Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 55


__ADS_3

"Quen Yu kapan kita akhiri ini?" tanya Inabe yang mulai berkeringat dingin, karena tubuhnya telah mati rasa. Tenaga dalamnya terkuras banyak.


"Tunggu sebentar lagi, kita harus tumbang secara bersamaan" balas Quen Yu membuat Inabe tersenyum.


Tenaga dalam milik kedua pendekar mulai berkurang seiringan dengan waktu. Serangan terakhir di lontarkan oleh kedua pendekar "ayo lelah Inabe" kali ini Quen Yu yang mengeluh.


Serangan akhir atau serangan tapak yang kedua pendekar lontarkan tidak mengenai salah satu dari mereka. Tangan mereka saling menyilang dan ambruk.


Bruk.... kedua pendekar ambruk membuat para penonton ber-seru dengan lesu. "Baiklah pertandingan kali ini seri, tidak ada yang menang tidak ada yang kalah" ujar Ominous.


"Maaf menyela tuan Ominous, saya memilih menyerah biarkan Quen Yu menang" Ominous yang mendengarnya kagum.


"Baiklah pertandingan kali ini di menangkan oleh Quen Yu" ucap Ominous sekali lagi.


"Ayo Quen Yu" Inabe menjulurkan tangan niat membantu. Quen Yu pun langsung memegang tangan Inabe. Kedua pendekar berjalan saling meyeimbangkan.


"Sejak kapan kalian kenal?" tanya Seling yue saat keduanya duduk. "Sejak awal mengijakan kaki di benua ini" jawab Inabe.


"Sepertinya aku tidak melihat mu di dermaga"

__ADS_1


"Tidak kaki bertemu di salah satu kedai makan, di hari pertama"


"Oh, bagaimana ceritanya?" Seling yue mulai kepo dengan dua pendekar yang sedang mabuk cinta.


"Dasar" ucap Quen Yu sambil menjentik dahi Seling yue.


.


.


.


"Dan untuk lawannya Jibici"


"Mohon bimbingannya Jibici" ucap Seling yue sambil menunduk sedikit.


"Mohon bimbingannya juga Seling yue" Seling yue hanya mengangguk.


Setelah mendapatkan aba-aba untuk mulai. Seling yue dengan pedang pusaka buminya melesat cepat menyerang Jibici.

__ADS_1


Jibici menahan serangan Seling yue dengan pedang pusaka bumi. Perbedaan dari kedua senjata pendekar itu hanya di panjang dan bentuk pedang.


Seling yue dengan bentuk pedang pada umunya tetapi terdapat tulisan kuno dari ujung pedang sampai di pegangan. Kalau Jibici pedang yang ia gunakan bengkok kesamping, atau biasanya di sebut dengan celurit.


Pertandingan kali ini tidak kalah menegangkan. Kedua pendekar saling menyerang dengan nafs* membunuh. Mereka menjadi liar seiringan dengan perjalan waktu.


Serangan yang di berikan juga meningkat secara pesat. Tanpa di sadari kedua pendekar telah bertukar kurang lebih seratus serangan.


Hal itu membuat para penonton kagum. Seling yue menggunakan ilmu pusaka milik keluarganya yaitu Tarian Burung Walet di mana tarian burung walet ini ialah ilmu tahap atas.


Jibici yang melihat Seling yue menggunakan ilmu tahap atas lantas tersenyum. Di mundur beberapa langkah sambik merapal-kan mantra yang entah apa itu.


Tubuh Jibici kini bergerak bagaikan angin badai yang amat cepat. Seling yue bermain pedang dengan anggunnya begitu pula sebalik-nya dengan Jibici, Jibici bermain pedang dengan kasar.


Keduanya saling menyerang dam bertahan. Permaian pedang Seling yue di akui sangat indah oleh para penonton.


"Tarian burung walet memang sangat indah" puji Ominous yang kagum akan Permainan pedang Seling yue. Belum ada yang dapat mengasai ilmu pedang seindah itu.


Dalam sejarah baru Seling yue yang menggunakannya dengan sempurna.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_2