Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
PERTEMUAN DENGAN RIVAL


__ADS_3

"Siapa dia?" Kenta Ken melihat seorang pria yang sedang bersandar di pohon apel. "Tunggu ... sepertinya aku tidak asing dengan pria itu."


Kenta Ken pun berjalan mendekati pria itu, dan setelah jarak antara dia dan juga pria itu terpaut sekitar dua puluh meter, pria itu pun langsung menolehkan ke arahnya saat apel itu akan ia gigit.


"Hazuki." Kenta Ken menyebut nama sosok pria tersebut yang ternyata bernama Hazuki—rivalnya sendiri.


"Ken, kita bertemu lagi di sini. Jika kamu di sini, itu berarti Sagachi juga di daerah ini 'kan? Kau pergi bersama Sagachi untuk melawan raja iblis di Kerajaan Zephyra, 'kan?" tebak Hazuki. Remaja laki-laki tujuh belas tahun itu tentu bisa menebaknya, jikalau Sagachi itu pergi bersama dengan Kenta Ken. Karena waktu itu Cika dan Chizu memberitahukan hal ini padanya.


"Kenapa kau bisa tahu? Siapa yang memberitahukan ini padamu?" tanya Kenta Ken. Ia berpikir, kalau tidak mungkin juga Vitaloka atau pun Furuko yang memberitahukan hal ini padanya. Pasalnya, kedua gadis itu juga ikut dengannya.


Hazuki kemudian berdiri, ia pun berjalan melangkah mendekati Kenta Ken yang kini masih berdiri menatapnya dari kejauhan. "Temannya Sagachi yang memberitahukan padaku."


Mendengar ucapan Hazuki, Kenta Ken bergumam dalam hati. "Teman Sagachi? Tapi siapa?" Kenta Ken berpikir sejenak, dan setelah itu sebuah ingatan muncul di benaknya. "Ooh, tidak salah lagi. Pasti dia tahu dari mereka berdua."


Yang dimaksudkan oleh Kenta Ken dengan kata 'mereka berdua' tak lain adalah Cika dan Chizu.


"Apakah Cika dan Chizu yang memberitahukannya?" tanya Kenta Ken memastikan.


"Yupz, tepat sekali. Dari dulu rivalku ini memang pintar sekali kalau soal tebak menebak," jawab Hazuki. Sekarang ia telah berada di depan Kenta Ken dan hanya berjarak sekitar satu meter di dekatnya.


"Lalu, apa tujuanmu mengikuti kami?" tanya Kenta Ken sembari menatap Hazuki yang sekarang tengah berada di depannya.


Hazuki pun menjawab, "Aku akan membantu kalian dalam penyerangan terhadap raja iblis di Kerajaan Zephyra itu."


"Apakah aku boleh ikut dengan kalian ke sana?" sambung Hazuki dengan bertanya.


Kenta Ken berpikir sejenak sebelum memutuskan, hingga dalam hatinya pria berjubah hitam itu bergumam, "Memang bagus sih. Semakin banyak anggota, maka akan semakin mudah untuk mengalahkan raja iblis itu. Dan kemampuan pria ini juga hampir setara denganku dulu. Tapi aku tidak tahu sekarang kemampuannya seperti apa."


Kenta Ken semakin terbenam dalam pikirannya, "Aaah, bagaimana kalau aku tes dulu kemampuan Hazuki."

__ADS_1


"Hei! Jadi, aku boleh ikut dengan kalian, gak?" tanya Hazuki dengan meninggikan intonasinya, karena ia belum juga mendapatkan respon dari Kenta Ken.


Kenta Ken yang sedang termenung dalam pikirannya tersentak sedikit kaget. "Ngagetin saja kamu ini ... boleh, tapi dengan sangat syarat."


"Apa syaratnya?" Hazuki langsung bertanya.


Kenta Ken pun menjawab, "Aku tes dulu kemampuanmu. Bagaimana?"


"Oh, jadi kau meragukan kemampuanku, ya?" Hazuki bersiap dengan mengambil Senjata Dager yang ia selipkan di balik jubahnya. Ia sudah paham betul, kalau maksud mengetes kemampuannya itu pasti dengan cara berduel.


Kenta Ken yang tahu Hazuki akan mengeluarkan senjatanya, ia langsung mengaktifkan mode mata unggunya sembari mencabut Katana-nya dengan cepat.


Di tempat lain.


Kini Furuko mulai membuka matanya perlahan, hal ini menandakan kalau gadis berambut biru itu sudah mulai siuman.


"Sagachi ... Sagachi! Furuko sudah mulai sadar." Vitaloka yang sekarang masih duduk di dekat Furuko, memberitahukan tentang keadaan gadis bermabut biru yang sudah mulai siuman itu.


"Benarkah?" Sagachi bergegas menuju ke arah mereka dengan raut wajahnya yang terlihat senang.


"Iya, benar Sagachi. Ini adikmu sudah mulai siuman," Vitaloka mengulangi kata-katanya ketika Furuko sudah membuka dengan sempurna. Gadis bermabut ungu itu pun langsung mengelus pelan kepala Furuko dengan lembut. Ia seperti sudah menganggap Furuko sebagai adik kandungnya sendiri.


"Nisan," Furuko berkata dengan suara lemah, ketika melihat Sagachi yang sekarang tengah berada di sampingnya.


"Furuko, syukurlah kamu sudah bangun. Nisan sudah sangat khawatir denganmu." Sagachi membelai kepala adiknya itu dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih karena telah menyelamatkan kami dari ular itu," kata Furuko merespon ucapan Sagachi. Gadis bermabut biru itu masih juga berucap dengan suara lemah.


"Tidak usah berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban seorang kakak untuk selalu melindungi adiknya." Sagachi tidak ingin Furuko terlalu sungkan dengannya. Bagaimana pun juga, pasti ia akan selalu melindungi adiknya dan memusnahkannya siapa saja yang akan membahayakannya.

__ADS_1


"Benar, aku juga akan selalu melindungimu, Furuko." Vitaloka berucap kali ini. "Karena kalian juga sudah aku anggap sebagai adikku."


"Iya, Vita-san juga selama ini sangat baik denganku. Aku juga menganggap Vita-san sebagai kakak perempuanku," kata Furuko merespon ucapan Vitaloka.


"Kalau begitu, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Ayo, panggil aku Nesan!" pinta Vitaloka agar Furuko memanggil dengan sebutan itu, karena kata 'Nesan' itu sebutan untuk seorang adik kepada kakak perempuannya.


"Baiklah, Nesan."


Di tempat lain.


Terlihat pertarungan antara Hazuki dengan Kenta Ken terlihat sangat cepat. Kedua Assassin ini seperti seimbang dalam hal kecepatan dan kelincahan.


Walaupun Kenta Ken telah mengaktifkan mode mata ungunya, hal itu tidak membuat Hazuki kalah cepat darinya.


Gencatan senjata antara Dagger Hazuki dan Katana Kenta Ken menimbulkan suara dentingan yang nyaring.


"Lumayan cepat juga sekarang kau, Hazuki." Kenta Ken memuji kemampuan Hazuki yang menurutnya sekarang kemampuannya sudah meningkat pesat jika dibandingkan dengan yang dulu.


"Ini belum ada apa-apanya, aku belum mengerahkan seluruh kemampuanku," kata Hazuki merespon pujian dari Kenta Ken.


Pembicaraan mereka masih diiringi dengan gencatan tangkis menangkis antara Double Dagger Hazuki dan Katana Kenta Ken.


"Jadi, bagaimana? Apakah aku boleh ikut dengan kalian untuk mengalahkan raja iblis itu?" Hazuki mengungikit pertanyaannya yang belum juga terjawab.


"Baiklah ... baik. Kuakui, kemampuanmu sudah jauh lebih baik daripada dahulu. Kau boleh ikut kami." Kenta Ken langsung melesat ke belakang dan menjaga jarak, pria berjubah hitam itu untuk mengakhirinya duelnya terlebih dahulu, tapi bukan berarti ia menyerah, karena ia juga harus segera kembali dengan membawa obat untuk Vitaloka dan Furuko yang sekarang masih terluka.


"Cukup!" Kenta Ken menstop Hazuki yang hampir saja melesat dan akan menebasnya. Ia men-stopnya dengan mengisyaratkan tangannya.


"Baiklah, berarti kali ini aku yang menang. Dan kau yang kalah." Hazuki sekarang merasa puas dengan Kenta Ken yang ia anggap telah menyerah.

__ADS_1


"Siapa juga yang nyerah coba? Aku sedang tidak ada waktu, aku sedang buru-buru mencari obat untuk menyembuhkan mereka." Kenta Ken beralasan, dia tidak terima dikatain kalah oleh rivalnya.


"Menyembuhkan mereka?"


__ADS_2