
"Rayi selesai-kan dengan cepat!" seru Xio Light dari daha pohon yang ia duduki. "Baik Raka" jawab Xio Fang.
Xio Fang berdiam diri sebentar untuk mengumpulkan tenaga dalam dan di salurkan ke kaki, tangan dan pedang pusaka langit yang sekarang ia pegang dengan erat.
"Huuuupppp.... hahhh..." setelah nafas di hembuskan dengan lembut tubuh kecil Xio Fang hilang dari hadapan semua orang. Xio Light yang tau kalau Xio Fang akan muncul dari atas permukaan langit, langsung melepaskan tiga busur yang di tujukan pada ketua pendekar aliran hitam.
Blar... blar...blar... busur yang di lepas meledak seketika membuat tubuh ketua pendekar aliran hitam terbakar lalu padam seketika. Di saat ia sibuk menahan busur yang di lepaskan terus menerus oleh Xio Light, Xio Fang langsung muncul di atas-nya.
"Aarrrgggg!!!" jeritan keras membuat para burung meninggal sarang-nya. Keadaan ketua pendekar aliran hitam begitu mengerikan dan mengenaskan. Tubuh-nya terbela* dan menampak-kan is* per** yang terurai.
"Hah.. hah.. hah..." nafas Xio Fang semangkin memburu. Tangan-nya bergetar dengan hebat, satu bilah pedang yang dia pegang lantas jatuh dan menghantam permukaan.
Bruk... tubuh-nya ambruk seketika. Tenaga dalam inti miliknya telah habis total. Ia kini pingsan.
***
Para manusia yang telah di cuci otaknya kini telah sadar sepenuh-nya. Mereka semua pulang atau kembali ke kota besar bersamaan dengan Armax. Kelompok Darah Biru tidak pulang dahulu, karena ingin memberikan senjata pusaka langit milik ketua pendekar aliran hitam, kepada pemilik desa Lyon.
"Terima kasih banyak atas pemberian ke-lima pendekar" ucap pemilik desa Lyon. Ia menerima senjata pusaka langit dengan senang hati.
"Senjata pusaka ini akan menjadi senjata legendaris yang ada di desa Lyon" ucap pemilik desa Lyon sambil tersenyum.
"Senjata ini memiliki aur* gelap, jadi gunakan senjata ini dengan sebaik-baik-nya" ucap Xio Light membuat pemilik desa syok sketika.
"Apa tidak kalian saja yang membawa-nya?" tanya sang pemilik desa.
"Tidak usah takut, aur* kegelapan akan hilang kalau senjata itu du gunakan untuk kebaikan" kali ini Xio Fang yang ber-bicara dan di balas anggukan oleh yang lain.
"Baiklah kala begitu, saya ucap-kan terima kasih banyak" pemilik desa tak henti-henti berterima kasih atas pemberian ke-lima pendekar.
"Sama-sama" jawab ke-lima pendekar sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Kami pamit ingin kembali ke kota besar" ucap Xio Light menutup topik pembicaraan. "Iya, hati-hati" ucap sang pemilik desa sambil tersenyum.
"Iya" jawab Xio Fang.
***
Ke-lima pendekar memacu kuda-nya dengan cepat. Tujuan mereka selanjutnya menuju pusat kota untuk mengambil bayaran. Setelah mengambil bayaran, Xio Light dan Xio Fang berencana ingin membeli beberapa tanaman berkhasiat tinggi dan beberapa pil penyembuh, penambah tenaga dalam dan sebagai-nya.
Malam hampir tiba ke-lima pendekar dengan kuda yang mereka tunggangi telah sampai di depan kota besar. Seperti biasa kota besar penuh dengan manusia.
Kota besar seolah menjadi lautan manusia. "Kita langsung ke pusat kota, lalu ke-asosiasi untuk membeli beberapa barang" ucap Xio Light sebelum memacu kuda-nya kembali.
Ke-empat pendekar yang menyandang gelar sebagai anggota mengikuti dari belakang. Nian Wang membuka topik pembicaraan tentang makanan, yang langsung membuat Lintian lapar.
"Di saat tiba di penginapan kita akan makan, lalu istrirahat" ujar Xio Light yang tau kalau anggota-nya lapar.
Asosiasi telah berada di depan mereka. "Ada yang bisa kami bantu tuan" tanya sang pelayan dengan senyuman khasnya.
"Ayo tuan silahkan lewat sini" ucap pelayan itu sambil memimpin jalan.
Beberapa barang telah di dapatkan. Kini Xio Light akan menbayar semua-nya.
"Total-nya semua seratus keping emas, empat puluh enam koin perak" ucap sang pelayan setelah menghitung semua-nya.
Xio Light langsung menyerah-kan satu kantong kain yang penuh akan koin emas dan perak. Koin itu di hitung dengan baik.
"Terima kasih banyak tuan, kalau ada yang di butuh-kan bisa kembali ke Asosiasi" ucap sang pelayan dengan nada suara yang begitu lembut.
"Sama-sama" jawab Xio Fang.
Sebelum kaki-nya melangkah keluar, mata kecil Xio Fang menatap sati benda yang memiliki energi yang kuat. Dua bilah pedang yang di pegangan-nya terdapat ukiran pedang.
__ADS_1
Xio Fang lantas mendekati pedang itu tanpa memikir-kan yang lain telah pergi dari Asosiasi. "Ada yang bisa di bantu" pelayan yang sedang bersih-bersih menghampiri Xio Fang.
"Berapa harga dua bilah pedang ini?" tanya Xio Fang sambil menunjuk ke-arah dua bilah pedang. "Kedua bilah pedang itu di hargai tiga ratus koin emas" jawab sang pelayan.
Xio Fang lantas menghitung beberapa koin emas yang ia milik-ki. "Tolong siapkan pedang ini, saya ingin membelinya" ucap Xio Fang yang merasa cukup.
Transaksi jual beli di lalukan. Setelah melakukan transaksi Xio Fang berjalan menelusuri kota tanpa kuda, kuda yang ia beli ia simpan ke dalam cincin ruang. Cincin ruang hanya dapat menyimpan lima benda hidup sahaja.
Wangi makanan tercium, wangi makanan itu menusuk indra penciuman Xio Fang.
Seketika perut-nya betgemuruh minta di isi. Tanpa banyak langkah, Xio Fang langsung berhenti di salah satu kedai yang menjual Bakpao.
Bakpao dengan isian kacang hijau begiry nikmat di santap di saat hangat. Malam ini juga sedikit dingin.
Di saat Xio Fang asik menikmati makanan milik-nya terjadi kegaduhan di samping kedai. "Apa kau tidak rela makanan mu ku ambil hah. Aku ini pangeran!" suara yang begitu besar keluar dari mulut anak yang bertubuh kecil.
"Rayi" gumam Xio Fang setelah melihat dalang-nya. Tanpa banyak tanya, Xio Fang langsung berjalan menuju pemilik kedai dan berapa harganya.
"Harganya lima puluh koin perunggu tuan" jawab pemilik kedai dengan tubuh yang bergetar dengan hebat.
"Ini terima lah" ucap Xio Fang memberikan lima koin perak. "Ini begitu banyak tuan" pemilik kedai terkejut.
"Tidak apa, ini untuk mu" ucap Xio Fang dengan lembut.
"Kau siapa, sepertinya banyak koin mu" tanya si biang keladi (putra kerajaan Xio atau Rayi dari Xio Fang).
"Aku pendekar baru, tidak banyak kok. Kalau membayar makanan mu sepertinya cukup" ucap Xio Fang meremehkam Rayinya.
Pangeran itu langsung marah, dan naik pitam. Ia tidak tau kalau di depan-nya adalah Raka-nya Xio Fang.
"Maksud mu apa hah. Apa kau merendahkan tuan kami" salah satu dari lima orang yang mnegenakan baju prajurit berkata tidak terima.
__ADS_1