
Di wilayah utara desa, Xio Fang masih terus menahan serangan dari lawan-nya. Andaikan ia boleh membunuh lawan-nya, mangka ia akan membunuh dengan satu serangan.
"Kapan selesainya ini" Xio Fang mulai geram, lawan-nya bertambah tangguh saat pancaran rembulan menyinari tubuh-nya. Senjata yang tadi-nya tidak terlalu berbahaya menjadi bahaya.
Kapak yang ukuran seperti biasa kini menjadi kapak dengan ukuran sepuluh kali lipat. Mereka semua seolah tidak ada rasa lelah atau letih.
"Mereka semua memang pantas di sebut dengan senjata" Xio Fang bergumam sambil menggigit bibir.
Ia tidak tahan lagi, saat dirinya ingin membunuh semua-nya suara yang tidak di ketahui siapa itu bergema di pikiran dan hati 'tetap tenang, jangan terpancing dengan emosi mu. Apa bila kamu membunuh mereka semua, kamu akan masuk ke-dalam golongan pemdekar aliran hitam yang haus akan darah'.
Kata-kata itu membuat ia sadar, benar apa yang di kata-kan. Mereka semua adalah orang yang tidak bersalah, kenapa harus di bunuh?.
Xio Fang mulai tenang, emosi-nya langsung redup seketika. Ia mulai mengambil ancang-acang untuk berpindah tempat.
Slup... slup... slup.. Suara angin terdengar dengan kasar saat tubuh Xio Fang bergerkan lincah di antara udara. Ia memulai memukul leher para lawan dengan tangan kosong.
Bruk... bruk... bruk... satu, dua, tiga, empat, sepuluh, lima belas. Lawan-nya mulai tumbang dan meninggal-kan dua puluh lawan sahaja.
Lawan yang tangguh, lawan yang memiliki ilmu tahap per-tengahan yang ingin naik tingkat. Xio Fang menjadi lebih waspada. Ia mulai melihat sekeliling-nya, para lawan mengelilingi-nya.
Bruk.... tubuh kecil Xio Fang terlempar dan menghantam tiga pohon sekaligus, tanpa ia sadari ada seseorang yang berada di balik pohon yang memperhatikan diri-nya.
Di saat Xio Fang lengah sedikit saja, ia langsung menyerang seperti apa yang terjadi sekarang. Seteguk darah keluar dari mulut. Badan-nya penuh dengan lembam.
Tubuh-nya terkulai dengan lemas. Ia tidak tahan lagi. Tidak perlu lama lagi Xio Fang si pedekar muda hilang kesadaran secara sepenuh-nya.
***
Di wilayah selatan desa, Xio Light si ketua dari kelompok darah biru. Sedang merasakan kesulitan, menghadapi para lawan dengan dua bilah pedang di tangan-nya.
Kelemahan Xio Light menyerang dari jarak dekat. Ia ingin sekali melepaskan satu busur dari panah pusaka-nya. Tapi ia tau kalau dirinya dapat membunuh banyak orang yang tidak bersalah.
'Bagaimana keadaan mereka ya?' Xio Light bertanya kepada dirinya sendiri. Ia mulai khawatir dengan keadaan anggota-nya terutama Xio Fang Rayi-nya.
__ADS_1
Ia sudah berjanji kepada Ayahanda-nya Xio Nigt. Bahwa ia akan melindungi Rayi-nya, walaupun nyawanya menjadi taruhan.
Ia tau kalau Rayi-nya Xio Fang masih tahap latihan, ia masih begitu kaku untuk mengerakan pedang dengan lincah.
Ia begitu gundah, bukan hanya Xio Fang saja di pikiran-nya melainkan ketiga teman seperjuangan-nya. Nian Wang, Lintian dan Quen Yu.
Ia juga bersumpah akan melindungi seluruh anggota-nya. Ia bersumpah dengan saksi Ayahanda, Ibunda dan para murid dari Ayahanda-nya.
Ia mulai takut, rencana yang di buat tidak berjalan dengan lancar.
Serangan demi serangan Xio Light tahan, dengan pikiran yang entah kemana.
Di tempat lain, lebih tepatnya di wilayah barat desa. Nian Wang dengan pedang menangkis serangan demi serangan yang di berikan untuk-nya.
"Ingat jangan bunuh mereka" kata-kata itu memenuhi relung hati Nian Wang. Bukan hanya di hatinya saja kata-kata itu terus bergema tapi juga dengan di hatinya.
Ia berusaha untuk tidak melukai apa lagi membunuh orang yang tidak bersalah di depannya. Satu demi satu lawannya mulai jatuh di atas permukaan tanah.
Dengan susah payah Nian Wang memasukan pil yang di berikan oleh Xio Fang kedalam mulut para manusia yang telah di cuci otaknya.
Lawan-nya terus bertambah banyak. Entah dari mana serangan jarak jauh mengenai telak di punggung belakang Nian Wang.
Tubuh Nian Wang lantas terlempar dengan keras dan menhantam perumahan. Dari mulut dan telinga-nya mengeluar-kan darah segar.
Tidak lama kemudian Nian Wang kehilangan kesadaran dan pingsan di antara puing-puing rumah.
Di Barat daya, Lintian juga kalah. Tubuhnya telak terkena pukulan berulang kali. Tubunya penuh dengan luka lembam dan sayatan.
Sebelum kesadaran-nya hilang ia memuntahkan seteguk darah.
***
Xio Light masih daoat bertahan. Ia mulai kecapeaan. Wajahnya memerah. Badannya seolah mati rasa.
__ADS_1
"Uhkkk...." seperti yang lain tubuhnya menhantam benda keras, membuat diri-nya kehilangan kesadaran.
Telah usai semua-nya, kelima pendekar yang di kirim untuk menyelesaikan masalah yang merajalela gagal total. Apa ini sudah ajal mereka?
Slaps.... hanya banyangan yang telihat. Tubuh Xio Light hilang saat bayangan siapa itu melesat dengan cepat. Bukan hanya Xio Light saja yang di bawa pergi oleh banyangan itu melainkan semuanya.
Di saat kesadaran mereka hilang, banyangan itu langsung melesat dengan cepat dan membawa jasad yang sudah tidak bertenaga lagi itu pergi dari desa.
***
"Ukh... ukh.. di mana ini?" salah satu dari kelima pendekar akhir-nya sadar. "Ini di bukit Lotus Xio Fang" jawab seorang pria yang tempak gagah.
"Anda siapa?" tanya Xio Fang, karena penglihatan-nya masih buram. "Apa kau lupa dengan Armax?" pria itu ternyata Armax si pemilik Asosiasi.
"Oh...Armax" hanya kata itu yang keluar dari mulut Xio Fang sebelum ia terlonjak kaget.
"Kenapa anda di sini Armax?" tanya Xio Fang.
"Aku hanya ingin melihat kemampuan kalian kelompok darah biru" jawab Armax.
"Yang kan di mana?".
"Mereka ada di sebelah mu" kali ini bukan Armax yang menjawab melainkan seorang pendekar yang hampir pensiun Koinoin.
"Tadi malam pertarungan yang begitu sengit, andaikan saja kalian tidak di tolong dengan cepat, mangka nyawa kalian akan hilang" ucap seorang wanita sambil berjalan mendekati Xio Fang, ia adalah putri dari Armax, Seling yue.
"Kita bertemu lagi Xio Fang" ucap Seling yue sambil tersenyum tipis.
"Iya" hanya kata 'iya' yang keluar dari mulut Xio Fang. ia masih kelelahan. Tubuh-nya yang penuh dengan luka masih belum sembuh.
Satu malaman dengan telaten Seling yue mengelap dan mengolesi luka di badan Xio Fang, bukan hanya di badan Xio Fang melainkan semua-nya.
Ia melakukan dengan semangat yang membara. Mungkin karena ada pujaan hatinya Xio Fang.
__ADS_1
Selang beberapa lama ke-empat pendekar yang masih pingsan kembali sadar.