
Armax, Koinoin dan Seling yue kini sedang mendengar-kan ucapan Xio Light. "Jadi seperti itu, baiklah kami akan membantu kalian" ucap Armax.
"Terima kasih banyak Armax, ini ada beberapa butir pil yang baru saja ku buat" ucap Xio Fang sambil memberikan beberapa ratus pil yang baru ia buat di tengah hutan, dengan alasan ingin membersih-kan diri.
Di saat ia kembali, keadaan-nya masih tetap kumal. "Kenapa dirimu tetap kotor Xio Fang, bukannya kau ingin membersih-kan diri?" tanya Koinoin yang kini sedang menajamkan pedang miliknya.
"Aku tidak menemukan danau sama sekali di hutan ini" jawab Xio Fang.
"Iya benar itu. Padahal stok untuk minum hampir habis" ucap Seling yue yang entah dari mana muncul di belakang Xio Fang.
Xio Fang lantas terlonjak kaget karena kehadiran Seling yue yang mendadak.
***
Malam telah kembali, penyerangan mulai di laksanakan.
Baru saja tiba di dalam desa, senjata tajam langsung berada tepat di leher mereka.
"Raka sekarang!" seru Xio Fang yang membuat Xio Light melepaskan tiga busur yang di lontarkan di atas langit.
Tiga busur itu meledak bagai kembang api. "Seling yue sekarang giliran mu" tanpa menunggu lama Seling yue langsung meniup suling kesayangan-nya.
Nada demi nada yang keluar dari seluring itu di tujukan untuk para pendekar aliran hitam (manusia yang telah di cuci otaknya).
"Nian Wang, Koinoin, Lintian, Quen Yu sekarang giliran kita" ucap Xio Fang yang memimpin penyerang malam ini. Ke-lima pendekar itu lantas bergerak dengan lincah dan memukul leher para pendekar aliran hitam.
***
Di tempat lain, pertarungan yang begitu dahsyat terjadi. Armax melawan tetua atau ketua dari para pendekar aliran hitam. Ia adalah sang pencuci otak yang sedang si burungan oleh para pendekar aliran putih.
Siapa saja yang dapat membunuh-nya dan membawakan mayat-nya ke pusat kota, mangka ia akan mendapatkan bayaran sebanyak tigas ratus keping emas, dan lima pukuh keping perak. Bayaran yang sangat fantastis.
"Aku akan membawamu menuju neraka manusia tidak berhati!" ucap Armax dengan penuh penekanan. Ia juga geram dengan ulah lawan-nya satu ini.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa!" tantang sang ketua pendekar aliran hitam. Ia bergerak lincah dan menyerang dari segala penjuru arah.
Ia menjadi brutal saat menelan satu pil yang berwarna hitam pekat, dengan aroma yang begitu tidak mengenakan.
Tanpa di sadari mereka berdua telah bertukar kurang lebih seratus serangan jarak dekat. Armax juga menyerang dari jarak jauh, saat dirinya dan lawan-nya terpental.
Pertarungan menjadi lebih dahsyat. Peraduan dua senjata pusaka bumi membuat tenoat pertarungan dan sekitar menjadi tergoncang dengan hebat.
Xio Fang telah menyelesaikan pekerjaan-nya. Kini ia sedang berlari dengan cepat menuju tempat pertarungan Armax dengan ketua dari pendekar aliran hitam.
Armax mulai kecapeaan. Pernafasan menjadi tidak normal. Ia begitu letih karena melawan lawan-nya yang tidak kenal lelah atau letih.
Jangan di tanya, Armax menerima banyak serangan. Baju yang ia kenakan kini berlumuran dengan darah. Lawan yang di hadapi Armax masih dalam keaadaan prima, tidak ada luka di tubuh-nya walau hanya sedikit saja.
Tubuh-nya seolah di lindungi dengan tenaga dalam yang begitu banyak. "Armax kau mundur-lah, biar aku lanjutkan pertarungan ini" ucap Xio Fang yang berada si tengah pertarungan.
Dengan cepat Xio Fang menelan satu butir pil penambah tenaga dalam yang di berikan oleh Koinoin. "Baiklah, ku serahkan semua-nya kepada mu anak muda" ucap Armax yang langsung mundur.
Wanita itu Seling yue. Dia langsung bergegas menangkap tubuh ayahanda-nya Armax yang seketika langsung tumbang.
Kalau telat satu detik saja, tubuh Armax akan menghantam permukaan bumi yang lembab karena darahnya yang terus menetes.
Seling yue langsung memberikan beberapa totokan untuk menghentikan pemdarahan. Dengan sigap ia membuka pakaian yang di kenakan oleh Armax.
Luka yang sangat panjang dan dalam berada tepat di dada Armax. Seling yue yang melihat-nya meringis pelan.
Dengan hati-hati Seling yue mengelap darah yang berada di sekitar luka milik Armax. "Iissshhhh" Armax merasakan perih saat luka-nya tersentuh kain basah.
****
Trang... trang... trang... percikan api juga muncul. Kedua senjata saling beradu.
Senjata pusaka Bumi melawan dengan senjata pusaka Langit. Tidak terpungkiri pedang milik ketua pendekar aliran hitam hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Ternyata senjata pusaka langit, aku harus dapat!!" ucapnya sambil mengeluarkan pedang lain dari cincin ruang.
"Xio Fang hati-hati, senjata yang di gunakan, senjata pusaka langit" ucap Koinoin yang sedari tadi memperhatikan pertarungan yang begitu dahsyat.
"Baik Koinoin" jawab Xio Fang, Xio Fang langsung menggenggam dengan keras pedang-nya.
"Mohon kerjasamanya" ucap Xio Fang sambil meneteskan sebulir darah segar ke pedang pusaka langit miliknya.
Pupil mata Xio Fang langsung berubah menjadi hitam pekat. Tubuhnya menjadi lebih ringan.
Dengan cepat Xio Fang telah berpindah tempat. Xio Fang kini berada di belakang Lawan-nya sambil memberikan tebasan yang mengandung tenaga dalam.
Blar... percikan api keluar dari peraduan pedang dan kampak yang terbuat dari batu zamrud kualitas terbaik.
Tidak sampai di situ sahaja. Xio Fang langsung menghilang dan muncul di sisi kanan-nya seraya memberikan serangan yang sama. Tapi dengan mudah di tepis oleh lawan-nya.
Tanpa kenal lelah dan pantang menyerah, Xio Fang terus hilang dan muncul untuk memberikan serangan yang sama terus menerus. Serangan itu berfungsi untuk membuat lawan-nya lelah.
Karena untuk menepis kekuatan yang besar itu harus menggunakan kekutan yang besar juga.
Di atas pohon Nian Wang dan Lintian dengan semangat-nya menonton pertarungan yang begitu hebat.
Quen Yu masih sibuk dengan urusan-nya sendiri. Setelah memindahkannya para pendekar aliran hitam ke tempat yang teduh, ia melanjutkan semedi-nya untuk meningkatkan kemampuan-nya.
Ia sudah bertekad ingin menjadi seperti Ayunda-nya yang hebat. Di alam bawah sadarnya ia di bimbing oleh seorang wanita tua yang tidak di ketahui siapa itu.
Yang pasti ia adalah orang terdekat Quen Yu. Quen Yu yang di bimbing menjadj senang.
Di tempat pertarungan kedua pendekar semangkin dahsyat. Banyak pohon yang tumbang karena menjadi tumpuan kaki mereka.
Malam kini berganti pagi. Matahari menyapa semua-nya dengan sinar-nya yang begitu hangat. Kicauan burung yang begitu indah terdengar. Tapi suara peraduan senjata lebih dominan.
"Hah.. hah.. hah" Xio Fang sudah mulai kualahan. per-nafasan menjadi tidak stabil.
__ADS_1