
..."Kekuatan sejati adalah kekuatan sebenarnya, kekuatan yang tak tertandingi" -Sian Mo...
Lintian juga ikut mengeluar-kan tongkat Toya yang telah di upgrade di Asosiasi. Tonkat Toya yang menjadi lebih ringan dari pada sebelum-nya. Walaupun riangan, tongkat Toya dapat menghantam lawan dan memundurkan atau menjauhkan sejauh tiga puluh lima meter. Jarak yang begitu jauh.
Nian Wang dengan pedang yang telah di tempa. Pedang yang begitu tipis tapi memiliki daya tahan yang begitu hebat. Satu tebasan saja dapat mengoyakkan batang pohon yang memiliki diameter seratus sepuluh cm.
Senjata saling beradu, membuat desa yang tadinya senyap dan damai malah menjadi ribut dan riuh. Banyak pohon-pohon yang bertumbangan karena pertarungan yany begitu sengit.
Xio Fang kini berkutat dengan wanita yang terkena racun yang ia keluar-kan atau lepaskan. Dengan bantuan tenaga dalam, racun itu keluar dari mulut dan telinga. Darah membasahi baju wanita tersebut.
Setelah wanita itu sadar, Xio Fang membawa-nya ke rumah pemilik desa, agar di berikan penanganan yang tepat.
Xio Fang kini berada di salah satu dahan pohon yang kuat untuk menopang dirinya. Ia melihat Raka dan teman-teman-nya yang sekarang sedang beradu kekuatan.
Tanpa di sadari, pertarungan hebat itu membuat para warga melihat dari jarak jauh. Quen Yu dengan tombaknya menahan dan melesatkan serangan kepada lawan-nya. Quen Yu merasa kelelahan, karena lawan-nya tidak seimbang.
'Quen Yu ayo semangat, jangan jadi penghalang untuk teman-teman mu. Jadilah wanita yang hebat' Quen Yu menyemangati dirinya. Di sela-sela serangan dengan cepat, ia menelan satir pil penambah tenaga dalam.
Quen Yu langsung mengumpul-kan tenaga dalam dan memadatkan tepat di ujung tombaknya. Dengan kelincahan-nya ia dapat mengoyak peru* lawanya. Terbura* is* peru* pendekar aliran hitam, di saat ia ingin menghembus nafas terakhir, ia melepas-kan sebuah api yang meluncur ke atas langit dan meledak.
"Hah, itu bukan-nya tanda minta tolong ya" Quen Yu terkejut dengan apa yang terjadi. Quen Yu mulai memasang kuda-kuda, mata lentik-nya menyelusuri setiap wilayah.
Ia takut ada yang menyerang-nya dari belakang.
__ADS_1
Di sisi lain Xio Light masih berkutat dengan lawannya. Tidak seimbang memang iya, karena lawan-nya kini telah masuk kelas tingkat pertengahan.
Senjata yang di gunakan Xio Light ialah pedang yang di berikan oleh pemilik Asosiasi Bulan purnama yaitu Armax. Armax tau kalau senjata pusaka milik Xio Light ialah senjata jarak jauh, bukan jarak dekat.
Walaupun tidak selihai Xio Fang, Xio Light masih dapat memojok-kan lawan-nya. Di saat menemukan celah yang baik, Xio Light langsung menebas tubuh lawan-nya.
Trang.... Serangan Xio Light di tahan oleh pendekar yang lain, membuat pedang-nya terpentar lumayan jauh. Dengan sigap, Xio Light langsung mengambil pedangnya dan menahan serangan dari kedua lawan-nya.
Lawan-nya yang tadi-nya hanya satu kini menjadi dua. Begitu pula dengan yang lain. Lawan bertambah banyak.
"Sebaik-nya aku membantu mereka" Xio Fang turun dari dahan pohon, dengan kedua bilah belati berada di tangan-nya. Ia mulai menyerang dengan membabi buta. Walaupun tidak ada yang mati tapi cukup membuat lawan-nya mundur.
"Rayi jangan bunuh mereka, cukup lumpuhkan saja!" ucap Xio Light yang langsung di patuhi oleh Xio Fang.
Xio Fang lantas bergerak dengan cepat dan memukul leher lawan-nya. Dalam hitungan detik semua lawan telah ter-kapar di atas permukaan tanah yang lembab akibat embun pagi.
"Sudah-sudah jangan ada yang ribut lagi, sebaiknya kita tanyakan saja apa yang di inginkan mereka" ucap Lionin yang berusaha menenangkan para warga desa yang ngeieu ribut.
"Iya benar itu apa yang di ucap-kan kepala desa" seru Xio Light yang ikut menenangkan para warga yang begitu riuh dengan ucapan kasar dan umpatan yang di lontarkan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Xio Fang dengan pedang berada di leher salah satu dari mereka. Tidak ada rasa kasihan terhadap mereka. Bisa saja Xio Fang menebas kepala salah satu dari mereka untuk menakut-nakuti yang lain agar diri-nya mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Aku tidak akan menjawabnya!" bentak-nya yang membuat Xio Fang jengkel. "Aaaarrrrggggg" jeritan itu membuat para warga terdiam.
__ADS_1
Pendekar yang di tanya Xio Fang kini twkah tewas dengan dahi yang bolong. Teman pendekar yang lain langsung bergidik ngeri lalu ber-ucap secara serempak "kami ke-desa ini hanya ingin mendapatkan senjatanya pusaka".
Xio Fang tersenyum senang karena hal yang ia butuh-kan di dapatkan. "Tapi sayang-nya kalian harus menuju ke-neraka dan menjumpai teman kalian".
Xio Fang langsung menebas semua pendekar, para warga lantas menjauh.
Setelah membunuh semua pendekar hitam dari benua Sakura. Xio Fang menoleh dan menatap Lionin si kepala desa.
"Yang dia bilang benar, di desa ini terdapat satu senjata pusaka yang membuat alam menjadi subur. Kalau bisa di bilang senjata itu jantung dari desa ini" jelas Lionin yang membuat Xio Fang mengangguk faham.
"Baik-lah, mungkin beberapa hari kedepan akan ada para pendekar dari Asosiasi yang melindungi dan menjaga desa ini" ucap Xio Fang yang membuat Lionin tersenyum senang.
"Terima kasih banyak pendekar Fang" Lionin membungkuk mengucapkan terima kasih. Bukan hanya kepada Xio Fang saja tapi dengan yang lain.
Ia merasa senang, sekarang desa yang ia bangun dari nol kembali membaik seperti semula.
***
"Lionin kami pamit pergi, kalau takdir kita akan bertemu lagi" Xio Light mewakili semuanya untuk pamit keoada Lionin. Lionin membalas dengan anggukan dan senyuman hangat yang melukis di wajahnya.
"Sebelum kalian pulang, ini bawalah" ucap Lionin yang menyerahkan lima kendi yang tidak di ketahui isinya.
"Kendi apa ini Lionin?" tanya Quen Yu. Di dalam kendi itu terdapat air suci yang akan meningkat-kan lingkaran tenaga dalam kalian. Bukan itu saja, air suci itu akan membuat tubuh kalian akan menjadi lebih kuat. Tulang kalian akan tertempa dengan tersendiri-nya" jelas Lionin panjang lebar.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Lionin atas pemberianmu" ucap ke-lima pendekar sambil menyimpan masing-masing satu kendi di dalam cincin ruang.
Ke-lima pendekar memacu kuda dan meninggal-kan desa yang aman dan damai, setelah terjadi kekacauan yang hebat.