
Melihat Elang Raksasa yang ukurannya sangat besar itu, Ular Kobra Raksasa yang tadinya hendak memangsa Furuko mengurungkan niatnya. Ia langsung menabrak tanah yang di bawanya hingga tanah itu jebol dan membentuk sebuah lubang. Hal itu ia lakukan karena Ular Kobra Raksasa itu ingin melarikan diri dari Elang Raksasa itu.
Namun ....
Nas bagi Ular Kobra Raksasa, karena Elang Raksasa itu telah sampai ke bawah terlebih dahulu sebelum Ular Kobra Raksasa itu masuk ke dalam lubang tanah yang dibuatnya.
Kaki kanan Elang Raksasa itu mencengkram dengan kuat leher Ular Kobra itu dan kaki kiri mencengkram pada bagian yang lainnya. Tentu saja, Ular Kobra Raksasa itu sangat kesakitan bagaikan leher dan tubuhnya seperti akan terputus karena cengkeraman kaki Elang Raksasa itu begitu sangat kuat.
Bukan hanya itu, Elang Raksasa itu membawa terbang Ular Kobra Raksasa itu dengan ketinggian puluhan kilo meter di atas udara. Kemudian, Elang Raksasa itu menjatuhkan Ular Kobra Raksasa itu dari ketinggian tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaa!" Ular Kobra Raksasa itu menjerit karena jatuh dari ketinggian yang luar biasa.
Jatuhnya Ular Kobra Raksasa itu di sebuah tempat bebatun. Bahkan, hingga terjadi gempa sesaat yang terasa di berbagai daerah di areal itu.
"Wah, sampai gempa begini." Furuko hampir saja terhuyung dari tempat berdirinya. "Tapi, berkat Elang Raksasa itu aku jadi selamat. Apakah, Elang Raksasa itu baik? Kenapa dia tiba-tiba saja menolongku?"
"Furuko!" panggil Sagachi yang sedang berlari ke arah Furuko.
"Nisan!" Furuko pun langsung melompat turun dari dahan pohon itu.
Kemudian, tiba-tiba saja Sagachi langsung memeluknya dengan rasa khawatir yang begitu dalam saat pemuda itu sampai di hadapan adiknya.
"Imouto, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Sagachi sembari merangkul adiknya dengan erat. Tangan kanannya mengelus pelan rambut adiknya.
^^^Imouto: adikku(adik perempuan)^^^
"Nisan, aku tidak apa-apa. Ini semua berkat Elang Raksasa tadi," jawab Furuko yang masih dalam dekapan sang kakak.
Sementara Vitaloka yang sekarang tengah berdiri tak jauh dari Sagachi dan juga Furuko, hanya memperhatikan mereka sembari tersenyum. Ia juga merasa lega, karena ada sebuah keajaiban yang menyelamatkan nyawa Furuko.
"Vita-san." Kenta Ken menepuk pundak Vitaloka.
Sontak saja Vitaloka terkejut karena tiba-tiba saja Kenta Ken menpuk pundaknya. Gadis itu tidak menyadari atau pun mendengar langkah Kenta Ken yang mendekatinya.
__ADS_1
"Dih, ngagetin aja!" gerutu Vitaloka dengan sedikit kesal.
"Saking fokusnya kamu menatap mereka, sampai-sampai ... kamu tidak menyadari kedatanganku," ujar Kenta Ken sembari menyedekapkan tangannya.
Vitaloka tiba-tiba saja langsung mengganti topik pembicaraan. "Eh, kalau kuda kita sudah mati, itu berarti ...."
"Jalan kaki." Kenta Ken langsung menyahut ketika Vitaloka menggantung kalimatnya.
"Jalan kaki?" tanya Vitaloka. Gadis itu seperti keberatan jikalau melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
"Tak payah lah jalan kaki."
Tiba-tiba saja sahutan suara seorang laki-laki datang dari arah lain. Hal itu pun membuat Kenta Ken, Vitaloka, Sagachi dan juga Furuko menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Bisa mereka lihat, seorang laki-laki yang memiliki rambut berwarna hitam, memakai kaos hitam dengan kombinasi jubah berwarna biru dongker berkerah tinggi, memakai celana panjang hitam, membawa dua dager yang diselipkan di pinggang kanan dan kirinya dan memakai sepatu hitam.
"Hazuki?" ucap Kenta Ken dengan heran melihat Hazuki yang tiba-tiba saja berada di sini. Padahal tadinya
ia mengira, jikalau Hazuki tidak akan menyusul dan memilih pulang.
"Lalu, apa yang kau maksud dengan 'tak payah jalan kaki'?" Kali ini Sagachi yang bertanya, karena ia juga mendengar perkataan Hazuki di saat kedatangannya barusan.
Hazuki tidak menjawab, ia hanya menanggapinya dengan senyum simpul. Kemudian, pamuda itu mengemut ibu jari dan jari telunjuknya. Ia bersiul dengan lantang seperti akan memanggil sesuatu.
Tak berselang lama, suara pekikan elang melengking tinggi membelah cakrawala. Semua orang yang berada di situ pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, lebih tepatnya ke arah langit.
Sekarang bisa mereka lihat, seekor Elang Raksasa yang tadi membawa terbang Ular Kobra itu kembali ke arah sini dan mendarat di dekat Hazuki.
"Ooh, aku tahu sekarang. Jadi, Elang Raksasa itu hewan panggilanmu, ya?" tebak Sagachi.
Hazuki pun menjawab, "Iya, itu hewan panggilanku."
"Lalu kenapa kau tidak membantu kami sejak awal, sebelum kuda-kuda kami dibunuh oleh Ular Kobra itu?" Kenta Ken bertanya dengan intonasi yang cukup tinggi pertanda kesal. Pemuda itu bisa menebak, kalau Hazuki pastinya sudah sampai lebih awal dari mereka dengan menunggangi Elang Raksasa itu.
__ADS_1
"Pasti dari tadi kamu cuma nonton dari atas 'kan?" tebak Kenta Ken.
Hazuki tertawa. "Emang iya, kenapa memangnya?"
Dengan rasa kesal dan emosi yang meluap, membuat Kenta Ken hendak memukul Hazuki.
Akan tetapi, Sagachi langsung mencegah Kenta Ken melakukan itu dengan memegangi tangan kanannya yang hendak memukul Hazuki. "Sudah, Ken-san."
Kenta Ken kemudian hanya menghela napas berat, tetapi ia masih menyimpan rasa kesal pada rivalnya itu.
"Lagian, kamu juga tega ninggalin aku pakai kuda." Hazuki berkata dengan PD-nya sembari bersedekap.
"Terserah kamu lah, Hazuki! Ayo, Sagachi-san, Vita-san, Furuko! Kita lanjutkan perjalanan kita." Kenta Ken membalikkan badannya dengan berjalan cepat ke arah tujuannya, yaitu Kerajaan Zephyra.
Karena Kenta Ken merasa kalau Sagachi, Furuko dan juga Vitaloka tidak mengikutinya, ia pun membalikkan badannya lagi, dan yang ia lihat mereka bertiga malah ikut-ikutan dengan Hazuki naik ke atas Elang Raksasa itu. Tentunya, hal itu membuatnya semakin tambah kesal.
"Kenapa kalian malah ikut dia?" tanya Kenta Ken pada Sagachi, Furuko dan juga Vitaloka dengan suara yang lantang dan intonasi yang meninggi. Terlihat rasa kesal yang tersirat pada wajahnya.
"Kami ikut dengan mereka karena—"
"Karena tanpa kuda bagaimana mungkin kalian akan sampai ke sana dengan begitu mudahnya? Pasti akan sangat melelahkan jika berlari atau jalan kaki 'kan?" Hazuki menjawab dengan cepat, yang membuat ucapan Sagachi terpotong tentunya.
"Yakin gak mau ikut aku?" Hazuki mengulangi tawarannya.
"Sudahlah Ken-san, terima saja! Lagian, kenapa kalian ini seperti musuhan sih?" Kali ini Furuko yang angkat bicara.
"Iya. Ngapain juga harus repot-repot jalan kaki, kan udah ada tumpangan yang lebih besar dan cepat ini," sambung Vitaloka yang kini juga sudah berada di atas Elang Raksasa panggilan Hazuki, dan hanya Kenta Ken saja yang kini tidak berada di atas burung raksasa itu.
"Tidak biasanya kamu bersikap seperti itu, Ken-san. Padahal, di saat tidak ada Hazuki-san, kamu ini selalu bersikap tenang," ujar Sagachi mengomentari tingkah laku Kenta Ken yang biasanya.
Kenta Ken sebenarnya ingin menerima tawaran itu, akan tetapi ia merasa gengsi dengan rivalnya.
"Jadi bagaimana, apakah yakin kamu tidak akan ikut denganku? Teman-temanmu ini memilih ikut denganku, lho!" Hazuki mengulangi tawarannya.
__ADS_1
Apakah Kenta Ken akan menerima tawaran dari rivalnya itu?