Pahlawan Di Dunia Lain

Pahlawan Di Dunia Lain
BERAKSI


__ADS_3

Setelah Sakura merapalkan mantra tersbut, dirinya, Ezio dan juga Furuko hanyalah tampak transparan di mata Sagachi, Hazuki dan Vitaloka.


Tentu saja, Sagachi sekarang sudah mengerti dengan sihir yang membuat mereka tak terlihat di hadapan musuh, tetapi masih bisa dilihat oleh teman satu tim-nya yang tidak ikut terkait dalam sihir itu; seperti Sagachi, Hazuki dan Vitaloka, karena mereka bertiga bisa bertarung tanpa mengandalkan skill magic, Sakura memutuskan untuk tidak melibatkan mereka dalam sihir yang membuatnya tidak terlihat itu.


"Baiklah, sekarang kalian tinggal menunggu aba-aba dariku, ya!" Sakura berkata seperti itu karena ia merencanakan suatu strategi yang tidak disampaikan pada mereka sebelumnya. Sementara Sagachi dan lainnya hanya mengangguk sebagai respon, meskipun mereka tidak tidak tahu tentang strategi apa yang akan direncanakan Sakura, tetapi mereka hanya mendengarkan saja sampai gadis bermabut merah muda itu menyelesaikan penjelasannya.


Sakura pun menjelaskan pada mereka, karena untuk pergi ke tempat di mana Raja Iblis Akuma Netami berada, lebih tepatnya di singgasana Istana Kerajaan Valcke ini, ia berkata, "Karena untuk pergi ke ruang singgasana dari sini banyak prajurit penjaga, maka kalian tunggu saja aba-aba dariku sebelum lanjut melangkah." Sakura menjelaskan mereka dengan pelan-pelan, agar mereka memahaminya dengan apa yang dimaksudkan olehnya.


Sementara mereka kali ini mendengarkannya dengan serius, karena mereka tahu, untuk melawan Raja Iblis Akuma Netami bukan suatu hal yang mudah. Terlebih lagi Hazuki yang waktu itu melawan Rai Vajra bersama dengan Kenta Ken, hingga pada akhirnya malah rekan rivalnya itu kehilangan nyawa. Mengingat hal itu, Hazuki mulai berinisiatif untuk lebih serius lagi, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pasalnya, lawannya kali ini adalah Raja Iblis yang tentunya lebih kuat daripada Rai Vajra yang waktu itu dilawannya. Terlebih lagi, kali ini ia tidak dapat menggunakan skill Rantai Petir Dimensi-nya, karena jurus itu mengandung unsur magic yang tentunya hanya akan diserap oleh Raja Iblis Akuma Netami dan kemudian dikembalikan lagi dua kali lipat lebih dahsyat.


Sakura kemudian melanjutkan penjelasannya. "Baiklah. Ezio, Furuko ... kalian ikut aku! Sementara Sagachi, Hazuki dan Vitaloka ... kalian ikuti aja aba-abaku! Nanti aku akan memberi aba-aba lewat telepati."


"Memberi aba-aba lewat telepati, ya." Sagachi membatin dalam hati, karena ia pernah mengetahui kata 'telepati' dari novel fantasi timur yang pernah dibacanya saat masih berada di dunia asalnya.


Begitu pula dengan Furuko yang sering membaca manga saat ia masih berada di dunia asalnya. Di antara mangga-manga yang pernah dibacanya itu juga ia pernah mendapati manga yang alurnya membahas mengenai telepati.


Sementara Hazuki dan Vitaloka juga paham dengan yang dimaksud kata 'telepati'. Bahkan mereka juga memiliki kemampuan itu. Hazuki pernah mempelajari skill untuk menyampaikan pesan melewati telepati saat ia masih belajar di Akademi Barak Sihir. Begitu pula dengan Vitaloka, karena ia adalah seorang ninja, gadis itu juga bisa melakukan telepati dengan jutsu ninja-nya.


"Di saat pintu gudang itu dibuka, sekitar sepuluh meter di depan pintu itu ada dua prajurit iblis bersenjata tombak sedang berjaga, kalian bukalah pintu itu pelan-pelan saja dan bunuhlah kedua prajurit penjaga itu sebelum mereka berteriak memanggil prajurit yang lainnya," kata Sakura menjelaskan, kemudian gadis itu melanjutkan perkataannya dengan bertanya, "Apa kalian mengerti?"


Sagachi dan yang lainnya pun langsung merespon secara bersamaan. "Kami mengerti!"

__ADS_1


"Baiklah. Kalau kalian sudah paham, mari kita laksanakan!" ajak Sakura, dan disambut anggukan oleh mereka.


Sagachi, Hazuki dan Vitaloka kemudian berjalan mendekati pintu keluar gudang itu. Di saat mereka sudah berada di dekat pintu itu, dengan perlahan seperti yang dikatakan Sakura, mereka membuka pintu itu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Ternyata benar saja dengan yang dikatakan Sakura. Setelah mereka membuka pintu itu, dari jarak sekitar sepuluh meter mereka melihat dua prajurit bersenjata tombak sedang berjaga.


Vitaloka berbisik. "Sagachi-san, Hazuki-san. Biar aku saja yang melakukannya! Karena dengan kemampuan ninjaku, membunuh secara diam-diam itu aku ahlinya."


Sagachi mengangguk merespon bisikan Vitaloka. Akan tetapi, Hazuki malah membatin, "Sombong sekali gadis ini! Aku juga bisa melakukannya, karena aku adalah seorang petarung ber-Job Assassin." Namun, karena Hazuki tidak ingin terjadi pertengkaran di saat sedang tegang seperti ini, ia pun juga memutuskan untuk menganggukkan kepalanya sebagai respon terhadap ucapan Vitaloka.


Setelah melihat keduanya mengangguk, Vitaloka langsung menyiapkan sebuah kunai yang ia ambil dari saku belakangnya dan mengucapkan kata kunci. "Kuiku Tenso!"


Dalam sekejap saja, gadis itu langsung berada di dekat prajurit penjaga itu dan langsung menebaskan kunai-nya ke salah satu prajurit itu. Sementara prajurit yang satunya dengan reflek langsung menusukkan tombaknya ke arah Vitaloka yang baru saja berhasil membunuh teman prajuritnya. Namun ....


Jash!


"Haha, lambat! Kalau saja aku tidak membantu, mungkin kau sudah tertusuk tombak prajurit itu." Hazuki mengejek meremehkan Vitaloka.


"Sombong!" ucap Vitaloka tak terima, gadis itu mengembungkan pipinya pertanda kesal.


Sementara Sagachi langsung menghampiri mereka berdua dan berkata, "Sudah-sudah! Jangan bertengkar dulu! Sekarang kalian fokus dulu dengan misi!"


Vitaloka dan Hazuki pun kemudian mengangguk dan menyudahi pertengkaran mereka.

__ADS_1


Setelah itu sebuah suara telepati dari Sakura terdengar di telinga masing-masing mereka. "Sagachi, Hazuki, Vitaloka ... lanjut lurus ke depan dan kemudian belok kiri. Nanti kalian akan sampai di pintu menuju ruang singgasana. Aku, Ezio dan Furuko sekarang sudah berada di sini memantau mereka," kata Sakura dalam pesan telepatinya.


"Baiklah, Sakura-san. Kami mengerti!" Hazuki mewakili mereka menjawab melewati kemampuan telepatinya. Kemudian pemuda itu berbisik, "Sudah kujawab melewati telepatiku. Ayo, kita menuju ke sana!"


Sagachi dan Vitaloka mengangguk. Kemudian, mereka bertiga pun langsung berjalan ke tempat yang ditunjukkan Sakura.


Setelah sampai di sana, seperti yang dikatakan Sakura memang benar. Di sini mereka juga mengintip dua prajurit penjaga sedang berdiri di depan pintu besar untuk menuju ke ruang singgasana—tempat Raja Iblis Akuma Netami berada. Mereka mengintip dari balik dinding tanpa diketahui oleh prajurit penjaga itu, dan mereka juga melihat Sakura, Ezio dan Furuko yang terlihat teransparan tak jauh dari posisi mereka.


"Kita sama-sama saja langsung menghabisi mereka, Vita-san!" bisik Hazuki sembari melirik ke arah Vitaloka.


Sementara Vitaloka hanya mengangguk sebagai jawaban pertanda bahwa ia mengerti dengan yang dimaksud Hazuki. Tentu saja, maksud Hazuki itu adalah bekerjasama membunuh prajurit penjaga itu agar lebih cepat.


Mereka berdua pun kemudian langsung melesat ke arah perjurit penjaga itu sembari menghunuskan senjatanya masing-masing. Dalam hitungan detik saja, kedua prajurit itu telah terkapar di atas lantai dengan darah segar yang mengucur deras dari lehernya.


"Cepat sekali mereka!" Sagachi hanya menonton aksi assassin dan ninja itu dalam membunuh prajurit penjaga.


Vitaloka kemudian melambai-lambaikan tangan kanannya sebagai isyarat agar Sagachi mendekatinya.


Sagachi pun langsung mendekati mereka berdua, dan setelah itu ....


"Aku buka pintunya, ya!" bisik Hazuki setelah Sagachi sudah berada di dekat mereka. "Apakah kalian benar-benar sudah siap untuk bertarung melawan Raja Iblis Akuma Netami? Kalau sudah siap, akan langsung kubuka sekarang."

__ADS_1


"Kami siap!"


__ADS_2