Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
KING KOBRA, PART III


__ADS_3

"Yuhui! Sekarang kau sudah tidak bisa lagi berkutik, ular jelek!" ujar Furuko dan kemudian tertawa puas, karena ia berhasil membuat Ular Kobra raksasa itu terkurung di dalam balok es besar akibat kekuatan panah elemen es-nya.


"Hebat kau, Furuko," kata Sagachi mengomentari aksi yang dilakukan Furuko.


"Siapa dulu, dong. Furu—"


Belum sempat Furuko menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja balok es besar yang mengekang Ular Kobra raksasa itu pecah dan ular itu kini telah terbebas.


"Hahahaha. Dasar gadis kecil! Cuma segitu aja sudah sombong!" ucap si Ular Kobra tersebut sembari tertawa meremehkan. "Kau pikir, panah es-mu itu bisa mengalahkanku, hah?"


Furuko tak tahu harus apa. Apakah ia harus marah, ataukah dia harus pasrah? Pasalnya, jika gadis biru itu marah dan terus melawan, yang ia lakukan bagi Ular Kobra raksasa itu selalu saja sia-sia. Akan tetapi jika ia memilih pasrah, maka Ular Kobra raksasa itulah yang akan berkuasa dan membunuh ia dan teman satu tim-nya.


Kini Furuko menundukkan kepalanya dalam, kemudian gadis berambut biru itu berkata, "Nisan, maafkan aku!"


Sungguh, Furuko malu dengan perkataannya yang terlalu percaya diri. Namun ternyata, apa yang ia lakukan tidak bereaksi apa-apa pada Ular Kobra raksasa itu.


Sagachi yang mengerti dengan perasaan Furuko pun turun dari kuda-nya, kemudian ia melangkah ke arah adiknya dan menepuk pundaknya pelan seraya berkata, "Furuko, apa pun kondisinya, apa pun rintangannya, kamu harus ingat satu hal, Furuko!"


Furuko yang menunduk itu kemudian mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang kakak. Kemudian gadis itu bertanya, "Apa itu, Nisan?"


"Semangat!" Sagachi menjawab sembari mengepalkan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih berada di atas pundak Furuko. "Apa pun rintangannya, siapa pun musuh kita. Mari Furuko, kita berjuang bersama!"


"Nisan ...." Hanya itu yang bisa Furuko ucapkan. Entah apa yang akan ia ucapkan selain itu. Sungguh, ia terharu dengan kata-kata kakaknya itu padanya.


"Yosh! Ini baru dimulai!" Sagachi kemudian berbalik ke arah di mana Ular Kobra itu sedang memandang mereka. Rupanya, Ular Kobra raksasa itu masih memberi waktu kepada mereka untuk berbasa-basi.


"Apakah sudah cukup dengan basa-basi rengekan kalian itu? Hahahaha baiklah, setelah ini kalian tidak akan bisa basa-basi lagi!" Ular Kobra raksasa itu kini bergerak dengan cepat ke arah mereka.


Sagachi pun langsung bersiap dengan kuda-kuda ala petarung Swordman. Tangan kanannya langsung bersiap memegangi gagang pedangnya yang ia selempangkan di punggungnya. Begitu pula dengan yang lainnya, Kenta Ken, Vitaloka dan juga Furuko juga melakukan hal yang sama, mereka juga mempersiapkan kuda-kuda bertarungnya.

__ADS_1


Kenta Ken pun juga turun dari kuda-nya, ia berpikir keras kali ini. Karena Kenta Ken adalah pemimpin di sini, ia hanya memiliki dua pilihan, yaitu: menghindari serangan ular itu, atau tetap di sini.


"Jika tidak menghindar, selain ukuran ular itu yang besar, ular itu juga memiliki racun yang mematikan," guman Kenta Ken dalam hati. Sebenarnya ia bisa dengan mudah menghindarinya, tapi bagaimana dengan nasib teman-temannya dan juga kuda tunggangannya?


"Aaarrrgh! Lebih baik aku perintahkan teman-temanku menghindarinya saja, soal kuda biarlah dimangsa ular itu, yang penting mereka selamat," gumam Kenta Ken memutuskan pilihannya.


"Semuanya ...!" Sagachi, Furuko dan juga Vitaloka mendengar ucapan Kenta Ken yang lantang itu. Kemudian Kenta Ken melanjutkan perkataannya. "Semuanya menghindar ke arah yang berbeda! Cepat menyebaaaar!"


Sontak saja pada saat itulah Ular Kobra raksasa itu sudah hampir sampai dan membuka mulutnya lebar-lebar. Akan tetapi, karena Kenta Ken telah memerintahkan kepada teman-temannya untuk menghindar, mereka ber-empat pun langsung melompat ke segala arah. Mereka berempat berpencar melompat ke empat penjuru dengan cepat dan lincah.


Ya! Mereka berempat berhasil menghindari ular besar itu dan selamat, tapi kuda mereka lah yang menjadi sasaran mangsa ular besar itu.


"Hmmm ... aku dapat makanan. Walaupun ini bukan manusia, setidaknya ini membuat kekuatanku semakin meningkat, hahaha!" ujar Ular Kobra raksasa itu. Ular itu kini telah menelan satu kuda hitam milik Kenta Ken, sedangkan kuda yang satunya lagi juga sudah terkena semburan racunnya dan tentunya sudah mati.


Melihat ular itu akan memangsa kuda putih yang telah tergeletak tak bernyawa, Furuko yang kini sedang berdiri di atas dahan pohon dari kejauhan langsung menarik benang busur-nya. "Tak kan kubiarkan kau kenyang, ular jelek!"


"Lighting arrow!"


Sementara Vitaloka yang berada di tempat lain yang juga sama seperti Furuko berdiri di atas dahan pohon besar, ia memutar-mutarkan Fuma Suriken yang telah dipanggil dengan kunci jari ala ninja-nya. Tentu saja pemanggilan senjata itu dengan menggunakan darahnya.


"Fuma Suriken!" Vitaloka memutar-mutarkan senjata suriken besarnya itu.


Di saat detik yang sama, Furuko dan juga Vitaloka melesatkan serangan jarak jauh mereka secara bersamaan.


"Discharge!"


"Rasakan ini!"


Ular Kobra raksasa itu ternyata dengan cepat telah menyadari serangan itu, sebelum kedua gadis itu melesatkan serangannya.

__ADS_1


Dengan santainya namun cepat, ular raksasa itu hanya menghindari serangan itu hanya dengan menundukkan kepalanya.


Yang terjadi.


Anak panah Furuko dan juga Fuma Suriken Vitaloka malahan bertabrakan.


"Sial!" pekik Vitaloka.


"Lagi-lagi gagal. Entah bagaimana caranya mengalahkan ular itu," ujar Furuko sembari memegangi jidatnya sendiri.


Sementara ular tersebut melirik ke arah Furuko, "Aaah, aku mangsa dulu gadis cantik itu, hahahaha!"


Sagachi yang melihat dan juga mendengar suara ular itu mengatakan hal tersebut, ia meloncat dari dahan pohon besar dan kemudian berlari ke arah ular kobra raksasa yang bergerak ke arah Furuko.


"Tak akan kubiarkan!" teriak Sagachi dengan suara lantang dan tentunya semua berada di situ dapat mendengar suaranya.


"Jangan gegabah, Sagachiii!" teriak Kenta Ken yang melihat Sagachi berlari ke arah Ular Kobra raksasa itu.


Sagachi mendengar suara Kenta Ken, tapi ia menggubrisnya dan tetap berlari ke ular raksasa itu karena ini demi keselamatan adiknya.


Vitaloka baru saja menyadari kalau tujuan ular itu bergerak cepat ternyata ke arah Furuko. Gadis berambut ungu ini menjerit dengan lantang dan panjang. "Furukooooo! Awaaaaaaas!"


Sedangkan Furuko malahan begidik ngeri melihat Ular Kobra raksasa yang sedang bergerak dengan cepat ke arahnya, karena saking takutnya, tubuhnya kaku dan sulit untuk bergerak maupun kabur atau menghindar.


"Bagaimana ini, kenapa ... kenapa tubukku sulit sekali untuk bergerak? Apa yang sedang terjadi padaku?" Sekujur tubuh Furuko bergetar hebat, sementara Ular Kobra raksasa itu sudah semakin dekat.


"Apakah, ini adalah akhir dari kehidupanku?" Furuko seperti sudah pasrah dengan keadaan yang dialaminya.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja suara pekikan elang melengking tinggi membelah cakrawala. Terlihat, seekor burung elang raksasa yang ukurannya jauh lebih besar dari ular tersebut terbang dengan kecepatan tinggi ke arah ular tersebut.

__ADS_1


__ADS_2