
Setelah Hyakimaru membuka kain penutup mata kanannya, Sagachi dan Furuko langsung membulatkan matanya. Karena mereka takjub melihat keajaiban yang luar biasa itu.
Tampak, mata kanan Hyakimaru kini telah utuh dan pulih dengan sempurna. Sekarang pemuda tujuh belas tahun itu tidak lagi hanya melihat dengan sebelah mata saja, melainkan, sekarang bisa dengan kedua matanya seperti manusia normal pada umumnya.
"Mata kananku bisa melihat!" Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Tersirat wajah Hyakimaru yang menggambarkan kalau ia sekarang ini sedang sangat bahagia.
"Benarkah! Coba tutup matamu yang kiri, Hyakimaru-san!" saran Vitaloka untuk memastikan apakah buah apel pemulih Shukufu-sha Appuru itu benar-benar bereaksi dengan sempurna atau tidak.
Hyakimaru pun langsung menutupi mata kirinya dengan tangan kanannya untuk memastikan. "Bisa! Ini benar-benar asli aku bisa melihat dengan mata kananku sekarang!"
"Waaah! Selamat, ya, Hyakimaru-san!" kata Vitaloka merespon ucapan Hyakimaru.
"Sughoi!" Sagachi dan Furuko juga merasa takjub melihat keajaiban itu.
SKIP TIME
Dua bulan telah berlalu, akan tetapi Kenta Ken, Hazuki dan juga Ezio masih juga belum kembali. Bahkan, tidak ada kabar apa pun tentang mereka sampai saat ini.
Kini Hyakimaru, Vitaloka, Sagachi dan Furuko beranda di sebuah taman yang masih termasuk wilayah di Istana Kerajaan Zephyra.
Taman ini bisa dikatakan luas sekitar empat hektar lebih. Di taman Istana Kerajaan Zephyra ini terdapat berbagai macam pepohonan buah-buahan yang lezat dan segar, seperti: mangga, apel, jeruk, melon, manggis dan lain sebagainya.
Bukan hanya itu saja, namun di taman ini juga banyak sekali bunga-bunga cantik bermekaran. Di antara dari bunga-bunga itu tak lain adalah bunga sakura, bunga mawar, melati, bunga matahari dan masih banyak lagi bunga-bunga lainnya yang tak bisa disebut satu-satu.
__ADS_1
Kini Sagachi, Furuko, Vitaloka dan Hyakimaru sedang berkumpul di area taman ini, lebih tepatnya di tengah-tengah dari luasnya taman yang indah bagaikan hutan asri.
Hyakimaru sedang berdiri dan bersandar di pohon apel. Pemuda itu kini sedang menikmati buah apel segar berwarna merah yang ia dapatkan dari pohon apel yang disandarinya. "Apel ini bukan seperti apel Shukufu-sha Appuru yang kemarin kau berikan padaku waktu itu kan, Vita-san."
"Apel biru yang kemarin kau berikan padaku itu lebih lezat dari ini," lanjut Hyakimaru, kemudian ia duduk dari berdirinya dan masih bersandar sembari berselonjor di pohon apel itu.
"Iya, itu Ken-san yang membawakan buah itu. Dan aku tidak tahu, dari mana dia mendapatkan buah itu." Vitaloka yang baru saja memetik bunga mawar merah, ia berjalan ke arah Furuko, akan tetapi perkataannya itu merespon ucapan Hyakimaru. "Namun sepertinya, tempat tumbuhnya buah itu ada di Hutan Buah."
"Hutan Buah?" tanya Hyakimaru.
"Ya. Hutan Buah letaknya jauh dari sini. Di hutan itu banyak sekali buah-buahan. Dan sepertinya, di hutan itu buah-buahan sangat kumplit," jawab Vitaloka menjelaskan.
Vitaloka sedang berjongkok di depan tanaman bunga mawar. Ia memetik bunga itu da kemudian berjalan ke arah Furuko. Gadis bermabut unggu itu menyelipkan bunga mawar merah yang dipegangnya ke rambut Furuko. "Kamu terlihat tambah cantik dengan hiasan bunga ini di rambutmu, Furuko-chan."
Sembari tersenyum manis, Vitaloka menjawab, "Iya, benar. Kamu sangat cantik sekali dengan hiasan bunga mawar ini di rambutmu, Furuko-chan. Kalau tidak percaya ... coba tanya sama kakakmu!"
Furuko menoleh ke arah Sagachi yang sedang rebahan di atas rumput hijau sembari menikmati sinar mentari pagi yang terasa hangat ketika menerpa tubuhnya. Gadis itu berniat menanyakan pendapat pada kakaknya itu, tentang penampilannya ketika ada sebuah hiasan bunga mawar di rambutnya. "Nisan, apakah benar dengan yang Vita-san katakan?"
Tanpa menoleh ke arah Furuko, Sagachi menjawab, "Kamu dari dulu memang sudah cantik, bahkan bunga secantik apa pun tidak bisa menandingi kecantikanmu, Furuko."
"Nisaaaan! Bukan itu jawaban yang aku inginkan!" Furuko mengembungkan pipinya pertanda kesal. "Bahkan, Nisan tidak mau menoleh ke arahku!"
Mendengar itu, Sagachi langsung bangkit dan duduk. Kemudian pemuda berambut biru itu menoleh ke arah Furuko dan berkata, "Memangnya apa yang salah dengan jawaban nisan, Furuko? Kan memang benar, kalau bunga secantik apa pun tidak ada yang bisa menandingimu."
__ADS_1
"Hmmp! Nisan terlalu melebih-lebihkan! Selalu saja tidak mau jujur." Sembari bersedekap, Furuko memalingkan wajahnya karena kesal.
Sementara Vitaloka dan Sagachi hanya tertawa lirih melihat sikap Furuko yang kadang di saat sedang itu menggemaskan.
Beda lain dengan Hyakimaru. Di saat yang mereka sedang asyik-asyiknya bercanda ria, ia malah terlihat seperti tidak memperdulikannya. Meskipun sekarang ia terlihat lebih baik, namun ingatan tentang kematian ibunya yang tragis di masa lalunya selalu terbayang-bayang dalam benaknya.
Di balik sikap Furuko yang terlihat sedang ngambek itu, di dalam hatinya ia berkata sembari menatap ke arah Hyakimaru. "Kenapa Hyakimaru-san selalu saja terlihat sedih, ya? Apakah dia selalu teringat dengan kejadian tragis di masa lalunya? Tidak bisakah ingatan tentang kematian ibunya itu hilang dari ingatannya?"
Tentu saja ingatan tentang kebersamaan Hyakimaru dan ibunya itu sangat sulit untuk dilupakan. Sebenarnya dulu Hyakimaru adalah anak yang ceria. Semenjak kematian ibunya, ia menjadi orang yang pendiam dan bersifat dingin, sedingin es di Snow Land maupun di Kutub Utara.
Sembari menatap sendu, Furuko berjalan mendekati Hyakimaru. Gadis itu berjongkok di dekatnya. Sementara Vitaloka yang melihat itu, ia bisa menebak dengan maksud Furuko.
Dalam pikirannya, Vitaloka beranggapan kalau Furuko pasti ingin berusaha untuk menghibur Hyakimaru agar tidak sedih atas ingatan kejadian masa lalunya.
Sementara Furuko yang kini di dekat Hyakimaru, gadis itu berkata, "Hyakimaru-san, aku tahu kalau kamu sedang memikirkan ibumu. Tapi, janganlah kamu menyiksa dirimu sendiri dengan ingatan tragis itu! Berusahalah untuk melupakannya! Karena tidak selamanya kau akan terus bersama ibumu. Tetaplah semangat menjalani hidupmu, ya, Hyakimaru-san!" Furuko tersenyum manis pada Hyakimaru setelah mengatakan itu.
Hyakimaru tetap diam saja dan tak merespon ucapan gadis berambut biru itu. Bahkan, menoleh kepadanya saja tidak.
"Kenapa kau diam, Hyakimaru-san? Apakah kau tidak mendengarku?" tanya Furuko.
Sebenarnya Hyakimaru semua mendengar perkataan yang baru saja Furuko katakan. Namun ia tidak menghiraukannya, karena ucapan Furuko itu justru membuat dirinya sedih.
"Hyaki ...." Ketika Furuko ingin berkata lagi, Hyakimaru langsung meneteskan air mata. Hal ini membuat Furuko menghentikan ucapannya. "Maaf, Hyakimaru-san, aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
__ADS_1
"Jika kau tidak bermaksud untuk membuatku sedih! Lalu, mengapa kau mengungkit-ungkit masa lalu tentang ibuku?!" Hyakimaru tiba-tiba saja membentak Furuko sembari melotot ke arah gadsi itu dengan matanya yang berkaca-kaca.