
Baru saja hening beberapa saat kini malah tembah riuh. Suara pedang saling beradu, serangan demi serangan mengakibat-kan getaran yang hebat.
"Mati-lah kau malam ini anak siala*" nafas Jiung sang semangkin memburu, ia tidak tahan lagi dengan apa yang terjadi. Dia tidak pikir kalau nyawa-nya bisa jadi taruhan di malam ini.
"Pertarungan yang sungguh memengang-kan hahaha" Nian Wang tertawa saat melihat Jiung sang kembali tumbang. Ia juga menonton dengan mulut yang terus mengunyah makanan.
"Makanan dari mana kau dapat-kan Nian Wang?" Lintian bertanya.
"Itu di kedai sana" Nian Wang menunjuk kearah kedai yang sudah tidak ada pemilik-nya. Dengan perasaan senang Lintian turun dari dahan pohon dan mengambil makanan sesuka-nya.
"Kalau sudah makan jangan lupa di bayar" nada ketus terdengar. Xio Light masih serius menatap Xio Fang, Rayi-nya yang di mana ia mulai kelelahan. Nafas-nya menjadi memburu.
Gerak tubuh-nya meningkat drastis. "Seling yue berikan tenaga tambahan untuk Xio Fang" tanpa di bilang dua kali Seling yue sudah meniup seruling-nya dan mengendalikan tenaga dalam yang terbang di antara udara.
Tenaga dalam Xio Fang bertambah. "Terima kasih banyak Seling yue" Seling yue membalas dengan ancungan jempol, suara seruling masih terus terdengar dengan indah-nya.
"Rayi selesai-kan dengan cepat, matahari mau tiba" Xio Light melihat matahari mulai naik secara perlahan, ia takut kalau hal ini akan berdampak kekerajaan yang kokok berdiri di ujung utara sana.
"Baik Raka" Xio Fang menarik nafas dalam-dalam dan menghilang dari penglihatan semua orang.
Jras... satu sayatan tepat mengenai punggung belakang Jiung sang. Baju yang ia kenakan basah akan darah.
Jras... satu serangan lagi Xio Fang berikan membuat kepal* Jiung Sang terlepas dari tubuh-nya.
Di pagi ini tepat-nya di saat matahari terbit sang tokoh terkenal di kota Tibet Jiung sang sang-pemilik asosiasi tulang rusuk di temukan tidak bernyawa oleh seorang pendekar (prajurit) kerajaan.
Kota Tibet menjadi riuh, para warga membicarakan hal yang terjadi tadi malam. Para warga juga berpikir bahwa kejadian tadi malam ada kaitan-nya dengan kematian Jiung sang.
__ADS_1
Di tempat lain sorak senang terdengar di sebuah ruangan yang bernuasa abu-abu, kecuali Xio Fang, pikirannya berkecamuk dengan hebat, setelah bertemu dengan Jiung sang ia selalu memikirkan nasib dari ayahanda-nya, ibunda-nya dan para Rayi.
Ia takut kalau rencana si penasehat kerajaan akan berhasil, dari menggulingkan raja dan ratu, memepengaruhi pikiran para pangeran dan putri kerajaan.
"Ada apa Xio Fang" Seling yue mehampiri Xio Fang yang sedang berlamun. "Tidak ada, hanya saja pikiran ku yang berkecamuk" Xio Fang membalas ucapan Seling yue tanpa menoleh.
"Sudah jangan di pikir-kan sekali. ayo bersenang-senang" Seling yue menarik tangan Xio Fang sampai ke tempat meja makanan yang tersusun rapi.
Di tempat meja makan terdapat Nian Wang dan Lintian yang begitu lahap menyantap makanan. "Xio Fang ayo sini kita makan bareng" satu gigitan besar Nian Wang berikan kepada bakpao yang berisi daging.
"Iya" balas Xio Fang. Xio Fang pun ikut mengambil makanan yang ada, dan menyantap dengan lahap.
Pikiran yang tadi memenuhi kepala Xio Fang seketika hilang. "Hahahhah" suara tawa Xio Fang juga terdengar dan memenuhi ruangan.
"Kalian tidak ikut lomba?" ujar Seling yue sambil menggigit daging kibas. "Lomba apa?" Lintian tertarik dengan topik pembicaraan Seling yue.
"Ini" Seling yue menyerahkan selembaran yang di penuhi dengan gambar dan tulisan. "Nian Wang kemari-lah" Nian Wang yang di panggil berjalan dan mendekati Lintian.
"Ini lihat lah" Lintian menunjukan selebaran tersebut. "Apa kalian mau ikut untuk mewakili sekte Xio" Armax ikut gabung dalam perbincangan anak muda.
"Mau tapi apa di izinkan oleh guru?" Nian Wang menoleh kearah Lintian. Lintian menggeleng dan berkata "tidak tau".
"Ada apa?" kini Xio Light yang mendekati mereka. Nian Wang pun langsung menyodorkan selebaran kepada Xio Light.
"Hadiah-nya begitu banyak, bisa untuk meningkat-kan sekte Xio" Xio Light ikut tertarik dengan lomba yang akan di selenggarakan oleh Benua Merah.
"Apa kalian mau ikut?" pertanyaan Xio Light di balas anggukan dengan cepat oleh mereka semua. "Kalau begitu, nanti akan ku bicarakan sama ayahanda dan ibunda" penjelasan Xio Light membuat semua senang.
__ADS_1
Tanpa di sadari seorang mata-mata mendengar setiap pembicaraan tentang di mana para pendekar muda sekte Xio akan ikut lomba atau mewakili sekte.
Orang yang menjadi mata-mata itu langsung ber-lari dan meninggal-kan Asosiasi. Ia lompat dari satu bangunan ke bangunan yang lain.
Di lorong yang sepi, seorang pria paruh baya yang mempunyai jenggot putih dan wajah yang penuh keriput tersenyum mendengar apa yang di bilang oleh lawan bicara ku.
"Saat yang begitu tepat" pria itu mengelus jenggot-nya. Ia tersenyum simpul.
"Ini bayaran untuk mu" pria itu menyerah-kan satu kantung yang penuh dengan koin kepada orang suruhannya. Ia begitu dengan apa yang ia dapat-kan.
Sekarang tugasnya menghasut musuh dari Senua Merah, musuh-nya tiada lain ialah Benua Samurai. Benua yang di mana para pendekar di sebut dengan samurai.
Ilmu bela diri mereka berbeda jauh dari ilmu bela diri pendekar.
***
Pagi telah tiba, suara kicauan burung membanguni para pendekar yang menginap di salah satu penginapan di kota besar.
"Aduh sakitnya" Nian Wang mengeluh karena tubuh-nya begitu sakit. Bagaimana tidak sakit?.. satu malaman berpesta ria.
"Hoahhh" Xio Fang menguap dengan lebar. "Capek-nya" keluh Xio Fang sambil mengucek-ngucek kedua mata. "Kalian bersih-kan tubuh terus, tidak lama lagi kita harus kembali ke sekte" Xio Light muncul dengan pakaian yang begitu rapi.
"Baik" jawab semua seraya serempak. Mereka langsung membersihkan tubuh dan kembali ke asosiasi.
"Seling yue, ayahanda yakin kamu pasti bisa melewati semua masalah dengan sendiri. Ikut-lah mereka, tingkat-kan lagi kemampuan mu" ujar Armax sambil memengangaji pundak anak kesayangan-nya.
"Baik ayahanda" Seling yue memeluk tubuh Armax dengan kuat. Air mata-nya mengalir dengan sendiri, ia tidak menyangka, dia bakalan berpisah dengan ayahanda-nya dalam jangka panjang.
__ADS_1
Hari semakin terik, suara tapak kuda terdengar. "Seling yue kalau kau memang mau masuk kedalam sekte, kau harus siap. Karena di sekte setiap murid akan di didik dengan keras".
"Dari menguatkan mental, kemampuan dan yang lain". "Iya aku siap" Seling yue masih tetap menunduk, ia masih merasa sedih dengan perpisahan diri-nya dengan Armax ayahanda-nya.