
Xio Fang kini berada di depan rumah pemilik desa, dengan banyak pendekar aliran hitam yang masih tidak sadarkan diri.
Para warga juga ikut melihat apa yang akan di lakukan oleh Xio Fang kepada pendekar aliran hitam. Xio Fang menepuk pelan wajah dari salah satu dari banyak pendekar.
"Hooaaammmmm... aku di mana?" pria yang memiliki berewokan bertanya. Ia seolah tidak tau apa yang terjadi tadi malam.
"Ini di desa Lyon" jawab Xio Fang lembut.
"Desa Lyon?, bukan-nya desa Kopasni?" pria yang berewokan itu memberikan dua pertanyaan sekaligus.
"Desa Kopasni?" Xio Fang bertanya kembali. "Iya desa Kopasni, desa yang penuh dengan pedagang yang ter-sesat salah satu itu diri-ku" jawab pria itu.
"Desa Kopasni?" pemilik desa tampak sedang berfikir. "Eh... Bukan-nya itu desa yang di juluki desa senjata" pemilik desa syok seketika.
"Maksudnya apa?, desa senjata?" kini Xio Light yang bertanya. Pemilik desa pun menceritakan tentang desa Kopasni atau nama lain-nya desa senjata.
Desa Kopasni ialah sebuah desa yang warga-nya memiliki bakat dalam membuat senjata. Dari pedang, panah, tombak sampai dengan boneka pembunuh. Boneka pembunuh yang di maksud ialah para manusia yang telah di cuci otak-nya.
Kedua pendeker yang sedang mendengar penjelasan pemilik desa mangut-mangut tanda mengerti. "Tapi aku tidak Rau di mana desa itu, karena desa itu begitu rahasia. Hanya para pedangang yang ter-sesat yang tau tempat itu" pemilik desa tampak murung.
"Apakah tuan tau di mana dea itu?" tanya Xio Light yang kini pandangan-nya beralih kepada pria yang berewokan. "Aku tidak tau, karena saat di bawa kedesa itu aku dalam keadaan tidak sadar kan diri. Tau-tau-nya aku sudah berada di desa itu" pria yang berewokan itu terlihat murung seperti pemilik desa.
"Kalau tidak kalian pura-pura tersesat. Kalau barang dagangan ada pada kami" usul salah satu warga.
"Iya, itu bisa kita lakukan Raka. Tapi pakaian-nya?".
__ADS_1
"Kalau pakaian tidak perlu risau, kami memiliki nya" warga desa yang lain menyahut. "Terima kasih semua, karena telah memudahkan pekerjaan kami" Nian Wang ber-kata seraya ter-isak bahagia.
"Itu memang harus kami lakukan, karena itu juga demi kebaikan kami. Kami ucapan terima kasih banyak" para warga desa mengucap-kan kata itu seraya bersamaan membuat Quen Yu meneteskan air mata merasa bahagia.
'Kau jangan senang dulu anak muda, di desa itu lebih banyak orang yang telah di cuci otaknya. Jadi kau harus menyiapkan banyak pil' suara itu bergema lagi.
"Baiklah" guman Xio Fang sambil tersenyum.
"Raka, Rayi izin pergi sebentar ya!" Xio Fang meminta izin kepada ketua-nya sekaligus Raka-nya.
"Iya, ingat hati-hati" jawab Xio Light yang membuat Xio Fang tersenyum senang.
****
Xio Fang telah berada di tengah-tengah hutan. Suara kicauan burung terdengar merdu di telinga. 'Ikuti arahan ku, mangka kau dapat mengumpul-kan bahan yang kau inginkan'.
Tanpa membuang waktu lagi, di tengah hutan yang begitu banyak akan ancaman, Xio Fang mulai mengeluarkan tungku emas dan menghidupkan api menggunakan tenaga dalam.
Bahan demi bahan masuk kedalam tungku, dan bersatu menjadi ratusan butir pil yang berwarna kuning ke-hijauan. Sudah merasa cukup pembakaran, Xio Fang menarik lagi tenaga dalam milik-nya.
'Seperti-nya sudah cukup' suara itu memenuhi pikiran dan hati Xio Fang. 'Kembali-lah ke desa, Raka mu sedang menunggu-mu untuk menyusun rencana untuk besok'.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Xio Fang langsung menyimpan tungku emas dan ratusan pil ke-dalam cincin ruang.
Satu tarikan nafas yang begitu di lakukan oleh Xio Fang dan menghembus dengan lembut. Di saat hembusan itu selesai di lakukan, Xio Fang sudah tidak ada lagi di tempat-nya.
__ADS_1
Ia bergerak lincah, melompati dahan pohon yang satu ke yang lain. Dahan pohon yang di pijak meninggal-kan bekas pijakan.
Tidak perlu tunggu lama, Xio Fang telah berada di depan rumah pemilik desa, dengan pintu yang terbuka dengan lebar. Di dalam menampakkan Raka-nya, pemilik desa dan ke-tiga teman-nya.
Xio Fang lantas langsung duduk si kursi yang kosong. Xio Light mulai membicarakan rencana yang ia buat sedari tadi di dalam pikiran. Xio Fang menyerah-kan beberapa ratus butir pil kepada Xio Light, Nian Wang, Quen Yu dan Lintian.
Mereka ber-empat menerima dengan senang hati. "Baiklah, pembicaraan kita cukup sampai di sini saja" Xio Light menutup pembicaraan.
Pemilik desa mengantar ke-lima pendekar menuju penginapan miliknya, yang tentu-nya pasti gratis atau percuma.
"Kalau ada yang di butuh-kan atau di perlukan panggil saja aku di rumah" pemilik ber-kata sebelum tubuh-nya hilang saat ia berbelok lorong.
"Kau dari mana saja Rayi, sudah dua kali kau izin. Dan saat sampai ke-desa kau menyearah-kan pil kecil ini?" tanya Xio Light sambil menunjukan pil kecil yang kini di apit oleh ibu jari dan jari telunjuk.
"Apa boleh Raka, kita bicarakan di dalam kamar saja" pinta Xio Fang yang di balas anggukan dan senyuman. "Kalian istrirahat-lah, kami juga mau istirahat" ucap Xio Light kepada tiga teman-nya Nian Wang, Quen Yu dan Lintian.
"Baiklah" jawab Nian Wang sambil menarik tangan Lintian. "Kenapa harus aku sih yang kau tarik, aku kan ingin menyantap makanan yang ada di menu" ujar Lintian merasa jengkel.
"Apa kau tidak mau seperti Xio Fang hah, menggunakan air suci untuk meningkatkan kemampuan. Aku tidak mau menjadi penghalang bagi mereka yang hebat" Nian Wang melepaskan tangan Lintian yang ia genggam.
"Eh.. Baik lah ayo" kini malah Lintian yang menarik tangan Nian Wang menuju kamar yang telah di siapkan oleh pemilik desa. Kamar kelas atas yang di miliki penginapan.
Quen Yu berjalan lesu menuju kamar-nya. Seperti biasa bosan menghampiri diri-nya. Ia memeluk ke-dua kaki dengan kedua tangan-nya. Andai-kan Ayunda-nya tidak terbunuh saat di dalam hutan.
"Ini semua salah-ku. Aku tidak dapat melindungi Ayunda ku sendiri hiks... hiks..." Quen Yu menangis saat memori masa lalu yang kelam memutar-kan hal yang begitu tragis.
__ADS_1
Ia tidak percaya, kalau Ayunda yang ia cintai terbunuh dengan sadis di depan mata-nya, hanya demi melindungi dirinya.
"Andaikan aku tidak merengek untuk ikut Ayunda, pasti aku masih bersama Ayunda" Quen Yu mengutuk waktu dan tempat di mana Ayunda-nya terbunuh. Buliran demi buliran air mata mulai membasahi pipi lembutnya.