
"Rayi selesaikan dengan cepat, matahari mau berganti bulan" teriakan lantang yang membuat Xio Fang mengeluarkan salah satu ilmu pedang tahap per-tengah.
Di saat lengah Xio Fang meluncur-kan serangan itu. Tubuh Pria itu terbelah du*. Isi bada*-nya terlihat dengan jelas, membuat para pedangang munta*-munta*.
***
Malam telah tiba, mereka semua memilih untuk mendirikan tenda untuk istrirahat. Kalaupun melanjut-kan perjalan akan begitu banyak halangan.
"Untuk para pendekar saya minta maaf, karena terjadi hal yang tidak terduga seperti ini. Saya pikir kalian akan melindungi kami dari hewan buas. Tapi tidak, saya akan membayar lebih" ucap pria itu dengan perasaan menyesal.
Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak terduga yang akan menimpa kelompok Darah Biru.
"Tidak ada apa, ini memang sudah menjadi kewajiban kami sebagai pendekar, harus melindungi orang yang memang harus di lindungi" balas Quen Yu dengan pengucapan yang begitu berwibawa.
"Tumben bijak Quen Yu, biasa.... " ucapa Nian Wang terhenti saat kakinya di pijak dengan keras oleh Quen Yu.
"Hahahahah... hahahhah.. hahhaha" semuanya tertawa akan sikap atau perilaku kedua temannya ini.
Malam yang begitu panjang di lewati dengan melihat bulan dan bintang-bintang yang bertaburan di langit. "Coba hal seperti ini terjadi lagi, pasti seru!" ucap Nian Wang yang di susul ketawa kecil.
"Ini semua karena ucapan mu Nian Wang, untung saja ada dua pendekar hebat di kelompok kita" Lintian memuji Xio Fang dan Xio Light secara tidak langsung.
"Sudah-sudah, ayo tidur ini sudah larut malam. Soal besok kita bicarakan besok" Xio Light berjalan meninggal-kan semuanya setelah mengucapkan dua kalimat.
Xio Fang langsung bangun dan mengikuti Rakanya menuju tenda khusus untuk para pendekar. Dan ikuti oleh yang lain.
Malam kini berganti pagi. Rembulan yang indah berganti dengan teriknya matahari. Di pagi sekali mereka telah melanjutkan perjalanan.
Sekisar empat puluh delapan jam lagi semua-nya akan tiba di kota besar. Kota yang penuh akan penduduk, banyak pedagang yang ke kota itu, sampai-sampai pedagang yang tinggal di pelosok bejualan di kota itu.
Xio Fang dan Xio Light sebenar-nya tidak ingin ke kota besar karena kerajaan Xio berdiri tegak tepat di tengah-tengah kota.
__ADS_1
Dengan terpaksa mereka harus ikut pergi juga. Mereka berdua takut identitas-nya terbongkar.
Di tengah perjalan terdapat se-ekor serigala dengan tubuh dua kali lipat dari ukuran biasanya. "Ketua ada serigala!" teriakan lantang membuat pria yang kini berbincang-bincang dengan para pendekar, menghentikan pembicaraan.
"Anda tudak perlu takut, biar saya yang mengurus-nya" ucap Quen Yu sambil mengeluar-kan Tombak kesayangan-nya dari cincin ruang.
"Xio Light kali ini biar aku yang melawan-nya, aku juga ingin jadi kuat" Xio Light membalas ucapan Quen Yu dengan anggukan kepala.
"Kalau tidak sanggup lagi mundur lah" ucap Xio Light dari dalam kereta kuda. "Baiklah" jawab Quen Yu dari luar.
"Rayi, keluarlah. Lindungi Quen Yu dari jarak jauh!" titah Xio Light kepada Xio Fang. Xio Fang yang mendapatkan titah dari Raka-nya langsung keluar, dan lompat ke salah satu dahan pohon.
Xio Fang kini sedang melihat dari atas, pertarungan begitu sengit. Quen Yu melawan kelompok serigala yang berkisar kurang lebih enam puluh delapan ekor.
Quen Yu mulai menarikn nafas lalu membuang-nya melalui mulut dengan kasar. Ia mulai mengalir-kan tenaga dalam ke tombak-nya.
Ujung tombak yang begitu tajam kini terselubung dengan tenaga dalam yang berwarna biru.
Kawanan serigala mulai menyerang Quen Yu dengan ganas-nya. Quen Yu mulai memutar tombaknya lalu menghunuskan-nya tepat di jantung.
Para pedagang yang tidak tahan alhasil memunta*-kan-nya. Xio Fang sekarang berada di depan kawanan para serigala yang telah tewas, ia melepaskan kulit serigala dari tubuhnya.
Xio Fang rencananya akan menjual kulit itu ke para pengrajin pakaian yang asa di kota. Xio Light juga ikut turun tangan ia membakar habis tubuh kawanan serigala yang tidak ada kulitnya lagi.
Sebagian ada yang lari tapi tidak di kejar, karena itu hanya hewan sahaja. Kecuali para pendekar aliran hitam, meraka akan menghabiskannya sampai tidak tersisa sama sekali.
"Hah ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Tubuh ku sakit semua" keluh Quen Yu sambil bersandar.
"Kita akan sampai sebelum matahari terbit ketua, karena masalah yang kita dapat-kan selesai dengan cepat" jelas salah satu supir kuda.
"Berita yang bagus" pria itu tersenyum senang karena tidak perlu istrirahat di alam terbuka, yang penuh dengan hewan buas.
__ADS_1
"Untuk para pendekar saya ucapkan terima kasih banyak. Soal banyaran akan saya tanbahkan dua kali lipat. Kalau kurang kalian boleh bilang kok" pria itu tersenyum senang.
"Sama-sama, saya mewakili semuanya juga mengucapkan terima kasih banyak" balas Xio Light.
***
"Rayi tidak meyangka Raka, kalau perjalanan ini membuat Rayi semangkin mengerti akan dunia pendekar" ucap Xio Fang dengan senyuman yang merekah.
"Seperti itulah Rayi. Dunia pendekar begitu kejam, yang kuat akan bertahan dan yang lemah hanya menjadi santapan yang kuat. Yang kuat akan menjadi boneka atau mainan yanh licik" jelas Xio Light panjang lebar sambil menyantap makanan yang mereka bawa dari sekte.
"Dunia pendekar adalah dunia yang menyenangkan" seperti biasa Nian Wang berbicara tanpa pikir panjang. "Iya seru kalau kau mati" celetuk Lintian yang mulai kesal dengan ucapan Nian Wang yang menjadi-jadi.
"Diamlah kau kurus" ejek Nian Wang untuk Lintian.
"Mendingan aku kurus kau itu seperti bab*. Taunya cuman makan tidur hahahhah" balas Lintian.
Xio Fang, Xio Light dan Quen Yu menepuk jidat karena melihat kedua teman-nya yang tidak pernah akur. Inin sekali memenggal kedua kepala-nya.
"Bisa diam gak sih!" ucap Quen Yu dengan nada tinggi.
"Kalau tiba mau, kau mau apa hah" tantang Nian Wang.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar" lerai Xio Fang.
***
Kereta kuda berhenti di tempat pemeriksaan. Pemandangan awal mereka dapat-kan adalah para pedagang, pembeli dan para pendekar.
Suasana yang riuh akan teriakan para pedangang untuk menarik perhatian para pembeli.
"Untuk para pendekar, mari kita isi perut dulu di tempat makan yang ada di sekitar" ajak pemilik dagangan.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti dari belakang. "Lintian di sini banyak banget wanita-wanita cantik" bisik Nian Wang tanpa rasa malu.
"Dasar mesu*" balas Lintian.