Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
LUBANG MENUJU RUANG BAWAH TANAH


__ADS_3

"Jika tidak ada pelayan di istana ini berarti makanan ini ...." Sagachi berpikir sejenak sembari menelan makanan yang baru dikunyahnya. "Berarti makanan ini pasti mereka yang buat?"


"Ya, sepertinya ini mirip dengan masakan Furuko." Sagachi masih dengan berucap dalam hati.


"Nisan ... apa yang sedang Nisan pikirkan?" Furuko bertanya sembari menatap kakaknya yang sedang terbenam dalam pikirannya.


Karena belum mendapatkan respon dari Sagachi, Furuko mengulangi pertanyaannya dengan sedikit meninggikan intonasinya. "Nisan, apa yang sedang Nisan pikirkan?"


Sagachi pun tersedak makanannya karena terkejut dengan pertanyaan Furuko itu. Ia langsung mengambil gelas yang berisikan air putih di depannya, dan kemudian langsung meminumnya.


"Maafkan aku, Nisan. Aku tidak bermaksud membuat Nisan tersedak kok. Maaf, ya!" Furuko merasa bersalah karena telah membuat kakaknya tersedak akibat ia meninggikan suaranya.


"Hmmm ...." Sagachi hanya bergumam sebagai respon. Setelah pemuda berambut biru itu sedikit lega dengan tersedaknya, ia kembali berucap, "Iya, Furuko, tak apa. Emang salah nisan juga karena melamun sehingga tidak menjawab pertanyaanmu."


"Tapi aku juga minta maaf, ya. Memang awalnya aku yang salah." Furuko meminta maaf lagi karena ia masih merasa bersalah sama kakaknya, karena telah membuatnya tersedak makanannya.


Sagachi pun kembali berucap, "Sudah, Furuko, tak apa kok. Lagian, memang nisan yang salah duluan ... ngomong-ngomong, saat nisan melamun tadi kamu tanya apa? Coba ulangi pertanyaanmu!"


Vitaloka hanya diam, tapi gadis berambut ungu itu menahan tawanya saat menyaksikan Sagachi dan adiknya berdebat saling memaafkan. Sehingga dalam hatinya ia berucap, "Inilah keunikan dari mereka, sampai-sampai ... meminta maaf aja jadi bahan perdebatan."


"Nggak apa-apa kok, aku tadi cuman tanya, kenapa Nisan melamun?" Furuko mengulangi pertanyaan yang ketiga kalinya.


"Ooh, begitu, ya. Kalau boleh jujur, sebenarnya nisan penasaran, apakah makanan ini kamu yang buat atau pelayan istana yang membuatnya?" Sagachi menjelaskan alasannya yang tadi melamun.


"Ooh, jadi itu ya yang membuat Nisan melamun. Memangnya, di sini ada pelayan istana, ya? Istana yang super sepi ini tidak apa siapa-siapa. Kalau bukan kami yang membuatnya, siapa lagi?" ujar Furuko menjelaskan, kemudian gadis itu menoleh ke arah Vitaloka sembari berkata, "Iya kan, Vita-san?"


Vitaloka yang sedang mengunyah makanannya pun langsung segera menelan makanan itu dan kemudian gadis berambut ungu itu segera menjawab pertanyaan Furuko. "Iya, benar dengan yang dikatakan Furuko. Memang aku dan dia yang memasak makanan ini. Soalnya, di Istana Zephyra ini tidak ada pelayan, dan juga makanan di area dapur istana semuanya isinya makanan yang belum matang."

__ADS_1


"Oo, jadi begitu rupanya. Tapi makanan buatan kalian enak kok." Sagachi memuji makanan buatan Furuko dan Vitaloka.


"Terima kasih atas pujiannya, tapi tanpa api yang Furuko buat dari sihir element panah api-nya, aku juga tidak bisa masak. Dan juga, Furuko-chan juga membantuku memasak!" kata Vitaloka merespon ucapan Sagachi.


Di sisi lain.


Kenta Ken dan juga Hazuki sedang berjalan-jalan mengelilingi Istana Kerajaan Zephyra ini. Hal ini mereka lakukan untuk mengecek, apakah ada sesuatu sebagai jawaban dari bangkitnya Raja Iblis Totemo Hokori, ataukah tidak?


Akan tetapi, selama beberapa jam mereka berkeliling istana, merke tidak menemukan tanda-tanda akan hal yang mencurigakan di Istana Kerajaan Zephyra ini. Yang mereka dapatkan dari jalan-jalan hanyalah suasana yang sepi karena mereka tidak menemukan satu pun penghuni.


Sekarang mereka hanya perlu mengecek satu ruangan lagi di istana ini, yaitu: Perpustakaan Istana Kerajaan Zephyra.


"Hanya ruangan ini yang belum kita jelajahi." Kenta Ken berucap pada Hazuki yang berada di samping kanannya, ketika ia berada di depan pintu ruangan Perpustakaan Istana Kerajaan Zephyra.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita cek!" Hazuki langsung membuka pintu ruangan itu untuk mengeceknya, dan Kenta Ken hanya mengikutinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Buku apa ini?" Kenta Ken menemukan sebuah buku kuno saat ia sedang membuka lemari. Ia meniup debu yang menempel di buku itu dan kemudian langsung membukanya. Setelah dibuka, di dalamnya tertulis huruf kanji yang bertulisan 'Tujuh Sifat Tercela'.


"Coba aku liat." Hazuki yang penasaran dengan buku yang ditemukan Kenta Ken langsung mendekati pemuda berjubah hitam itu.


"Ini." Kenta Ken menyerahkan buku itu kepada Hazuki.


Hazuki pun langsung membacanya. "Di sini tertera, kalau Tujuh Sifat Tercela itu adalah sifat dari Raja Iblis."


"Maka dari itu, yang tertulis di buku itu sama persis dengan yang diramalkan penyihir sakti," kata Kenta Ken merespon untuk Hazuki.


"Penyihir Sakti?" Hazuki bertanya karena heran dengan yang dikatakan oleh Kenta Ken.

__ADS_1


"Iya, penyihir sakti yang meramalkan kalau Sagachi adalah orang yang akan membasmi tujuh Raja Iblis yang masing-masingnya memiliki sifat tercela," jawab Kenta Ken menjelaskan. "Dan sekarang, dia telah membasmi Iblis Totemo Hokori yang terkenal dengan sifat sombongnya."


"Oo, jadi begitu, ya. Menurutku, sepertinya memang benar sih, kalau Sagachi adalah orang yang diramalkan akan mengalahkan tujuh Raja Iblis. Soalnya, sekarang saja dia sudah membasmi satu Raja Iblis," kata Hazuki merespon ucapan Kenta Ken.


"Master, saya menemukan sebuah cahaya aneh di ruang bawah tanah Istana Kerajaan Zephyra." Tiba-tiba saja Ezio datang dan masuk ke perpustakaan ini.


Kenta Ken dan Hazuki pun langsung menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut.


"Ruang bawah tanah? Memangnya, ada ruang bawah tanah di Istana Zephyra ini?" Hazuki bertanya dengan heran, karena ia baru tahu dari Ezio, jika ada ruang bawah tanah di Istana Zephyra ini.


Kenta Ken juga sebenarnya penasaran dan belum tahu kalau ada ruang bawah tanah di Istana Kerajaan Zephyra ini, tapi ia hanya diam saja tidak bertanya, karena pertanyaannya telah terwakilkan oleh Hazuki. Dengan begitu, ia hanya menunggu saja jawaban dari Ezio.


"Iya, Master. Saya menemukan ruang bawah tanah. Mari ikut saya, akan saya tunjukkan! tempatnya" Ezio beranjak berjalan keluar dari perpustakaan itu.


"Baiklah," Hazuki menurut dan mengikuti Ezio, karena ia penasaran dengan ruang bawah tanah yang dimaksudkannya itu.


Kenta Ken juga mengikuti Ezio dan Hazuki, karena ia juga penasaran dengan ruang bawah tanah itu, meskipun ia tidak bertanya apa-apa. Ya, sepertinya sifat alaminya telah kembali. Ia hanya berbicara seperlunya saja, jika tidak begitu perlu, ia hanya diam menunggu jawaban.


Ezio membawa mereka ke sebuah tempat di belakang istana. Di sana ada sebuah patung ksatria yang sedang memegang tombak.


"Di bawah patung ini ada sebuah lubang, dan saat lubang ini terbuka, nanti akan ada cahaya aneh memancar dengan terang dari dalam. Dan menurut saya sendiri, itu adalah ruang bawah tanah, Master," ujar Ezio menjelaskan.


"Kalau begitu, coba tunjukkan lubang itu, Ezio! Aku ingin melihatnya," ucap Hazuki memerintah.


"Baiklah, Master," Ezio pun menuruti perintah dari Masternya, kemudian ia pun langsung memutar patung itu. Setelah patung itu diputar, benar saja kalau ada lubang di bawah patung itu. Ternyata, lubang itu tertutup oleh patung ksatria tersebut.


Seperti yang tadi dikatakan Ezio, bahwasanya dari lubang itu terdapat cahaya aneh keluar dari dalam lubang tersebut.

__ADS_1


"Cahaya apa ini?"


__ADS_2