Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 7


__ADS_3

Setelah mereka makan dengan puas mereka di ajak menuju sebuah ruangan yang tidak pernah di ketahui oleh banyak orang, karena Xio Nigt begitu melindungi ruangan ritual itu.


"Ruangan apa ini ayahanda?" tanya Xio Light yang tidak pernah mengetahui ruangan yang sekarang ada di depan-nya. "Ini sebenarnya ruangan khusus untuk ritual" jawab Xio Nigt yang langsung mendorong pintu yang terbuat besi yang begitu tebal.


Pandangan yang pertama kali mereka lihat ialah susunan benda-benda yang tidak mereka ketahui. Di dalam ruangan itu terdapat 3 zirah perang yang terbuat dari Emas dan intan.


Bukan hanya ada zirah melainkan ada puluhan ribu gulugan kuno yang berada di rak yang terbuat dari batu yang begitu kuat. "Wow" ujar Xio Fang yang takjub akan apa yang ia lihat, ia langsung mengikuti Xio Light yang berjalan mengelilingi ruangan.


"Rayi coba lihat, ada dua senjata pusaka yang saling berhubungan" ucap Xio Light yang melihat senjata pusaka yang akan menjadi milik-nya dan Xio Fang secara sah atau utuh.


"Ia Raka, lihat lah kualitas dari pedang ini, begitu tajam" ucap Xio Fang sambil memperhatikan pedang yang tergeletak di atas meja batu.


"Ayahanda, ini panah apa kok tidak ada busurnya?" tanya Xio Light saat melihat panah yang begitu, tapi sayang-nya tidak ada busur satu pun.


"Itu adalah panah energi, busur akan tercipta saat tali panah di tarik, yang pastinya harus menyalurkan tenaga dalam. Tenaga dalam juga dapat di ubah menjadi elemen yang kita inginkan. Dengan cara meditasi di suatu tempat" jawab Xio Nigt.


"Mas, tengah malam sebentar lagi" ucap Zuanzi kepada Xio Nigt, Xio Nigt yang mendapatkan informasi dari istrinya hanya mengangguk sahaja.


Bulan yang sedikit lagi tepat di tengah-tengah, sebuah cahaya yang menyilaukan mata lantas keluar dari ruang hampa. Tidak lama setelah itu cahaya yang menyilaukan itu mengeluar jiwa manusia yang tiada lain ialah leluhur.


Sang leluhur akan campur tangan, saat ritual akan di mulai. Xio Nigt dan Zuanzi yang melihat leluhur langsung berlutut.

__ADS_1


Xio Fang dan Xio Light yang kebingungan saat melihat ayahanda dan ibundanya langsung menoleh kiri dan kanan, saat mata mereka berdua bertuju kepada sang leluhur yang sambil mengelus jenggot-nya langsung ikut berlutut juga lalu berkata "hormat kami kepada leluhur" ucap mereka secara bersamaan.


"Bangunlah, jangan sungkan" ucap leluhur yang membuat mereka berempat bangun. "Bagaimana Xio Nigt, apakah semuanya sudah engkau siapkan?" tanya leluhur dengan lembut-nya.


"Sudah leluhur, sejak tadi siang sampai sekarang kami telah menyiapkan" jawab Xio Nigt dengan suara yang tidak kalah lembut dari leluhur.


"Bagus, saya ucapkan terima kasih" ucap leluhur yang langsung berjalan, enggak lebih tepatnya melayang di atas permukaan tanah. Leluhur melayang menuju kedua cucunya yang ia pilih sebagai penerus senjata pusaka-nya.


"Leluhur tidaj perlu sungkan, ini memang sudah pekerjaan kami" ucap Xio Nigt yang langsung membuat Zuanzi mengangguk membenar-kan ucapan suaminya.


Leluhur yang mendengar ucapan Xio Nigt atau cucunya langsung tersenyum manis, matanya yang tadi menuju cucunya dan menantunya kini telah berpindah menuju Xio Fang dan Xio Light.


"Bagaimana senjatanya, apa bagus?" tanya leluhur kepada mereka berdua. Xio Fang dan Xio Light yang tau bahwa mereka berdua yang di tanya langsung mengangguk lalu ber-ujar "terlalu bagus leluhur, keduanya senjata pusaka itu saling berhubungan".


"Cucu gak sehebat leluhur ucapkan, cucu sahaja tidak bisa menggunakan pedang yang terbuat dari kayu" ucap Xio Fang dengan wajah murung dan kedua matanya mulai menampakkan air mata yang akan keluar kapan sahaja.


"Kamu memang tidak dapat menggunakan senjata apa pun, kecuali senjata pusaka yang di turunkan oleh ku. Kamu pasti dengan mudah menggunakannya. Jadi cepatlah pilih senjata pusaka itu untuk kalian" ucap leluhur sambik menunjukan kedua senjata pusaka yang tergeletak di atas batu.


"Apa benar itu leluhur?" tanya Xio Light dengan hati yang begitu senang, pertanyaan Xio Light hanya di balas anggukan oleh leluhur.


Dengan perasaan senang Xio Fang dan Xio Light menunjukan senjata yang mereka inginkan. Ya tepat sekali Xio Fang memilih pedang yang tipis tapi begitu tajam. Walaupun tipis pedang itu tidak dapat di hancurkan oleh apa pun itu.

__ADS_1


Dan Xio Light memilih panah energi yang begitu indah. "Kalian memang hebat, kalian berdua memilih senjata yang dapat kalian gunakan. Dan kalian berdua tidak serakah" ucap leluhur.


Xio Nigt dan Zuanzi yang mendengarkan ucapan leluhur mereka langsung tersenyum, karena mengerti apa yang di katakan. Tapi bertolak belakang dengan Xio Fang dan Xio Light, mereka menautkan alisnya sampai menampakkan kerutan pada keningnya.


"Maksudnya apa leluhur?" tanya Xio Fang. "Kalain tidak perlu tau" jawab leluhur.


"Xio Nigt, Zuanzi. Ayo kita mulai" ucap leluhur yang langsung membuat Xio Nigt dan Zuanzi beranjak. Mereka berdua langsung mengambil kedua belati yang berada di dalam peti kecil.


Belati yang di gunakan bukan belati biasa melainkan, belati pusaka yang turun temurun, belati ini biasanya di gunakan untuk melakukan ritual.


Setelah mengambil belati, kedua pasang suami istri itu mengambil zirah yang terbuat dari intan dan emas.


Zirah itu juga ialah pusaka yang dapat membuat tubuh kebal, zirah itu juga akan menghisap sendiri tenaga dalam, apa bila tenaga dalam itu habis mangka energi kehidupan yang akan ia serap, sampai sang pemakai menghembuskan nafas terakhirnya [seram juga zirah nya 😅😅😅].


Setelah mengambil kedua benda itu, kedua pasang suami istri itu berjalan menuju anaknya, mereka berdua langsung memasangkan zirah itu ke badan-nya.


Zirah yang lebih besar dari tubuh Xio Fang dan Xio Light, kini menyusut menjadi kecil dan pas di pakai. Zirah yang di tubuh mereka akan menyatu dengan kulit, jadi tidak dapat di lihat oleh orang lain.


"Cucuku, irislah sedikit jari telunjuk kalian, apa bila sudah mengeluarkan darah arahkan ke senjata kalian!" titah leluhur yang langsung di patuhi oleh Xio Fang dan Xio Light.


Darah yang mulai keluar dari jari yang mereka iris, kini telah mengenai salah satu sisi dari senjata pusaka.

__ADS_1


Pancaran emas langsung keluar dari dalam senjata, tubuh mereka langsung di baluti dengan aura emas yang keluar dari zirah yang mereka kenakan.


Panas itu yang mereka rasakan, sakit pasti ia. Darah muali keluar dari sudut bibir mereka dan kedua telinga mereka.


__ADS_2