Vitaloka berusaha berdiri sembari memegangi keningnya yang meneteskan sebuah darah. Karena saat gadis itu terpental, saat tubuhnya terhempas menabrak tembok kepalanya juga terbentur.
Di sisi lain, Hazuki menggertak giginya sembari menatap Raja Iblis Akuma Netami yang masih berdiri dengan tegak menatap mereka. Di dalam hati pemuda itu berkata, "Sial! Kuat sekali dia. Jika aku tidak menggunakan Skill Rantai Petir Dimensi, maka serangan biasaku juga tidak ada apa-apanya bagi dia. Namun, jika aku menggunakan skill itu, kata Sakura dia bisa menyerap kekuatan magic dan kemudian mengembalikan serangan magic itu dua kali lipat lebih dahsyat. Bagaimana ini?" Hazuki sekarang benar-benar diambang kebingungan, ia berpikir keras bagaimana caranya agar dapat memisahkan tombak Raja Iblis Akuma Netami dari tangannya.
Hazuki pun langsung menjawab dengan skill telepatinya. "Lalu aku harus bagaimana, Sakura-san?"
"Kalian jangan menyerangnya secara bersamaan, karena kibasan badai angin dari skill Raja Akuma Netami itu memiliki jeda waktu sekitar lima belas detik. Jadi, saat salah satu dari kalian ada yang maju duluan untuk menyerang, Raja Iblis Akuma Netami akan langsung menggunakan skill itu. Nah, semisal yang maju itu Hazuki, karena Hazuki terpental, masih sisa Sagachi dan Vitaloka. Pada saat itulah, kalian bedua langsung menyerang dan berusaha membuat Raja Iblis Akuma Netami terlepas dari senjatanya." Sakura menjelaskannya dengan detail dan cepat. Hal itu juga didengar oleh Sagachi dan Vitaloka melewati perantara ilmu telepatinya. "Apakah kalian paham?"
"Kami paham!" jawab Hazuki dan Vitaloka, sedangkan Sagachi tidak dapat menjawab karena ia tidak memiliki kemampuan bertelepati, tetapi ia masih dapat mendengarkan suara telepati Sakura.
Hazuki langsung melesat ke arah Sagachi dan Vitaloka, kemudian dengan cekatan pemuda itu langsung berbisik pada mereka. "Apakah kalian mendengar penjelasan Sakura-san lewat telepati tadi?"
"Iya, kami mendengarnya dan kami paham!" jawab Sagachi sembari manggut-manggut.
__ADS_1
"Yang dimaksud Vitaloka itu, salah satu dari kita harus ada yang mau menjadi tumbal untuk maju terlebih dahulu," kata Vitaloka menjelaskan dengan maksud yang dijelaskan oleh Sakura tadi.
"Iya, aku paham. Biar aku saja yang menjadi tumbal untuk maju terlebih dahulu, karena hal itu untuk memicu kekuatan badai anginnya agar keluar. Nanti saat aku terpental, kalian langsung beraksi, ya!" Hazuki rela untuk menjadi tumbal dengan maju terlebih dahulu.
"Baiklah, maafkan kam—"
Belum sempat Sagachi menyelesaikan perkataannya, sebuah tombak melesat ke arah mereka bertiga.
"Awaaaas!" Hazuki berseru sembari mendorong tubuh Sagachi agar terhindar dari lesatan tombak itu. Sementara dirinya dengan cepat langsung menangkis pucuk lancipan tomabk itu dengan memposisikan dua bilah dager-nya hingga membentuk bagaikan seperti huruf 'X'.
Ctang!
Hazuki berhasil menangkis tombak itu, tetapi dirinya terpental ke arah belakang hingga tubuhnya membentur dinding dengan keras.
"Aakh!"
"Hazuki!" ucap Sagachi dan Vitaloka dengan panik saat melihat Hazuki yang terbentur sekali lagi.
"Dasar lemah kalian! Kalian datang ke sini, itu berarti sama saja dengan kalian masuk ke kandang singa, hahahaha!" Raja Iblis Akuma Netami tertawa dengan sombongnya sembari menangkap tombak yang telah terbang lagi dengan cepat ke arahnya.
"Ha? Tombak yang ia lemparkan saja bisa kembali lagi ke arahnya bagaikan seperti ia menarik dengan magnet saja. "Sagachi berkata sembari menatap Raja Iblis Akuma Netami. "Lalu, bagaimana cara kita untuk memisahkan tombaknya dari tangannya, jika ia saja bisa menarik tombak itu hingga kembali ke tangannya dari jarak jauh?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. "Vitaloka merespon ucapan Sagachi sembari memapah Hazuki dengan membantu pemuda itu untuk berdiri.
__ADS_1
"Kenapa kalian malah diam saja? Harusnya sebelum tombak itu kembali lagi ke arahnya kalian langsung menangkap tombak itu, bukannya menatapku. Jangan hiraukan aku, meski aku terluka sekali pun!" Hazuki berkata dengan lemas.