
Sagachi memberikan motivasi kepada adiknya, kalau setiap manusia itu memiliki tingkat kecerdasan tersendiri. Ada yang kecerdasannya tinggi, sehingga ia mampu mempelajari atau pun menghafal sesuatu dengan cepat, dan orang ini biasanya disebut dengan orang jenius.
Ada juga orang yang tingkat kecerdasan normal. Dalam artian, jika ingin mempelajari sesuatu perlu membutuhkan waktu, akan tetapi tidak begitu lama, dan orang ini biasanya disebut orang pintar.
Yang terakhir, ada orang yang tingkat kecerdasannya rendah, sehingga mempelajari sesuatu atau pun menghafal itu sangat sulit dan butuh waktu sangat lama untuk mempelajari sesuatu atau pun menghafal, tapi jika terus berusaha dengan sungguh-sungguh, tentu pasti bisa, dan orang ini biasanya juga disebut dengan orang bodoh.
Jadi, tingkat kecerdasan manusia itu dibagi menjadi tiga, yaitu: jenius, pintar dan bodoh. Lalu yang jadi pertanyaan, apakah orang bodoh bisa menjadi pintar? Apakah orang pintar bisa menjadi orang jenius?
Jawabannya tentu bisa, karena jika orang itu mau berusaha dengan sungguh-sungguh, maka orang itu bisa melampauinya.
Lalu, bagaimana caranya agar orang bodoh bisa menjadi pintar? Dan orang pintar bisa menjadi orang jenius?
Jawabnya adalah, dengan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mengasah kecerdasan otak. Bisa ibaratkan bagaikan pisau tumpul, tapi jika sering diasah terus lama-lama akan menjadi tajam. Bisa juga diibaratkan air yang terus menerus menetesi batu, maka air itu lama-lama akan mengikis batu itu.
Apabila masih belum paham lagi, bisa juga diibaratkan bagaikan seorang gamer yang memainkan karakter tokoh gamenya, tapi karakter tokoh gamenya itu masih dalam level rendah, dan agar bisa mengalahkan bos yang levelnya tinggi, ia harus berusaha leveling dulu agar levelnya bisa setara atau pun lebih tinggi lagi dari bos yang akan akan ia lawan.
Begitu pula dengan Sagachi, semenjak kecil, ia sangat bersemangat untuk belajar belajar dan belajar. Semua waktunya ia gunakan untuk belajar. Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh adalah usaha untuk mengasah otak.
Semakin sering otak diasah, maka kecerdasan akan semakin meningkat. Tapi yang perlu diingat adalah konsistensi dan rutin dalam usaha. Dalam kata lain, orang yang hanya sungguh-sungguh berusaha dengan belajar sangat giat, tapi orang itu tidak konsisten, maka kecerdasan orang itu akan terhambat.
Jadi kesimpulannya, konsisten dan rutin atau disiplin setiap hari itu lebih utama daripada tekun tapi cuma beberapa hari, dan setelah itu tidak tekun lagi.
__ADS_1
Setelah mendengar motivasi dari sang kakak, Furuko sadar, bahwa yang dikatakan oleh Sagachi itu benar, kalau selama ini ia kurang bersemangat dalam mempelajari sesuatu, sehingga otaknya tumpul karena kurang diasah.
"Jadi, selama ini berarti aku saja ya, yang tidak pernah mengasah otakku dengan belajar giat?" tanya Furuko.
"Kalau soal hal itu, kamu bisa tanyakan saja sama dirimu sendiri. Apakah selama ini usahamu sudah maksimal, ataukah usahamu masih kurang? Coba kamu ingat-ingat, apakah usahamu selama ini sudah maksimal ataukah belum?" ujar Sagachi merespon pertanyaan Furuko. Pandangan remaja berambut biru itu masih fokus ke arah depan sembari memacu kudanya, akan tetapi ia juga mendengar setiap kata-kata yang Furuko ucapkan, karena adiknya itu mengatakannya dengan suara lantang.
...***...
Setelah beberapa lama mereka mereka berlari di luasnya Padang Rumput ini, sekarang mereka tengah melihat hutan lebat yang berjarak sekitar seratus meter dari sini.
"Nah, di tengah-tengah hutan itu ada sebuah goa. Kita akan beristirahat di sana!" ucap Kenta Ken dengan suara yang lantang, sembari menunjuk ke arah hutan yang di depannya itu.
Sagachi yang mendengar ucapan Kenta Ken, ia hanya menyahut pria berjubah hitam itu dengan berkata, "Baiklah, aku nurut saja. Kamu kan yang memimpin?"
"Heeei! Tunggu kamii!" Jerit Sagachi ketika ia melihat kuda yang dipacu Kenta Ken menambah kecepatannya. Kemudian Sagachi menggerutu dengan berkata, "Ditanyain bukannya jawab malah ninggal!"
"Hiyaaaat!" Sagachi memacu tali kuda-nya sembari menghentakkan kedua kakinya ke perut kuda-nya. Hal ini membuatnya kuda yang ditungganginya menjengat, hingga membuat Furuko hampir saja jatuh.
"Nisaaaaan!" jerit Furuko yang hampir saja jatuh dari kuda. Gadis bermabut biru itu secara reflek langsung mempererat dekapannya pada tubuh Sagachi, sehingga ia tidak jatuh saat tiba-tiba saja kuda yang Sagachi pacu itu menjengat.
Setelah menjengat, kuda putih itu melaju dengan kecepatan tinggi menyusul Kenta Ken yang tengah mendahului mereka.
__ADS_1
Sementara Kenta Ken berhenti di pinggir sungai. Hal itu pun juga membuat Sagachi mengehentikan kudanya. Ternyata, sebelum ke hutan mereka harus melewati sungai terlebih dahulu.
Sekarang Sagachi sudah berada di samping Kenta Ken. Sagachi pun berkata sembari menoleh ke arah Kenta Ken dengan wajah kesal. "Hei, kenapa tadi kau meninggalkanku?"
Kenta Ken hanya menjawabnya santai dengan raut wajahnya yang datar. "Itu memang sengaja, karena aku ingin mengetesmu, apakah kamu sudah bisa memacu kudamu dengan kecepatan tinggi atau belum."
"Iya, Nisan tadi membuatku kaget saja, sampai aku hampir terjatuh!" Kali ini Furuko berkata.
"Jangan salahkan Nisan! Salahkan saja orang ini!" kata Sagachi merespon ucapan Furuko sembari menunjuk ke arah Kenta Ken.
"Sudah-sudah, tidak usah diperdebatkan! Kalian sesama teman harus akur!" ucap Vitaloka menyela pertengkaran mereka.
"Baiklah," kata Sagachi dan Furuko merespon ucapan Vitaloka, sementara Kenka Ken hanya diam tak merespon, padahal Vitaloka berada di belakangnya.
Sifat Kenta Ken terkadang memang cuek. Karena ia kalau bicara hanya seperlunya saja, jika baginya tidak terlalu penting, ia sering mengabaikannya.
"Dalam menyeberangi jembatan ini, kamu harus hati-hati ya, Sagachi-san!" ucap Kenta Ken sembari memandang jembatan kayu yang berada di depannya. "Jembatan ini masih kokoh, tapi tetap saja kalau melewatinya harus tenang, karena kalau tidak, bisa saja jembatan ini akan terombang-ambing dan yang lebih parah lagi kalau sampai terjatuh."
Memang yang dikatakan Kenta Ken itu benar, karena jembatan kayu itu kanan kirinya hanyalah tali yang untuk pegangan. Tentu saja jika dilewati dengan kuda harus pelan-pelan dan juga tenang, agar jembatan itu tidak terombang-ambing. Karena jika sampai jatuh, di bawahnya adalah sungai yang tingginya sekitar tiga puluhan meter dari jembatan.
"Baiklah, aku akan hati-hati!" jawab Sagachi merespon ucapan Kenta Ken.
__ADS_1
"Iya, Nisan. Jangan sampai membuatku panik lho!" ucap Furuko sembari mendekap tubuh Sagachi dengan erat.
"Yang perlu kalian ingat! Jangan panik dan tetap santai. Karena jika kalian panik, maka hal itu akan membuat gerakan kalian secara tidak sengaja membuat kuda yang kalian tunggangi juga panik, sehingga membuat jembatan akan terombang-ambing nantinya." ujar Kenta Ken menjelaskan. Kemudian pria berjubah hitam itu bertanya, "Apa kalian sudah paham maksudku?"