
"Nian Wang, sembuhkan mereka dengan teknik yang telah di ajarkan oleh guru Zuanzi. Biar aku melawan mereka!" kata-kata itu keluar dari mulut Lintian, ia begitu yakin ia dapat mengalahkan mereka.
"Tapi bagaimana caranya, mereka kan bertiga?" Nian Wang bertanya.
"Tenang, aku akan menggunakan pil yang di berikan oleh guru Xio Nigt" ucap Lintian sambil menunjukan pil yang di apit antara dua jari, ibu jari dan telunjuk.
"Baiklah, aku mohon perlindungan-nya" ucap Nian Wang yang di balas anggukan oleh Lintian.
Lintian pun langsung menelan pil itu.
Semilir angin yany begitu lembut mengelus wajah Lintian, tidak ada perubahan pada dirinya. "Pil apa yang kau makan anak kecil. Kau begitu konyol" tawa wanita itu membuat Lintian mengambil inisiatif untuk menyerang wanita itu duluan.
Zraassshhh...
Lintian hilang dari pandangan mereka. "Kemana dia" tanya wanita itu yang terkejut saat melihat Lintian hilang dalam tiba-tiba. Ia juga langsung memegang dua belati.
Prang....
Lintian muncul dari belakang wanita itu, ia juga langsung melontarkan satu serangan tehap menengah. Tapi dengan sigap wanita itu menangkis dengan kedua belati yang ada di tangannya.
"Kau lumayan hebat juga anak kecil" ucap wanita itu dengan senyuman smirk-nya. Ia juga ikut hilang dari hadapan Lintian, dan muncuk dari sisi kanan Lintian.
Kedua senjata saling beradu dengan hebat, suara yang di timbulkan begitu bising membuat Nian Wang sedikit terganggu.
"Raka serang anak yang sedang menyembuhkan mereka yang telah terkena dengan racun!" tidak perlu bilang dua kali, pria yang tadinya memakai topi jerami kini topinya jatuh dan beradu dengan kayu (alas penginapan).
Pria itu dengan cepat muncul di hadapan Nian Wang. Lintian yang melihat-nya tidak tinggal diam ia langsung melesat dengan cepat dan muncul dari siai kiri pria itu.
Bruk....
Tepat sasaran, tongkat toya mengenai perut pria itu yang langsung membuat ia menabrak meja kayu yang tidak jauh dari-nya.
"Aaakkhhhh" jeritan keluar dari mulutnya sebelum ia menghela nafas terakhir kalinya.
"Raka!" teriakan pria satu-nya. Mata pria itu seketika berubah menjadi hitam gelap. Aura di sekitar langsung berubah drastis.
__ADS_1
Aura itu menekan pergerakan Lintian. 'Ah, aura pembunuh memang mengerikan' Lintian terus mencari celah untuk memukul pria itu dengan tonkat toya.
Di saat Lintian mencari celah, ia malah terlempar dengan keras. Satu hantaman keras pria itu lontarkan dengan tangan kosong.
"Cih, dasar" Lintian berdecih lalu berusaha bangun. Di saat ia dapat berdiri dengan tegak, di hadapan-nya muncul wanita itu.
Dengan reflek Lintian memukul wanita itu membuat ia terlempar.
"Hati-hati. Kita serang dari dua arah secara bersamaan" ucap pria itu memberikan petunjuk kepada wanita itu.
"Baiklah" ucap wanita itu yang langsung melesat dengan cepat menyerang Lintian saat satu koin perak jatuh dan bertabrakan dengan kayu.
Bukan hanya wanita itu saja yang menyerang Lintian, tapi pria yang memberikan petunjuk ikut menyerang.
Mereka muncul dari dua arah, wanita itu di belakang dan si pria muncul di depan.
Dengan sigap Lintian menunduk saat belati dan parang besar menuju kearah-nya.
Trang...
Lintian melihat ada celah untuk menyerang wanita itu. Tapi sebelum tongkat toya mengenai wanita itu. Parang besar melesat dengan cepat dari arah kiri.
Lintian mundur beberapa langkah saat tongkat toya-nya menahan serangan yang mengandung tenaga dalam. Serangan yang begitu mematikan, apa bila ia tidak menahan serangan itu, bisa di pastikan nyawanya akan melayang.
"Hah.. huh... hah.. huh.. " deru nafas yang tidak beratur keluar dari mulut dari hidung Lintian. 'Sebentar lagi efek dari pil ini akan habis'.
Lintian mengigit bibir sebelum muncul di belakang pria itu. Tapi dengan sigap wanita satu-nya menghempaskan tubuh kecilnya.
Jeritan kecil keluar dari mulut Lintian, darah mulai mengalir dari kedua telinga-nya. Nian Wang yang melihat keaadaan Lintian menggigit bibir lalu menutup mata.
Pemandangan begitu mengerikan, terdapat beberapa luka lembab di tubuh Lintian. Tubuh-nya mulai memucat karena darah terus keluar dari berbagai luka.
"Selesai juga" Nian Wang bermonolog sendiri saat ia selesai mengeluarkan semua racun dari badan teman-teman-nya.
Setelah menyembuhkan mereka semua, ia langsung mengeluarkan pedang dari warangka. Ia sudah tidak tahan melihat keaadaan Lintian yang begitu tragis.
__ADS_1
Ia juga dapat merasakan sakit yang di rasakan oleh Lintian.
"Huh..." hembusan nafas keluar mulut. Ia berdiri dengan benar lalu melesat dengan cepat dan menuju kedua orang dewasa yang kini sedang berjalan menuju tubuh kecil Lintian.
"Rasakan ini manusia biada*" ucapan yang dari tadi tertahan kini ia keluar-kan, ia mengeluar-kan semua unek-unek-nya bersamaan tebasan pedang ia lontarkan kepada dua lawannya ini.
Ia tidak memikirkan ia bisa atau tidak. Ia hanya memikirkan ia harus dapat menolong teman-teman-nya.
Mau macam mana pun, susah atau pun sulit.
Prang.. Prang..
Suara beraduan senjata yang terbuat dari besi, mengakibatkan percikan api keluar.
Serangan demi serangan Nian Wang lontarkan dengan amarah yang dari tadi ia tahan. Di saat ini lah ia mengeluar-kan amarahnya.
Kedua lawan mulai kelelahan yang sedari tadi hanya menahan serangan Nian Wang yang begitu brutal bagaikan psikopat.
Ia juga menyerang dengan cepat, otot kaki-nya terlihat dengan jelas. Tumpuan kakinya juga begitu hebat.
Tapak kakinya yang sedari tadi menghempaskan tubuh-nya tidak merasakan sakit ataupun keram. Di saat ini pikiran-nya penuh dengan berbagai strategi untuk menyerang lawan-nya.
Tidak ada rasa lelah bagi Nian Wang, ia muncul dari barbagai arah. Utara selatan barat dan timur.
Setiap serangan yang ia lontarkan mengandung tenaga dalam yang begitu hebat. Di sela-sela serangan ia menelan pil penambah tenaga dalam.
Walaupun pil itu tidak dapat menambahkan banyak tapi cukup untuk melawan mereka berdua.
Sudah tida terasa lima ratus serangan Nian Wang berikan untuk lawannya. "Ketemu" di saat celah di temukan, Nian Wang langsung menyerang tepat di titik fatal.
"Aaaaaaaaa!" jeritan begitu melengking keluar dari mulut wanita itu. Suaranya mereda saat ia tidak bernafas lagi.
Pria yang satunya menatap tidak begitu menduga, tubuh wanita itu terpisah dari kakinya.
Di saat itulah Nian Wang melepaskan satu serangan tepat di tengkorak kepalnya. Tidak ada jeritan yang keluar hanya dara* yang mengalir begitu banyak.
__ADS_1