
Sesampainya di desa, pemandangan yang indah pertama kali di sungguh-kan untuk ke-lima pendekar.
"Jangan terlalu terpukau, karena ini hanya ilusi" bisik Xio Light kepada Nian Wang. "Em... baiklah" ucap Nian Wang seraya mengaruk kepala.
"Ingat jangan pernah terima makanan yang telah di berikan" ucap Xio Light pelan tapi masih dapat di dengarkan oleh ke-empat pendekar lain-nya.
Ke-empat pendekar itu membalas ucapan Xio Light dengan mengangguk. "Ayo silahkan masuk" ucap pria itu seraya membuka pintu.
"Terima kasih banyak tuan" jawab mereka secara ber-samaan.
***
Pagi yang cerah kini berganti malam yang begitu gelap. Hawa dingin langsung mengelus kulit ke-lima pendekar. "Bau dupa" ucap Quen Yu yang seketika langsung di tutup hidung-nya oleh Lintian.
"Jangan di hirup. Ini dupa pencuci pikiran" ucap Lintian sambil menutup hidungnya. "Sebaiknya kita keluar" ujar Xio Light yang di ikuti oleh anggota-nya.
Sesampainya di luar rumah milik pria itu, para manusia yang telah di cuci otaknya berkumpul. "Sudah ku duga, pasti kalian orang suruhan" pria yang membawa kelima pendekar itu ter-tawa dengan keras.
__ADS_1
"Hati-hati" ucap Xio Light.
"Serang" ucap pria itu. Para manusia yang telah di cuci otaknya langsung menggunakan senjatanya. Mereka langsung bergerak dengan cepat.
"Berpencar" ucap Xio Light.
"Baik" jawab ke-empat pendekar yang lain. Dalam hitungan detik ke-lima pendekar sudah tidak berada lagi di depan rumah pria itu.
Mereka pergi sesuai arah. Xio Fang ke-arah utara, Xio Light ke-arah selatan, Nian Wang ke-arah barat, Quen Yu ke-arah timur dan Lintian ke-arah barat daya.
***
"Maju kalian semua" tantang Quen Yu sambil mengeluarkan tombaknya. Tombak yang ber-ukir naga memancarkan cahaya sementara lalu menghilang.
"Hupp.... hah.... " satu tarikan nafas membuat tubuh Quen Yu hilang dari pandangan. "Makan ini" Quen Yu tidak menyerang melainkan memasukan satu pil kepada satu lawannya.
Satu lawan tumbang. Lawan yang melihat teman-nya menjadi tambah liar.
__ADS_1
"Seperti aku harus serius" ucap Quen Yu seraya menggigit ibu jarinya sampai berdarah lalu meneteskan di ujung tombak.
Ujung tombak lantas di selubungi oleh aura merah darah. "Aku pasti bisa, jadi-lah seperti Ayunda" kata-kata itu terus tergiang di dalam benak dan hati-nya.
Semangat yang begitu membara, pupil mata yang ber-warna hitam langsung beruban menjadi warna merah darah.
Zras.... suara ranting kayu patah terdengar saat tubuh Quen Yu hilang dari pandangan. Trang.... tombak beradu dengan kapak "sepertinya kalian tidal di remehkan" Quen Yu tersenyum lalu menghilang lagi.
Hilang muncul, hilang dan muncul lagi itu yang di lakukan oleh wanita satu ini. Lawan demi lawan mulai mulai tumbang, dengan sigap Quen Yu memasukan pil ke dalam mulut lawannya.
Tanpa terasa lawan yang tinggal hanya tersisa lima. Lawan yang begitu tangguh. Zras... salah satu dari mereka hilang dan muncul di samping Quen Yu. Quen Yu yang terkecoh dengan lawan-nya yang lain, lantas terkena pukulan yang begitu dahsyat.
Tubuh-nya terlempar sejauh lima belas meter dan berhenti menghantam batu besar.
"Uhuk..." darah keluar dari Quen Yu dan membasahi baju-nya. Penglihatan-nya remang-remang.
"Aku sudah tidak tahan lagi" ucap itu yang keluar dari mulutnya sebelum kesadaran miliknya hilang.
__ADS_1