Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
SEMANGAT ADALAH KUNCI KESUKSESAN


__ADS_3

"Kalau kamu memang menganggapku sebagai kakakmu, maka aku akan ikut berjuang untuk membantumu dalam mengalahkan raja iblis!" ucap Vitaloka sembari menangis memeluk Furuko. Mulai sekarang ia menganggap Furuko dan Sagachi seperti adiknya sendiri.


Sagachi yang melihat Furuko dan juga Vitaloka berpelukan bergumam dalam hati. "Sungguh beruntung adikku. Dia bertemu dengan orang sebaik Vita-san di dunia ini."


Di luar rumah penginapan.


Kenta Ken sedang menunggu Sagachi dan Furuko. "Kenapa mereka lama sekali, ya?" guman Kenta Ken.


Karena mereka juga belum keluar dari rumah penginapan, ia pun berinisiatif untuk turun dari kuda-nya dan kemudian berjalan menuju ke arah rumah penginapan itu.


Setelah ia sampai di dekat pintu rumah penginapan itu, ia melihat Sagachi sedang berdiri memandang Vitaloka dan adiknya sedang menangis.


"Sagachi, ayo berangkat! Jangan buang-buang waktu. Kalau memang adikmu tidak mau ya sudah, kita berdua saja yang berangkat." Ucapan Kenta Ken itu membuat mereka bertiga memandang ke arahnya. Furuko dan Vitaloka yang sedang menangis langsung melepas pelukannya dan mengusap air matanya, sementara Sagachi hanya menoleh ke arah Kenta Ken.


"Kita akan pergi ber-empat!" ucap Sagachi mewakili Furuko dan juga Vitaloka.


"Ber-empat?" tanya Kenta Ken memastikan. Di dalam hatinya ia sebenarnya sudah menebak, kalau yang ke-empatnya pasti Vitaloka.


"Iya, ber-empat, karena aku juga ikut dengan kalian!" Kali ini Vitaloka yang berbicara.


Mendengar itu Kenta Ken berpikir sejenak. Dalam hati ia berkata, "Semakin banyak orang yang ikut, maka bisa kekuatan akan semakin banyak juga. Bagus juga sih."


"Baiklah kalau kalian begitu, ayo kita berangkat!" kata Kenta Ken mengajak mereka bertiga. Pria berjubah hitam itu pun kemudian membalikkan badan dan berjalan ke arah kuda-nya.

__ADS_1


"Ayo, kita berangkat!" kata Sagachi mengajak, sembari menoleh ke arah Furuko dan Vitaloka.


"Ayo!" sahut keduanya merespon ajakan Sagachi, kemudian mereka mengikuti pria bermabut biru itu keluar dari rumah penginapan. Sementara Furuko langsung mengunci pintu rumah penginapan itu setelah ia keluar.


"Vita-san, ikut aku! Kalau Furuko biar ikut kakaknya," ucap Kenta Ken yang sekarang tengah berada di atas punggung kuda-nya.


Vitaloka hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian gadis berambut ungu itu mendekati kuda yang ditungganginya Kenta Ken dan naik ke kuda itu—membonceng di belakang Kenta Ken.


Sementara Furuko berjalan mendekati kuda yang sekarang tengah ditunggangi oleh Sagachi, dan gadis berambut biru itu naik ke kuda putih tersebut—membonceng Sagachi.


"Hyat!" seru Kenta Ken sembari memacu kuda-nya, dan Sagachi pun melakukan hal yang sama.


Kedua kuda itu pun berlari dengan cepat dengan Kenta Ken yang berada di depan memimpin. Karena, hanya ia lah yang tahu jalan menuju ke Kerajaan Zephyra.


Sekarang kuda yang mereka tunggangi melaju dengan kecepatan tinggi di Padang Rumput yang luas ini. Hal itu membuat Vitaloka dan Furuko yang membonceng mereka mempererat dekapannya ke pria yang memacu kuda. Karena kalau tidak, mereka bisa saja jatuh.


Sedari tadi mereka memacu kuda di perjalanan ini, tak ada satu kata pun keluar dari lisan mereka. Hal ini pun membuat suasana menjadi sunyi. Hanya angin sepoi-sepoi yang berlawanan dengan arah laju kuda berlari yang menerpa tubuh mereka.


"Sejak kapan Nisan bisa memacu kuda?" tanya Furuko. Sebenarnya ia hanya ingin membuka pembicaraan agar suasana tidak terasa sunyi.


Sagachi tidak menjawab, karena suara angin yang bergemuruh yang disebabkan oleh larinya kecepatan kuda ini membuatnya tidak mendengar suara Furuko yang bertanya padanya.


"Apakah Nisan tidak dengar? Aku tanya!" kali ini Furuko meninggikan suaranya, dan tentu saja sekarang Sagachi mendengar suaranya.

__ADS_1


"Apa? Kamu tanya apa? Maaf kalau tadi nisan tidak dengar, soalnya suara angin yang yang bergemuruh ini membuat telinga nisan gagal menangkap suaramu!" Sagachi berucap dengan suara lantang, karena ia tahu, jika tidak dengan begini adiknya pasti tidak akan bisa mendengar suaranya seperti dirinya yang tak mendengar suara adiknya tadi.


"Tadi aku tanya, sejak kapan Nisan bisa memacu kuda?" Di pertanyaan Furuko yang kedua kalinya ini ia bersuara dengan cukup lantang, karena ia sudah tahu penyebab kakanya tidak bisa mendengar suaranya.


"Ooh, jadi itu yang kamu tanyakan. Kalau itu sih, baru tadi pagi nisan belajar memacu kuda!" jawab Sagachi dengan suara lantang.


Mendengar jawaban dari kakaknya itu, Furuko bergumam dalam hati. "Baru belajar tadi pagi sekarang sudah selincah ini? Siapa yang mengajari Nisan? Apakah Ken-san yang mengajari Nisan? Tapi di saat berada di dunia asal. Memang sih, kalau Nisan itu belajar apa aja cepat paham."


Memang benar dengan apa yang digumamkan oleh Furuko dalam hatinya itu. Sagachi itu orangnya cepat sekali paham jika diajari atau pun diterangkan oleh gurunya.


Di saat Sagachi masih berumur sembilan tahun, ayahnya mengajarinya naik motor. Saat itu Sagachi tidak sampai satu jam dalam belajar naik motor, tapi ia sudah bisa menyetir motor tanpa dituntun lagi oleh ayahnya. Di saat ayahnya mengajarinya cara melakukan gigi-gigi dalam bermotor, ia juga langsung paham dengan cara melakukannya.


"Nisan dari dulu belajarnya memang cepat, ya? Terkadang aku iri sama kecerdasan Nisan!" ucap Furuko menanggapi jawaban Sagachi.


Sagachi yang mendengar jawaban dari adiknya itu pun segera menyahut. "Jangan iri sama nisan, Furuko. Setiap manusia itu memiliki kelebihan dan bakat masing-masing. Cuman, terkadang kita tidak menyadari kelebihan yang kita punya."


Mendengar perkataan Sagachi barusan, Furuko bergumam lagi dalam hatinya. "Jika memang benar kalau setiap orang itu memiliki bakatnya masing-masing, lalu bakatku itu apa? Dari dulu, belajarku tidak secepat nisan-ku. Karena jika dalam belajar, entah itu PR, atau pun hal lain, Nisan selalu saja paling unggul dariku."


"Furuko, yang kamu harus ingat adalah semangat! Karena dengan semangat, apa pun yang kita inginkan akan terwujud! Misal kamu ingin pintar, maka kamu harus semangat belajar. Dan semisal juga kalau kamu ingin kuat, maka kamu harus berlatih dengan sungguh-sungguh," ujar Sagachi menasehati dengan memberikan semangat kepada adiknya, agar Furuko lebih bersemangat lagi dan tidak membeda-bedakan antara dirinya dan kakaknya.


"Tapi dari selama ini aku perhatikan, Nisan seperti tidak kesulitan dalam belajar atau pun memahami sesuatu, itu karena Nisan memiliki kecerdasan. Sedangkan aku ... aku kesulitan jika ingin memahami sesuatu," kata Furuko merespon ucapan Sagachi.


"Tidak ada orang sukses tanpa semangat, Furuko. Dan juga, nisan ini dulunya juga sulit untuk memahami sesuatu. Akan tetapi, karena nisan semangat dan belajar dengan sungguh-sungguh, otak nisan jadi sering terasah, sehingga IQ nisan bertambah. Jadi, dulunya nisan juga sepertimu, kalau belajar memahami sesuatu sulit karena dulunya otak nisan masih tumpul. Kuncinya adalah semangat dalam mengasah otakmu. Apa pun rintangannya, janganlah kamu sampai putus semangat, ya!" ujar Sagachi yang lagi-lagi memberikan motivasi kepada Furuko, agar adiknya itu mau bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2