Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 21


__ADS_3

"Guru kami pamit untuk kembali ke sekte dulu" pamit Xio Fang mewakili semuanya. "Iya, hati-hati ingat dunia pendekar itu kejam. Yang kuat akan bertahan yang lemah akan binasa. Dan sampai kan salam ku kepada Xio Nigt dan Zuanzi" ucap Sian Mo.


"Baik guru, Ayunda Wenyu kami pamit juga ya" Xio Fang tersenyum saat melihat Wenyu. Wenyu pun membalas senyuman Xio Fang.


"Iya Rayi, ingat hati-hati" ujar Wenyu seraya mengelus lembut kepala Xio Fang mereka ber-dua menjadi lebih akur atau akrab saat latihan ilmu muslihat.


***


Dua hari sudah terlewati, ke-lima pendekar yang di utus untuk menemani Wenyu atau salah satu pendekar dari sekte penyamun, kini telah tiba di sekte Xio.


Xio Fang dengan semangat-nya mencerita-kan bahwa ia telah di angkat menjadi murid Sian Mo, dan di izinkan memiliki ilmu muslihat kepada Xio Nigt dan Zuanzi.


Kedua pasang kekasih itu membalas ucapan Xio Fang dengan tersenyum. Kini mereka ber-empat sedang menyantap makanan yang ada di atas meja.


"Ayahanda, guru Sian Mo menitipkan ilmu muslihat ini untuk ayanhanda dan ibunda" Xio Fang mneyerahkan sebuah gulungan ilmu muslihat yang telah di duplikat.


"Terima kasih banyak Sian Mo" Zuanzi bergumam tapi masih dapat di dengar oleh semua-nya.


Pagi telah berganti malam, malam berganti dengan pagi. Seperti itu terus sampai satu tahun.


Kini Xio Fang, Xio Light, Quen Yu, Nian Wang, Lintian di kumpulkan oleh Xio Nigt.


"Baiklah ini pertama kali kalian mendapatkan misi!" ucap Xio Nigt sambil berjalan ke-kanan dan ke-kiri.


"Misi apa itu guru?" tanya Quen Yu kepada Xio Nigt guru-nya.


"Misi kalian kali ini adalah misi tahap rendah. Yaitu melindungi para pedangang dari serangan binatang buas" jelas Xio Nigt yang langsung di pahami oleh semua-nya.


Sebelum hari ke-berangkatan para pedagang, mereka semuanya menyiapkan apa yang di perlukan. Mereka juga tidak lupa berlatih.


"Ingat kalian harus tetap bersama, dan saling melindungi" ucap Zuanzi dengan nada suara yang begitu lembut dan mengalun. Siapa sahaja yang mendengar-kan-nya akan ketagihan.

__ADS_1


Sebagai mana ahli suling memainkan sulingnya dengan indah.


"Baik guru" jawab mereka semua secara serentak dan bersamaan.


"Tujuan kita menuju kota besar, kami yakin kalian pasti bisa melindungi kami semua" ucap pria paruh baya. Pria paruh baya itu tiada lain adalah pemilik semua dagangan ini.


"Kami ber-lima akan berusaha semampu kami. Kami mohon bimbingannya" balas Xio Light yang tidak lain ialah seorang ketua dari kelompok yang memiliki nama Darah Biru atau anggota kerajaan.


"Ketua sebaiknya kita berangkat sekarang, takut-nya kita akan di sergap atau di serang oleh mereka saat di malam hari. Itu akan membuat para pendekar kesulitan" ucap salah satu dari ketiga sopir kuda.


"Baiklah, ayo para pendekar silahkan masuk" ucap pria paruh baya itu dengan lembut.


Kelima pendekar itu lantas masuk kedalam kereta kuda. Perjalanan di mulai, Nian Wang pikir akan seru misi ini, ternyata tidak, ekspetasi-nya salah seratus persen.


Ia kini sedang melamun, ia begitu bosan. "Apa tidak ada hal yang menegang-kan muncul di tengah-tengah perjalan, aky begitu bosan" keluh Nian Wang dengan muka yang memelas.


Tanpa di sadari ucapan Nian Wang malah terkabulkan, kereka kuda berhenti seketika. Puluhan anak panah meluncur dengan hebat.


"Raka, ada masalah hebat. Banyak para pendekar dari Aliran hitam di depan dan sekeliling wilayah" Xio Fang terlihat khawatir, ia bisa dapat mengalahkan semua-nya.


"Ini pasti karena doa mu Nian Wang, seharus-nya kita hanya melawan para bintang buas" ucap Lintian yang langsung keluar dari dalam kereta kuda.


Ia juga mengeluarkan tongkat Toya kesayangan miliknya. Xio Light, Nian Wang dan Quen Yu ikut keluar juga.


"Sungguh konyol, kalian mengutus anak kecil bau kencur untuk melawan kami" tawa menggelegar dengan keras membuat pemilik dagangan ber-keringat dingin.


Nian Wang sedikit emosi karena ia di rendahkan oleh pak tua itu. Ia lnagsung melepaskan pedang dari warangkanya.


Jras.. jras. jras...


Nian Wang muncul dari berbagai penjuru, seraya memegangl kepala lawan, ia begitu tersinggung.

__ADS_1


"Quen Yu lindungi para pedagang!" titah Xio Light.


Tanpa banyak bicara lagi Quen Yu mundur dari rombongan kelompok-nya. Ia berdiri di depan kereta kuda.


"Kalian tidak perlu takut, kami akan melindungi nyawa kalian!" suara lantang Quen Yu terdengar, para pedangang sudah tidak terlalu cemas, tapi mereka masih takut.


Kembali lagi ke pertarungan. Xio Fang mencoba ilmu muslihat, dengan ketenangan jiwa dan raga ia mulai menyerang para pemanah yang berada si dahan-dahan pohon.


Xio Light melepaskan busur-busur ke-arah langit dan jatuh tepat di depan lawan.


Duar... Duar... Duar..


Ledakan terdengar dengan keras saat busur yang terbuat dari energi matahari menghantam tanah, banyak para pendekar aliran hitam yang tewas dan yang selamat.


Lintian dengan lihai menggerakkan tongkat Toya dan menghatam tepat di perut lawannya, lawannya yang terkena pukulan tongkat Toya memuntahkan darah lalu tumbang seketika.


Banyak dari pendekar aliran hitam yang bermatian. "Jangan kasih meraka ada yang lolos. Kalau mereka semua lolos para pedagang yang lain yang kena dampaknya!" titah Xio Light yang membuat pria kekar tertawa dengan keras.


Ia melesat dengan cepat dan menghatam tubuh Xio Light. Tapi dengan sigap dan lincah Xio Fang menahan serangan itu.


"Raka mundur, biar dia Rayi yang urus" ucap Xio Fang yang menahan serangan dari pria kekar.


Pria kekar itu menggunakan kapak yang besar. Untung sahaja Xio Fang menggunakan senjata pusaka miliknya, kalau tidak tangan mungilnya akan hancur akibat serangan yang mematikan itu.


"Anak kecil yang bodo*, kau ingin melawanku. Sungguh ironis" tidak sampai di situ sahaja Xio Fang mulai menggunkan ilmu muslihat lima puluh persen.


Banyangan demi banyangan muncul dan mulai mengecoh pria itu. "Ilmu muslihat, ilmu yang hebat. Tapi ilmu ini tidak akan dapat mengalahkan ku" pria itu meremehkan ilmu muslihat.


Xio Fang masih aja tenang, ia mulai menyerang dari berbagai penjuru. Dari Utara, Barat, Selatan maupun Timur.


"Hanya segini kemampuan mu anal kecil, sungguh memalukan" pria itu tertawa dengan lantang yang tujuannya ingin mengecohkan Xio Fang.

__ADS_1


Hasilnya nihil, Xio Fang tetap tenang. Tanpa di ketahui, mereka berdua telah beradu lama, sekisar tiga ratus serangan mereka lontarkan.


__ADS_2