Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 11


__ADS_3

Di tempat lain yang bukan adalah ruangan pelatihan, terdapat banyak pendekar yang sedang berlatih.


"Quen Yu, ada berapa lingkaran tenaga dalam milik mu?" tanya Xio Nigt sebelum memulai latihannya. "Saya memiliki seratus lingkaran tenaga dalam guru" jawab Quen Yu dengan nada suara yang begitu berwibawa.


"Kamu belum bisa dapat menggunakan senjata tombak, sebelum tenaga dalam kamu tepat lima tiga ratus lingkaran. Jadi hari pertama kamu tingkat-kan sahaja tenaga dalam mu. Ini tanaman yang dapat membantu kamu".


"Kamu boleh menyerap khasiat tanaman ini di mana sahaja, di paviliun pun boleh" ucap Xio Nigt yang membuat Quen Yu mengangguka lalu berkata "baik guru, terima kasih banyak. Saya akan kembali ke paviliun".


Paviliun : Paviliun adalah sebuah rumah yang tidak terlalu besar, biasaya paviliun di buat dari bambu yang saling terikat untuk menutupi bagian dalam. Paviliun di siapkan oleh ketua sekte untuk para pendekar pemula.


"Lintian, saya memiliki seratus sepuluh lingkaran tenaga dalam guru" ucap Lintian dengan postur badan yang begitu gagah, dan suara yang begitu berwibawa.


"Ini ambillah, kamu belum cukup tenaga dalam. Tiga hari lagi datanglah agar kita memulai latihannya" ucap Xio Nigt dengan senyuman yang begitu menyejuk kan hati.


"Ini juga untuk mu Nian Wang". "Terima kasih banyak guru" ucap mereka bersamaan seraya membungkuk.


***


Tiga hari telah berlalu, Xio Fang dan Xio Light bangun dari meditasinya atau bangun dari alam bawah sadarnya.


Di depan mata Xio Fang terdapat Xio Nigt dengan senyuman yang merekah, begitu pula di depan mata Xio Light terdapat Zuanzi.


"Ayo bersihkan diri dulu" ucap mereka berdua dari dua penjuru yang berbeda. Kedua anak yang di ajak untuk membersihkan diri langsung mengangguk.

__ADS_1


Dengan lankah gontai dan begitu lemah mereka berjalan menuju danau yang telah di siapkan oleh Zuanzi. Di danau itu bukan hanya mereka berdua sahaja, di danau itu terdapat Nian Wang dan Lintian yang sedang berbincang-bincang.


Quen Yu yang hanya wanita sendiri berendam di danau lain, ia tidak sendiri melainkan dengan murid wanita Zuanzi. Quen Yu dengan cepat beradaptasi dengan mereka, Quen Yu yang paling dekat sama seorang wanita yang berumur tak jauh darinya.


Tidak selang lama, kelima pendekar pemula kini telah berada di depan Xio Nigt dan Zuanzi. "Baik lah, kalian ber-lima akan saya latih menggunakan senjata dengan benar" ucap Xio Nigt.


Mereka berlima pun di ajarkan dengan baik dan lembut. Walaupun Quen Yu dan Xio Fang mendapat-kan kesulitan saat menggunakan senjata mereka, tapi bukan Xio Nigt si maha guru kalau tidak dapat bisa menyelesaikan-nya.


Mata hari kini telah berada di antara dua penjuru lebih tepatnya di tengah-tengah. Hawa panas mulai menyebar dengan cepat.


"Hah...hah.. capeknya" ucap Nian Wang dengan nafas yang tidak beraturan lagi. Bukan hanya Nian Wang melainkan semuanya.


"Silahkan diminum" ucap seorang wanita yang di telapak tangannya terdapat sebuah mampan yang di atas-nya terdapat cangkir yang terbuat dari kayu.


"Terima kasih Guru" ucap mereka bersamaan.


"Sama-sama, tetap semangat latihannya" ucapnya dengan senyuman yang terukir indah, lesung pipinya terlihat sangat jelas saat ia tersenyum. Siapa sahaja yang melihatnya akan jatuh cinta.


Ia juga sudah mendapatkan banyak lamaran pernikahan dari pria yang hanya ingin kecantikan wajahnya. Tapi dengan mantap ia menolak lamaran itu, karena ia tau maksud dari pernikan itu.


Kita kembali ke tokoh utama kita. Kelima pendekar yang sedang bersantai langsung beranjak dari bersantai-santainya. "Bagaimana latihan kalian?" tanya Xio Nigt dengan kedua tangan berada tepat di belakang punggung-nya.


"Latihan kami berjalan dengan lancar guru" jawab mereka dengan mantap membuat siapa saja yang melihatnya tersenyum. "Bagus, latihan hari ini kita cukupkan sampai di sini saja. Kalian boleh beristirahat" ucap Xio Nigt yang berlalu dari hadapan mereka.

__ADS_1


Mereka berlima langsung beranjak dan berjalan menuju sebuah tenpat yang begitu indah.


***


Di tempat lain, di mana seorang anak perempuan berlari dari kejaran para pria yang memiliki tubuh yang begitu kekar. Selain memiliki tubuh yang kekar pria itu juga memiliki wajah yang begitu seram.


"Kejar sampai ia tertangkap" suara yang begitu berat dan serak keluar dari mulut salah satu dari mereka. "Baik tuan" jawab mereka yang mempercepat langkah mereka.


"Kalian tidak akan mendapatkan kitan ini wahai manusia iblis" ucap wanita itu dengan darah yang terus mengalir dari luka yang ia dapat-kan.


Dengan kemampuan meringankan tubuh tahap tiga, wanita yang tidak di kenali identitasnya berlari dan melompat dari pohon ke pohon lainnya.


"Kejar terus!!!" ucap suara yang kini yang meninggi. "Kalau bisa rubah licik" ucap-nya yang membuat amarah yang kini di tahan oleh pendekar yang mengenakan busana serbag Silver.


Dengan amarah yang terus bergejolak hebat, sebuah pisau yang mengandung tenaga dalam melesat dan melewati daun telingan milik si wanita tersebut.


Tapi dengan lihai-nya ia mengelak. Pisau yang tidak mengenai target hasilnya tertancap di salah satu pohon yang memiliki lebar lima jengkal jari pria dewasa.


Tidak lama wajah wanita itu berubah dari yang murung kini menjadi senang atau ceria. Bagaimana tidak ceria di depannya terdapat sebuah sekte yang memiliki banyak murid.


Di lapangan sekte terdapat banyak pendekar muda yang tidak bisa di hitung dengan tangan.


"Mundur semuanya, di depan ada sekte aliran putih" ucap pria itu yang membuat semua pengikutnya mundur kebelakang lalu menghilang dengan cepat.

__ADS_1


Karena takut akan terjadi bentrokan dari aliran hitam dan putih. Mereka juga tidak mau memberikan nyawa mereka dengan sepenuh hati.


Wanita itu terus berlari dan masuk kedalam sekte. Saat dirinya memijakan tanah di dalam sekte tubuhnya tumbang karena kehabisan darah.


__ADS_2