
Di dalam hutan yang begitu gelap. Seorang pendekar wanita masih melanjut-kan semedi-nya. Di alam bawah sadar ia di ajarkan banyak ilmu atau teknik bertarung menggunakan tombak.
Tanpa di sadari malam yang dingin kini berganti dengan pagi yang hangat. Wanita itu menghentikan semedi-nya. Banyak perubahan pada tubuh-nya. Bukan hanya tubuh-nya yang berubah, melainkan ilmu atau teknik bertarung-nya juga, menjadi lebih hebat.
"Sebaiknya aku kembali ke-desa sebelum Rencana di mulai" gumam wanita itu seraya mengambil tombak yang berada di samping-nya dan kendi yang berisi air suci tepat berada di depan-nya.
Tombak langsung ia letak-kan di punggung-nya. Kendi yang berisi air suci langsung ia simpan di cicin ruang.
***
Ke-empat pendekar muda kini merasa jenuh karena sedang menunggu seseorang. "Maaf semua-nya" orang yang di tunggu adalah Quen Yu.
"Seperti ada yang ber-beda dari mu" ucap Nian Wang sambil memperhatikan lekak-lekuk tubuh Quen Yu. "Dasar mesu*!" ucap Quen Yu sambil memukul kepala Nian Wang.
__ADS_1
"Hehhe, maaf" ucap Nian Wang tanpa dosa.
"Ya sudah ayo!" ucap Xio Light sambil naik kereta kuda yang telah di siap-kan oleh para warga atau penduduk desa.
"Rayi cepat". Xio Fang yang masih asik memperhatikan beberapa pedang lantas terlonjak kaget "maaf Raka" ia langsung menyimpan ke-lima pedang dalam cincin ruang.
Xio Fang langsung duduk di samping Raka-nya. Nian Wang, Quen Yu dan Lintian duduk di dalam kereta kuda dengan barang dagangan. "Wuih ada buah juga di siapkan" Nian Wang mengambil satu apel lalu memberikannya satu gigitan besar.
"Xio Light, Xio Fang apa kalian mau buah-buahan?" tanya Quen Yu dari dalam kereta kuda. "Boleh juga" jawab Xio Light.
"Kalian antarkan sebagian buah untuk Xio Fang dan Xio Light!". Kedua laki-laki itu hanya menuruti perintah yang di berikan oleh Quen Yu.
"Terima kasih" Xio Fang ber-terima kasih kepada dua teman-nya. "Sama-sama" balas Nian Wang yang masih sibuk dengan buah yang di tangan-nya.
__ADS_1
Di pertengahan jalan, kereta kuda lantas berhenti. "Raka ini bukan rencana yang kita buat" ucap Xio Fang yang merasa aneh apa yang kini sedang terjadi.
Padahal tadi jalan masih baik-baik saja tapi kini malah tersesat. "Hati-hati Rayi, ini sepertinya rencana para pendekar aliran hitam" bisik Xio Light.
"Rayi masuk kedalam kereta, dan beritahu mereka apa yang sedang terjadi!". Tanpa di bilang dua kali Xio Fang langsung berjalan dan masuk kedalam kereta kuda. Ia langsung memeberitahu apa yang sedang terjadi.
"Baiklah" jawab Quen Yu. Dari arah barat hutan keluar-lah seseorang pria paruh baya. "Kalian mau kemana?" tanya pria itu.
"Kami mau ke kedesa sebelah, tapi kami malah ter-sesat" ucap Xio Light.
"Di sini adalah jalan buntu. Langit juga mau meneteskan air dengan deras-nya. Kalau tidak keberatan mari mampir ke rumah saya" tawar sang pria paruh baya yang di-balas anggukan oleh Xio Light.
Kuda langsung di pacu dengan kecepatan normal. Sebelum hujan membasahi bumi, ke-lima pendekar dan seorang pria paruh baya telah sampai di desa yang entah apa namanya.
__ADS_1