
Karena di dalam goa ini gelap, tanpa disuruh pun Furuko langsung menyiapkan busurnya. Gadis bermabut biru itu berencana ingin membuat api dengan menggunakan kemampuan panah apinya. Ia pun langsung menarik benang busurnya sembari merapalkan mantra.
"My mana is the arrows from my bow."
Sebuah anak panah muncul dari partikel-partikel cahaya jingga saat Furuko menarik benang dengan merapalkan mantra tersbut. Setelah anak panah itu terbentuk dengan sempurna, Furuko kembali berucap.
"Fire arrows."
Sagachi dan Vitaloka tak menghiraukan atau pun merasa takjub dengan apa yang dilakukan Furuko, karena mereka sudah tahu sebelumnya, kalau Furuko memiliki kemampuan itu. Karena Furuko kerap menggunakannya untuk membuat api saat memasak.
Sementara Kenta Ken, pria berjubah hitam itu juga tampak biasa-biasa saja. Mungkin, karena ia telah sering kali melihat sihir yang lebih hebat daripada yang dilakukan oleh Furuko.
"Kombinasi panah dan magic lagi ya," tebak Sagachi menanggapi aksi Furuko membuat panah api itu. "Pintar juga kamu menjadikan anak panah sebagai obor penerangan."
Dengan pedenya Furuko menjawab, "Iya dong, siapa dulu gitu. Hehe."
Setelah itu Furuko mengambil anak panah api yang dibuatnya, kemudian ia menancapkannya ke tanah di dalam goa tersebut.
Kenta Ken yang melihat itu, menyarankan kepada Furuko dengan berkata, "Furuko-chan, kalau bisa buat yang banyak sekalian. Kalau cuman satu menurutku kurang terang. Ini masih terasa gelap."
Furuko pun menjawab, "Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan buat yang banyak."
Setelah itu pun Furuko merapalkan mantra lagi seperti tadi. Dengan mantranya itu, ia membuat anak panah api lagi. Hal ini terus ia lakukan sampai ada sekitar sepuluh anak panah api menancap di tanah.
"Nah, sekarang bagaimana, Ken-san?" tanya Furuko sembari menoleh ke arah Kenta Ken. Gadis bermabut biru itu ingin meminta pendapat darinya, apakah masih kurang terang? Apakah masih kurang banyak panah apinya dan apakah ia harus membuat anak panah api lagi?
__ADS_1
Kenta Ken yang kini tengah duduk di atas batu besar di goa tersebut, ia menoleh ke arah Furuko sembari menatapnya. Kemudian ia pun menjawab, "Ya, ini sudah lebih dari cukup. Ini sudah lumayan terang, Furuko-chan."
"Oh, baiklah. Itu berarti aku sudah tidak perlu membuat lagi kalau sudah cukup," kata Furuko merespon tanggapan dari Kenta Ken. "Kalau begitu, aku ingin keluar dulu untuk mencari buah-buahan yang banyak. Untuk kita makan pastinya."
"Kalau begitu, aku akan ikut membantumu, Furuko-chan," kata Vitaloka ketika mendengar ucapan Furuko yang akan pergi mencari buah-buahan.
"Aku pun, nisan juga ingin membantumu mencari buah-buahan, Furuko. Sebenarnya, nisan juga lapar, hehe," ucap Sagachi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, ayo Vita-san, Nisan!" ucap Furuko sembari menoleh ke arah Vitaloka dan kemudian menoleh ke arah Sagachi. Gadis itu pun kemudian kembali berucap. "Ayo kita cari buah-buahan!"
"Ayo!" ucap Vitaloka dan juga Sagachi serempak bersamaan.
Mereka bertiga pun kemudian berjalan keluar dari goa tersebut untuk mencari buah-buahan di luar.
Sekarang, tinggalah Kenta Ken sendirian di dalam goa. Namun, pria berjubah hitam itu nampak seperti biasa-biasa saja ditinggal sendirian. Yang sedang dipikirkan oleh pria berjubah hitam itu sekarang adalah tentang formasi penyerangan untuk menyerang raja iblis.
Dalam hati, Kenta Ken bertanya-tanya, "Apakah nanti kami akan menang? Apakah Sagachi yang katanya adalah orang yang diramalkan akan mengalahkan tujuh raja iblis bisa membunuh raja iblis Totemo Hokori?"
Pemikiran-pemikiran itu terus terbayang di benak Kenta Ken. Pria berjubah hitam itu berharap, kalau penyerangan ini akan berhasil dengan membawa kemenangan.
Di dalam goa seorang diri seperti ini membuat Kenta Ken melamun. Akan tetapi, justru pada saat inilah ia bisa berpikir dengan fokus karena suasana hening dan sunyi.
Tak berselang lama kemudian, Sagachi, Furuko dan juga Vitaloka pun akhirnya kembali ke goa lagi. Dalam waktu beberapa menit saja, sekarang mereka telah kembali dengan membawa banyak buah-buahan. Hal ini pun, membuat Kenta Ken pun langsung menolehkan pandangannya ke arah mereka bertiga.
"Makanlah!" Sagachi melemparkan sebuah apel berwarna merah ke arah Kenta Ken.
__ADS_1
Kenta Ken pun langsun menangkapnya. "Terima kasih."
Sagachi mendekati Kenta Ken, begitu pula dengan Vitaloka dan juga Furuko.
"Sepertinya, kamu sedang memikirkan sesuatu, ya?" tanya Sagachi yang sekarang telah duduk di atas batu besar di samping Kenta Ken.
Kenta Ken yang baru saja akan menggigit apel itu, mengurungkan niatnya karena ditanya oleh Sagachi. Kemudian pria berjubah hitam itu menoleh ke arah Sagachi dan berkata, "Memang aku sedang memikirkan sesuatu. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma tanya saja," kata Sagachi merapon ucapan Kenta Ken.
Sementara Furuko dan juga Vitaloka masih dengan lahap menikmati buah-buahan yang telah mereka petik. Furuko masih dengan memakan buah mangga, sedang Vitaloka memakan buah apel merah. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, dan hal itu membuat suasana menjadi sunyi di dalam goa ini.
...***...
Di tempat lain.
Di Kota Hikari, seorang remaja laki-laki berambut hitam, memakai kaos hitam dengan kombinasi jubah berwarna biru dongker berkerah tinggi, memakai celana panjang hitam dan ia juga membawa dua dager yang ia selipkan di pinggang kanan dan kirinya. Tak salah lagi, kalau dia tak lain adalah Kamimoto Hazuki yang sekarang sedang berdiri di depan penginapan Vitaloka yang biasa ditempati Sagachi dan Furuko.
"Dikunci, ya?" ucap Hazuki ketika ia sedang membuka pintu itu. Remaja laki-laki tujuh belas tahun itu kemudian kembali berucap, "Apakah mereka sudah pindah? Jika berburu ... mana mungkin mereka berburu malam-malam begini."
Karena Hazuki merasa kalau di dalam penginapan itu tidak ada penghuninya, ia pun beranjak pergi dari tempat itu. Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja suara seorang gadis menghentikan langkahnya.
"Apakah kamu sedang mencari Sagachi-san?" tanya seorang gadis yang membuat Hazuki menghentikan langkahnya.
Hazuki pun membalikkan tubuhnya, kemudian laki-laki tujuh belas tahun itu menatap gadis yang membuatnya menghentikan langkahnya itu. Kini bisa ia lihat, dua gadis kembar sedang berdiri di depannya. Tak salah lagi, kalau dua gadis itu tak lain adalah Cika dan Chizu.
__ADS_1
Tentu saja Hazuki sudah kenal dengan dua gadis itu, ia pun langsung berkata, "Iya, aku sedang mencarinya. Apakah kalian tahu di mana dia?"