Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
DUKA


__ADS_3

Terlihat di langit biru yang tingginya sekitar kurang lebih tiga ratus meter dari atas tanah, seekor elang raksasa terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Istana Kerajaan Zephyra. Ya! Di atas elang raksasa itu ada Hazuki. Pemuda itu sedang membawa tubuh Kenta Ken yang kini sudah tak bernyawa lagi.


Terlihat, air mata sebening embun dan sehangat sinar matahari terus saja mengalir dari kedua kelopak pemuda itu. Kesedihan Hazuki sulit sekali untuk digambarkan dalam kata-kata.


Sembari menatap Istana Kerajaan Zephyra yang sudah mulai terlihat dari atas sini, Hazuki berkata, "Apa yang harus aku katakan pada mereka, jika pemimpin ketua tim ini sudah tak bernyawa?" Kemudian pemuda itu menatap wajah Kenta Ken yang kini di pangkuannya dengan tatapan iba. Setelah itu ia langsung menangis secara histeris.


Di sisi lain.


"Mereka kembali ...."


"Iya, mereka telah kembali!" seru Furuko yang membuat perkataan Sagachi terpotong. Gadis itu sungguh sangat senang dan bersemangat ketika melihat kedatangan elang raksasa yang sedang terbang menuju ke arah Istana Kerajaan Zephyra ini. Namun ia tidak tahu, di balik kesenangannya itu ada kesedihan dan duka.


Tak berselang lama kemudian, karena Hazuki melihat teman-temannya itu sedang menunggunya di luar Istana Kerajaan Zephyra, ia menyuruh Ezio untuk mendarat di luar istana. Jika ia tidak tahu, kemungkinan ia akan medarat di halaman istana seperti biasanya.


Saat elang raksasa perwujudan dari Ezio itu telah mendarat di dekat Sagachi, Vitaloka, Furuko dan Hyakimaru. Terlihat, wajah yang tadinya senang langsung seketika berubah menjadi sedih. Itu dikarenakan, mereka semua melihat sosok yang digendong Hazuki adalah ketua tim yang telah menutup kedua matanya, dan terlihat juga luka-luka yang cukup parah pada pemuda yang digendongnya itu.


"Ken-san kenapa?" Ketika Vitaloka melihat mayat Kenta Ken yang digendong Hazuki ketika pemuda itu turun dari punggung elang raksasa perwujudan Ezio, tangan gadis bermabut ungu itu langsung menutup mulutnya. Tak terasa, air mata sebening embun dan sehangat sinar mentari langsung berderain membasahi sebagian wajahnya. "Ken-saaan!"

__ADS_1


Bukan hanya Vitaloka saja ... Sagachi, Furuko, dan Hyakimaru juga ikut bersedih melihat itu. Mereka semua lasung dengan segera mendekati Hazuki yang tengah menggendong tubuh Kenta Ken tak bernyawa yang sedang berjalan ke arah mereka, sementara Ezio merubah wujud elang raksasanya itu menjadi manusia kembali.


Hazuki kemudian meletakkan tubuh Kenta Ken di atas tanah agar mereka semua bisa melihatnya, akan tetapi pemuda itu masih menopang kepala Kenta Ken di pangkuannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Ken-san sampai seperti ini, Hazuki-san?" bertanya Vitaloka ketika ia dan lainnya tengah sampai di dekat Hazuki. Kemudian gadis berambut ungu itu menyentuh tubuh Kenta Ken yang telah tak bernyawa itu.


"Maaf ... maafkan aku yang telah gagal melindunginya!" Hanya itu yang bisa Hazuki katakan, sungguh pemuda itu tidak tahu harus berkata apa selain meminta maaf pada mereka.


Vitaloka pun langsung mengecek pergelangan tangan Kenta Ken untuk memastikan apakah masih ada tanda-tanda kehidupan pada sang ketua tim itu atau tidak? Kemudian gadis itu langsung mengecek napas Kenta Ken dengan menengadahkan jarinya di bawah hidung pemuda itu. Namun, hal itu justru membuat gadis berambut ungu itu menjadi semakin sedih setelah melakukan itu, karena ia menjadi tahu dengan pasti, jikalau Kenta Ken benar-benar sudah tak bernyawa lagi.


Tak tau mengapa, Vitaloka adalah orang yang paling sedih dari yang lain ketika melihat kematian Kenta Ken. Derasnya air mata terus-menerus menetes tiada henti dari kelopak mata gadis itu. Apakah itu tandanya, kalau selama ini Vitaloka mencintai Kenta Ken?


"Ta–tapi bagaimana dengan perjalanan kita selanjutnya, jika Ken-san telah meninggal?" Vitaloka berkata sembari menangis dan masih menatap Kenta Ken yang di pangkuan Hazuki dengan tatapan iba.


Sagachi yang mendengar Vitaloka mengatakan itu, ia pun langsung berpikir, "Iya juga, ya. Kan cuma Ken-san yang tau keberadaan Raja Iblis yang lain. Lalu, bagaimana caraku untuk menemukan enam Kerajaan Iblis lagi? Ya ampun, bagaimana ini?" Di tengah kesedihan ini, Sagachi tampak kebingungan.


"Iya juga, ya. Bagaimana kami kembali ke dunia asal kami, jika tujuh raja iblis belum juga dikalahkan? Dan bagaimana, kami bisa mengalahkan enam raja iblis yang tersisa, jika kami saja tidak tahu keberadaannya? Sedangkan yang tahu keberadaan semua Kerajaan Iblis hanya Ken-san seorang." Sagachi bertanya-tanya, dan ia berharap ada salah satu dari mereka yang bisa menjawabnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera memakamkan Ken-san terlebih dahulu. Soal itu, kita bahas nanti saja," ucap Vitaloka menjawab Sagachi. Kemudian gadis berambut ungu itu menatap wajah Hazuki. "Hazuki-san, ayo bawa Ken-san dan segera makamkan dia!"


"Baiklah!" Hazuki pun kemudian langsung mengangkat kembali tubuh Kenta Ken, dan kemudian ia berjalan menuju ke tempat pemakaman di area Istana Kerajaan Zephyra diikuti oleh Sagachi dan teman satu tim-nya.


SKIP TIME ....


Dua hari telah berlalu semenjak kematian Kenta Ken. Hari ini Sagachi dan teman satu tim-nya berkumpul di Istana Kerajaan Zephyra, lebih tepatnya di ruang diskusi Kerajaan Zephyra.


"Bagaimana ini? Apakah kita akan terus di sini?" Sagachi bertanya sembari berpikir-pikir bagaimana caranya agar bisa menemukan keberadaan Kerajaan Raja Iblis yang lainnya. Baginya, sekarang tidak perlu lagi memikirkan siapa yang akan menjadi pengganti Raja, yang terpenting adalah segera membasmi tujuh raja iblis itu agar ia dan adiknya bisa segera pulang ke dunia asal mereka.


"Aku juga tidak tahu, bagaimana caranya kita menemukan tujuh raja iblis itu, jika kita saja tidak tahu tempat kerajaan mereka." Hazuki merespon ucapan Sagachi.


Mereka semua dilanda kebingungan dengan permasalahan ini. Pasalnya, di antara dari mereka hanya Kenta Ken saja yang pernah berpetualang mengelilingi tujuh Kerajaan Iblis.


Beberapa saat kemudian, mereka semua yang ada dalam ruang diskusi itu, dikejutkan oleh sebuah cahaya yang tiba-tiba saja muncul di udara.


"Cahaya apa itu?" Sagachi bertanya sembari menatap ke arah asalnya cahaya itu. "Itu seperti cahaya yang aku temukan di saat berada di dalam penjara Prancis."

__ADS_1


"Apakah itu benar, Nii-san? Jadi, yang Nii-san maksudkan itu sosok misterius, ya" tanya Furuko kemudian. Gadis berambut biru beranggapan, kalau yang dimaksud Sagachi dengan datangnya cahaya di ruangan itu adalah sosok misterius yang datang.


"Ya, tidak salah lagi. Itu adalah sosok misterius!"


__ADS_2