
Di saat pedang lawan ingin mengenai tubuh Xio Light, pedang itu lantas terlempar keatas langit dan pecah berkeping-keping. Xio Fang terlihat bagaikan manusia yang haus darah, dengan pedang yang ia genggam di kedua tangan-nya.
Jras... sebelum orang berpakaian abu-abu itu sempat menghindar. Xio Fang telah memberikannya satu luka besar tepat di dada-nya. "Akh..." orang berpakaian abu-abu itu mengerang kesakitan.
"Serang anak itu dulu, anak malam petaka" ucapan itu bagaikan seribu busur yang menghujam hati Xio Fang. Dada-nya terasa sesak, ingatan di masa lalu menghampiri diri-nya.
Di mana Xio Fang si putra mahkota di buang oleh ayahanda-nya sendiri. Semua ini karena si penasehat kerajaan yang haus akan kekuasaan.
Mata Xio Fang berair dan tumpah ruah. Hati-nya membara, bagaikan api yang di lempar-kan kayu atau ranting kecil. Nafs* membunuh-nya meningkat drastis.
Tubuh-nya bergetar dengan hebat. Jantung memompa darah dengan cepat. "Aku bukan anak malapetaka!!!!" suara Xio Fang terdengar dengan keras dan nyaring-nya.
Tanpa ampun Xio Fang memberikan serangan yang mematikan. Karena tubuh Xio Fang kecil, ia susah untuk di predeksi di mana ia akan muncul. Xio Fang yang memiliki tubuh kecil sangat di untung-kan.
Ia bergerak dengan lincah membuat para orang berpakaian abu-abu itu tidak berkutik sama sekali.
***
Di tempat lain seorang pria yang mengenakan pakaian serba putih sedang menhalau setiap serangan yang di berikan.
"Aku bukan anak malapetaka!!!!" suara yang begitu nyaring dan keras terdengar. "Orang-orang suruhan mu akan mati malam ini" pria yang berpakaian putih itu membuka suara.
"Tidak mungkin, mereka hanya anak-anak Armax".
Pria yang berpakaian itu bernama Armax. Benda yang dia inginkan telah ia dapat-kan tapi masalah-nya ia malah bertemu dengan pemilik asosiasi tulang rusuk atau musuh dari Armax.
"Malam ini akan ku jadikan, malam yang begitu hina bagimu Jiun Sang".
"Kalau bisa Armax!!". Lawan Armax ialah Jiung Sang, ia adalah pemilik asosiasi tulang rusuk. Ia juga yang mencuri benda berharga milik keluarga Yue.
__ADS_1
Mulut Armax terlihat sedang merapal-kan mantra yang tidak di ketahui. Setelah merapal-kan mantra itu tubuh Armax terbang sejauh sepuluh centi meter. Tubuh-nya di baluti dengan cahaya hijau.
Pedang keluar dari tubuh Armax, pedang itu terbuat dari batu zamrud. Warna hijau dari batu zamrud begitu indah dan berkilau.
Jiung sang yang melihat Armax merapal-kan mantra, lantas bersiap siaga. Jiung sang tau kalau mantra yang di rapal oleh Armax ialah mantra yang dapat meningkatkan kemampuan sang perapal.
Jiung sang yang tidak ingin terjadi apa-apa pada diri-nya ikut merapal-kan mantra yang saling bertolak belakang dengan mantra yang di rapal oleh Armax.
Tubuh Jiung sang di baluti dengan awan hitam. Senjata yang terbuat dari rusuk naga hitam muncul dan membuat keadaan sekitar berubah drastis.
Slaps.... kedua-nya menyerang secara bersamaan. Kedua senjata pusaka beradu dan mengakibatkan ledakan yang begitu dahsyat dan gempa bumi yang membuat para warga kota Tibet berlarian menyelematkan diri.
Asosiasi tulang rusuk yang menjadi tempat pertarungan hancur berkeping-keping. Luluh lantah semua-nya, bangunan yang di bangun sejak lama oleh Jiung sang hancur begitu saja.
Jiung sang yang melihat asosiasi milik-nya tambah marah. Mata-nya berubah menjadi hitam semua. Gigi-nya berubah menjadi tajam. Otot tangan dan kaki muncul.
Wajahnya yang penuh dengan kerutan terlihat sangat sangar. Dalam satu tarikan nafas Jiung sang telah hilang dari hadapan Armax, dan muncul secara tiba-tiba di belakang Armax.
Trang.... trang.. hups... hups... setelah menyerang Armax hilang dan muncul kembali. Hilang dan muncul kembali itu yang di lakukan oleh Armax sampai membuat Jiung sang terpojok.
"Menyerah saja tua bangka" Armax menatap dengan mata yang merah dan senyuman yant begitu mengerikan.
"Tidak semudah itu bodo*" Jiung sang bangun kembali dan menyerang Armax dengan membabi buta. Serangan itu membalik-kan keadaan, sekarang malah Armax yang terpojok.
Nada demi nada terdengar begitu indah. Membuat Jiung sang terlena. "Untung aku telah menyiapkan semua-nya" Armax mengenakan penutup kuping sedari tadi, walaupun ia tidak dapat mendengar-kan ucapan Jiung sang sama sekali.
"Ayahanda sekarang" dalang dari meniup seruling itu ternyata adalah Seling yue. Ia duduk manis di dahan pohon dengan seruling kesayangannya di tangan-nya.
Jari demi jari dengan lihai menutup lubang-lubang pada seruling. "Jiung sang, lihat lah ini" entah dari mana Xio Fang muncul dan menunjukan bawahan Jiung sang yang tidak lagi bernyawa.
__ADS_1
"Juang sin!!!" Jiung sang berteriak dengan keras saat melihat Rayi-nya sudah tidak bernafas lagi. Amarah-nya meningkat drastis, dan menyerang Xio Fang.
Dengan sigap Xio Fang menahan serangan itu dan memberikan serangan balik yang langsung membuat tubuh tua Jiung sang terlempar.
"Armax, sekarang giliran ku. kau mundur lah" mata Xio Fang terlihat merah. Ia manahan amarah yang dahsyat di dalam diri-nya.
"Kau juga salah satu bawahan penasehat kerajaan Xio kan. Jawab dengan jujur!!!" Xio Fang membentak Jiung sang, mata Xio Fang seolah ada api yang siap melahap siapa saja.
"Ternyata kau anak siala*, kau penganggu. Kau adalah hama bagi tuan ku. Mati-lah" Jiung sang bangkit dan menyerang Xio Fang dengan pedang milik-nya.
Sejak kapan Xio Fang tau kalau Jiung sang adalah bawahan penasehat kerajaan?... Xio Fang tau karena sejak dulu sebelum dia di campak-kan oleh kerajaan, Ia pernah melihat kalau penasehat kerajaan berbincang dengan Jiung sang pada malam purnama.
Pada malam purnama....
"Jiung sang, aku sudah tau cara menyingkirkan anak itu. Jadi bantu aku untuk membunuh-nya saat ia tersesat di dalam hutan".
"Baik tuan ku, hamba akan melakukan apa pun yang kau pinta".
Xio Fang yang berada di dalam semak-semak belukar menutup mulut agar tidak menjerit. "Aku harus cepat kembali" Xio Fang berjalan mengendap.
Krik... tanpa sengaja Xio Fang memijak ranting yang langsung membuat kedua pria tua yang sedang menatap rembulan melihat diri-nya. Xio Fang langsung lari dengan cepat dan meninggalkan kedua-nya.
"Seperti anak itu sudah tau tuan".
"Kau tidak perlu risau, dia akan di campak-kan juga dari kerajaan ini" penasehat kerajaan tersenyum smirk.
"Baik-lah tuan ku".
Xio Fang yang sedang berada di dalam kamar pribadi milik-nya berkeringat dingin.
__ADS_1
Pada malam purnama.... Off