
Harap baca dengan bijak ya:)
Setelah tiba di tempat yang begitu indah dan begitu asri. Tumbuh-tumbuhan hidup dengan baik. Tananaman yang selalu di rawat dengan sepenuh hati.
"Wow indahnya" ucap Xio Fang yang kagum akan pemandangan yang kini sedang menyegarkan matanya. "Xio Light kamu telan lah pil pengubah tenaga dalam itu, setelah kamu telan bermeditasi-lah selama 3 hari di atas lempengan batu itu. Ayahanda ingin mengajarkan Rayi mu dulu ya" ucap Xio Nigt.
"Baik ayahanda" ucap Xio Light yang berjalan menuju lempengan batu yang ada di arah utara taman.
Xio Light langsung menelan pil perubah tenaga dalam. Mata mulai ia pejamkan kedua tanganya berada di atas pahanya.
Aura panas langsung meneyeruak dari dalam jantung Xio Light, panas mulai membuat keringat berkucur dengan deras.
Baju yang baru ia ganti kini menjadi basah kuyup karena keringatnya.
Selang beberapa saat Xio Light melihat aliran tenaga dalamnya kini berubah menjadi energi matahari. Energi matahari memiliki warna berwarna kuning keemasan.
"Cucuku, tetap ber-meditasi sampai tiga hari kedepan. Belajarlah untuk mememadatkan energi matahari itu. Kalau soal ilmu sudah ada di dalam pikiran mu" ucap leluhur yang berada di alam bawah sadar Xio Light.
"Baik leluhur" ucap Xio Light. Arwah leluhur langsung hilang dari hadapan Xio Light.
***
Di tempat lain, di mana seorang anak laki-laki sedang bermeditasi di atas tumpukan kapas yang begitu lembut.
Ia tidak sendiri tapi di temani oleh seorang pendekar kelas tinggi tahap pertengahan.
"Xio Fang, apa bila kamu sudah dapat menyerap tanaman ginseng tahap awal itu, kamu lanjutkan menyerap ginseng tahap pertengahan. Kalau tanaman ginsengnya sudah tidak ada serap lah tanaman yang lain" ucap Xio Nigt yang mulai beranjak pergi menuju ruang pelatihan karena ingin melihat murid didik barunya.
"Tiga hari kedepan aku akan datang lagi kesini" ucap Xio Nigt sebelum menghilang dari hadapan Xio Fang, yang kini sibuk dengan menambahkan lingkaran tenaga dalamnya.
__ADS_1
Lingkaran tenaga dalam yang awalnya hanya terdapat satu lingkaran sahaja kini bertambah seiring tanaman penambah lingkaran tenaga dalam mulai ia serap.
Xio Fang dan Xio Light kini sedang bergelut di alam bawah sadarnya, mereka bertekad menajadi lebih hebat agar dapat melindungi semua orang yang sayangi.
Karena mereka sedang berada di alam bawah sadar, Xio Nigt yang tidak lain ialah ayahandanya menyuruh tiga murid diidknya yang memiliki kehebatan yang hampir setara dengan kekuatan yang ia miliki.
Untuk mejaga mereka berdua. "Rayi tetap waspada aku merasakan aura membunuh berada tidak jauh dari sini" ucap salah satu senior yang menjaga.
"Baik Raka" jawab mereka berdua yang tidak lain ialah adik seperguruan dari sang senior.
Tidak lama mereka berwaspada, sepuluh pendekar yang mengenakan busana yang serba hitam muncul dari arah semak-semak.
Dengan nafs* membunuh kesepuluh pendekar itu menyerang dengan membabi buta. Misi mereka kali ini harus membunuh kedua anak yang akan menjadi pendekar yang terhebat sepanjang sejarah.
Mereka melakukannya bukan hanya ingin bersenang-senang melainkan mendapatkan imbalan yang begitu menggiurkan. Yang pastinya yang menyuruh mereka adalah si rubah tua yang tidak lain ialah si penasehat kerajaan.
"Rayi tetap hati-hati mereka dua tingkatan dari kita" ucap nya yanf langsung mengeluarkan pedang besar, Pedang besar memiliki berat lebih dari seratus kilo gram.
Walaupun lawan mereka lebih banyak dan hebat, mereka bertiga tidak sama sekali ketakutan melainkan lebih semangat.
"Ayo duluan serang" ucap sang senior dengan senyuman yang begitu mengerikan. Senior kali ini yang di suruh oleh Xio Nigt bukan sembarangan melainkan ia adalah salah satu dari sepuluh pendekar haus akan darah.
Kesepuluh pendekar haus darah akan menyerang para aliran hitam sahaja, tidak dengan aliran putih, mereka akan berteman baik.
"Kau menantang kami" ucap salah satu dari mereka yang tiada lain ialah ketuanya atau biasanya di sebut dengan pemimpin.
"Iya" balasnya dengan senyuman yang siap mencabik tubuh mereka. Kesepuluh pendekar aliran hitam yang udah mulai panas sedari tadi langsung menyerang dengan membabi buta dan brutal.
Bukan namanya pendekar haus darah kalau tidak dapat menghabiskan semua musuhnya. "Kalian mundurlah, lindungi anak guru. Biar mereka aku selesai kan" ucapnya yang langsung di balas anggukan oleh temannya yang beda tingkatan.
__ADS_1
Tenaga dalam mulai mengalir menuju pedang besarnya, aura membunuh langsung ia tunjukkan kepada sepuluh pendekar aliran hitam yang kini sedang mengelilinginya.
"Kau hebat juga anak muda" ucap salah satu dari mereka sambil melepaskan serangan mematikan tepat bagian yang begitu fital, tapi serangan itu tidak berarti bagi pendekar haus darah ini.
Ia malah membalas serangan lawannya dengan kuat. Otot tangan dan kakinya mulai terlihat dengan jelas, urat mulai terlihat yang meneyeruapi seperti tato yang aneh.
"Ayunan tenggolo" ucapnya dengan aura membunuh yang masih menyeruak sampai sepuluh meter.
"Hujan panah" ucap seorang pemanah dari kelompok pendekar aliran hitam. Di saat itulah tiga puluh busur melesat jatuh dari atas langit dan menuju seorang pemuda yang sedang menangkis serangan jarak dekat.
"Putaran angin" ucapnya sambil memutarkan badan dan pedang besar nya, di kala itu angin berhembus kencang yang membuat panah-panah itu hancur lebur menjadi potongan kecil.
"Hanya segitu kemampuan hah" ucapnya dengan senyuman yang begitu mengerikan. Dalam seketika ia menghilang dan muncul di hadapan si pemanah.
"Sampai jumpa di neraka" ucapnya dengan wajah yang membuat si pemanah bergetar dengan hebat. Satu tebasan, dua tebasan tidak lebih dari lima tebasan si pemanah dapatkan.
Pemandangan yang begitu mengerikan langsung terlihat jelas saat si pemanah ambruk. Tubuhnya terbelah sepuluh, is* perutnya terlihat terbura*.
Siapa sahaja yang melihatnya akan munta*. Tidak sampai di situ sahaja, pendekar aliran hitam yang berada lebih dekat darinya langsung ambruk juga saat kepala dan tubuhnya terpisah.
Tidak selang lama pemandangan yang begitu indah langsung menjadi lebih mengerikan, darah mulai membasahi rumput hijau yang begitu indah.
Bau darah segar langsung masuk kedalam indra pencium. "Kalian berdua tetap jaga mereka. Biar aku yang mengurus tubuh yang menjijikan itu" ucanya sambil mengumpulkan potongan demi potongan tub** pendekar aliran hitam.
Setelah semuanya terkumpul. Api langsung melahap tubuh mereka dengan ganasnya. Tubuh yang berlumuran dengan dar** kini telah menjadi abu yang terbang di bawa angin.
***
***Saya sebagai author penulis novel ini minta maaf kalau ceritanya begitu sadis dan menjijikan.
__ADS_1
Author juga sebenarnya tidak mau membuat cerita seperti ini. Tapi mau macam mana author harus mengikuti alur ceritanya.
Sekali lagi author minta maaf ya 🙏🙏🙏. Kalau tidak senang, kakak kakak boleh meninggal cerita ini. Kalau senang dengan cerita author bacalah dengan bijak ya 🤗🤗🤗***