
"Ini semua salah-ku. Aku tidak dapat melindungi Ayunda ku sendiri hiks... hiks..." Quen Yu menangis saat memori masa lalu yang kelam memutar-kan hal yang begitu tragis.
Ia tidak percaya, kalau Ayunda yang ia cintai terbunuh dengan sadis di depan mata-nya, hanya demi melindungi dirinya.
"Andaikan aku tidak merengek untuk ikut Ayunda, pasti aku masih bersama Ayunda" Quen Yu mengutuk waktu dan tempat di mana Ayunda-nya terbunuh. Buliran demi buliran air mata mulai membasahi pipi lembutnya.
Flasbhack on :
"Ibunda, Ayunda pergi dulu ya" ucap seorang gadis yang menegenak topi jerami. "Iya, ingat hati-hati" jawab seorang wanita paruh baya dari arah dapur.
"Ayunda aku mau ikut" ucap seorang anak kecil. "Quen Yu di rumah aja ya, temani ibunda" balas gadis itu. "Gak mau, mau-nya ikut Ayunda" anak kecil itu bernama Quen Yu, ia terus merengek sampai suara lembut terdengar "Ayunda kau bawa saja Quen Yu, ia akan terus merengek apa bila engkau tidak membawa-nya. Kau juga bisa suruh dia mengangkat kayu bakar".
"Baik Ibunda, ayo Quen Yu naik kepunggung Ayunda" ucap gadis itu sambil berjongkok, agar Quen Yu dapat naik dengan mudah.
Anak kecil itu begitu senang, ia tersenyum. Senyuman yang indah itu malah membawa akan bahaya.
Di saat ingin pulang ke-rumah, kedua wanita itu di hadang oleh orang yang tidak di kenal. Perawakan mereka begitu mengerikan, penuh luka sayatan di wajah dan tangan.
"Mau kemana nona" salah satu dari mereka mencolek dagu gadis yang sedang mengandeng tangan kecil Quen Yu.
"Jauh-kan tangan mu" gadis itu menepis dengan keras membuat pria yang di depan-nya emosi.
"Wanita itu tidak boleh kasar" pria itu berusaha untuk sabar. "Quen Yu lari-lah sejauhnya, jangan hiraukan Ayunda, apa bila Ayunda mati di sini, mangka mati ini adalah suatu kehormatan bagi Ayunda untuk keluarga" gadis itu ber-ucap sambil mendorong pelan tubuh kecil Quen Yu.
Quen Yu pun langsung ber-lari sejauh mungkin lalu kembali dan mengintip di balik pepohonan. Ia melihat Ayunda-nya bertarung dengan sengit.
"Ibunda, Ayahanda, maaf kan Ayunda yang tidak bisa menemani kalian lagi!" seru gadis itu sebelum lehernya berpisah dari badan.
__ADS_1
Quen Yu kecil langsung membungkam mulut-nya serapat-rapat-nya. Ia berlari dengan cepat meninggalkan tempat di mana Ayunda-nya terbunuh dengan sadis.
Air mata membasahi pipi lembut Quen Yu. Tanpa ia sadari kaki-nya terluka karena terkena tanaman berduri, ia tidak merasakan sakit itu sama sekali, kini pikiran-nya berkecamuk dengan hebat.
Ia mengutuk diri-nya sendiri karena Ayunda-nya terbunuh karena diri-nya. Andaikan tidak ada diri-nya mangka Ayunda-nya akan selamat.
Mungkin dengan berlari secepat-cepat-nya, atau ber-sembunyi di antara pohon.
Quen Yu terus berlari sampai di depan rumah-nya. Ayahanda-nya yang berada di depan pintu langsung ber-lari dan mendekati. Dan memeluk dengan erat, ia sudah menduga apa yang terjadi.
Kenapa bisa tau?... Karena kasus ini telah terjadi berulang-ulang kali. Quen Yu terus menangis di dalam dekapan Ayahanda-nya sembari menyelahkan dirinya sendiri.
"Ini bukan salah mu nak, ini memang sudah takdir tuhan. Masuk lah kedalam rumah. Biar Ayahanda membawa pulang jasad Ayunda mu".
Flasbhack off
'Jangan salah-kan diri-mu. Jadilah lebih kuat, lindungi orang yang kau sayangi dan orang yang pantas kau lindungi' kata-kata penyemangat terus ber-seru di dalam pikiran dan hati Quen Yu.
"Baiklah" Quen Yu bergumam, dengan niat yang kuat. Ia keluar dari penginapan lewat jendela.
Quen Yu terus berlari sampai ke-tengah hutan. "Seperti-nya di sini bisa" ucap Quen Yu sembari mengeluar-kan kendi yang penuh dengan air suci. Ia mulai duduk bersila, dan memejamkan mata.
Penutup kendi, terbuka dengan sendiri. Air suci mulai mengambang di atas permukaan udara, air suci itu lantas masuk kedalam tubuh Quen Yu, memperkuat fisik dan menambahkan tenaga dalam.
'Air suci itu dapat meningkat senjata milik-mu menjadi senjata pusaka'. Tanpa banyak bicara Quen Yu langsung mengeluarkan tombak-nya dari cincin ruang.
Tombak itu berdiri tegak di sebelah kanan Quen Yu. Air suci yang berada di dalam kendi, bergerak dengan cepat dan masuk kedalam tombak. Tombak itu langsung berevolusi. Tombaknya menjadi lebih kecil tapi memanjang. Ujung tombak menjadi lebih pipih tapi memiliki ketajaman yang hebat.
__ADS_1
Walaupun ujung tombak yang begitu pipih, tapi memiliki daya tahan yang begitu hebat.
Sekelebat bayangan yang berwarna merah masuk kedalam tombak milik Quen Yu. Tombak yang tadinya polos kini berukir gambar naga.
****
Di ruangan yang berukuran lima kali lima. Dua anak le-laki sedang duduk berhadapan. Tapi beda ketinggian.
Xio Light duduk di atas kasur dan Xio Fang duduk di bawah (di atas permukaan kayu/dasar ruangan). Dalam sekejap tungku emas telah berada di depan kedua anak ter-sebut.
"Tungku apa ini Rayi?" tanya Xio Light.
"Ini tungku emas Raka, tungku yang di berikan oleh orang tang tidak terkenal. Tungku ini memiliki kualitas yang terbaik dari seluruh tungku" jelas Xio Fang.
"Kegunaannya apa?" Xio Light yang sejak dulu tidak pernah ingin tau tentang tungku, kini ber-tanya karena ingin tau saja.
"Kegunaan-nya dapat meracik atau membuat pil obat dan peningkat kemampuan. Seperti peningkat tenaga dalam, daya tahan tubuh. Tapi itu memiliki waktu tersendiri, apa bila bahan yang di gunakan adalah bahan yang bagus atau berkualitas, mangka pil obat atau peningkat kemampuan, akan memiliki kualitas yang bagus pula" Xio Fang menjelaskan secara rinci dan panjang.
"Oh.. " hanya itu yang keluar dari mulut Xio Light tapi di balas senyuman oleh Xio Fang.
"Coba tunjukan bagaimana cara-nya" Xio Light bersemangat, ingin melihat bagaimana cara meracik berbagai pil.
"Baiklah Raka" jawab Xio Fang sambil mengeluar-kan beberapa tanaman obat.
Api langsung membara dan membakar tungku emas. Tidak perlu tunggu lama, tanaman obat yang di dalam tungku sudah berubah menjadi satu pil yang berukuran sedang.
"Raka, telan lah pil ini" ucap Xio Fang sambil memberikan pil yang ada di tangan-nya kepada Xio Light.
__ADS_1
Tanpa di bilang dua kali Xio Light langsung menelan pil itu. Dalam sekejap luka luar yang berada di dada Xio Light hilang tak berbekas.