Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 6


__ADS_3

Xio Fang dan Xio Light telah berada di depan pintu, sebelum mereka membuka pintu yang terbuat dari kayu itu, pintu itu terbuka dari dalam.


"Baguslah kalia sudah pulang, bagaimana keadaan kamu Xio Fang?" tanya Xio Nigt. "Keadaan Fang sudah mulai membaik paman" jawab Xio Fang dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Kan sudah di bilang panggil saja ayahanda, sekarang kamu kan tinggal sama kami" ucap Xio Nigt sambil menoel hidup mancung milik Xio Fang.


"Baik ayahanda" ucap Xio Fang yang masih terus tersenyum. "Kalian berdua bersihkan diri dulu sana, lalu tidur ya!" titah Xio Nigt kepada mereka berdua.


"Baik ayahanda" jawab Xio Fang dan Xio Light secara bersamaan membuat Xio Nigt tersenyum merekah. "Ya udah, kalian bisa pergi ayahanda masih asa urusan" ucap Xio Nigt yang hanya di balas anggukan kepala sahaja.


Xio Nigt pun pergi dari hadapan mereka. "Rayi ayo!" ajak Xio Light. "Ayo Raka" ucap Xio Fang sambil memegang tangan Xio Light.


Mereka berdua menuju danau air panas yang berada di belakang rumah. Air panas yang dari pegunungan, begitu wangi tanah yang begitu menyejukkan.


Pertama kali mereka masukan adalah ujung kaki, lalu kaki sampai dengan paha akhirnya seluruh tubuh kecuali kepala. Mereka dengan tenang berendam di dalam danau itu.


Mereka juga saling berbincang-bincang membuat gerahang giginya terlihat dengan jelas.


Hari yang tadinya masih begitu cerah kini sudah meredup. "Rayi ayo kita balik kerumah, sebelum malam tiba" ucap Xio Light yang langsung mengeluar-kan tubunya dari air panas.


Xio Fang yang melihat Xio Light naik, ia pun mengikutinya.


***


"Rayi tadi kata ayahanda, selesai bersih-bersih di suruh tidur. Ayo sini samping Raka" ucap Xio Light sambil menepuk bagian tempat tidur yang kosong.


Xio Fang pun langsung beranjak dari menatap langit senja. Ia langsung merebahkan badan-nya di tempat tidur yang begitu lembut dan nyaman.


***

__ADS_1


Xio Nigt kini telah berada di makam atau kuburan leluhur-nya. Ia mendatangi-nya untuk meminta restu agar ritual nanti malam terlaksana-kan dengan baik.


"Apa lagi yang kau inginkan Xio Nigt?" tanya sang leluhur dengan wajah yang begitu sangarnya, karena dahulu kala leluhur keluarga Xio adalah seorang pendekar yang terhebat sepanjang masa.


"Hormat saya leluhur, saya kesini ingin meminta restu anda agar ritual nanti malam terlaksana-kan dengan baik" ucap Xio Nigt yang masih berlutut.


"Aku restui, tapi ingat ajarkan mereka dari tahapan yang terendah jangan yang langsung tertinggi, walaupun mereka bisa melakukan-nya" ucap leluhur dengan suara khasnya yaitu suara yang begitu berat dan serak.


"Baik leluhur" ucap Xio Nigt yang masih terus berlutut. "Kamu kembali-lah, siapkan semuanya dengan baik. Jangan sampai ada yang tertinggal. Aku juga ingin istrirahat" ucap leluhur.


"Baik" ucap Xio Nigt yang langsung menghilang dari depan makam, lebih tepatnya ia pergi dengan kecepatan yang begitu hebat.


***


Di malam hari yang begitu dingin, di mana waktu menujuakan hampir tengah malam. Kedua anak kecil yang masih terlelap dengan tidurnya lantas terbangun saat tubuhnya di goyang-kan.


"Bangun saja dulu" ucap Zuanzi yang berpindah ke tempat Xio Fang. Zuanzi pun langsung membangunkan Xio Fang dengan cara yang sama, dengan suara yang begitu lembut.


Xio Fang tidak sama seperti Xio Light, ia langsung bangun dan duduk di ujung tempat tidur, setelah ia sadar secara sempurna ia baru bertanya kepada Zuanzi ibunda angkatnya "ada apa ibunda?".


"Ya sudah ayo ikut aja!" ajak Zuanzi sambil memegang kedua tangan anak-nya, kedua anak-nya yang di tarik tangannya lantas beranjak dari tempat tidur.


Mereka berjalan bertiga menuju meja makan yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang begitu hebat. Di atas meja makan telah tersiap-kan banyak makanan.


"Xio Light, Xio Fang. Ayo di makan, kalau bisa makanlah yang banyak karena kalian akan mengadakan suatu ritual" ucap Xio Nigt kepada kedua anaknnya yang masih menguap dengan lebar, bagaimana tidak menguap di bangunkan di tengah malam begini.


"Baik ayahanda" jawab mereka berdua sambil memasukan sesuap nasi di dalam mulutnya.


"Memang ritual apa ayahanda?" tanya Xio Light yang mulutnya penuh dengan nasi beserta lauknya. "Kalian akan tau sendiri" jawab Xio Nigt dengan senyuman yang terus terukir.

__ADS_1


'Tanpa di sadari kalian berdua yang di pilih oleh leluhur' batinnya yang terus terang begitu senang, karena anak kandung beserta anak angkatnya yang di pilih.


Padahal masih banyak lagi keturunan dari leluhur yang dapat menggunakan, tapi kata leluhur tidak bisa karena mereka tidak pantas.


FLASBHACK ON


"Leluhur kalau boleh tau kenapa mereka berdua yang di pilih, bukannya keturunan anda begitu banyak?" tanya Xio Nigt kepada sang leluhur.


Dengan mata yang terpejam dan satu tangannya mengelus jenggot putihnya ia berkata "hati mereka bersih, dan pikiran mereka tidak dapat di ubah oleh para orang-orang yang berhati kejam".


"Kalau yang lain seperti anak dari keturunan Xio Gian, Rayi dari Xio Fang. Hati mereka kotor dan hi**, pola pikiran mereka dengan mudah di ubah oleh semua orang seperti si iblis ber-wujud manusia itu" jawab leluhur dengan panjang lebar membuat Xio Nigt paham.


"Baiklah leluhur, saya ucapkan terima kasih telah mau menjawab pertanyaan saya" ucap Xio Nigt.


"Sebenarnya dari dulu aku ingin bilang, tapi situasi tidak memungkinkan. Oh tolong berikan kitab ini dulu untuk mereka" ucap leluhur sambil menyerah sepuluh kitab kuno kepada Xio Nigt.


"Kitab apa ini leluhur?" tanya Xio Nigt.


"Itu adalah kitab pelajaran awal atau tahap awal bagaimana cara menggunakan senjata pusaka milik ku dengan tepat. Yang ada pada dirimu adalah kitab tingkat tertinggi, takutnya kalau mereka tidak bisa mempelajari dengan benar dan teratur mangka tubuh mereka akan hangus tersambar petir dari kedua senjata pusaka ku" jawab leluhur panjang lebar tapi hanya di balas anggukan kepala beberapa kali oleh Xio Nigt.


"Baik leluhur, saya juga akan turun tangan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Saya juga tidak mau membuat leluhur kecewa karena saya" ucap Xio Nigt dengan kedua tangan di kepal dan di majukan kedepan.


"Karena itulah aku memberikan kedua pusakan ku kepada mu, karena kamu adalah orang yang tepat" ucap leluhur.


"Terima kasih telah memperca-yai saya leluhur" ujar Xio Nigt.


"Sama-sama cucuku, kamu sudah boleh kembali" ucap leluhur dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


FLASBHACK OFF

__ADS_1


__ADS_2