
Malam yang tadi-nya senyap kini menjadi riuh akibat pertarungan senjata yang terjadi di atas permukaan udara. Senjata yang saling beradu mengganggu waktu tidur para hewan.
Para kawanan burung terbang dengan cepat mencari tempat yang aman. Para rusa langsung ber-lari dengan cepat. Para kelinci masuk kedalam tanah.
Seorang wanita yang berada tidak jauh dari kejadian itu mulai berkeringat. Ia mendapat-kan kendala dalam mengendalikan senjata milik-nya.
Pikiran-nya menjadi buyar dalam seketika. Tanpa banyak pikir Quen Yu langsung menyatukan kembali tombak yang berpecah.
Dan bergerak cepat mengambil tombak milik-nya yang hampir jatuh ketanah.
Nian Wang dan Lintian membuka mata, dan langsung melihat siapa orang yang datang. "Quen Yu" ucap mereka berdua secara serempak.
"Eh... " Quen Yu langsung gugup.
"Maaf telah mengganggu latihan kalian" Quen Yu meminta maaf sambil menunduk. "Kau sama sekali tidak mengganggu latihan kami, melainkan membuat kami menjadi lebih baik dalam mengendalikan senjata gabungan. Kalau tidak merepotkan ayo latihan bersama?".
"Baik-lah Nian Wang" Quen Yu menjawab. Ia mulai duduk lagi dan memejamkan mata. Tombak-nya mulai mengambang dan memecah diri.
Malam itu menjadi malam yang ribut. Malam yang begitu lama bagi ke-tiga pendekar itu. Latihan terus berlanjut sampai esok pagi. Para hewan yang terlelap terganggu dan memilih pergi untuk mencari tempat yang tenang.
Pagi telah tiba..... Ke-tiga pendekar telah kembali ke sekte. Tubuh yang begitu lemah. "Kalian ber-tiga dari mana saja?... Tadi malam saya periksa kalian tidak ada?" tanya pendekar wanita yang telah menjadi penjaga sekte. Wanita yang di depan mereka bertiga bukan sembarang pendekar, wanita yang di hadapan mereka di julukan dengan putri jarum racun.
Ia begitu berbakat dalam mengendalikan jarum yang berlumuran dengan racun. "Berikan mereka lewat Lex Ciun, mereka bertiga tadi malam melakukan hal yang tidak pernah di lakukan oleh para murid sekte" entah dari mana Xio Nigt muncul.
Kemunculan Xio Nigt membuat Lex Ciun terkejut dan tersontak berpindah tempat. "Maaf kan saya tuan guru" Lex Ciun memohon maaf sambil membungkuk.
"Sudah tidak apa, kembali-lah. Perhatikan anak-anak lain".
__ADS_1
"Baik tuan guru, saya izin pamit dulu" Lex Ciun langsung beranjak pergi dan meninggal-kan Xio Nigt dan ketiga pendekar pemula.
"Kalian kembali-lah ke paviliun, istrirahat-lah sampai kalian ingin-kan" ucap Xio Nigt dengan senyuman yang terukir indah di wajah-nya yang mulai berkerut.
"Terima kasih banyak guru" ucap ke-lima tiga pendekar dan pergi meninggal-kan Xio Nigt.
***
"Raka sebaik-nya kita lakukan sekarang saja" ucap Xio Fang.
"Baik-lah Rayi, ini senjata milik-mu" Xio Light mengeluar senjata dari ruang hampa. Terdapat lima senjata yang mengeluar-kan aura hitam yang begitu pekat.
"Hati-hati lah jangan sampai Rayi terhipnotis dengan aura hitam itu" ingat Xio Light.
"Iya Raka". Xio Fang mulai fokus dengan senjata yang di hadapan-nya. Lima senjata yang ia dapat dari hasil menyelesaikan misi akan ia lebur dan di satukan dengan pedang pusaka langit milik-nya.
Melakukan penyatuan memiliki banyak manfaat salah satu-nya: dapat menguatkan senjata pribadi, dapat menghilangkan aura hitam dan begitu pula sebalik-nya.
Dengan hati-hati Xio Fang memasukan cahaya itu kedalam senjata milik-nya. Keringat dingin berkucur dengan deras dan membasahi baju Xio Fang.
****
Satu minggu lewat begitu saja. "Tuan guru!!" ucap seorang murid sekte Xio dengan nafas yang terengah-engah. "Iya ada apa murid-ku?" tanya Xio Nigt.
"Tuan guru ada surat untuk tuan guru" murid itu menyerah-kan satu gulungan dengan kualitas terbaik. "Dari siapa?" tanya Xio Nigt yang masih belum membaca isi dari surat itu.
"Tidak tau guru, surat ini di bawakan oleh burung merpati" jelas sang murid membuat Xio Nigt mengangguk. Setelah murid itu pergi baru Xio Nigt membuka surat itu.
__ADS_1
Selama lima menit Xio Nigt membaca. Setelah selesai membaca surat itu Xio Nigt mengusap wajah-nya. "Apa harus mereka?" tanya Xio Nigt kepada diri-ya sendiri.
"Apa kau tidak yakin suami ku, mereka kan anak yang berbakat" entah dari mana Zuanzi muncul dan membuat Xio Nigt terlonjak kaget. "Astaga, sejak kapan kau berada di sini Zuanzi?" tanya Xio Nigt sambil mengacak rambut istri-nya Zuanzi.
"Sejak kau serius baca surat itu" jawab Zuanzi sambil menggerak-kan alis-nya atas ke bawah. "Ini masalah rumit, aku tidak pasti mereka bisa lakukan ini" ucap Xio Nigt sambil mengusap wajah lalu menggeleng.
"Tadi malam kau sendiri melihat mereka latihan dengan keras. Kalau mereka tidak mencoba kemampuan mereka, apa mereka bisa yakin. Kalau kemampuan mereka dapat memadai?" tanya Zuanzi sambil tersenyum simpul.
"Baik-lah, aku akan mengirim mereka besok" Xio Nigt membalas ucapan istri-nya dengan nada memelas.
***
Keesokan hari-nya "aku tidak sabar" ucap Nian Wang sambil tersenyum. "Ya tidak sabar di tebas kepala kau.... hehehe" ledek Lintian yang membuat gelak tawa semua orang.
"Xio Light berjanji-lah kepada ayahanda kau dapat melindungi seluruh anggota mu!" Xio Nigt menautkan kelingking-nya. "Berjanji" Xio Light juga menautkan kelingking-nya.
"Kalau begitu kami pergi dulu ayahanda ibunda" Xio Fang berkata demikian mewakili ke-tiga teman-nya dan satu Raka-nya.
"Iya, jaga diri kalian baik-baik" balas Zuanzi.
Perjalanan kini sedikit membosankan, tidak ada hal yang menegang-kan. Ke-lima pendekar duduk di atas punggu kuda dengan wajah yang begitu kusut.
Xio Fang berusaha mencari aktivitas, ia begitu bosan. 'Apa yang harus ky lakukan ya?' tanya-nya kepada diri sendiri. Wajah-nya begitu masam, rambutnya yang panjang begitu kusut.
Entah kenapa Xio Fang melompat dari atas punggu kuda lalu mendarat di dahan pohon. "Ada apa Rayi?" wajah Xio Light seketika berubah menjadi khawatir.
"Eh... tidak ada apa-apa Raka, Rayi hanya ingin mengambil ini" jawab Xio Fang tanpa merasa betsalah. Ia menunjukkan buah Apel yang berwarna merah pekat, yang langsung di rantap oleh Nian Wang.
__ADS_1
Tanpa dosa Nian Wang memakan buah apel itu dengan lahap-nya. Xio Fang yang melihat-nya tertawa kecil lalu memetik apel yang lain dan memberikan kepada Raka-nya dan kedua teman-nya yang lain.
Perjalan tidak sebosan tadi, perjalan kali ini di isi dengan perbincangan yang membuat gelak tawa.