
"Singkir-kan jari mu" ucap Xio Fang sambil tersenyum sinis.
"Aku lagi tidak ingin membuat masalah, lebih baik aku pergi saja" ucap Xio Fang sambil berjalan meninggalkan Rayi-nya.
Xio Fang langsung lompat ke atas genteng kedai, berusaha mencari tempat yang luas dan aman untuk menyelesaikan masalah yang baru saja timbul.
Ke-lima pengawal Rayi-nya mengejar dari belakang dan di ikuti oleh Rayi-nya yang tidak ada peningkatan sama sekali. Xio Fang tersenyum simpul lalu bergumam "sungguh di sayang-kan Rayi".
Di saat tiba di tengah hutan yang gelap Xio Fang berdiri dengan tegap, sinar rembulan menyinari diri-nya.
"Mau kemana lagi kau hah!".
"Kalau kau memang hebat ayo lawan aku!".
Di saat kata itu terlontar semua, Xio Fang langsung bergerak cepat dan menedang perut-nya. Tubuh lawan Xio Fang yang tidak memadai langsung terkena tendangan itu membuat lawan-nya terhempas dengan cepat dan berhenti memghantam tiga pohon sekaligus.
"Uhukkkk.... " darah segar keluar dari mulut lawan Xio Fang. Tidak perlu lama lawan Xio Fang langsung kehilangan kesadaran (bukan mati).
Yang lain hanya dapat meneguk saliva saat melihat teman-nya kehilangan kesadaran. "Serang, jangan hanya diam" ucap sang pangeran yang naik pitam.
Ia mengeluarkan senjata pusaka bumi yang di berikan oleh orang tua-nya. "Hanya senjata pusaka bumi" ucap Xio Fang yang sedang mengeluarkan pedang dari warangkanya.
Cahaya emas langsung terlihat dan menembus langit yang gelap. Pangeran yang melihat Xio Fang mengeluarkan senjata pusaka langit lantas meneguk saliva-nya.
Ia genggam senjata pusaka milik-nya dengan erat, dalam hitungan detik ia tekah berada di samping Xio Fang. Xio Fang yang melihat tersenyum lalu bergumam "hanya ini kecepatan yang kau miliki".
Serangan yang di berikan oleh pangeran dengan mudah di patah-kan oleh Xio Fang. "Kalian ngapain diam saja bantu aku!!!!" pangeran marah besar, ia berseru dengan keras membuat ke-empat pengawal-nya mengeluar-kan senjata pusaka juga. Senjata pusaka bumi yang sama dengan pangeran.
Mereka ber-empat maju dengan bersama dan menyerang dari berbagai arah dan penjuru mata angin.
__ADS_1
Malam yang tenang dan begitu damai hanya kebohongan belaka di tempat pertarungan yang sengit. Satu pendekar melawan dengan lima pendekar, kekuatan yang di salurkan berbeda setiap pendekar-nya.
Suara senjata yang ber-material besi membuat kawasan hutan begitu ribut. Suara burung hantu menjadi lagu yang terburuk malam ini, karena suara burung hantu yang indah bergabung dengan suara peraduan senjata.
****
Di tempat lain, seorang paruh baya yang sedang menikmati teh yang di bawakan oleh dayang istana, terlonjak kaget sampai-sampai cawan tempat teh yang di pegang jatuh.
Cahaya emas itu membuat ia tersenyum. "Kau muncul sendiri anak bod**" ucap pria itu.
Di tempat pertarungan yang semangkin, Xio Fang merasakan kualahan karena harus menahan serangan yang terus datang.
"Xio Fang sebagian, biar ku lawan" seorang pendekar wanita muda muncul di tengah pertarungan. Wajah-nya yang begitu cantik jelita.
"Tolong lumpuh-kan saja Quen Yu, mereka pengawal kerajaan" ucap Xio Fang yang masih menahan serangan dari pangeran.
"Baiklah Xio Fang" jawab Quen Yu yang memberikan beberapa serangan yang dahsyat. Dentuman menjadi musik utama malam yang begitu panas ini.
"Quen Yu lumpuhkan dengan segera, lalu pergi hilang-kan jejak, ada yang memperhatikan kita sedari tadi" bisik Xio Fang.
"Baik" balas Quen Yu yang langsung hilang dari hadapan lawannya, dan muncul di belakang. Di saat lawan-nya lalai serangan tapak telak terkena di punggung.
Dalam seketika lawan-nya jatuh dan menghantam permukaan tanah. Begitu pula dengan Xio Fang yang berhasil melumpuhkan pangeran dan satu pengawal-nya.
Dalam sekejap mata Xio Fang dan Quen Yu sudah tidak berada di tempat pertarungan. Pria tua yang sejak tadi memperhatikan pertarungan mengedarkan pandangan-nya.
"Cih..... kemana mereka berdua" ia berdecih lalu pergi dari tempat persembunyian. Ia meninggal empat kasad yang masih bernyawa begitu saja.
****
__ADS_1
"Memang yang memperhatikan kita siapa?" tanya Quen Yu sambil terus berlari beriringan dengan Xio Fang yang masih fokus menatap ke depan.
"Aku tidak tau pasti, yang pasti dia orang dari kerajaan Xio" jawab Xio Fang.
"Yang kau lawan tadi memang-nya siapa?".
"Anak dari Raja kerajaan Xio" jawab Xio Fang yang membuat Quen Yu terbelelak kaget.
"Hah apa kau katakan!!!. Apakah kita akan berurusan dengan kerajaan?".
"Tidak perlu takut, mereka tidak akan tau kita. Kita juga akan berangkat pagi-pagi agar cepat sampai ke sekte" jawab Xio Fang berusaha menenangkan Quen Yu yang begitu khawatir.
"Kalau begitu bagus lah" wajah Quen Yu mulai tenang. Ia langsung fokus dengan apa yang ia lewati. Pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Malam kini berganti dengan pagi. Rembulan yang elok nan indah berganti dengan matahari yang begitu terik, di pagi hari yang damai di kota besar di gemparkan dengan hal yang begitu tidak terduga.
Seorang pangeran kerajaan Xio dan lima pengawal kerajaan di temukan di dalam hutan, dengan keadaan kehilangan kesadaran. Tubuh yang begitu banyak luka lembab, ujung bibir-nya terdapat luka yang tidak terlalu panjang.
"Sepertinya tadi malam terjadi penyerangan" ucap Xio Light yang membuat Quen Yu tersenyum lalu meyikut lengan Xio Fang.
"Dan penyerangan itu di lakukan oleh dua pendekar muda" ucap Xio Light membuat Quen Yu terbungkam. "Memang siapa Xio Fang?" tanya Lintian.
"Tanyakan saja kepada dua anak yang ada di belakang sana" ucap Xio Light membuat Lintian dan Nian Wang menoloh ke-arah Xio Fang dan Quen Yu.
"Ada apa kenapa kalian menatap kami dengan begitu aneh" ucap Quen Yu sedikit kikuk.
"Apa kalian berdua yang melakukan-nya?" tanya Nian Wang.
"Iya, kami berdua hanya ingin mejajal kemampuan si pangeran dan kelima pengawal-nya yang sok hebat itu" jawab Xio Fang sambil memacu kuda-nya agar tetap jalan ke depan.
__ADS_1
"Wow, kalian berdua sekarang menjadi kriminal. Berapa bayaran untuk menemukan kalian. Kalau mahal aku pasti langsung memberikan kaliam berdua kepada pihak kerajaan" ucap Nian Wang yang mendapatkan hadia pukulan keras telak ia dapat di kepala.
"Aduh... sakit Quen Yu" ucap Nian Wang geram. Teman-nya satu ini memang begitu suka main tangan, sedikit-sedikit main tangan, kalau memang ada waktu segang Nian Wang ingin sekali mematahkan-nya.