Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
MELAWAN MUSUH BERSENJATA TOMBAK PETIR


__ADS_3

Di Kota Talenta.


Terlihat sebuah pertarungan sengit antara Kenta Ken, Hazuki dan Ezio. Lawan dari mereka cukup berat kali ini, yaitu seorang berpawakan besar, berotot, kekar dan tinggi. Bukan hanya itu saja, akan tetapi sosok yang menjadi lawan mereka bertiga ini juga membawa sebuah senjata tombak besi.


"Hati-hati, Hazuki-san! Selain tubuhnya yang tinggi dan besar, kecepatannya juga tidak bisa remehkan!" kata Kenta Ken sembari mengatur napasnya yang terengah-engah, setelah ia dan Hazuki terpental karena menangis serangan sosok yang menjadi lawan mereka itu.


"Iya, aku tahu itu. Terpaksa, aku akan menggunakan teknik khusus." Hazuki seperti akan menyiapkan rencana baru, entah itu skill luar biasa yang belum pernah ia gunakan selama ini, ataukah teknik lain? Pemuda tujuh belas tahun itu kemudian menoleh ke arah Ezio dan berkata, "Ezio, kau bantulah Ken-san untuk mengalihkan perhatiannya, sementara aku akan menyiapkan Rantai Petir Dimensi!"


Ezio yang mengerti dengan perkataan Hazuki, ia hanya mengangguk sembari berkata, "Baik, Master!"


Kenta Ken hanya diam walaupun sebenarnya ia ingin bertanya tentang apa yang dimaksud 'Rantai Petir Dimensi'. Namun, karena keadaan sedang dalam masa tengang, ia mengurungkan niatnya dan kembali fokus ke arah musuhnya.


Baru saja pertarungan terjeda dengan sedikit pembicaraan, musuh bertubuh besar bersenjatakan tombak besi itu langsung memutar-mutarkan tombaknya berulang kali. Pusaran tombak itu, semakin lama semakin cepat hingga mengeluarkan aliran petir berwarna merah.


"Dengan kekuatan petir merah yang telah menyelimuti tombakku, kali ini kalian akan mati!" kata pria bersenjatakan tombak itu.


Kenta Ken langsung menyiapkan katana-nya dengan aba-aba bertarung ala assassin tipe charge reap—tipe kecepatan dan kelincahan. Dalam hati pemuda berjubah hitam itu berkata sembari menatap ke arah musuhnya tanpa berkedip. "Aku tidak boleh lengah, aku harus fokus!"


"Rasakan ini!" Musuh yang bersenjatakan tombak itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Kenta Ken sembari menghunuskan tombak yang terselimuti oleh petir merah yang mematikan.


Melihat itu, Kenta Ken langsung mengaktifkan mode mata ungunya hingga membuat gerakan musuhnya terasa lebih lambat di matanya. Di saat musuh sudah sangat dekat dan hendak menebaskan tomabak berselimut petir merah itu, Kenta Ken langsung menghindarinya dengan cepat sembari menundukkan kepalanya dan melakukan dash ke arah kanan hingga berakhir dengan salto-salto.


Kenta Ken memang berhasil menghindari serangan secepat kilat itu, hingga membuat musuh itu menjadi geram akan kegagalannya dalam serangan terjangan tombak petirnya.


"Kau cepat juga rupanya." Musuh bersenjatakan tombak itu berkata sembari menatap dengan santai ke arah Kenta Ken.

__ADS_1


"Tentu saja aku cepat. Dan orang sepertimu, jangan harap bisa menandingi kecepatanku." Kenta Ken berkata dengan sombongnya, meskipun dalam hatinya ia merasa takut lagi gemetaran dengan kekuatan dan kecepatan musuhnya yang luar biasa itu. Karena, jika Kenta Ken sampai kehabisan mana, maka mode mata ungunya itu akan secara otomatis berkahir dan tak bisa aktif kembali. Jika itu sampai terjadi, kecepatannya pasti akan kalah telak dengan pria bersenjatakan tombak itu.


"Sombong sekali kau! Kau belum merasakan rasanya ditusuk tombak petir!" Pria bertubuh besar dan kekar bersenjatakan tombak petir itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya sembari memposisikan tombaknya dengan niat untuk melakukan tusukan. "Rasakan ini!"


Kenta Ken langsung melakukan dash ke arah kiri dengan cepat, dan ia pun berhasil menghindari terjangan tusukan kilat itu. Namun, sekarang pandangan pria bersenjatakan tombak petir itu tertuju ke arah Hazuki.


"Celaka! Sepertinya dia akan menerjang Hazuki." Kenta Ken bergumam ketika ia melihat pria bersenjatakan tombak petir itu menatap Hazuki yang belum selesai menyiapkan skill ultimatenya.


Ezio yang melihat itu, tentu saja ia tidak tinggal diam saja. Ia langsung berinisiatif merapalkan sebuah mantra dengan cepat di saat pria bersenjatakan tombak petir itu akan melakukan terjangan ke arah tuannya.


"Dengan sihir element besi, terwujudlah tembok besi!" Setelah Ezio merapalkan mantra kunci itu, ia menunggu moment yang tepat untuk melepaskan skill-nya. Ia arahkan tangan yang telah berlinang cahaya magic ke arah depan Hazuki.


Di saat pria bersenjatakan tombak petir itu melesat ke arah Hazuki ....


CTANK!


Hal ini membuat pria bersenjatakan tombak petir itu menabrak sebuah tembok besi yang Ezio buat dengan sihirnya itu, hingga membuat suara nyaring saat perbenturan antara tombak petir dan tembok besi.


Kedua mata Kenta Ken memblalak melihat itu. Pasalnya, terjangan pria bersenjatakan tombak itu mampu membuat tembok setebal sekitar satu meter yang dibuat Ezio dengan sihirnya itu peot dan hampir jebol.


"Kuat sekali!" gumam Kenta Ken dalam hati. "Jika aku sampai terkena serangannya barang sekali saja, mungkin nyawaku akan langsung melayang."


"Bahkan, sepertinya dia lebih kuat daripada Raja Iblis Totemo Hokori yang telah kami kalahkan waktu itu," sambung Kenta Ken yang masih berbicara di dalam hatinya.


Kenta Ken bingung mau bagaimana melawan pria bersenjatakan tombak petir itu. Pasalnya, tombaknya itu terus saja terselimuti aliran petir merah yang mematikan. Jika ia gunakan katana-nya untuk beradu mekanik dengan tombak petirnya itu, maka dirinyalah yang akan langsung tersetrum aliran petirnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tak berdaya untuk melawannya. Kenapa aliran petir merah itu terus saja ada? Sebanyak apakah kapasitas mana pria petir itu? Jika aku terus-menerus menggunakan skill mode mata unggu ini, cepat atau lambat mana-ku akan habis. Tapi, jika aku tidak mengaktifkannya, kecepatanku pasti akan kalah denganya." Kenta Ken berpikir keras, kemudian ia menoleh ke arah Hazuki. "Apa yang sedang dilakukannya?"


Pria bersenjatakan tombak petir itu berhenti sesaat. Namun anehnya, ia seperti tak merasa kecapaian seperti napas yang harusnya tersengal-sengal. Umumnya manusia, setelah melakukan pertarungan lama pasti napasnya akan terengah-engah, tapi ia tidak.


Sedangkan Kenta Ken, detak jantungnya berdegup kencang, napasnya sekarang ini telah kembang kempis tak beraturan. Akan tetapi, ia tetap harus fokus dan berhati-hati pada musuhnya, meningkatkan kewaspadaannya terhadap serangan yang akan datang pada detik berikutnya.


Dalam hati Kenta Ken berkata, "Kalau tahu kami akan bertemu musuh seperti ini, seharusnya aku mengajak Sagachi saja. Karena dialah yang telah menerima Kristal Energi Alam yang telah ia pasangkan pada bilah pedangnya. Karena dengan kekuatan dari kristal itu, dia tak akan pernah kehabisan mana."


Tentu saja sekarang ini mana Kenta Ken mulai menipis, sebisa mungkin ia berusaha memikirkan sesuatu untuk melakukan serangan balik sebelum ia kehabisan mana.


"Kenapa, hah?! Apa kau takut? Baiklah, aku akan mulai serius kali ini." Aliran petir merah yang berada di tombak pria bertubuh kekar itu semakin membesar dan melonjak.


"Kali ini, kalian akan mati di tanganku ... di tangan Rai Vajra. Hahahahaha!" sambung pria bersenjatakan tombak petir itu yang sepertinya telah memperkuat aliran petir merahnya. Ternyata nama pria itu adalah Rai Vajra.


Kenta Ken menoleh ke arah Hazuki yang sedang menyilangkan kedua senjata Dagger-nya.


Rai Vajra langsung melesat ke arah Kenka dengan hawa membunuh yang kuat.


CTAR!


Tiba-tiba saja, dua buah rantai petir biru yang ujungnya terdapat dager menangis terjangan tombak petir Rai Vajra, hingga membuat pria bersenjatakan tombak petir itu terpental jauh.


Mata Kenta Ken terbelalak ke arah sosok yang membawa senjata rantai petir biru itu. Ia sungguh takjub dengan yang dilihatnya kali ini.


Kenta Ken bergumam sembari menatap sosok bersenjata rantai biru itu dengan berkata, "Hazuki ...."

__ADS_1


__ADS_2