Pangeran yang terbuang

Pangeran yang terbuang
Chapter 20


__ADS_3

Setelah semua-nya menyantap makanan yang telah di hidangkan. Semua-nya melanjutkan latihan.


Sian Mo mulai menunjukan gerakan yang begitu cepat, banyangan-banyangan dirinya mulai banyak saat kecepatan-nya terus bertambah.


Banyangan-banyangan itu dapat di gerakan dengan tenaga dalam. Tapi sayang-nya banyangan itu tidak dapat melukai lawannya, ia hanya dapat mengecoh sahaja.


Tapi itu sudah begitu cukup untuk petarung jarak dekat dan tangan kosong. "Guru telah menduplikat kitab ilmu muslihat. Ini untuk kalian" Sian Mo menyerah-kan dua gulungan kepada kedua muridnya.


"Terima kasih banyak guru" keduanya berterima kasih secara bersamaan dan membungkuk-kan badan. "Sama-sama. Guru ingin kalian dapat mempelajari-nya selama satu hari dan satu malam!" pinta Sian Mo dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Akan kami usaha-kan semampu kami guru. Kami tidak mau membuat guru kecewa!" suara lantang keluar dari dari mulut kecil Xio Fang dan di balas anggukan oleh Wenyu.


Sian Mo hanya membalas ucapan Xio Fang dengan senyuman yang membuat siapa sahaja yang melihat akan tenang. Ia langsung meniup seruling miliknya.


Para hewan mulai berkumpul dan mendengari nada-nada yang keluar dari seruling.


Para hewan tidak memikirkan bahaya dari manusia yang ada di sekitar mereka.


Trang.. PRANK... trang...


Kedua senjata saling beradu. Percikan api keluar dari peraduan dua senjata.


"Nian Wang gunakan kemampuan mu sepenuh-nya. Kita harus menjadi kuat sebelum pulang dari sekte penyamun!" ujar Lintian dari salah satu sisi.


"Baiklah" jawab Nian Wang yang berada di satu sisi yang lain.


Ia mulai menghirup udara dengan perlahan lalu menghembus lewat mulut. Ia memasang kuda-kuda terbaik-nya.


Trang... prank.. Nian Wang melesar dengan cepat dan muncul di hadapan Lintian, tanpa banyak bicara ia langsung melepaskan satu serangan yanh begitu mematikan.


Dengan reflek Lintian menahan serangan itu. Ia juga menjadi lebih liar dan gana, Lintian muncul di berbagai sisi, ia tidak dapat kesulitan saat bergerak dengan cepat saat membawa tongkat Toya yang begitu berat.


Pertarungan semangkin sengit, dari dua kubu tidak ada yang berhenti. Mereka berdua juga latihan di tempat yang aman dan tidak mengganggu yang lain.


Tanpa di sadari mereka berdua telah melepaskannya 100 serangan yang mematikan. Di mana serangan itu akan membuat lawannya tewas seketika.


Tenaga dalam terkuras dengan perlahan, setiap tarikan nafas sepuluh lingkaran tenaga dalam bertambah. Jadi mereka tidak ada rasa lelah dan keletihan.

__ADS_1


Wajah dan badan mereka kini di penuhi dengan keringat, baju yang di kenakan telah basah. Pertarungan semangkin sengit, luka mulai mereka dapatkan.


Baju yang tadi hanya di basahi oleh keringat, kini di basahi dengan darah segar. Walaupun tubuh mereka penuh akan luka, mereka masih aja bertarung.


Mereka bertarung sampai tengah hari, di mana kalai itu matahari telah berada tepat di atas mereka. Mereka menghentikan pertarungan lalu tertawa.


Mereka ketawa satu sama lain, dari luka yang ada di wajah. "Ku yakin wajah kita akan sangar hahahahah" ujar Lintian dengan di susul tawa yang lantang.


"Kalian cepat bersihkan tubuh lalu makan bersama" Quen Yu yang entah dari mana muncul membuat kedua anak muda itu terkejut lantas menghantam tubuh Quen Yu dengan senjata mereka.


"Santai-santai" Quen Yu menahan kedua serangan menggunakan tangan kosong.


"Eh... maaf Quen Yu" ujar Lintian sambil mengaruk kepala yang tidak gatal.


***


Semua-nya kini sedang menyantap makanan yang begitu menggugah selera. "Makan yang banyak" ucap Sian Mo dengan senyuman khasnya.


Semua-nya membalas ucapan Sian Mo dengan menganggukkan.


Tanpa di sadari telah empat hari Xio Fang, Xio Light, Quen Yu, Nian Wang dan Lintian berada di sekte penyamun. Kini mereka sedang berada di taman tempat latihan.


Mereka berdua menarik nafas dalam-dalam lalu mengambil ancang-acang sebelum menyerang Sian Mo.


Slup...slup... slup...


Mereka bergerak dengan lincah, bagaikan peluru yang melesat dengan cepat, mereka mulai membuat banyangan-banyangan dirinya.


Tak.. tak... tak..


Serangan yang di lontarkan oleh Xio Fang dan Wenyu di tahan dengan mudah oleh Sian Mo.


"Tetap tenang, jangan jadikan naf** amarah kalian menjadi tuan kalian!" Sian Mo memperingati kedua muridnya ini yang menyerang-nya dengan ganas dan liar.


Mereka berdua lantas menjadi tenang saat mendengar ucapan Sian Mo. Sebelum kembali menyerang Xio Fang memegang dadanya lalu ber-kata "tenang-kan diri mu Xio Fang" tarikan nafas lalu menghembuskan-nya kembali.


Wenyu juga mengikuti cara Xio Fang, ia juga menjadi lebih tenang. Ia pun mengambil ancang-acang lalu menyerang Sian Mo dengan tenang.

__ADS_1


Sian Mo juga menyingkapi serangan dengan tenang. Ia begitu lihai dalam menangkis, menahan dan memukul tangan kosong.


Xio Fang mengeluarkan pedang-nya dari warangka, cahaya yang begitu silau membuat Sian Mo dan Wenyu menutup mata sesaat.


Sian Mo yang melihat Xio Fang menggunakan senjata pusaka ia lantas mengeluar-kan seruling milik-nya.


Wenyu juga ikutan mengeluar-kan dua bulah kunai dari balik jubahnya.


Pertarungan yang tadinya masih begitu tenang menjadi mengerikan, pertarungan yang begitu brutal dan liar.


Kelelahan tidak ada di dalam dir mereka. Sian Mo meniup seruling-nya, di saat itu lah pe-lindungi transparan melindungi tubunya dari amukan kedua muridnya.


Sambil memejam-kan mata ia meniup seruling itu bertujuan menghentikan pertarungan yang mematikan itu.


Bruk... Xio Fang dan Wenyu jatuh ke-tanah dengan keadaan tubuh yang begitu lemah, sebagian besar tenaga dalam-nya di serap oleh Sian Mo.


"Ini minuk dulu" Sian Mo menyerahkan secangkir teh melati kepada dua muridnya. Karena begitu haus, dalam sekali teguk teh yang ada di gelas itu habis tanpa tersisa.


"Kalian begitu hebat" puji Sian Mo. "Terima kasih banyak guru. Guru juga begitu hebat" balas Wenyu.


"Xio Fang kapan kalian kembali ke sekte Xio?" tanya Wenyu.


"Sekitar 3 hari lagi ayunda Wenyu, Xio Fang masih mau di sini dulu. Bolehkan guru?" balas Xio Fang dan bertanya kepada Sian Mo.


"Boleh, sekarang kamu kan salah satu dari anggota sekte penyamun" jawan Sian Mo sambil meneguk secangkir kecil arak.


"Guru jangan terlalu banyak minum!" ingat Wenyu.


"Iya tidak banyak kok, cumab 3 cangkir kecil aja".


"Xio Fang apa kamu mau arak?" tawar Sian Mo sambil meneguk arak yang kedua kali.


"Terima kasih banyak guru, tapi murid bekum cukup umur" tolak Xio Fang dengan halus.


Pengumuman : "*Assalamualaikum semua nya, salam sejahtera, salam toleransi. Author cuman mau kasih berita yang tidak menyenangkan, novel ini akam update slow sampai novel ini di kontrak"


"Author akan up seperti biasa setelah di kontrak"

__ADS_1


"Sampai jumpa di lain hari 👋👋👋*"


__ADS_2